June 10, 2015

Tentang Jodoh

Saya dulu berangan-angan berjodoh dengan gadis yang bisa kutemani diskusi, tentang hidup ataupun bahkan tentang semua remeh temeh. Seorang gadis yang suka membaca dan menulis apa saja. entah mungkin karena terpengaruh dengan beberapa model pasangan seniorku dimana mereka sering berpacaran dan tentunya ada yang sampai menikah dengan gadis yang satu kepala dengan mereka. dalam artian bahwa passion mereka sama.

hingga akhirnya saya kemudian menakar diri. melihat ke dalam diriku sampai dimana sebenarnya kualitas diriku yang harus kujadikan patokan untuk mencari pasangan. harus kuakui bahwa jodoh bukan tentang sebuah pilih memilih yang seenak jidat kemudian dengan angan-angan palsu namun dia lebih pada masalah hati dan keyakinan.

kriteriaku berubah suatu waktu mungkin di akhir-akhir kuliah. saya sudah mulai mendiskusikan masalah jodoh dengan beberapa temanku di Makes. salah satu kawanku pernah mengatakan bahwa
 " jika kita ingin mencari jodoh, maka hal yang pertama yang harus kita lihat adalah bagaimana hubungan gadis tersebut dengan ibunya, bagaimana dia memperlakukan ibunya. hal kedua sebelum mendekati gadis yang sudah sesuai dengan kriteria kita adalah pertama-tama kita dekati ibunya."

hasil diskusi dengan teman-temanku tersebut selalu terngiang-ngiang di kepalaku. saya juga sebenarnya menyadari bahwa tidak begitu mudah untuk memilih pasangan yang kita akan temani seumur hidup. saya tidak munafik bahwa saya pun mendamba pasangan yang cantik sesuai standar fisik secara umum namun kemudian hatiku lebih memilih untuk mencari perempuan yang cantik hatinya dan bersabar dikala saya sedang dalam keadaan susah.

 kebiasaanku ketika bertemu dengan orang baru adalah mencoba membaca hati mereka sehingga terkadang ketika saya bertemu dengan orang baru, hal yang pertama kulakukan adalah banyak diam karena dengan begitu, saya bisa mempelajari orang dari cara bicaranya namun tidak serta merta saya menjustifikasi seseorang pada pertemuan pertama karena seringkali kita akan mengenal karakter seseorang ketika sudah beberapa kali berinteraksi meski begitu, ada hal prinsipil yang saya tetap pegang ketika berinteraksi di awal pertemuan misalnya orang yang suka mengumbar keberhasilannya, orang yang suka mengeluh dan orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain. mungkin itu sebagian kriteria bagi saya untuk menilai orang pada awal pertemuan.

saya bertemu dengan windi bersama dua perempuan temannya. seperti biasa saya bukan orang yang cepat akrab dengan orang asing. saya lebih sering mengamati. dari hasil pengamatan saya, saya tahu bahwa windi dan linda orangnya baik bukan saya menganggap bahwa teman perempuan yang satu itu tidak baik cuma karena dia masuk dalam kriteria yang saya sebutkan diatas maka saya tidak menganggap dia bisa menjadi kawan pencerita. kawan perempuan yang satu terlalu suka mengeluh, seringkali menceritakan kejelekan orang lain di belakang orang atau istilahnya ghibah bahkan terkadang pula sering menceritakan kesuksesan-kesuksesannya di masa lalu. windi dan linda lain. meski berbeda karakter, windi pendiam dan linda lebih periang namun mereka tidak termasuk dalam kriteria jelek yang kusebutkan.

pada akhirnya, saya sangat dekat dengan mereka berdua bahkan windi lebih dari sekedar dekat. dia menjadi calon isteriku. saya benar-benar menerapkan hasil diskusi saya dengan teman saya yang ada di Makes. sebelum mendekati windi, saya sudah tahu bagaimana kedekatan dia dengan ibunya dan bagaimana dia memperlakukan ibunya bahkan sejauh yang saya tahu, windi tidak ingin menyusahkan ibunya. langkah kedua ketika ingin mendekati windi adalah mendatangi langsung ibunya. memang pada awalnya ibunya kurang setuju namun pada akhirnya dia mengiyakan. 

