August 24, 2017

#OTS 8

Tidak ada yang terlalu istimewa pada perjalanan ots kali ini. Tidak lebih hanya seperti napak tilas mengitari sudut kota yang pernah kutinggali beberapa tahun yang silam.

Mungkin perbedaan yang lebih terasa hanya pada beberapa hal seperti makanan. Dulu saat masih di kota ini, Saya jarang memyicipi makanan khas kota ini yang terbilang mewah karena harus menghemat uang bulanan bahkan untuk makan sebisa mungkin mencari warung paling murah di daerah kos-kosan dekat kampus.

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, Saya leluasa mencicipi makanan khas kota ini bahkan di daerah sekitar wisata kuliner yang dianggap mahal yang pada masa kuliah seakan mustahil untuk makan di sekitar tempat itu.

Saya menikmati kuliner ikan kaloa, konro bakar bahkan pisang ijo satu porsi seharga 25 ribu yang menurutku porsinya sangat sedikit namun harganya kelewat mahal.

Saya pun menikmati nostalgia di Makes, tempat nongkrong dulu yang selalu kurindukan. Menikmati hidangan sarabba dengan aneka gorengan.

Selebihnya, kota ini tidak banyak berubah. Setiap sisinya masih sama seperti dulu meski pembangunan terus dikebut.

Mks 24 8 17

August 15, 2017

Tentang Materi dan Ibu Kota

Tidak sedang berusaha menafikan kebutuhan akan uang dan tidak mendiskreditkan orang di Kota ini namun apa yang kualami akhir pekan lalu sedikit membuka mataku akan relasi hubungan orang-orang dan kalkulasi materi di Ibu Kota serta semoga tidak mengeneralisir.

Akhir pekan kemarin, toilet di rumah kontrakan mampet. Setelah ditelusuri ternyata rumah kontrakan yang sedang kami tempati tidak mempunyai septic tank alhasil karena yang empunya kontrakan tinggal di daerah Kemayoran dan beberapa kali dihubungi tidak terkoneksi maka Kami memutuskan untuk membuat Septic Tank.

di sini Saya tidak hendak bercerita tentang tetek bengek masalah toilet yang mampet ataupun bagaimana ribetnya membuat septic tank namun ada beberapa bagian yang ingin Saya ceritakan. 

Septic tank yang dalamnya 1,5 meter harus digali dan menjadi masalah di mana harus dibuang tanah galian yang banyaknya sekitar 20-30 gerobak. ternyata di Kota yang sumpek ini, semua harus dikalkulasi dengan uang. kami harus membayar 100 ribu untuk menumpuk tanah galian di sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon pisang. jika dirasionalisasikan maka seharusnya yang punya kebun sudah mendapatkan keuntungan dari tanah hasil galian karena mengandung pupuk dan berguna untuk tanaman pisangnya namun karena butuh, maka suka tidak suka harus dibayar.

tidak berhenti sampai di situ. sesaat setelah membeli pasir dan batako, kami kesulitan menurunkannya di depan rumah karena jalanan di depan rumah tidak bisa dilewati mobil. pasir dan batako tersebut harus diturunkan di depan rumah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. tidak ada yang aneh karena kami sudah minta izin namun kejanggalan memenuhi benakku ketika mengetahui bahwa untuk sekedar numpang menurunkan pasir dan batako tersebut, kami harus membayar 30 ribu kepada pemilik rumah padahal hanya sekedar diturunkan kemudian diangkut dengan gerobak.

Mungkin tidak jadi soal jika tukang yang mengerjakan septic tank tidak kenal dengan sang pemilik rumah namun pada kenyataannya, mereka sangat akrab.

Setiap kali menumpang untuk sekedar menurunkan pasir dan Batako, kami harus membayar 30 ribu karena esok hari ketika membeli kekurangan pasir, kami harus membayar lagi.

Sebenarnya ini bukan tentang nilai uang atau kalkulasi untung rugi namun lebih pada sebuah interaksi sosial di dalam Masyarakat yang benar-benar harus diukur dengan uang.

Saya tidak sedang menghakimi relasi sosial seperti itu karena mungkin sudah menjadi tradisi di Kota ini namun perlu Saya tegaskan bahwa hal seperti di atas sering kutemui di kota ini dalam bentuk yang lain, semua diukur dengan uang. Amat sangat sulit menemukan relasi sosial yang berdasar atas rasa saling tolong menolong.

