January 1, 2026

2016

Semalam, sebelum tidur lebih awal dari biasanya, saya merekam sebisa mungkin memori tentang pergantian tahun. Saya menyadari bahwa sedari dulu, pergantian tahun tidak pernah menjadi momen yang spesial bagi saya. Semalam, tepat jam 10, saya sudah memejamkan mata di sofa ruang tamu sambil memegang buku.

Saya terjaga kira-kira jam 12 lewat sedikit ketika dentuman petasan yang seakan memecah gendang telinga. Saya terjaga tidak lebih dari lima menit kemudian melanjutkan tidur. Pada akhirnya semua berjalan normal. Momentum pergantian tahun tidak lebih hanya abstraksi dalam pikiran kita untuk memaknai hal-hal yang dianggap ada padahal ilusi. Esoknya, tidak ada yang spesial dan saya pun menjalani hari sebagaimana biasanya.

Saya bangun lebih awal dari biasanya untuk kembali menemukan hal-hal baik yang saya lakukan. Sedikit meditasi dan lanjut rebahan. Rutinitas pagi hari tidak lepas dari secangkir kopi susu dan beberapa potong pisang goreng sambil membunuh waktu di depan layar laptop.

saya menemukan sebuah tulisan di website rumah filsafat dengan judul "Menjadi Nyata di Tahun 2026." Sebuah tulisan membumi tanpa angan-angan layaknya resolusi para manusia yang memburu kenyamanan materi. Tulisan ini menjelaskan tentang momentum tahun baru yang sejatinya abstrak dan ilusif dan tidak nyata, seperti halnya dunia, pikiran kita bahkan emosi juga tidak nyata karena dibatasi ruang dan waktu.

Penulisnya, Reza menyatakan bahwa resolusinya cukup simpel yaitu lebih sering berada dalam keabadian, mengakrabi keheningan yang disebutnya sebagai dirinya yang hakiki.

***

Dua hari sebelumnya, saya melumat sebuah buku dalam sehari kurang lebih 370 halaman. Sebuah buku semacam catatan perjalanan yang ditulis oleh Mohammad Zaim, Muslim dari Kediri yang menceritakan perjalanan panjang kehidupan spiritualnya. Awalnya kuliah di IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN) karena keadaan. Dia diterima di Unesa namun saudaranya menyuruh untuk kuliah di UIN. Hanya beberapa tahun, dia memilih pindah ke sekolah Tinggi Agama Budha di Jakarta.

Zaim memilih sekolah ini karena hasratnya untuk menjalani spiritual model meditasi yang lazim dilakukan pemeluk agama Budha. Selanjutnya dia melanjutkan pencarian jiwanya ke biara yang bernama Plume Village di Bordeaux. Selama 6 tahun, dia menempa dirinya di sana. Satu hal yang unik bahwa meskipun dalam tradisi Budha, dia tetap menganut agama Islam bahkan menurutnya, dengan melakukan itu semua, kepercayaannya terhadap Islam semakin menguat.

***

Momen lain dalam dua kali kesempatan pada platform berbahasa Inggris, saya mengobrol dengan Jade, salah satu mahasiswi di sekolah Budha di Vietnam yang sebentar lagi akan lulus. Kami mengobrol banyak tentang bagaimana meditasi dilakukan.

Saya membukan obrolan dengan menceritakan bahwa di tahun ini, saya berencana untuk meluangkan waktu minimal dua kali dalam sehari untuk belajar meditasi, ketika akan tidur di malam hari dan saat bangun pagi.

Jade dengan penuh semangat mengatakan bahwa meditasi bukan tentang bagaimana kita menyepi dalam keheningan, bukan tentang kondisi tetapi meditasi bisa dilakukan setiap saat. Ketika bekerja, ketika mengobrol, ketika belajar, dan apapun yang sedang kita lakukan. Meditasi sejatinya adalah menyadari apa yang sedang kita lakukan sekarang dan memanggil "Mind" untuk tetap berada pada kondisi present. Ketika dia sedang berkelana ke masa lalu maka panggil dia kembali, pun ketika dia sedang pergi ke masa depan, maka kembalikan dia di masa sekarang.

Dari ketiga momen di atas, mungkin saya sedang diingatkan untuk berusaha belajar sadar akan saat ini. Pikiran tidak bisa dipenjara tetapi dapat dikontrol untuk tidak terlalu mengembara karena sejatinya pikiran yang akan melahirkan berbagai macam hal yang berhubungan dengan psikologis. 