hal yang kutemai dari interaksiku dengan keluarga windi adalah kesabaran. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sifat windi dan ibunya. saya harus akui bahwa saya tertinggal jauh jika berbicara masalah kesabaran bahkan saya yang sering marah dan ngambek kepada mereka berdua. saya selalu saja geram ketika mereka di dzalimi orang lain namun mereka memilih untuk sabar.

perjalanan waktu selama 2 tahun banyak mengajarkan hal baru ketika berinteraksi dengan mereka. klimaksnya saat ini saat saya dan windi berencana menikah dan saya dibebaskan oleh ibunya membantu dana secukupnya meski saya sadari bahwa menikah saat ini tidaklah murah namun ibunya benar-benar legowo saat saya hanya mempunyai dana amat sangat sedikit untuk membantu resepsi pernikahan kami. 

speachless..
11 juni 2015

Di Antara Perjalanan Sepi Yang Melelahkan

masihkah kopi pagi ini hangat di setiap urat tenggorokanku
ketika hati memilih untuk tidak tenang
masihkah ada sisasisa bau tanah sehabis dihampiri hujan semalam

tanya itu selalu memenuhi ubunubun kepala
serupa tubuh yang selalu memahami kebahagiaan di sudut sepi
kita sering mengunjungi cerobong-cerobong panjang dalam kehidupan gelap

"apa bedanya sepi dan bahagia ketika kita ada, semua melebur menjadi fana" bisikmu lirih tepat ketika kita mendaki sunyi.
iya, mereka hanyalah frase bentukan otak yang bingung merumuskan istilah dan semua melebur di dalam pelukan malam ini

sebuah tanya tentang pagi melintas tepat di setiap relung hatiku. meminta untuk memberinya jawaban
"aku ingin engkau pulang membawa rinduku yang hilang" jawabku khidmat
tak ada kata dalam diam hanya tatapan matamu yang berubah menjadi mentari dengan cahayanya berpendar menerangi kebersamaan kita

kita melukis senja dengan tinta hujan
kita bertamu pada malam dalam hening, tidur dalam pelukannya kemudian bermimpi tentang bahagia

kita berdoa menjelma menjadi butiran harapan untuk masa nanti
"kita tak akan pernah melepaskan genggaman tangan ini kan kak..?" tanyamu dalam ujung pendakian kita pada tepi malam
"iya, sampai waktu pada akhirnya menjadi pembeda antara jarak langkah kita..!! jawabku sambil memberimu setangkai mawar rindu yang layu

kita akhirnya sampai di kelokan waktu
saatnya merebahkan tubuh menanti hujan yang bergelayut
selamat malam dek.

100615

June 7, 2015

Kita Membunuh Waktu

" waktu mempermainkan cinta kita kak, atau mungkin kita yang selalu kalah berpacu dengan sabar." Katamu sepanjang jalan saat kita menyusuri senja yang bisu

Aku bahkan tak tahu lagi harus menabuh bendera perang dengan waktu karena setiap kali aku memeluknya dengan sabar, waktu seakan berhenti melangkah
Aku dan kau pun sedang mengejar waktu namun seakan dia enggan melangkah

Terkadang aku mengintip hujan dengan jawabannya namun dia seakan memberiku luka
Senja yang kemarin selalu bersamaku pun seakan enggan bertutur
Ah, kali ini aku menyerah
Membanting semua cangkir di bibir meja

Sedari tadi kususuri pandangan yang kosong dari setiap kedipan matamu
Aku menemukan cinta di dalamnya
Dan kau buktikan itu,
Sisa farfummu masih menyatu di pundakku

Aku ingin mengalahkan waktu
Membunuh waktu yang enggan melangkah

tidak sekalipun dia mengungkap misterinya
memberi jawaban yang pasti
atau sekedar pernyataan yang menenangkan
bahkan tekateki yang melekat sepanjang dirinya

kita terlalu lama jauh dari pandangan semesta
entah sekarang sudah tak terlihat lagi ataukah hanya samarsamar
akupun tak tahu

Seperti puisi dian yang bosan dengan penat
080615

Pasung Jiwa

Judul : Pasung Jiwa

Pengarang : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia

Hal : 328 ; 20 cm

ISBN : 978-979-22-9557-3









Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Kalimat di sampul belakang novel tersebut yang membuatku tertarik membelinya ketika mengitari hamparan buku di Lt 4 pasar senen. Setidaknya bahwa fenomena kebebasan seringkali menerabas keingintahuanku sehingga tanpa pikir panjang, kusodorkan lembaran 20 ribuan kepada penjualnya dan membawa pulang novel tersebut.