15 8 17

August 14, 2017

Menakar Diri

Hal yang paling menakutkan dalam perjalanan hidup adalah momen di mana diri terjerembab dalam masa futur. klise untuk mengatakan hal tersebut manusiawi namun beranjak dari kefuturan sangat berat apatahlagi berhubungan dengan hal duniawi.

apalagi yang lebih mengerikan dari diri yang sedang berjalan jauh di luar koridor. menabrak semua tabu yang merusak hati dan mengamini tingkah yang menghitamkan jejak. itu sedang terjadi dan membuat diriku tidak sanggup melakukan perbaikan. kata-kata sudah meluncur dari lidah dan mustahil dipungut kembali.

Saya selalu berandai-andai tentang semua momen yang silih berganti datang menghampiri. berandai akan keindahan dan semua urusan yang dipermudah namun pada kenyataannya, hal tersebut jauh dari harapan. selalu ada kerikil yang menjegal. Saya mengukur diri mengenai unsur-unsur makanan yang masuk ke dalam diri, mungkin dominan unsur haram yang menjelma menjadi butir-butir makanan dan melebur dalam aliran darah.

dua minggu terakhir, Saya diperhadapkan dengan masalah yang menurutku sangat duniawi namun Saya gagal melewatinya. reaksi terhadap masalah terlalu berlebihan. Saya terlalu menggunakan rasionalisasi pikiran yang seringkali tidak seperti yang dipikirkan. 


kalkulasi material tentang hidup terlalu mendominasi pikiran yang membuat perasaan merasa was-was atau bahkan insecure di masa datang padahal kenyataannya semua akan berjalan baik-baik saja. Saya sudah berada pada beberapa momen yang menguatkanku bahwa tidak semua mesti dikalkulasi dengan pikiran karena sejatinya, tangan Tuhan bekerja melebihi apa yang kita pikirkan.

Langkah berikutnya, Saya harus menguatkan diri untuk kembali ke jalur yang seharusnya. menjalani hidup dengan mengurangi cara berpikir yang licik dan mengikuti cara kerja Tuhan. tidak mudah memang untuk kembali menstabilkan hati namun hal tersebut adalah sebuah keharusan, tidak ada tawar menawar.

14 8 17

July 20, 2017

# OTS 7

Sudah beberapa kali memandangi kota ini saat kereta yang kutumpangi singgah di stasiunnya namun tak sekalipun Saya menghangati udaranya. Kota ini hanya persinggahan saat Saya lalu lalang dari Ibu kota ke bagian timur pulau ini.

Kantorlah yang akhirnya menakdirkanku benar-benar menginjakkan kaki di kota ini. Melipur penasaran yang sedari dulu membayang di kepalaku bahwa seperti apa sebenarnya wajah kota ini.

Perjalanan via kereta ke kota yang sedang kujejak hanya sekitar 3 jam. Wilayahnya tidak terlalu jauh dijangkau.
Senin siang kemarin, saya tiba di stasiun, menikmati nasi gentong yang menurutku hampir sama dengan coto. Melepas dahaga dan rasa penat kemudian melanjutkan perjalanan ke bilangan jln. Kartini. Saya memilih memesan hotel tepat di persimpangan jalan, Hotel Tryas namanya.

Tiga malam sudah lamanya Saya di kota yang menurutku hawanya panas. Tidak terlalu jauh kakiku menjejak oleh karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada fenomena di sini yang menurutku sangat kontras dengan julukan kota santri. Di setiap awal malam saat berjalan kaki menyusuri trotoar, dengan begitu mudahnya kita menjumpai tukang becak yang menawarkan kenikmatan malam. Mereka seakan merangkap kerja sebagai broker para wanita pemberi nikmat.

Untuk ukuran biaya hidup, kota ini masih bersahabat untuk masyarakat yang berpenghasilan di bawah rata-rata.

Jangan ditanya masalah harga batik. Menurutku, harga batik di toko Trusmi amat sangat tidak masuk akal bahkan untuk ukuranku terlalu mahal dengan kualitas bahan yang tidak terlalu mewah. Akhirnya saya tidak membeli baju batik khas kota ini.

Malam ini menjadi momen terakhir menikmati kehangatan kota karena besok dinihari, saya harus bergegas kembali ke Ibu kota. Namun setidaknya, rasa penasaran atas setiap sudut kota ini sedikit terobati meski hanya sebagian sudutnya yang kesinggahi.