December 15, 2025

Romantisme Merantau

Enrekang-Bandung ternyata terlalu jauh membawaku dalam sepi. 

Dulu aku pernah  menyaksikan seorang pria yang harus merantau dan hanya pulang sekali dalam beberapa tahun. Ketika pulang, seakan sangat keren.

Dulu, beberapa orang di kampungku merantau jauh ke Irian, Malaysia, dan Kalimantan dalam waktu yang cukup lama bahkan puluhan tahun.

Dulu, aku pernah mendengar kisah alegori seorang bayi yang hidup di bawah perlindungan pohon tua. Semakin beranjak dewasa, si anak mengambil satu persatu pohon tersebut untuk kesenangannya. mulai dari buah, daun, ranting, sampai batang. Hingga tiba masa ketika dia sadar bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari pelindungnya si pohon.

Itu dulu, dan sekarang aku menyadari mereka adalah aku yang terdampar jauh di tanah rantau. Tempat yang tidak pernah benar-benar menawan jiwaku. 

Aku tetap merasa anak kampung yang terpaksa harus mendekap diri dan menjejak langkah di tempat ini, terperangkap dalam kesedihan berkepanjangan sambil menahan rindu kepadamu, ibu.

Aku naif mempercayai metaforik tentang merantau;

Merantaulah.. agar kamu tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang

Merantaulah... engkau akan tau betapa berharganya waktu bersama keluarga

Merantaulah... engkau kan mengerti alasan kenapa harus kembali.

....

Romantisasi merantau menjebakku dan memaksa mencerabut jiwaku dari akarnya.

Seringkali aku tak kuasa dan ingin melepaskan semua namun tak ada daya. Aku merasa bahwa hidupku tertinggal di umur 25 tahun dan sisanya hanya hampa.

December 2, 2025

Berita Awal Bulan

November cukup menguras energi dengan berbagai dinamikanya. Saya bahkan pada titik menyerahkan semua pada semesta sambil terus tertatih. Semua masalah muncul dari berbagai arah yang tak terduga, di lingkungan keluarga, di kerjaan, dan berbagai masalah yang membuat kepala serasa akan meledak.
Saya berharap pergantian bulan sedikit meredakan pikiran yang kacau, namun tidak. Semesta tetap menjalankan caranya sendiri.
Kemarin tepat di tanggal satu, berita yang selalu dikhawatirkan sampai di telinga saya. Salah seorang Tante yang cukup dekat dengan saya, sudah tiba pada titik akhir. Meski saya sadar bahwa dia begitu sepuh dan waktunya pasti tiba, tetapi tetap saja ada ruang kosong yang tersisa di sanubari saat memori merecall semua potongan waktu bersamanya, tentang bagaimana beliau yang dulu pernah menjadi penyelamat hidup saat masih kuliah.
Saya tidak tahu pasti usianya berapa tetapi perkiraan saya, beliau sudah mencapai angka 100.

November 13, 2025

Langkah Terakhir

Berita itu datang di siang bolong, telepon WA yang masuk tanpa nama. Aku mengangkat tanpa perasaan curiga akan berita menyedihkan. 

Meninggalki NN.

Aku terdiam, benar-benar terpaku dalam keheningan sejenak suara mulai larut dari gendang telingaku. Suara itu cukup akrab di telingaku dan nama yang disebutkan pun tak kalah akrab denganku bahkan kami sering mencela dalam keakraban.

Memoriku memutar kembali beberapa periode waktu ketika bercengkerama bersamanya dengan segala keguyuban yang ada di antara kami. Sedikitpun tak pernah luput suguhan aneka jajanan ketika aku bertandang. Namun aku juga sangat yakin bahwa dia akan menemukan apa yang dituju karena di akhir-akhir waktunya, selalu saja pesan sejuk yang diungkapkan.

11 Juli 2025, terakhir kali aku mengomentari status WA nya, tentang perjalanannya menunaikan ibadah umroh. Dia hanya merespons dengan ucapan terima kasih. Ah, benar-benar perjalanan hidup yang amat sangat singkat.

Perjumpaan kami di awal tahun ini dan ternyata yang terakhir. Kami tidak saling mengucapkan selamat tinggal karena semesta sama sekali menyisakan tanda, atau mungkin memang seperti itu. Kita selalu disuruh waspada karena tak pernah diberitahu kapan langkah terakhir kita.