Seminggu lamanya novet ini hanya menganggur dan menemaniku di sudut kasur tanpa kubuka segelnya. Dengan berbagai alasan di kepalaku bahwa aku belum punya waktu, masih terlalu capek atau sibuk dengan memainkan hp sampai akhirnya novel tersebut terkadang hanya menjadi bantal.

Semalam secara perlahan aku mebuka sampul novel tersebut. Perlahan kubaca kalimat demi kalimat di setiap lembarannya. Aku bahkan tidak berkedip sampai kulihat jam menunjukkan pukul 24:00. Kupaksa menutup novel setelah 3/4 halaman selesai kulahap.

Ada dua tokoh utama yang dimunculkan di novel ini, yang pertama adalah sasana. Dia terlahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pengacara dan ibunya seorang dokter bedah. sederhananya bahwa Sasana lahir dengan kecukupan ekonomi bahkan ketika masih kecil, bergiliran guru piano didatangkan oleh orang tuanya untuk mengajarinya main piano. meski Sasana sendiri tidak suka dengan hal itu namun untuk menyenangkan orang tuanya, dia mampu melahap pelajaran piano dan memainkan musik klasik dengan baik terbukti dengan banyaknya medali yang diraih di setiap lomba.

meski begitu, passion sasana tidak di piano bahkan sejak dia mendengar orkes dangdut di samping rumahnya, dia tertarik dan ikut menonton dangdut sambil goyang alhasil ketika orang tuanya mengetahui akan hal tersebut, sasana dimarahi habis-habisan karena kedua orang tuanya menganggap musik dangdut adalah musik untuk orang berandalan. 

prestasi sasana di sekolah terbilang cukup memuaskan. dia selalu mampu meraih sepuluh besar. saat tamat SMP, kedua orang tuanya memasukkan sasana di sekolah katolik khusus laki-laki meski sasana adalah seorang muslim. periode pergulatan sasana mungkin dimulai saat di SMA. pertama kali masuk di sekolah tersebut, dia dikeroyok oleh geng siswa di sekolah tersebut. peristiwa tersebut selalu berlanjut dan sasana tidak pernah jujur kepada orang tuanya hingga suatu waktu, sasana jujur akan semua kejadian tersebut dan ayah sasana yang seorang pengacara melaporkan kasus tersebut ke polisi namun kasus tersebut tidak pernah ditindaklanjuti karena salah seorang dari pengeroyok sasana adalah anak jenderal.

sasana kemudian kuliah di kota Malang. masa ini yang menjadi awal dari kisah sasana mencari kebebasannya. meski terlahir sebagai seorang pria namun sasana merasa jiwanya feminim walaupun untuk urusan asmara, sasana tidak pernah jatuh cinta kepada laki-laki.  sasana hanya bertahan 2 bulan kuliah kemudian memutuskan untuk berhenti ketika bertemu cak jek dan mengamen keliling kota Malang. profesi inilah yang dianggap oleh sasana adalah kebebasan bagi jiwanya.

kebebasan selalu terampas pada sebuah momen untuk memperjuangkan idealisme. berawal ketika cak man datang di rumah sasana (sasa), sejak menjadi pengamen keliling bersama cak jek, sasana dikenal sebagai sasa, mengabarkan bahwa anaknya yang bernama marsini yang bekerja di sidoarjo hilang sudah seminggu. menurut cerita cak man bahwa anaknya hilang setelah dia minta kenaikan gaji kepada bosnya.

