Tidak ada yang terasa spesial menjejak kaki di kota ini. Toh 5 tahun yang lalu, Saya pernah mendiami kota ini selama sebulan. Itulah kenapa, beberapa sudut kota ini kuakrabi.
Jika ada hal yang terasa sentimental di kota ini, mungkin berada di daerah stasiun pemberhentian kereta ekonomi. Bagaimana tidak, daerah itu pertama kali kujejak ketika memutuskan mendatangi kota ini. Lagipula, saat itu, tidak ada tujuan yang jelas harus kemana. Benar-benar membiarkan takdir membawaku kemana saja.
Empat hari berkunjung ke kota ini dan tidak ada yang terlalu berbeda dari lima tahun lalu. Kotanya masih meneduhkan meski sedikit lebih crowded namun bangunannya tidak ada yang menjulang tinggi seperti di ibu kota. Rimbunan pepohonan masih menumbuhi pinggir jalanan.
Sayangnya, beberapa pengembang mulai merambah di daerah pinggiran kota ini dan berpotensi membuat semrawut tatanan kota.
Saya menyempatkan diri mengitari daerah pinggiran kota dan terlihat olehku deretan perumahan cluster yang menduduki bekas persawahan. Satu hal yang sangat dikhawatirkan adalah hilangnya persawahan dan diganti perumahan.
Namun setidaknya, empat hari di kota ini sedikitnya membangkitkan awal perjalananku merantau di pulau ini. Serasa mimpi melewati semua dan memasuki tahun kelima berpetualang.
Semoga tetap asri kota gudeg.
10 6 17
No comments:
Post a Comment