Kita benar-benar sangat yakin bahwa kematian pasti akan hadir menjumpai seluruh makhluk tetapi setiap kali momen tiba pada orang yang kita kenal, selalu saja menyisakan ruang hampa, entah apa namanya. Tidak ada yang siap mendengar kematian tanpa persiapan apa-apa.

November 12, 2025

Ibu dan Segala Kebahagiaan

Luruhlah segala kepedihan, 

yang terpendar dari sanubari sang perempuan. 

Suara keheningan di subuh hari, 

semakin menyesakkan dada


kenangan terlempar di masa silam, 

ketika kemewahan tidur di pangkuannya

Perlahan-lahan, genangan air hangat mengalir di sudut mata

semakin menyesakkan dada


Semakin langkah menjauh dari rumah, 

semakin jauhlah apa yang dicari

Aku terlempar dalam fatamorgana, 

yang kuanggap dulunya hakiki


Setelah ini, apa lagi

Entahlah

Gelap dalam pandanganku 

Terjebak dalam angan-angan kosong


Apa maknanya semua ini

Jika jarak langkah dan tujuan semakin menjauh

Semakin aku mencari,

Semakin hilanglah dia


November 4, 2025

Republik Kampus (3)

#Menemukan Diri

Deadline publikasi tinggal dua hari lagi, dokumen akreditasi yang harus diupload esok hari, bahan ajar yang tak kunjung diselesaikan, dan sekian tugas-tugas lain masih menunggu untuk disentuh. Namun malam yang semakin menua, Gunawan tidak bergeming. Dia hanyut dalam bacaan tentang mitologi  Sisyphus, makhluk yang dikutuk oleh Zeus untuk mendorong batu besar ke atas bukit dan setiap kali akan mencapai puncak, batu jatuh kembali dan Sisyphus harus mengulang hal yang sama. Kutukannya abadi.

Apa yang dilakukan Sisyphus? 

Alih-alih bunuh diri atau putus atas akan takdirnya, dia menari-nari dalam gelombang yang dihadapinya, menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang absurd. Melakukan hal yang repetitif tanpa tau ujungnya memang cukup menyiksa. Gunawan merasa dia seorang Sisyphus di dunia modern yang terus saja melakukan hal yang repetitif.

Apakah ini yang dinamakan hidup bermakna?” gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi kebisingan di kepalanya yang terus berdengung.

Gunawan menutup mata dan merasakan angin malam, menarik napas panjang. Ia sadar bahwa yang mengekang bukan pekerjaan atau sistem, tapi ekspektasi idealisme dalam dirinya sendiri. Ia ingin kampus menjadi laboratorium pemikiran, bukan sekadar tempat mencari angka kredit atau dana hibah. Ia ingin mahasiswa membaca buku, berdiskusi, dan berpikir kritis, bukan sekadar sosok-sosok yang mencitrakan diri sebagai intelektual.

November 2, 2025

Detik Terakhir

Tetangga yang saya ceritakan tempo hari, sudah menutup hidupnya di Jum'at malam tepatnya setengah dua belas malam. Kami mengenalnya sejak delapan tahun silam ketika pindah ke sini. Tentu interaksi kami dengan mereka cukup intens karena rumahnya tepat di depan rumah kami dan kalau hendak ke luar maka kami melewati depan rumah.

Jika tidak salah, dua bulan lalu sebelum pensiun dari kerjaannya, dia masih sangat segar dan semangat menjalani rutinitasnya. Sebenarnya dia belum berniat pensiun namun karena kondisi kesehatannya yang kadang-kadang drop maka akhirnya dia memutuskan untuk pensiun. Ternyata penyakitnya cukup serius dan baru didiagnosa setelah chek up ke RS UI.

Sejak itu, kesehatannya terus menurun sampai akhirnya menutup hidupnya tepat di akhir Oktober. Sebelum nafas terakhir, saya masih sempat menengoknya sesaat setelah tiba dari Bandung. Kalau tidak salah, jam setengah sembilan malam saya menengoknya kemudian tiga jam kemudian berpulang. 

Kita meyakini bahwa momen demikian akan dialami oleh semua makhluk hanya saja bentuknya yang berbeda. Ada yang sakit, ada yang kecelakaan, dan berbagai penyebab hilangnya nyawa meskipun kita sadar bahwa semua itu hanyalah sebab normatif karena sesungguhnya ketika kontrak hidup sudah berakhir maka berakhirlah.