Cak man, Cak Jek, sasa dan 6 orang temannya sepakat untuk aksi menuntut Marsini dikembalikan. mereka menuju Sidoarjo dan melakukan aksi di jalanan. aksi tersebut diredam paksa oleh aparat dan mereka ditangkap dan dipenjarakan. sasa mengalami kejadian paling kelam dalam hidupnya. di dalam penjara, dia dilecehkan secara seksual yang selalu menghantuinya sepanjang hidupnya.

setelah dibebaskan, sasa kembali ke jakarta namun apesnya, dia dianggap gila karena masa lalu yang selalu menghantuinya. dia dimasukkan ke dalam Rumah sakit jiwa. meski dalam kesadarannya bahwa dia tidak gila namun hanya mendapatkan kebebasannya.

sementara itu, Cak Jek berangkat ke Batam dan bekerja sebagai buruh pabrik ketika dibebaskan dari penjara setelah melakukan aksi menuntut dikembalikannya Marsini. berkerja di Batam tidak serta merta membuat hidup cak Jek menjadi lebih baik. dia bekerja sebagai pembuat kaca dan menghabiskan waktunya menjalani rutinitas sebagai buruh. suatu waktu dia memecahkan kaca tanpa sengaja dan menerima konsekuensi tidak digaji selama 2 hari. cak jek tidak terima dan dia memukul mandornya alhasil dia dipecat dan melarikan diri. cak jek kemudian hidup dengan seorang wts di sebuah rumah namun tak lama, mereka diusir oleh warga sekitar. cak jek kembali ke jawa namun sebelumnya singgah di jakarta.

dia bertemu dengan Laskar pembela Agama di jakarta yang bermarkas di petamburan. cak jek kembali memulai hidup baru sebagai laskar pembela agama. menggrebek tempat maksiat adalah pekerjaan sehari-harinya. beberapa saat kemudian, cak jek kembali ke malang dan bergabung dengan laskar malang. nama cak jek semakin tenar di malang.

sementara itu, sasa sudah menjadi penyanyi yang tenar dan sering mendapat panggilan menyanyi sampai ke luar kota, pada suatu waktu, sasa mendapat undangan menyanyi di Malang. malam itu sepertinya menjadi klimaks dari novel tersebut karena saat tampil menyanyi, Laskar pimpinan Cak Jek membubarkan paksa acara tersebut. sasa dipermalukan oleh anggota cak jek dan dia dijadikan tersangka penistaan agama. cak jek kembali galau karena dialah yang menjadikan hidup sasana menjadi sasa namun dia pula yang menghancurkannya.

sasa akhirnya disidang dan dijebloskan penjara. cak jek kemudian menjenguk sasa dan mengajak sasa kembali mengamen bersamanya. seperti kata mereka bahwa itulah kebebasan mereka.

"Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orang tuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan . Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengurungku menjadi tembok-tembok tinggi  yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku". 
(hlm  293) 

overall, cerita dari novel ini mengasikkan karena semua yang digambarkan di dalam novel tersebut ada di sekitar kita bahwa seringkali ada dalam diri terutama masalah kebebasan. pada dasarnya, semua orang ingin menjadi apa adanya dan melakukan sesuai dengan nuraninya dan bebas dari intimidasi apapun sehingga kebebasan adalah kata yang sakral bagi manusia untuk menemukan dirinya.
namun seperti kutipan paling awal dari tulisan ini bahwa apakah kebebasan tersebut benar-benar ada? ada banyak hal yang tanggung di dalam novel ini, bukan pada endingnya namun dalam beberapa kasus yang diselipkan terlihat begitu setengah-setengah. bagian paling mengecewakan yang adalah perjuangan marsini menuntut kenaikan gaji kemudian hilang dan aksi jalanan sasa dan kawan-kawannya yang hanya beberapa orang kemudian setelah mereka dipenjara, cerita tersebut menguap begitu saja. tidak ada pesan yang tertera dibaliknya atau bahkan metode aksi massa yang lebih rapi.

novel ini benar-benar menggelinding begitu saja menceritakan bagian-bagian kehidupan kita yang sayangnya tidak berakhir pada sebuah kesimpulan. entah novel ini murni menjadi novel psikologi ataupun novel politik namun tidak ada yang kelar. semua diceritakan dan tidak meninggalkan pendapat dari penulisnya.