Cirebon, 20 7 17


July 18, 2017

Tentang Ulang Tahun

"Lagi sibuk mas? Ini tg brp? Ingat gak ya? Hehe"
Masih tentang ulang tahun yang sedari dulu tidak pernah menjadi sebuah momen yang menurutku wajib diingat apatahlagi harus dirayakan.

Hari ini, isteri saya telah menggenapi keberadaannya di kehidupan ini selama 27 tahun dan sama sekali saya tidak menyadarinya. Kalimat pertama di tulisan ini adalah pesan via whatsapp yang dikirim oleh mertua saya untuk momen hari ini.

Sebulan yang lalu, sehari sebelum idul fitri 1438 H. Anak saya menjalani hidupnya di tahun pertama. Memang ada kue tart atau bahkan lebih cocok disebut kue bolu buatan saudara saya. Kue tersebut dipotong lalu kami saling menyuapi namun sama sekali hal tersebut bukan usaha untuk membiasakannya dan menjadikan potong kue sebagai tradisi pengingat ulang tahun.

Saya selalu menghindari hal-hal yang nampaknya tidak prinsipil. Memang sih bisa jadi momen ulang tahun dijadikan tolak ukur mentafakkuri setiap langkah yang sudah terlewati namun kenyataannya, hal yang kemudian terjadi selama ini adalah merayakannya dengan sesuatu yang sungguh tidak bermakna.

Kalau hari ini saya melupakan momen ulang tahun isteri saya atau lebih tepatnya tidak berusaha mengingatnya, itu karena saya menganggap tidak terlalu urgent. Doa-doa semacam yang terucap saat momen ulang tahun bisa saja dipanjatkan kapan saja. Toh pada dasarnya, kita tidak boleh melepaskan sekian waktu sekalipun untuk merapal doa terbaik untuk setiap orang terkasih.

Karena saya sudah diingatkan akan hari ini, saya tetap harus secara formal mengamini doa khas ulang tahun.

Ini ulang tahun yang kedua selama kami berstatus sebagai pasangan resmi. Tahun-tahun awal pernikahan yang menurut saya lumayan berat dilalui karena menjaga komitmen pernikahan ternyata tidak seindah saat masih pacaran. Semua sisi dalam diri terkuak dan terkadang menyebabkan benturan-benturan antara dua kepala yang sama sekali tidak sama.

Pada akhirnya, menurutku pernikahan bukan tentang apa-apa tetapi lebih pada sikap yang kuat menjaga komitmen dan janji.

Oh iya kan ini tulisan ulang tahun, kenapa menjurus ke pernikahan?

Ya sudah, selamat ulang tahun buat isteriku. Jangan terlalu longgar dalam beragama. Saya merindukan kesungguhanmu menjalankan banyak amalan sunnah saat dulu ketika belum bekerja. Semoga pekerjaan tidak melalaikan dirimu.
Amin

Cirebon, 18 7 17

July 14, 2017

Mulai Kembali

ada banyak hal yang harus saya evaluasi dari semua ucapan maupun tingkah laku. hal ini terkait dengan posisi sebagai auditor di Kantor. bukan untuk menjaga image namun lebih pada usaha untuk bekerja profesional. Saya seharusnya sudah bisa memisahkan antara interaksi dalam lingkup pertemanan dengan kerja-kerja kantor, meski sebenarnya untuk setiap bagian di Kantor pun seharusnya seperti itu.
belajar profesional tidak harus melulu menjadi orang yang sok serius maupun jaim terhadap teman sendiri ataupun orang lain. belajar bekerja profesional lebih pada aspek sadar ruang dan posisi. tidak semua hal harus diungkapkan. porsi dalam setiap hal sudah ditakar masing-masing sesuai ukurannnya.
hal lain yang seharusnya menjadi evaluasi untuk diriku lebih pada pemetaan terhadap setiap masalah yang harus dibicarakan dengan orang lain. setiap porsi kerja yang memang harus dirahasiakan jangan sampai menjadi candaan.