Apa yang membuat kematian begitu mendapat perhatian dari manusia sementara mereka meyakini bahwa kematian merupakan hal yang alamiah?


October 28, 2025

Memeluk Kehidupan

Siapa yang tidak mengenal Viktor Emil Frankl, seorang Psikiater yang tidak hanya pintar berteori tetapi dia mengalami sendiri pengalaman menyedihkan selama di tahan di camp konsentrasi Nazi (Auschwitz, Dachau, dll). Meski sebelum ditahan, dia sudah membuka praktik psikiater, namun pengalaman hidup membawanya pada momen merasakan sendiri bagaimana harus mengimplementasikan teorinya kepada dirinya sendiri sebelum diterapkan kepada orang lain.

Seakan Tuhan ingin mengatakan kepada Viktor bahwa apa yang kau ketahui harus diuji secara empiris pada dirimu, apakah kau mampu melewatinya atau tidak. 

"What doesnt kill you will makes you stronger"

Viktor melewati hari-harinya dengan caranya sendiri untuk tetap survive. Dia merawat ingatan pada kenangan-kenangan tentang istrinya dan percaya bahwa suatu saat, dia kembali mendapatkan hidupnya. Meski demikian, tetap saja ada momen yang membuat dirinya serasa angkat tangan.

Semesta membawa viktor kembali menemukan hidupnya saat dibebaskan. Alih-alih menangisi periode kesengsaraan yang dialami, dia kembali melanjutkan praktiknya lalu kemudian menemukan teknik penyembuhan dalam psikiater yang dikenal dengna Logoterapi. 

viktor menjadi contoh bagaimana manusia harus diuji pada setiap ilmu yang bertumpuk di kepalanya. Ujian hidup yang akan menilai apakah manusia lulus dalam kehidupannya ataukah gagal. Meskipun viktor tidak pernah lagi menemukan istrinya setelah dibebaskan, tetapi satu hal yang pasti, dia memenangkan pertarungan dengan dirinya.

***

Membaca kisah para tokoh besar dalam menghadapi kesulitan hidup merupakan salah satu cara untuk meneguhkan diri ketika menghadapi masalah bahwa pada dasarnya, masalah merupakan sesuatu hal yang inheren dalam diri manusia. Hidup adalah masalah maka menghindari hidup sama saja dengan bunuh diri eksistensial.

October 26, 2025

Pengingat Terbaik

Seharusnya, semakin jauh jejak langkah yang kita kisahkan, maka semakin paham bahwa hidup ini akan menuju satu titik temu. Idealnya seperti itu, namun ternyata terlalu banyak dinamika yang membuat idealitas itu menjauh dari realitas yang dijalani. Manusia sering terkecoh dengan hal-hal artifisial dan tidak mampu mengidentifikasi mana yang seharusnya menjadi prioritas.

Saya termasuk kumpulan manusia yang semakin menua tetapi belum jua menemukan kebijaksanaan. Saya masih terus memendam berbagai ambisi yang fatamorgana dan serangkaian keinginan yang sifatnya material. Saya percaya bahwa untuk mendapatkan hal inti, kita harus memilih rasa sakit yang harus dijalani.

Tadi pagi, saya menjenguk engkong, tetangga yang rumahnya tepat hanya beberapa jengkal dari rumah kami. Dia tetangga yang pertama kali kami kenal sejak memilih bermukim di tempat kami sekarang, sejak delapan tahun silam. 

Saya begitu sangat kaget ketika mengetahui bahwa ternyata dia sudah tidak mampu duduk dan badannya semakin kurus. Padahal dua minggu lalu ketika sakitnya baru didiagnosa, dia masih sangat semangat bercerita apa saja. Atau dua bulan lalu ketika istrinya dirawat di RS, dia bercerita dengan penuh harap bahwa semoga istrinya segera sembuh dan biarkan dia mencari nafkah.

Tidak sampai sebulan, dia jatuh sakit yang lebih parah, kemudian hanya berselang beberapa minggu kemudian, keadaannya semakin lemah.

Saya kemudian menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat karena serasa baru kemarin dia terlihat energik menjalani hari-harinya.