jika dikatakan novel ini hanya pada novel tentang mencari kebebasan namun sebagai orang awam, saya beranggapan bahwa seharusnya penulis memberikan sedikit pandangannya tentang seperti apa itu kebebasan ataukah makhluk apa itu kebebasan. mungkin juga kesimpulan penulis ada pada kata tanya dibawah ini

Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Rawamangun
080615

June 5, 2015

Betumbuhlah

Padamu setiap kasih tak berujung. semesta menawarkan cintanya untuk setiap tawamu
bahkan di sudut malam yang menua pun, dua manusia tetap menjagamu dengan hati yang syahdu
masihkah kau ragu bertumbuh?

jangan, jangan pernah ragu
ada banyak di sekelilingmu yang membuatmu aman
bahkan duri pun tidak akan dibiarkan ada di hadapanmu

di sudut matamu
ada secercah asa yang kau simpan erat
biarkan menjadi besar
dan tak pernah pudar


Kusapa dirimu dalam getaran telepon semalam
Hanya ocehan-ocehan menggemaskan yang keluar dari mulut mungilmu
Begitulah setiap permulaan
Terkadang butuh belajar lebih banyak

 hidup tidak akan menjadi sebuah pertunjukan sulap
 menjadi ada dari ada
 karena hidup adalah proses 

 Ada seseduh susu untukmu pagi ini
Diramu dengan cinta oleh malaikatmu
Engkau menjadi titik perhatian setiap yang ada
Mungkin tak kau sadari
Sedari tadi kami mendoakanmu
Semua tentang apa yang akan engkau lalui
Tidurlah nak,
Aku ingin menghabiskan kopiku malam ini

 aku ingin bercerita tentang seorang anak kecil
 hujan selalu menjadi temannya bermain
bahkan mentari adalah sahabatnya
dia memanjakan hatinya menjadi riang

aku sepertinya kehabisan katakata berdongeng kepadamu
 aku hanya ingin melihatmu memanjat, menendang bola, bermain hujan dan apa saja seperti momen yang pernah kulalui
sesekali menangis dan tertawa sepuasnya

jangan pernah takut tentang hidup

Rawamangun.
060615

Engkau

berguguranlah semua rasa di percintaan kita, serupa puisi dari sapardi yang melepaskan busur tepat di sasarannya.
aku selalu gagal menjadi pujangga amatir untuk mencintaimu
karena yang kupunya hanyalah sisasisa mawar yang ingin kupasangkan di kuping kirimu

"itu cukup untukku." bisikmu meyakinkanku tentang perkara hati yang terkadang tersembunyi di dasar sukma yang terdalam.

Khutbah Jum'at

Seperti jumat-jumat sebelumnya, saya selalu menyempatkan untuk menulis inti sari dari khutbah jumat yang kudengarkan setidaknya dari sudut pandangku sendiri. Baik yang saya sepakati maupun yang kurang saya sepakati.

Pengetahuan memang selalu berubah secara periodik tergantung siapa yang menjadi teman diskusi dan jenis buku bacaan. Terkadang kita menemui orang yang pada mulanya adalah seorang yang fanatik namun ketika banyak bertemu orang dan membaca buku, mereka berubah menjadi toleran ataupun sebaliknya. variabel paling menentukan adalah pengalaman hidup, buku bacaan dan teman diskusi.

Saya mungkin adalah salah satu orang yang amat sangat parno terhadap apa yang namanya perbedaan. Apapun itu terlebih agama dan suku namun ketika saya sudah mulai mengenal banyak orang dan bertemu dengan berbagai macam orang dengan segala perbedaannya, pola pikir saya berubah dan lebih menerima perbedaan bahkan menganggap indah perbedaan itu.

Prolog diatas sebenarnya tidak ada hubungan langsung dengan khutbah jumat tadi. Khatib hanya menyampaikan hal-hal yang umum dan mainstream seperti kita seharusnya selalu membasahi mulut kita dengan dzikir dan bershalawat kepada Rasulullah karena orang yang tidak pernah luput bersalawat kepada Baginda Nabi akan mendapat syafaat nanti di akhirat.

