Aku sudah beberapa kali menulis tentang Ustadz D setiap kali selesai meneleponnya. meski demikian, terkadang kata-kataku tak pernah habis untuk menuliskan semua nasehat yang terucap dengan tulus dari Beliau bahkan aku merasa bahwa Beliau tidak pernah sedikitpun menasehatiku dalam berbagai hal.
seperti kemarin malam saat meneleponnya, dengan ciri khas yang heboh dan penuh dengan senyum, Beliau memulai percakapan dengan menanyakan kenapa diriku baru kali ini meneleponnya setelah sekian lama. aku hanya bisa menjawab bahwa rutinitas telah membuat sedikit waktuku tercurah. Beliau pun selalu dengan pemaklumannya.
Seringkali ketika bercakap dengannya melalui telepon, aku lebih banyak diam dan mendengarkan apa saja yang ingin diceritakannya mulai dari aktivitas teman-teman di Al-Markas sampai kehidupan kota di Makassar yang sudah tiga tahun terakhir kutinggalkan.
Menurutku, inti dari semua apa yang dikatakan beliau adalah ketika menasehatiku tentang hal-hal yang menyangkut keagamaan. pertama beliau menyarankanku untuk membeli Qur'an tafsir per kata. sebenarnya sudah sejak lama Beliau menyarankan untuk yang satu ini namun aku yang masih belum tergerak untuk membelinya.
Beliau tidak pernah alpa mengingatkanku untuk selalu dekat dengan Allah karena hanya itu yang hanya bisa membuat hati kita tenang dalam setiap keadaan. Beliau menambahkan bahwa ketika kita merantau dan dekat dengan Allah maka semua akan bisa dilalui dengan ikhlas bahkan menurut ceritanya, Beliau pernah merantau dan ketika dalam keadaan lapar dan sama sekali tidak punya uang untuk membeli makanan, Beliau mengaji sampai tertidur di mesjid.
perbanyaklah teman dan jangan menyakiti teman. ketika ada teman yang berbuat jahat terhadap kita maka jangan dibalas dengan kejahatan. begitu nasehat berikutnya yang membuatku sedikit berpikir bahwa memang kesabaran untuk diri itu harusnya tidak ada batasannya namun ketika kita melihat orang lain dizalimi, seharusnya kita menolong.
jangan pernah mengkafirkan orang lain dan sekali-kali jangan menyalahkan orang lain. penampilan beliau yang memang sudah kenyang dengan pendidikan agama bahkan menyarankanku untuk jangan mengkafirkan orang lain. tidak seperti dengan mereka yang memproklamirkan dirinya ustadz namun begitu mudahnya mengeluarkan kata kafir kepada orang lain, jangan kepada yang beda agama, yang seagama namun beda Mazhab pun digelari kafir. Ustadz D jauh dari perangai seperti itu dan kurasa Beliau mengerti apa hakekat dari perbedaan, hal tersebut yang menenangkanku setiap kali bercakap dengan Beliau.
malam itu, Beliau berpesan bahwa tidak apa ikut kajian dan ambil baiknya, Beliau menjelaskan bahwa sama sekali tidak ada masalah dengan Syiah, Sunni, Ahmadiyah atau aliran apapun di dalam Islam sepanjang kita mengambil yang baik dan menjauhi yang kurang baik dengan satu kunci bahwa jangan sekali-kali mengkafirkan orang lain karena itu wilayah Tuhan, sama sekali kita tidak punya otoritas untuk hal tersebut.
"Masalah Umat Islam sekarang adalah masalah kebodohan, banyak yang sok pintar dan mengkafirkan orang lain, padahal itu pandangan yang salah" Prof Quraish Shihab
"bukankah demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal muasal bukanlah tanda kelemahan melainkan menunjukkan kekuatan"
KH. Abdurrahman Wahid
07 September 1940-30 Desember 2009
No comments:
Post a Comment