Benarlah nasihat bahwa pengingat terbaik dalam hidup adalah menjenguk orang sakit. Melihat keadaan mereka akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa hidup ini akan berujung pada kefanaan dan dalam penantian ke titik itu, kita sebaiknya melakukan hal yang baik-baik saja.

October 25, 2025

Pertanyaan Repetitif

Rabu kemarin di sebuah kelas pagi, salah seorang mahasiswa bertanya pertanyaan retoris dan sangat umum, Apakah agama meruapakn salah satu penghambat kemajuan sebuah negara? 

Mahasiswa yang bertanya memang salah satu mahasiswa yang cukup vokal di kelas saya dan seringkali menanyakan isu-isu terkini yang mungkin tidak terlalu relevan dengan mata kuliah, namun saya suka karena sejatinya ruang kelas harus menjadi ruang dialektis antara mahasiswa dengan pengajar.

Di kelas Politik luar negeri kemarin, kami membahas tentang signifikansi Islam dalam politik luar negeri kemudian dalam sesi diskusi, lahirnya pertanyaan di atas. Entah pertanyaan itu benar-benar lahir dari refleksi pribadinya dengan mengamati fenomena yang ada di tengah masyarakat atau pernah membaca pertanyaan yang sama. Satu hal yang pasti bahwa pertanyaan semacam itu sudah sangat umum saya temukan di berbagai forum bahkan sejak saya kuliah S1 hampir dua puluh tahun yang lalu.

Relevansi agama dan ilmu pengetahuan telah menjadi perdebatan yang cukup sengit beberapa abad terakhir bahkan sampai sekarang. Ada begitu banyak perbedaan pendapat terkait diskursus ini. Sebagian memang percaya bahwa agama menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, sebagian lagi mencoba untuk menemukan titik temua antara kedua dan sebagian tidak terlalu peduli tetapi menempatkan konteksnya.

Sekira dua tahun lalu, saya pernah ikut dalam forum diskusi dengan Hamid Basaid tentang agama dan ilmu pengetahuan. Dia sendiri seperti memisahkan antara kedua diskursus ini namun dalam hal ilmu pengetahuan, dia mencoba untuk tidak membawa unsur agama. 

Salah satu ilustrasinya yang masih saya ingat bahwa kalau agama, percaya dulu sebelum diriset sementara sains, kita wajib melakukan riset sebelum mempercayai itu semua. 

Begitulah dua hal ini selalu diperdebatkan tetapi kemudian pada konteks yang lebih spesifik tentang jawaban atas pertanyaan di atas, apakah agama benar-benar menghambat perkembangan sains?

Sejarah membuktikan bahwa jawabannya bisa "ya" dan "tidak."

Ada masa ketika agama dijadikan alat untuk membungkam sains seperti yang kita saksikan pada abad pertengahan di Eropa, namun ada juga masa ketika agama fine-fine saja saat bergandengan dengan agama yang bisa kita baca pada sejarah perkembangan sains masa keemasan Islam.

Manusia oh Manusia

Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta kemarin sore dengan iringan hujan deras yang mengguyur, saya asyik mendengarkan radio dari HP. Tepat di bilangan Pasteur sebelum masuk tol, penyiar berita menceritakan tentang kisah pilu di Garut. Kisah yang tidak mampu saya selesaikan secara tuntas karena sudah mual, bukan karena mabok darat tetapi isi ceritanya.
Kisah itu tentang seorang ayah tiri yang merudapaksa anak tirinya sejak 2023 saat si anak masih duduk di bangku SMP. Kejadian itu baru diketahui ketika si anak sudah SMA dan sedang hamil. Teman-temannya yang curiga karena perubahan bentuk tubuhnya kemudian melaporkan ke gurunya lalu dibawa ke puskesmas.
Ironisnya, kejadian itu terjadi di rumah sendiri ketika ibu kandung, atau istri si ayah sedang tidak berada di rumah. Si anak tidak bisa berbuat apa-apa karena mungkin berada di dalam ancaman. 
Kemudian pagi ini, saya membaca berita di media online tentang seorang remaja yang mengubur bayinya di kebun pisang. Entah mungkin hasil dari hubungan gelap atau karena kebablasan saat pacaran namun saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana bisa manusia mengubur bayinya yang tidak berdaya. 
Kita disuguhi dengan berbagai peristiwa-peristiwa yang membawa pada satu pertanyaan bahwa apakah manusia benar-benar makhluk yang paling tinggi dari yang lain, ataukah seperti yang dikatakan oleh Dostoyevsky dalam bukunya
"Catatan dari Bawah Tanah"
"Cacat terburuk manusia adlah penyimpangna moralnya yang terus-menurus tak kenal henti. Apabila manusia tidak menemukan sebuah jalan keluar, dia akan menciptkana kehancuran dan kekacauan, menciptakan segala macam penderitaan supaya mencapai tujuan."