Khatib juga menyampaikan uneg-unegnya tentang adab mendirikan shalat. khatib mengatakan bahwa kita belum dikategorikan sebagai orang yang menghadapkan muka kepada Allah ketika saat shalat, kita masih memakai pakaian yang seadanya. memakai baju yang penuh dengan tulisan dan tidak memilih pakaian yang terbaik.

Sebenarnya, khutbah jumat tadi lumayan lama, hampir sekitar setengah jam namun saya tidak terlalu banyak menangkap isi khutbah karena sebagian besar yang disampaikan seputar mengingat Allah SWT. setidaknya khutbah jumat tadi lumayan tidak membuat ngantuk atau mungkin karena saya lapar. hehe

050615

Sisa Pelukan Semalam

bermuaralah air dari pipimu yang menggemaskanku. tiada tersisa dari nestapa yang kita tinggalkan di sudut taman penuh dengan noda tak bersisa

"kita terlalu lama mencumbui yang tak dimiliki" begitu ujarmu sambil nafasmu yang menyisakan aroma di baju singletku yang sudah bernoda
kita selalu mempermainkan ikrar yang kita rangkai untuk tidak melepas semua peluru yang salah sasaran

"kau tahu kan apa yang telah kita tinggalkan untuk kenangan yang nista, aku merindukanmu dalam setiap pelukan yang penuh dosa namun entah kenapa tak dapat kulepas dari semua yang kuingkari". begitu petuahku setelah memuaskan dahaga mencicipimu.

Malam semakin mencemaskan kita yang masih dipeluk sepi. aku menari diantara rerumputan yang mengumpat busa sisa bualan. semakin sirna saja bau tanah yang ditebarkan oleh hujan senja kemarin. aku dan kau mencarinya di sekujur waktu yang lampu namun tak sedikitpun jejak yang dijumpai.

aku ingin sekali berenang di dasar sukmamu kemudian menyatukan semua rasa yang masih terisa untukmu namun dimanakah dia?

beginilah nasib mempermainkan rasa yang engkau tanam semenjak perkenalan kita di kota itu. aku pun membenci nasib itu karena dia mengambang dalam asa yang tak kunjung berakhir.

"kita masih harus menunggu ijab untuk menyatu dalam raga yang tak terpisah" begitu ujarmu saat kumulai melangkah dalam rasamu yang terdalam.

sekarang aku harus menari dan melupakan sejenak aroma tubuhmu, membuang sampai di dasar jurang yang terdalam dan mungkin akan kupungut di waktu yang tepat

tepatnya di tanggal 3 Oktober 2015

Rawamangun.050615

June 3, 2015

Rindu yang Hilang

mengalirlah rasa yang memudar di pertemuan kita kali ini. semenjak kumencintaimu dengan setiap helaan nafasku, waktu seakan berputar melambat di kala engkau jauh dari sisiku berpijak bahkan rasa seakan mati dalam penantian untukmu. begitupan adanya waktu mempermainkanku dengan dirinya karena dia akan berlari begitu cepatnya ketika aku menggenggammu di sudut kota yang sunyi.

aku terkadang berpikir bahwa percintaanku hanyalah pemainan waktu dan perasaan yang terpendam bersama hening ataukah bahkan karena kutak mampu mencintai sepiku sehingga aku menjerumuskan diriku berbagi kasih denganmu. aku tak tahu karena mungkin hanya waktu dan sepi yang tidak beranjak meninggalkanku sedetik pun.

senja terus memburu percintaanku dengan gelap karena kutahu bahwa kali ini engkau akan menepati janjimu bertemu denganku disini. takkan tersisa lagi rindu yang menghantam jauh ke dalam sukma. aku tahu bahwa percintaan itu adalah seputar waktu dan rindu bahkan terkadang berakhir dengan dendam, namun untukmu aku tak mau mengusik mereka karena cinta menjadi menggairahkan dengan hadirnya rindu

sebelum puisi ini kutulis, aku menunggumu. rindu yang berbatas dengan jarak yang engkau genggam untukku. semoga saja sakit hatinya hanyalah bayangbayang tak berwujud. aku hanya ingin ada rindu dan waktu yang merajai.