Saya beberapa kali gagal menuntaskan banyak hal karena ketidaktekunan maupun tidak serius dalam mengerjakan hal-hal kecil. pembentukan karakter mungkin menjadi salah satu penyebab dari kegagalan yang Saya alami.

penekanan seperti ini bukan untuk mengubah kepribadian bukan pula untuk gaya-gayaan tetapi lebih pada apa yang sudah menjadi komitmen dan mencoba untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus meng upgrade kemampuan.

entahlah, berikutnya hanya dibutuhkan komitmen dan kerja keras untuk mewujudkan setiap yang sudah direncanakan di pikiran bukan hanya membeku kemudian menguap entah kemana yang selanjutnya hanya menjadi cita-cita basi.

saya terlalu sering seperti itu. merangkai hal-hal idealis dalam pikiran namun kemudian menguap seperti air yang dimasak tanpa bersisa sedikit pun. namun setidaknya kali ini saya akan memulai lagi hal-hal baik yang menurutku sudah terlalu lama terlupakan.

draft tulisan yang terlalu lama mengendap dipublish kembali
14 7 17

Mudik

Merantau adalah satu satunya cara untuk merasakan euforia mudik. setiap kali momen tersebut tiba, aroma wewangian tanah leluhur sudah menyerbak bahkan seminggu sebelum pulang. pikiran berangkat sebelum raga menyusul. tidak ada lagi rasa yang tertinggal di kota ini.

mudik kali ini mungkin terasa lebih spesial karena saya sudah mempunyai putra. ada semacam rasa senang membawa putra saya menyusuri kampung halaman apatahlagi kali ini adalah mudik pertama baginya. Ramadhan 1437 H tahun lalu adalah momen kehadirannya di dunia dan itu terjadi di kampung halaman ibunya.

hari rabu dinihari 22 Juni 2017 sekira pukul 02:00 WIB. kami sudah siap ke Bandara. sedikit merasa bersalah juga sudah membangunkan anakku di jam yang seharusnya dia menikmati tidurnya dengan pulas namun mengingat pesawat yang akan membawa kami ke Sulawesi akan take off pukul 05:00 WIB maka kami harus siap sedari awal.

kami tidak mengalami hambatan yang berarti di perjalanan bahkan putraku tidak rewel di dalam pesawat sampai pada akhirnya kami tiba di bandara Hasanuddin pukul 08:30 WITA. kami harus bersabar karena jarak dari bandara ke kampung masih memakan waktu sekitar 6-8 jam. untungnya kali ini, kami tidak perlu bersusah payah ke terminal menunggu mobil sewaan karena kakakku berbaik hati menjemput kami di bandara.

perjalanan ke kampung benar-benar menguras tenaga ditambah lagi dengan cuaca yang lumayan panas. kami baru tiba di kampung pukul 19:00 WIB karena mampir di 2 titik dalam perjalanan. pertama mampir di daerah Bojo istirahat sekaligus shalat kemudian mampir di Pare-Pare membeli oleh-oleh.

menginjakkan kaki di rumah setelah sekian lama meninggalkannya selalu mengharu biru apatahlagi disambut oleh wajah sendu seorang wanita yang mulai menua yang selalu merapalkan doa-doa terbaiknya untukku selama di perantauan. saya selalu yakin bahwa kiriman doanya untukku selama di tanah rantau yang membuat jiwa dan ragaku masih terjaga dari cobaan yang dahsyat, tanpa doa tulusnya yang dipanjatkan ke Pemilik Semesta setiap selesai sujud, mungkin saya sudah sering salah langkah.

Saya selalu menikmati wajahnya yang mematung di pintu setiap kali beliau tahu saya mudik. tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya pertama kali melihatku, hanya senyum tipis yang menghiasi wajahnya namun itu lebih dari semua apa yang kuinginkan. senyumnya sudah cukup meruntuhkan segala penat yang kubawa dari tanah rantau. saya menyayangi wanita yang rambutnya sudah didominasi warna putih. saya menyayanginya dengan sepenuh hatiku.

hari-hari di kampung berjalanan seperti biasanya. 10 hari di kampung hanya terasa seperti 3 hari. Saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi setiap sudut kampung halaman karena putra saya terlalu rewel bahkan dia tidak mau digendong oleh orang lain.

Dua hari menjelang arus balik, saya selalu merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan. kembali harus meninggalkan bau rumah, aroma masakan ibu dan setiap kemesraan bersama handai tauladan. saya harus kembali ke ibu kota yang benar-benar memekakkan telingaku. arus kehidupan ibu kota sepertinya sudah menggerus begitu banyak sisi manusiaku sampai rasanya saya berjalan seperti robot yang mengikuti alunan kehidupan yang terlalu cepat dan keras.

momen arus balik tiba dan saya kembali mencium setiap sudut wajah Ibu. aroma badannya kubiarkan menempel abadi di tubuhku dan kujadikan sebagai penyicil rindu saat saya di tanah rantau karena kusadari betul bahwa rindu untuknya kembali hadir bahkan sebelum mobil meninggalkan batas kampung.

arus balik lebih menguras tenaga daripada saat mudik. saya dan keluarga menderita flu bahkan putra saya beberapa kali menangis di dalam Pesawat saat perjalanan pulang. meski begitu, tidak mengurangi kesyukuran saya untuk mudik kali ini.

semoga Ibu dan Bapak serta handai tauladan sehat selalu di kampung halaman. saya akan mengunjungi mereka minimal sekali setahun.