October 24, 2025

Hal-Hal yang Tidak Perlu Direspons

Sepertinya saya harus merutinkan kembali menulis untuk melepaskan semua penat yang ada di kepala. Melepaskan semua tanpa harus menyiksa diri dengan pikiran-pikiran yang tak kan pernah ada habisnya. Saya bahkan merasa tidak mampu menampung informasi yang masuk jadi menulis merupakan saluran untuk mengeluarkan satu persatu yang tidak harus ditampung.

Saya mulai dari satu hal yang harus saya lepaskan tentang informasi bahwa saya menjadi objek gibahan. Berat memang tapi saya berusaha untuk lebih rasional memikirkan apa respons yang lebih baik. Saya menakar berbagai hal yang sebaiknya dilakukan, mulai dari reaktif, mendiamkan, atau cara-cara lain yang mungkin bisa dilakukan.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari referensi yang mungkin membantu saya untuk menemukan solusi yang terbaik. Saya membuka youtube dengan kata kunci merespons gibah. Muncullah berbagai ceramah yang menganjurkan untuk tidak terlalu peduli karena sejatinya, sekeras apapun kita berusaha dan melakukan hal yang baik-baik, selalu saja menyisakan orang-orang yang tidak akan pernah setuju dengan kita.

Hidup adalah pilihan tentang diri kita, tentang apa yang seharusnya diusahakan tanpa berusaha untuk menyenangkan semua orang. Perjalanan hidup adalah perjalanan untuk menemukan siapa kita sebenarnya yang autentik tanpa perlu menjadi seorang yang disukai semua orang. Toh bahkan nabi Muhammad sekalipun sebagai manusia yang paripurna, tetap saja ada yang tidak menyukainya.

Sepanjang perjalanan hidup saya, tidak pernah saya menemukan sesosok manusia yang dihormati karena berusaha menyenangkan semua orang. Manusia yang terhormat adalah dia yang melakukan hal-hal baik atas dasar niat yang baik, bukan ingin dipuji dan disukai.

Jadi berhentilah untuk menjadi manusia yang ingin disukai semua orang, namun bukan berarti melakukan apa saja yang memang di luar batas-batas aturan. Jika pada akhirnya mendengar bahwa ada sebagian yang tidak menyukai diri kita bahkan bergunjing di belakang kita maka yakinilah bahwa itulah hidup. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah menjadi objek gibahan kecuali yang hidup menyendiri.

"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu" (Ali bin Abi Thalib).

October 21, 2025

Republik Kampus (2)

#Kelelahan Eksistensial

Lima tahun yang dijalani di kampus ini tidak membuat Gunawan mampu menerima realitas yang ada. Dia seolah menjadi budak industri pendidikan yang menjalani hari-hari yang repetitif, bangun pagi, bersiap ke kampus, aktivitas di kampus, pulang ke rumah, malam mengerjakan tugas yang tertunda, kemudian kembali berbaring untuk sekadar melepas penat dan esoknya akan berlangsung seperti biasanya.

Gunawan sadar bukan ini yang ada di idenya ketika pertama kali memutuskan menjadi seorang Pengajar di kampus. Dia terlalu idealis membayangkan ruang-ruang seperti lingkaran Wina, mazhab teori kritis, Akademianya Platon, dan kelompok intelektual lain yang melahirkan berbagai ide-ide besar.

Setiap kali tiba di kampus dan mulai membuka laptopnya, yang tersisa di dadanya hanyalah rasa sesak yang merupakan kristalisasi dari kelelahan psikis. Kelelahan yang lahir dari realitas yang jauh dari idealitas yang dia impikan.

Setiap kali Gunawan ingin memulai untuk kembali produktif namun idenya terhenti pada kalimat pertama, "menjadi Dosen merupakan panggilan hati nurani....," Gunawan merasa sangat bersalah untuk melanjutkan kalimat berikutnya karena yang dia saksikan hanyalah realitas semu tentang dunia Dosen yang penuh dengan drama kehidupan. Tidak ada nuansa akademik secara lahiriah tetapi hanya artifisial.