untukmu dalam pertemuanku. meleburlah semua rasa yang pedih. entah kenapa semua energi dalam diriku hanyalah ingin menuntunmu untuk selalu ada disetiap detik hidup yang kujalani. cinta, kata orang seperti itu namun tidakkah itu menyiksa.

yah, cinta menyiksa setiap yang merindu. dia memusnahkan rasa yang ada. entahlah ini apa artinya karena setiap kata yang keluar dari mulutku adalah menyebut diksi tentang namamu. engkaulah melebur dengan apa yang ada diingatku sampai pada titik dimana air mata mengalir deras di sudut mataku.

engkau mungkin tidak pernah menatap lelaki yang menangis.? akulah dalam penantian rindu yang perih

3-6-15

June 2, 2015

Kejadian Adalah Akibat dari Diri

Saya selalu percaya pada setiap kehidupan yang selalu terjadi karena ada sebab meski saya sadari bahwa sebab yang saya maksud bukanlah sebuah sebab yang kasat mata. Misalnya saja, pernah suatu waktu ketika baru beberapa bulan di kota ini, saya dan win mengitari sisi kota dengan kendaraan motor, pada saat akan pulang di bilangan jalan merdeka, seingatku itu setelah maghrib. Dengan jumawa saya berkoar kepada win bahwa saya sudah sangat hapal jalan pulang alhasil baru beberapa menit kalimat tersebut keluar dari mulutku, saya seakan tidak tahu jalan pulang bahkan berputar-putar sampai bilangan harmoni. Sekitar satu kemudian baru menemukan jalan pulang. Aku berujar kepada win bahwa hal tersebut terjadi karena kepongahanku yang sok hapal. Semua terjadi karena kehendakNya.

Hal serupa kemudian terjadi lagi tadi siang. Meski tidak sama persis namun sebab akibat pun terjadi pada hal yang kualami tadi. Saat pulang dari pasar senen membeli beberapa buku, saya mengajak windi ke bilangan tanah abang membeli jaket. Tepat di jalan merdeka, ada tukang parkir yang berteriak bahwa jangan jalan ke arah situ karena dilarang. Saya dengan angkuhnya berceloteh diatas motor sambil tetap memacu motor bahwa tukang parkir tersebut ingin supaya saya memarkir motor di areanya. Memang sih harus bayar 10 rb. Namun salahku bahwa saya seakan terkesan mencacinya. Baru 5 menit, saya ditilang karena memang jalan protokol tersebut tidak boleh dilalui motor.

Setelah menyelesaikan perkara dan membayar 30 rb, saya dan win meninggalkan tempat tersebut kemudian kukatakan bahwa saya ditilang bukan karena melanggar tetapi karena mencaci tukang parkir yang mengingatkan.

Mungkin sebagian orang menganggap bahwa itu mitos. Orang akan menganggap bahwa kejadian pertama diatas terjadi karena memang saya belum hapal jalanan sehingga kesasar dan kejadian kedua terjadi karena saya memang melanggar. Saya pun mengamini alasan seperti itu namun entah kenapa, sebab yang lebih kearah tak kasat mata yang timbul dalam hati saya anggap sebagai causa proxima yang membuat kejadian-kejadian tersebut nyata adanya.

Saya selalu percaya bahwa apa kejadian "Negatif" yang menimpaku selalu diawali dengan hatiku yang dzalim entah itu kepada diri sendiri maupun orang lain. Saya selalu sadar bahwa untuk membuat hidup disekitarku bahagia maka yang pertama adalah bhatinku dan itu berlaku untuk semua hal.

Sudah seringkali saya menulis bahwa diri adalah mikrokosmos dan apa yang terjadi dalam mikrokosmos akan memantulkan akibatnya dalam rupa musibah yang nyata. Bahkan sampai pada khilaf yang laten sekalipun akan muncul dalam bentuk akibat negatif bagi diri.

Satu hal yang perlu diingat bahwa jika ingin hidup menjadi bebas dari semua yang tidak diingankan maka jaga hati dan selalu bersihkan hati dari penyakit-penyakitnya yang laten. Meski tak terlihat namun dampaknya lebih besar.

