Aku amat sangat kagum terhadap ibu penjual jamu yang sering datang ke kantor menawarkan jamu pagi hari kemudian sore hari, dia menawarkan pecel. umurnya sekitar 50an atau bahkan sepantaran dengan ibuku. bahasanya halus saat menawarkan menggambarkan dirinya yang seorang jawa. dia nampaknya seorang pekerja keras.
aku belum mengenal lebih jauh tentang kehidupan pribadinya bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk bercerita dengannya namun dari selentingan cerita yang kudengar bahwa dari hasil jualan jamu dan pecel, ibu itu berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. sebuah pencapaian yang luar biasa menurutku.
aku selalu terngiang-ngiang dengan perjuangan ibuku membiayai anak-anaknya ketika melihat ibu itu. bedanya hanya di jualan, kalau ibuku menjual aneka kue seperti apem, sawalla, baje, dodol dan cendol di sebuah pasar yang dikenal dengan pasar Baraka. pasar itu hanya beroperasi dua kali tepatnya hari senin dan kamis. ibuku harus berangkat saat mentari belum nampak dan pulang saat malam mulai tiba.
aku mafhum bahwa orang yang bekerja keras akan selalu memperoleh hasil yang memuaskan dan seperti itulah mereka para ibu yang dengan segenap tenaganya berusaha untuk kebahagiaan anak-anaknya. ibu penjual Jamu tidak pernah memancarkan wajah yang letih bahkan yang ada adalah goresan-goresan kesabaran di setiap sudut wajahnya yang mulai keriput dan menua. mereka tua dalam keberkahan karena hidup dari tetesan keringat mereka tanpa keluhan sedikitpun.
aku selalu percaya kepada seorang ibu yang dengan tulusnya berjalan di pagi hari menyusuri alam raya mencari rejeki kemudian beranjak pulang saat senja menjelang. aku selalu kagum dan tidak pernah mengurangi rasa hormatku terhadap seorang ibu yang dengan tegarnya menjani hidup dengan kerja keras.
mungkin pengalaman masa kecil yang menajamkan rasa iba dalam diriku kepada para Ibu yang bekerja keras, bagaimana tidak, sejak SD, aku sudah menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku bagaimana kerasnya perjuangan ibuku dalam bekerja. bangun disaat kami masih terlelap dan berangkat ke pasar disaat kami anak-anaknya baru bangun bahkan pulang ke rumah saat malam.
aku juga sering menyaksikan bagaimana ketika dagangannya tidak laku. perasaan seperti apa lagi yang terpendam di dalam jiwaku dalam keadaan seperti itu namun akupun yakin bahwa ibuku sudah mengetahui rumus kehidupan bahwa hidup ada kalanya tertawa namun kita pun harus siap menangis suatu waktu. tidak ada yang abadi di suatu kondisi karena hidup adalah suka duka yang silih berganti, semua berlaku kepada setiap orang dan yang membedakan adalah sikap tiap orang dalam menyikapi masalah hidup yang ada pada mereka.
ah, tulisan ini kemana arahnya, tadi aku hanya ingin menceritakan seorang ibu yang setiap hari datang di kantorku menjajakan jamu dan pecel namun kenapa berujung pada cerita rutinitas ibuku. aku memang sering sentimental ketika menceritakan apa saja yang berhubungan dengan seorang ibu. semua karena pengalaman masa kecil melihat perjuangan ibuku
semoga ibuku sehat selalu
suatu waktu di bulan April 2015
No comments:
Post a Comment