Dosen melakukan penelitian karena kewajiban dan dana hibah yang besar, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dikerjakan hanya memenuhi kewajiban BKD, pun mengajar tidak benar-benar menciptakan ruang akademis yang emansipatif kepada seluruh mahasiswa. 

Bahan presentasi dibuat dengna bantuan AI, referensi dari situs internet yang tidak jelas, Dosen yang tidak pernah membaca buku dan berbagai ironi lain.Publikasi artikel di jurnal jangan ditanya, sebagian mengambil tugas mahasiswa diedit menggunakan chatGPT kemudian dipublikasikan dengan sistem fastrek, jadilah sebuah aritkel publikasi yang diklaim.

Gunawan duduk di sudut pantry dengan segelas kopi yang masih ngebul sambil menatap dari jendela langit Surabaya yang dipenuhi polusi di pagi hari. Kampus yang dulunya dianggap bermartabat ternyata hanya gedung yang ramai oleh akademisi tetapi sepi.

Sebuah spanduk besar terpajang di gerbang kampus dengan tulisan "Kampus Berdampak" berkibar lesu tanpa makna. Kalimat tersebut hanya jargon kosong yang sama sekali tidak berdampak pada siapa saja yang ada di kampus.

Akreditasi kampus yang unggul hanyalah tulisan di sertifikat, bukan kualitas pemikiran yang benar-benar mencerminkan keunggulan kampus. Merdeka belajar hanya sebatas pelonggaran pada sistem belajar yang digunakan oleh dosen pemalas, bukan pada aspek pemikiran yang berdaulat.

Gunawan membuka diktat yang dipenuhi catatan-catatan kecil tentang rencana penelitian, kini kosong tak bermakna. Ia menulis curhatannya "Saya tidak sedang bekerja tetapi lelah mengharapkan hal-hal ideal." Kalimat itu menenangkan sekaligus menakutkan dan bagai mimpi buruk. Ada pengakuan bahwa harapan yang dulu menjadi bahan bakar semangatnya sebagi seorang Pengajar, kini nyaris padam. 

Gunawan menatap ke luar jendela dan memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang di area kampus. Beberapa sibuk  membuat konten promosi untuk acara kampus, beberapa duduk di taman sambil tertawa dengan ponsel di tangan. Dia tidak mendapati mahasiswa yang duduk di bangku taman sambil membaca buku, pemandangan yang dulu sering dia saksikan ketika masih kuliah.

Gunawan menatap mereka dengan sambil merefleksikan apa yang terjadi. Ia muak atas kondisi yang dia saksikan, tapi juga tak sanggup. 

Mungkin mereka hanya meniru kami,” gumamnya lirih. 

Kalau dosennya sibuk rapat dan menulis laporan, kenapa mereka harus sibuk membaca buku?”

Senja menjelang maghrib, Gunawan memutuskan pergi ke kafe baca di pinggir kota, tempat pelariannya selama ini sambil merawat idealitas yang hanya tersisa sedikit di kepalanya. Di sana, aroma kopi dan tumpukan buku tua menjadi semacam terapi penyembuhan jiwa. Ia membuka kembali buku The Myth of Sisyphus karya Albert Camus, yang dulu ia baca saat kuliah.

Manusia absurd,” tulis Camus, 

“Manusia yang sadar akan kehampaan hidup namun tetap menolak bunuh diri.

Gunawan sedang menjadi Sisifus yang jenuh tentang makna kehidupan, dan tetap bertahap sambil terus menjalani absurditas kehidupan. selain karena larangan agama, Gunawan menolak bunuh diri juga karena menyadari bahwa hidup yang absurd tidak selayaknya diselesaikan dengan bunuh diri.

Gunawan membaca kalimat itu berulang-ulang tentang Sisifus yang menjalani hidup absurd dengan kebahagiaan. Ia merasa seperti sedang menatap dirinya sendiri di cermin. Ya, hidupnya absurd. Ia tahu dunia akademik penuh kepalsuan, tapi tetap datang setiap hari ke kampus, mengajar, memberi nilai, dan menghadiri rapat. Seolah semua itu masih berarti.

Gunawan mencoba untuk menjadi Sisifus yang utuh bahwa apa yang dia jalani itu memang membosankan tetapi bagaimana menjalani kebosanan dengan rasa bahagia.

