Tetangga yang saya ceritakan tempo hari, sudah menutup hidupnya di Jum'at malam tepatnya setengah dua belas malam. Kami mengenalnya sejak delapan tahun silam ketika pindah ke sini. Tentu interaksi kami dengan mereka cukup intens karena rumahnya tepat di depan rumah kami dan kalau hendak ke luar maka kami melewati depan rumah.
Jika tidak salah, dua bulan lalu sebelum pensiun dari kerjaannya, dia masih sangat segar dan semangat menjalani rutinitasnya. Sebenarnya dia belum berniat pensiun namun karena kondisi kesehatannya yang kadang-kadang drop maka akhirnya dia memutuskan untuk pensiun. Ternyata penyakitnya cukup serius dan baru didiagnosa setelah chek up ke RS UI.
Sejak itu, kesehatannya terus menurun sampai akhirnya menutup hidupnya tepat di akhir Oktober. Sebelum nafas terakhir, saya masih sempat menengoknya sesaat setelah tiba dari Bandung. Kalau tidak salah, jam setengah sembilan malam saya menengoknya kemudian tiga jam kemudian berpulang.
Kita meyakini bahwa momen demikian akan dialami oleh semua makhluk hanya saja bentuknya yang berbeda. Ada yang sakit, ada yang kecelakaan, dan berbagai penyebab hilangnya nyawa meskipun kita sadar bahwa semua itu hanyalah sebab normatif karena sesungguhnya ketika kontrak hidup sudah berakhir maka berakhirlah.
Apa yang membuat kematian begitu mendapat perhatian dari manusia sementara mereka meyakini bahwa kematian merupakan hal yang alamiah?
No comments:
Post a Comment