Catatan Mudik
minggu ke-2 Syawal

June 11, 2017

Ramadhan

Belum ada sama sekali jejak tentang ramadhan yang kutinggalkan di lapak ini sedangkan ramadhan sudah memasuki pertengahan. Entah malas atau memang tidak ada yang harus diceritakan.

Masjid dekat rumahku hanya sekali seminggu mengadakan ceramah tarawih. Setiap kali selesai shalat isya, langsung dilanjutkan shalat tarawih. Itulah mengapa tidak ada bahan ceramah yang harus kuulangi. Seingat saya, baru 2 kali ceramah sampai pertengahan ramadhan.

Ketua masjid di dekat rumahku terlalu keras terhadap anak-anak yang datang ke masjid. Seringkali dia mengusir anak-anak yang ribut di lantai dua untuk pulang saja jika tidak mau tenang. 

Saya selalu tidak sepakat dengan para orang tua yang memarahi anak-anak yang ribut di masjid. Bukan juga membenarkan namun setidaknya, modal utama mereka karena sudah rajin ke masjid, tinggal cara memahamkan para orang tua kepada anak-anaknya untuk tidak ribut di masjid tanpa harus memarahi mereka di tengah jamaah apatalagi menggunakan pengeras suara.

Kita semua pernah melewati masa kanak-kanak dan seharusnya sudah bisa merasakan euforia ramadhan sebagai seorang bocah sehingga menurutku betapa naifnya para orang tua yang merasa paling benar memarahi bahkan mengusir para bocah yang ribut di masjid.
#catatan Ramadhan

10 6 17

OTS #6

Tidak ada yang terasa spesial menjejak kaki di kota ini. Toh 5 tahun yang lalu, Saya pernah mendiami kota ini selama sebulan. Itulah kenapa, beberapa sudut kota ini kuakrabi.

Jika ada hal yang terasa sentimental di kota ini, mungkin berada di daerah stasiun pemberhentian kereta ekonomi. Bagaimana tidak, daerah itu pertama kali kujejak ketika memutuskan mendatangi kota ini. Lagipula, saat itu, tidak ada tujuan yang jelas harus kemana. Benar-benar membiarkan takdir membawaku kemana saja.

Empat hari berkunjung ke kota ini dan tidak ada yang terlalu berbeda dari lima tahun lalu. Kotanya masih meneduhkan meski sedikit lebih crowded namun bangunannya tidak ada yang menjulang tinggi seperti di ibu kota. Rimbunan pepohonan masih menumbuhi pinggir jalanan.

Sayangnya, beberapa pengembang mulai merambah di daerah pinggiran kota ini dan berpotensi membuat semrawut tatanan kota.

Saya menyempatkan diri mengitari daerah pinggiran kota dan terlihat olehku deretan perumahan cluster yang menduduki bekas persawahan. Satu hal yang sangat dikhawatirkan adalah hilangnya persawahan dan diganti perumahan.

Namun setidaknya, empat hari di kota ini sedikitnya membangkitkan awal perjalananku merantau di pulau ini. Serasa mimpi melewati semua dan memasuki tahun kelima berpetualang.

Semoga tetap asri kota gudeg.
10 6 17

May 31, 2017

#OTS 5

untuk kesekian kalinya, Saya menginjakkan kaki di daerah yang baru demi tugas kantor. kali ini Saya berangkat ke bagian Sumatera yang paling dekat dengan Banten dengan Bis. ada sensasi tersendiri melakukan perjalanan darat dengan pulau yang berbeda. perjalan ditempuh sekitar 6 jam.

sekitar jam 8 malam, Saya sudah siap sedia di Gambir dengan modal 1 tas ransel. Saya dan salah seorang teman memilih tempat duduk 2 kursi dari belakang sopir. Bis yang kutumpangi ternyata berbeda jauh dari bis-bis yang sering kutumpangi dari Surabaya-Ngawi.

