#Merawat Idealisme
Gunawan tidak pernah sama sekali membayangkan sebelumnya apa yang sedang dijalaninya sekarang di dunia kampus. Ruang yang sebelumnya dibayangkan sebagia dunia ideal ternyata tidak lebih dari sebuah republik mini.
Birokrasi yang tak kalah rumit dari birokrasi pemerintah, fraksi yang saling hujat, idealisme yang dibonsai, dan nuansa yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia politik. Dunia akademik yang Gunawan bayangkan sebagai dunia dialektis, tempat ide dipertengkarkan, dan hasil riset yang melimpah ternyata hanya fatamorgana kosong.
Tahun ini memasuki lima tahun Gunawan menjalani profesi sebagai pengajar di tingkat universitas. Idelismenya masih utuh namun mulai luruh sekian persen. Semangatnya masih tinggi meski dia mulai realistis atas apa yang harus dijalani di hari-hari mendatang. Ruang ini bukan potongan surga yang ada di bumi, tapi tidak lebih dari ruang orang-orang yang sedang berkompetisi memapankan diri masing-masing.
Masih segar diingatannya saat minggu pertama menginjakkan kaki di kampus. Dia disambut para Dosen yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing tanpa ada sama sekali salam perkenalan. Gunawan mulai ragu, namun mencoba menepis dengan pikiran-pikiran baik bahwa begitulah para Akademisi, karena terlalu sibuk memikirkan masa depan bangsa sehingga sapaan pun tak sempat.
Sekian hari berlalu, aktivitasnya dipenuhi dengan aneka hidangan rapat, tumpukan map, ratusan borang, dan wajah-wajah kolega yang tidak lebih sekadar karyawan, bukan pribadi yang berdaulat atas ide-ide, bahkan Gunawan tak sempat lagi mengingat berapa rapat yang harus diikuti dalam sebulan.
“Agenda pertama, pembagian tugas akreditasi,” kata Pak Kaprodi, suaranya serak seperti mesin fotokopi yang kelelahan. Wajahnya seakan menggambarkan bahwa dia sudah cukup lelah dengan segala rutinitas di industri pendidikan, bukan instansi pendidikan.
Bu Rani langsung menimpali, “Saya pegang kriteria penelitian ya, Pak. Biar cepat, soalnya saya sudah biasa ngerjain.” Kalimat yang sepertinya template dan respons yang cepat agar tidak diberikan tugas yang memberatkan.
Gunawan mencoba menawar, “Kalau boleh, saya ingin bantu di bagian pengabdian masyarakat, Pak. Biar bisa turun langsung ke UMKM. Saya tertarik untuk mengimplementasikan beberapa hasil penelitian saya di masyarakat”
Bu Rani menatapnya sambil tersenyum pahit dan menampakkan senioritas di sorot wajahnya. “Wah, semangat ya, Gunawan. Tapi di sini sistemnya sudah jalan. Jangan diutak-atik dulu, nanti repot. Tidak perlu terlalu idealis.”
Bu Rani tidak pernah memanggilnya dengan panggilan mas meskipun secara usia, mereka lahir di tahun yang sama. Entahlah. Namun Gunawan tidak pernah mempermasalahkan karena sejak kuliah, dia selalu terbiasa dengan iklim emansipasi di setiap organisasi yang diikutinya. Penghormatan tidak pada panggilan tapi bagaimana menghargai sesama dalam ruang-ruang akademik. Penghormatan panggilan hanyalah sekadar retoris dan artifisial.
Gunawan hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu “sistem” itu hanya cara halus dari para kolega senior untuk membungkam dan menutup ruang bertumbuh bagi orang baru dan tentu dimaknai sebagai: Jangan ganggu status quo.
Hampir dua dekade silam ketika masih kuliah, Gunawan selalu menentang setiap sistem yang dia anggap tidak adil dan merusak iklim kampus yang seharusnya inklusif dan emansipatif. Namun saat ini, dia mencoba untuk menyimak setiap fenomena yang ditemuinya meskipun pada beberapa kesempatan, kehadirannya hanya dianggap angin lalu.
Hari-hari berlalu sampai menjelang lima tahun, Gunawan sadar bahwa ide tidak pernah menjadi barang istimewa di kampus, namun siapa yang paling mampu mengambil hati pimpinan, dia yang akan berada di posisi yang nyaman.
Satu-satunya pelarian Gunawan ketika sedang penat adalah sebuah kafe baca di pinggir Surabaya menuju Sidoarjo. Buku, kopi, dan laptop menjadi senjata untuk mencoba menerima kenyataan bahwa dia sedang terjebak di suatu tempat yang ideal dalam pikirannya namun realitasnya tidak lebih dari sekadar industri pendidikan. Pengajar bukan lagi sosok yang dijaga marwahnya tetapi hanya atribut yang dikejar untuk kepentingan masing-masing.
Gunawan belajar cara bertahan untuk tetap survive, dengar lebih banyak, bicara secukupnya dan tidak perlu menjilat. Tapi setiap kali ia mencoba diam dan menjauh dari keriuhan, selalu saja muncul suara di kepalanya yang memberontak dan menuntut Gunawan secara moral, suara idealisme yang dulu membuatnya yakin jadi dosen adalah panggilan, bukan pekerjaan.
Suatu pagi ketika Surabaya didera hujan yang sangat deras. Setibanya di ruang dosen, Gunawan mendengar percakapan dua koleganya.