Beberapa hari kemudian, Bu Rani menghampirinya di kantin kampus. “Gun, kamu jarang kelihatan akhir-akhir ini. Katanya sekarang lebih sering di luar?”
Gunawan tersenyum tipis getir. “Masih di sini, Bu. Hanya sedang mencoba memahami kembali apa artinya menjadi dosen.”
Bu Rani tertawa kecil nan sinis “Kamu terlalu serius, Gun. Jalani saja, toh semua orang juga begitu.
Gunawan membalas pelan, “Ya, Bu. Mungkin itu masalahnya."

Gunawan tidak pernah sekalipun menemukan koleganya di kampus yang memiliki pemikiran yang sama, bagaimana merawat marwah kampus yang seharusnya menjadi laboratorium kehidupan untuk menguji hal-hal yang ideal, bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah.

Sambil mengendarai motor bututnya,  pikirannya berkecamuk tentang banyak hal. Ia menatap kaca spion motornya. Dalam pantulan kaca itu, ia melihat wajahnya yang mulai menua. Lelah, tapi masih menyala samar meskipun sangat sedikit. Ia sadar, bukan sistem kampus yang sepenuhnya membuatnya hampa, tapi dirinya sendiri yang masih menuntut makna dari ruang yang sudah berhenti bermakna.

Malam itu, Gunawan menulis lagi di jurnal pribadinya. Blog yang sudah dibuatnya puluhan tahun silam ketika masih kuliah S1.

Aku tidak sedang mencari dunia yang sempurna sebagaimana di dalam kepala saya, hanya ingin tempat di mana kejujuran tidak dianggap ancaman dan menyisakan sedikit harapan bagi mahasiswa yang ingin menjadi manusia.”

Hari berikutnya, Gunawan kembali mengajar. Kali ini ia memilih untuk bicara lebih sedikit dan mendengar lebih banyak. Ia memulai kelas dengan pertanyaan sederhana, 

Kenapa kalian kuliah?”

Pertanyaaan retoris yang selalu dia dengar dari dosen-dosennya dulu. 

Ruang kelas hening, beberapa mahasiswa heran dengan sikap Gunawan yang lain dari biasanya. Sosok yang biasanya memulai kelas dengan senyuman tipis sambil berusaha melontarkan candaan yang garing, kali ini Gunawan sedikit lebih serius.

"Biar dapat kerja, pak" tiga atau empat mahasiswa menjawab serentak.

Gunawan mengangguk dan mencoba memahami apa yang ada di benak mahasiswanya. 

"Itu alasan yang tidak salah, tetapi coba direfleksikan dengan lebih mendalam, apakah bekerja benar-benar adalah tujuan akhir kalian, atau hanya cara untuk bertahan hidup?"

Tidak ada yang merespons tetapi hanya wajah-wajah penuh tanda tanya, entah heran atas sikap Gunawan atau benar-benar berpikir tentang jawaban.

Sore harinya, setelah kelas selesai. Gunawan memilih untuk tidak langsung pulang tetapi ia kembali membuka laptopnya. File tulisan lama“Perbaikan Negara diawali dari Dunia Kampus” kembali terbuka. Ia membaca paragraf pembuka, lalu menambahkan satu kalimat baru di bawahnya:

Mugnkin saja ide perbaikan negara tak akan pernah dimulai dari dunia kampus seperti yang dikisahkan sejarah yang romantik, karena kampus sudah lebih dulu menjadi negara, lengkap dengan pejabat, fraksi, dan rakyat kecilnya. Negara yang penuh dengan intrik dan melupakan bagaimana membangun manusianya

Gunawan berhenti menatap layar yang memantulkan wajahnya. Entah kenapa, kali ini ia tidak merasa mual. Mungkin karena ia akhirnya berdamai dengan absurditas yang sedang dijalaninya. Berat, tetapi dia terlanjur setuju dengan Albert Camus bahwa absurditas kehidupan harus dijalani dengan riang gembira, toh akhirnya juga akan mati.

Di luar, Surabaya malam itu ramai, suara klakson, tawa anak muda, Bonek mania yang sedang menuju stadion, dan aroma hujan bercampur debu. Gunawan menutup laptopnya dan tersenyum kecil.

Ia tahu, kelelahan ini mungkin tak akan hilang. Tapi setidaknya ia kini mengerti tentang hidupanya,

"Bertahan pun bisa menjadi bentuk perlawanan."