Bis ini dikelola oleh Damri dengan fasilitas yang lumayan mumpuni. terdapat toilet dan ruang khusus bagi perokok. terdapat pula sandaran kaki yang memudahkan kita membaringkan badan untuk membunuh waktu panjang selama perjalanan.

tepat pukul 21:00 WIB, bis mulai bergerak ke arah tol dalam kota. padatnya kendaraan memaksa bis hanya bergerak perlahan. jam segitu memang adalah puncak macetnya kendaraan apatahlagi bertepatan dengan weekend. Saya mulai memejamkan mata ketika bis sudah memasuki tol. entah berapa kali bis memepet kendaraan di depannya sehingga membuatku tidak begitu pulas.

Saya tidak tahu pasti pukul berapa bis kemudian mulai merapat ke Pelabuhan kemudian masuk ke kapal Ferry. Saya tiba-tiba saja terperanjat ketika Sopir meminta para penumpang turun dari bis dan naik ke ruang tunggu kapal.

sekitar 2 jam perjalanan di laut, akhirnya Kapal sandar di Pelabuhan Bakauheni. Para penumpang bis kemudian kembali naik ke bis dan melanjutkan perjalanan ke kota. jalanan dari Pelabuhan ke kota sangat sempit dan masih terdapat lubang yang membuat bis seringkali harus extra keras menghindari jalanan yang rusak. pekatnya malam membuatku tidak bisa menikmati pemandangan di daerah yang terkenal dengan transmigran dari Jawa.

sekitar pukul 03:00 subuh dinihari, kami tiba di tengah kota dan turun di patung Gajah. kesan pertama Saya terhadap kota ini adalah kebersihan. teramat sulit menemukan sampah di pinggir jalan, bahkan Pasar yang biasanya terdapat banyak sampah pun sangat bersih.

Saya dan teman memilih menginap di Hotel Astoria. hotal yang hanya berjarak beberapa meter dari patung Gajah dan tidak sampai 1 km dari tempat aktivitasku selama di kota tersebut. 

semua kota memiliki suasana dan ciri khas tersendiri. kota ini terlihat sangat asri apatahlagi di pagi hari karena Masyarakatnya yang sadar akan kebersihan. di malam hari, salah satu spot tempat anak muda menghabiskan malam adalah di bundaran depan mesjid Agung.

selama 5 hari di kota ini, rasanya belum bisa mencicipi suasana dari setiap sudut kota karena kesibukan kerja yang tidak bisa ditunda. untuk ukuran makanan, seperti biasa di pulau Sumatera, didominasi dengan masakan khas Padang dan juga pempek, namun menurutku, harga makanan terutama Pempek Naujubillah mahalnya. untuk ukuran porsi kecil dengan 2 piring seharga 188 ribu plus minuman dingin yang seharusnya tidak terlalu mahal.

Jumat pagi pukul 10:00, kami berbalik arah ke Jakarta. perjalanan pulang sedikit lebih memiliki sensasi karena bisa memandang alam di pagi hari bahkan di atas kapal, Saya bisa memuaskan hasrat memandang indahnya biru laut yang lama sudah tidak kunikmati.

kami tiba di Stasiun Gambir pukul 19:00.

31 5 17

April 18, 2017

Membincang Kembali Dampak Teknologi

Kemajuan teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. ruang dan waktu sudah menjadi wacana yang usang. sepertinya ruang dan waktu hanya ilusi dalam tataran komunikasi di era seperti sekarang. semua serba modern dan ternafikan dengan kemajuan teknologi. kendala apa lagi yang harus dikeluhkan atas setiap hal yang serba ada dan serba bisa seperti sekarang.

memutar kembali diskursus yang lampau ternyata semakin menguatkan pada kenyataan sekarang, bahwa teknologi bisa mendekatkan orang dengan jarak bermil-mil baik via suara, video atau segala fitur-fitur yang disiapkan oleh kecanggihan teknologi namun di sisi yang lain, teknologi pun seakan melebarkan jarak antar mereka yang hanya berada beberapa jengkal namun komunikasi lewat handphone, benar-benar ironi. interaksi antar sesama hanya sebatas chat maupun telepon. itulah mengapa kita sering melihat gerembolan zombie di setiap tempat, mereka menunduk sembari memandang layar handpone tanpa mengerti dan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Betapa absurnya mereka yang duduk di taman, berjalan bersama handai tauladan, menghabiskan makan malam dengan keluarga di rumah namun tangan tidak lepas dari tombol hp dan mata tidak sekalipun luput memandangi layar hp yang entah apa daya tarik dari benda kecil tersebut yang dengan jelas telah merenggut kemanusiaan kita.

