#Menemukan Diri
Deadline publikasi tinggal dua hari lagi, dokumen akreditasi yang harus diupload esok hari, bahan ajar yang tak kunjung diselesaikan, dan sekian tugas-tugas lain masih menunggu untuk disentuh. Namun malam yang semakin menua, Gunawan tidak bergeming. Dia hanyut dalam bacaan tentang mitologi Sisyphus, makhluk yang dikutuk oleh Zeus untuk mendorong batu besar ke atas bukit dan setiap kali akan mencapai puncak, batu jatuh kembali dan Sisyphus harus mengulang hal yang sama. Kutukannya abadi.
Apa yang dilakukan Sisyphus?
Alih-alih bunuh diri atau putus atas akan takdirnya, dia menari-nari dalam gelombang yang dihadapinya, menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang absurd. Melakukan hal yang repetitif tanpa tau ujungnya memang cukup menyiksa. Gunawan merasa dia seorang Sisyphus di dunia modern yang terus saja melakukan hal yang repetitif.
“Apakah ini yang dinamakan hidup bermakna?” gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi kebisingan di kepalanya yang terus berdengung.
Gunawan menutup mata dan merasakan angin malam, menarik napas panjang. Ia sadar bahwa yang mengekang bukan pekerjaan atau sistem, tapi ekspektasi idealisme dalam dirinya sendiri. Ia ingin kampus menjadi laboratorium pemikiran, bukan sekadar tempat mencari angka kredit atau dana hibah. Ia ingin mahasiswa membaca buku, berdiskusi, dan berpikir kritis, bukan sekadar sosok-sosok yang mencitrakan diri sebagai intelektual.
No comments:
Post a Comment