“Katanya semester depan bu Rani mau naik jadi wakil dekan,” bisik bu Nirma, dosen yang minggu lalu bergibah dengan ibu Rani tentang Kaprodi yang dianggap memihak ke dosen lain.
“Pantesan akhir-akhir ini rajin ikut semua kegiatan, dari seminar sampai lomba tumpeng” balas pak Sukamto sambil terkekeh.
Gunawan pura-pura sibuk di depan laptopnya, tapi bibirnya ikut tersenyum. Dalam hati ia mengakui, politik kampus di Surabaya lebih hidup daripada politik di Balai Kota. Minggu lalu bu Nirma begitu akrab dengan bu Rani namun dibelakang bergunjing tentang koleganya.
Gunawan tidak hanya menyerah pada para kolega tetapi juga para mahasiswa yang semakin berkurang keinginan untuk belajar. Tentu bukan karena kesalahan mahasiswa karena dosen mencontohkan hal yang sama.
Mahasiswa sekarang kehilangan seleranya untuk membaca buku dan diskusi, pikir Gunawan. Sangat fasih berpendapat tetapi sangat lemah mempertahankan argumennya secara ilmiah. Nilai bukan hasil belajar, tapi hasil negosiasi. Saat diberi tugas esai, yang mereka cari bukan referensi, tapi “contoh dari ChatGPT.”
Dalam beberapa kali kesempatan sebelum memulai kelas, Gunawan sering bertanya secara retoris “Kenapa tidak baca literatur sendiri di buku atau jurnal?”
Jawabannya selalu sama dan serentak, “Waktunya, Pak... saya juga kerja sambilan.”
Gunawan memahami bahwa hidup di Surabaya keras, bahkan mungkin juga di kota-kota besar lain. Banyak mahasiswa kuliah sambil kerja, ngekos seadanya, bahkan kadang ngajar les demi bayar UKT. Tapi di sisi lain, mereka juga terlalu cepat menyerah dan pasrah pada kondisi, seolah perjuangan akademik tak lagi relevan di kota yang lebih menghargai relasi daripada argumen.
Kondisi ini diperparah dengan realitas kampus bahwa mayoritas dosen akan selalu memberikan nilai tinggi kepada mahasiswanya karena berpengaruh pada akreditas.
Sore itu, setelah kelas selesai, seorang mahasiswi menghampirinya di kantin kampus.
“Pak, saya mau bimbingan. Saya pengen nulis skripsi soal potensi usaha anak muda Surabaya untuk ekspor, tapi bingung teorinya apa.”
Gunawan memandang wajah mahasiswi itu, penuh gugup tapi jujur. Ada sesuatu yang membuatnya tenang.
“Coba mulai dari hal yang kamu alami sendiri. Kamu lihat temanmu-temanmu yang sudah pernah membuat usaha? usaha di bidang apa? Apakah usaha sejenis sudah pernah ekspor? Dari situ cari teorinya.”
Mahasiswi itu mengangguk. “Makasih, Pak. Saya kira teori dulu baru observasi.”
Gunawan tersenyum. “Kalau di lapangan, kadang teori harus mengejar realitas, bukan sebaliknya.” hal yang membuatnya senang karena masih ada sebagian mahasiswa yang benar-benar serius dalam belajar dan juga memikirkan apa yang akan diteliti.
Saat mahasiswi itu pergi dan menghilang dari pandangannya, Gunawan duduk sendirian di ruang dosen sambil memandang tumpukan buku yang menunggu dibaca. Di luar, suara klakson dan pedagang sate Madura menembus jendela. Surabaya sore itu panas, tapi ada rasa damai kecil di dadanya.
Ia sadar, mungkin dunia akademik tak seindah yang dulu ia bayangkan. Tapi di antara laporan akreditasi palsu, rapat tak berujung, dan mahasiswa yang setengah putus asa, masih ada momen-momen kecil yang membuat semuanya terasa berarti seperti percakapan barusan.
Malamnya, Gunawan pulang melewati kawasan Bungurasih yang ramai. Orang-orang hendak pulang ke kota masing-masing. Lampu toko menyala, pedagang asongan yang tetap bersemangat, dan aktivitas lain yang membuatnya merasa hidup kembali.
Ia berpikir, mungkin memang begitu hidup di kota ini, kota pahlawan yang keras tapi jujur. Tak ada ruang untuk bersembunyi di balik slogan “akademik yang bermartabat.”
Kampusnya mungkin tak pernah tidur. Tapi bukan karena semangat ilmiah, melainkan karena semua orang terlalu sibuk menjaga posisi.
Gunawan tersenyum getir. Di sisa malam itu, ia menyalakan laptopnya, membuka berkas tulisan lama, esai tentang integritas akademik yang dulu ingin ia kirim ke media nasional.
Judulnya masih sama: “Perbaikan Negara diawali dari Dunia Kampus”
Dan ia menulis ulang kalimat pertamanya:
“Menjadi dosen merupakan tugas mulia untuk berkontribusi dalam memperbaiki kondisi negara. menjadi dosen bukan sekadar atribut untuk dibanggakan di depan mertua tetapi panggilan nurani untuk tumbuh bersama para mahasiswa. Kelak mereka akan menjadi laskar negara yang membawa kebaikan bangsa dan negara.”
Kalimat yang cukup ideal yang membuat Gunawan beberapa kali merasa mual ketika menyadari bahwa kampus tidak lebih dari miniatur negara dengan segala problematikanya.
#Edisi 1