setiap kali berkunjung ke Swalayan atau gerai HP maka kenyataan yang kita temui adalah orang bejibun mengantri di setiap stand handphone. setiap hari, penjualan hp tidak pernah sepi dan sebenarnya, fungsinya sudah menggantikan fungsi manusia itu sendiri. mereka atau sesungguhnya kita semua mencurahkan waktu dan tenaga bekerja berjam-jam kemudian melempar hasil keringat di setiap gerai hp. betapa mengerikan.

mereka bekerja untuk membeli barang yang menjadi simbol bahwa mereka bisa survive di tengah manusia-manusia "modern."

pada suatu titik, manusia akan merasa hampa dengan setiap apa tersedia secara instan. seharusnya kemudahan dalam mengakses segala hal tentunya berbanding lurus dengan kualitas diri namun pada kenyataan tidak. kita muda mengakses informasi, mengetahui banyak hal namun tidak mendalam. seringkali hanya mengambil sedikit manfaat untuk dijadikan bahan debat supaya terlihat cerdas. 

kenyataan lain mungkin tentang janji. bagaimana generasi pra milenium mampu menepati janji dengan baik tanpa komunikasi via telepon dibandingkan generasi sekarang yang selalu keteteran mengatur waktu. jalinan silaturrahim generasi sebelumnya selalu terjalin dengan erat namun manusia sekarang tidak mampu menjaga silaturrahim dengan baik karena tergadaikan dengan barang-barang teknologi. mereka seakan tidak bisa jauh dari benda kecil.
ada guyonan yang entah dimana saya baca. "seberapa lama kita bisa hidup tanpa paket internet?"

18 4 17

Klub lokal yang bernama PSM

Tidak seperti di Jawa Timur yang mayoritas  kota/kabupaten punya klub profesional, Sulawesi Selatan praktis hanya memiliki PSM sebagai salah satu klub yang berlaga di pentas liga tertinggi di tanah air. meski dulu sempat mencuat Persim Maros namun lambat laut hilang dari peredaran. Persipare Pare-Pare belum mampu menancapkan eksistensinya di dunia persepakbolaan Indonesia.

tidak mengherankan jika seluruh penduduk yang berasal dari Sulawesi selatan bahkan juga Sulawesi Barat yang dulunya adalah bagian dari Sulawesi Selatan, mengidolakan PSM Makassar. meski sudah berdiri sendiri sebagai sebuah Provinsi, Warga Sulawesi Barat masih punya ikatan emosional dengan klub PSM apatahlagi, beberapa pemain andalan PSM berasal dari Sulbar. 

PSM Makassar hampir sama dengan Persib Banding yang diidolakan masyarakat se Provinsi. hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena klub sepakbola di dua provinsi tersebut hanya satu yang masuk dalam jajaran klub elit. coba bandingkan di Jawa Timur. hampir setiap kota kabupaten memiliki klub yang berkompetisi di liga 1 maupun liga 2. bahkan rivalitas atas suporter Persebaya dan Arema yang notabene masih dalam satu provinsi sangat kental. sejarah perseteruan antar kedua Suporter tersebut sudah memakan banyak korban jiwa. selain kedua klub tersebut, ada Persela Lamongan, Madura United, Persik, Persegres dan beberapa klub lain.

sebagai warga yang lahir dan tumbuh di Sulawesi Selatan, Saya pun tidak ketinggalan mengidolakan PSM. Saya masih ingat di erah awal tahun 2000 sebelum banyaknya TV yang beredar di Kampung, kami sering mengikuti setiap pertandingan PSM lewat radio. ada sensasi tersendiri mengikuti pertandingan lewat radio yang tidak didapatkan saat menonton bola. misalnya saja, ketika bola masih jauh di tengah lapangan, reporter begitu menggebu-gebu dengan nada tinggi layaknya bola sudah hampir gol.

sampai sekarang, meski sudah merantau di beberapa daerah dan menetap di pulau lain, sama sekali tidak mengurangi rasaku untuk mengidolai PSM. meski di beberapa musim, PSM seperti tidak punya taji namun PSM tidak pernah benar-benar tenggelam.

untuk musim liga 1 2017. PSM kembali menggeliat dengan kepengurusan di dalam tubuh internal yang lebih profesional. transfer pemain yang didatangkan pun tidak mengecewakan. salah satu terobosan yang paling membahagiakan adalah kembalinya beberapa pemain asli Sul-Sel yang sudah menjadi bintang sepakbola. Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur adalah representasi dari pemain Makassar yang sukses di blantika sepakbola Nasional. 

kedua pemain tersebut memang bukan jaminan PSM secara otomatis juara namun setidaknya, mentalitas juara yang sudah ada di dalam diri mereka bisa ditularkan ke pemain muda. ada semacam kebahagiaan tersendiri ketika melihat klub idola diisi oleh pemain binaan sendiri.

di pertandingan awal, PSM mampu menundukkan Persela meski secara pribadi, Saya masih belum puas melihat permainan yang ditunjukkan oleh pemain PSM. mereka kurang greget dalam bermain apatahlagi ketika salah satu Pemain Persela terkena kartu merah. 

kredit poin harus diberikan ke Hamka Hamzah melihat totalitasnya dalam menjaga pertahanan PSM. terlihat semangat yang membara di setiap ekspresi wajahnya untuk mempersembahkan yang terbaik untuk klub kelahirannya, bahkan di salah satu momen ketika gawang PSM hampir dibobol syamsul Arif, Ekspresi emosional Hamka diperlihatkan kepada teman-temannya yang terlambat menutup pergerakan Syamsul Arif.

apresiasi yang tinggi pun pantas dialamatkan kepada pemain muda yang berperan penting di sektor gelandang, Asnawi Mangkualam. pemain yang baru berumur 17 tahun tersebut menunjukkan karakter PSM yang keras dan tidak pantang menyerah. jika dia tetap berada di jalur yang benar dan tidak cepat merasa puas maka saya yakin, dia akan menjadi pemain gelandang terbaik di Negeri ini.

oh iya semoga tahun ini PSM Makassar bisa menjuarai Liga 1.
Ewako PSM

18 4 17

April 17, 2017

Mengikuti Tahlilan tanpa ikut Makan

Beberapa waktu yang lalu, tetangga sebelah rumah meninggal. seorang Ibu paruh baya dengan tiga orang anak namun sampai ajal menjemput, dia hanya berdua dengan anak sulungnya. dua anak perempuannya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing. 

Si Ibu sudah lama menderita penyakit darah tinggi dan gula. setiap harinya hanya dihabiskan di rumah dan bercengkerama dengan para tetangga.

pagi hari menjelang kematiannya, dia tidak menampakkan sesuatu yang menjadi firasat. dia masih bercengkerama dengan mertua saya dan duduk di gang depan rumah. dia hanya bercerita bahwa anaknya yang sudah menikah selalu menolak jika diajak menginap di rumahnya sedangkan si Ibu ingin bercengkerama dengan cucunya yang belum genap berumur setahun.

mendekati ajalnya, si Ibu diajak bepergian oleh anaknya namun di tengah perjalanan, si Ibu kejang dan langsung dilarikan ke rumah sakit. selang beberapa jam kemudian, ajal sudah menjemputnya.

sudah menjadi tradisi di kalangan mayoritas orang Jawa bahwa ketika meninggal dunia, maka akan diadakan tahlilal selama tujuh hari berturut-turut kemudian 40 hari, 100 hari dan seterusnya. saya yang tumbuh dan besar di kalangan Muhammadiyah sudah tidak melakukan tradisi seperti itu bahkan terkadang hanya tahlilan 3 hari setelah kematian itupun sangat tidak dianjurkan untuk memotong hewan ternak untuk dihidangkan pagi para tetangga yang ikut tahlilan, paling mewah hanya kue.

pada dasarnya, saya suka ikut tahlilan. melantunkan shalawat nabi dan kalimatullah secara berjamaah bahkan seringkali saya larut dalam rasa yang haru ketika lantunan kalimatullah menggema dan merasuki sanubari namun di sisi lain, saya sebisa mungkin menolak dengan cara halus untuk tidak makann daging yang dihidangkan.

pada saat tahlilan tetangga, saya selalu memilih tempat di dekat pintu sehingga memungkinkan saya  untuk pamit lebih dulu setelah doa sebelum makanan dihindangkan. itu cara yang menurutku paling aman saya lakukan. saya bisa ikut tahlilan namun tidak ikut makan daging yang dihidangkan.

semoga sikap yang saya tempuh tidak salah.

April 17