020615

June 1, 2015

Hening

mendera setiap lara yang bersemayam di sudut hati yang sepi
Tuhan, dimakah gerangan ketenangan,
aku penat dengan setiap hal yang menghantui
terurai semua sepiku yang menemani

ah, kalaupun semua telah menguap
sepi yang menemani
aku ingin tenang bersama kekasihku

menikmati nafas yang teratur
hidup yang lepas dari bayangbayang kejaran waktu
melepas penat di setiap waktu
bercengkerama dalam diam

kekasihku,

Dunia Anna

DUNIA ANNA
Judul     : Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta

Pengarang : Jostein Gaarder
Penerjemah : Irwan Syahrir
Penyunting : Esti Budihapsari
Tebal: 244 hlm
Cetakan : 1, Oktober 2014
Penerbit : Mizan





“Umat manusia di Bumi ini tidak selalu hidup secara bersamaan. Keseluruhan umat manusia tidak hidup hanya dalam satu kurun waktu. Telah hidup manusia sebelum kita, lalu kita yang hidup saat ini, dan generasi selanjutnya yang akan hidup sesudah kita. Dan mereka yang hidup sesudah kita haruslah diperlakukan sebagai satu kesatuan. Kita harus memperlakukan mereka seperti perlakuan yang kita harapkan dari mereka jika saja mereka hidup di planet ini sebelum kita.” [hal 62-63].

Perkenalan saya dengan karya Jostein Gaarder hanya sebatas ketika membaca sepintas buku Dunia Sophie, karya paling penomenal dari Jostein Gaarder. Pria yang seumuran dengan ayahku ini memang paiawai dalam membumikan Filsafat. dari novel-novelnya yang dikemas dengan cerita yang sederhana namun mampu membawa pesan yang sebagian dari kita tidak pernah berpikir ke arah kesitu

Novel Dunia Anna adalah karya Jostein Gaarder yang mengandung pesan tentang masalah lingkungan. jostein memang terlihat sangat rapi dalam menceritakan setiap detail isi cerita dengan tidak terlepas dalam menyisipkan setiap pesan yang ingin disampaikan. Dia melihat kehidupan ini secara komprehensif.

Jostein Gaarder nampaknya amat sangat concern dengan masalah lingkungan. di novelnya kali ini, Jostein benar-benar menyusun sebuah cerita yang menggambarkan betapa ia dengan amat sangat khawatir bahwa suatu saat nanti, bumi akan mengalami degradasi yang begitu rusaknya karena ulah perbuatan manusia.

saya berangan-angan seandainya saja Jostein sedikit meluangkan waktunya dan merendahkan hatinya untuk mempelajari Al-Qur'an maka dia akan menemukan ayat yang persis menerangkan seperti kekhwatirannya akan kerusakan bumi yang diungkapkan dalam novelnya tersebut.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar, katakanlah Muhammad ; Bepergianlah di Bumi lalu lihatlah bagaiman kesudahan orang-orang terdahulu, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah"
(Q.S. Ar Rum (30) : 41-42)

manusia bukan sentra dari kehidupan ini namun ada saling keterkaitan antara semua makhluk hidup meski pada dasarnya manusia sering kali menempatkan dirinya sebagai yang paling berkuasa di muka bumi dan menganggap elemen semesta yang lain adalah objek bagi kepuasaan mereka, alhasil yang terjadi kemudian adalah kerusakan parah di bumi yang juga sebenarnya sangat merugikan generasi berikutnya.

sudah seharusnya manusia mulai berpikir bahwa hidup bukanlah tentang bagaimana mengeksploitasi bumi untuk kemewahan mereka namun hidup adalah tentang merawat bumi demi kelangsungan spesies manusia. jika manusia melakukan kerusakan di bumi maka ada dosa turunan yang akan terus berlanjut ke generasi berikutnya sampai akhirnya bumi hancur karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

seringkali menyalahkan binatang buas yang keluar dari hutan menghabiskan tanaman masyarakat atau mungkin kejadian alam lainnya yang kita anggap tidak biasa namun pernahkah kita mencoba untuk kembali merenungi apa causa proxima dari setiap kejadian tersebut karena tidak mungkin ada fenomena di semesta ini yang ujug-ujug terjadi begitu saja tanpa ada sebab.

ketika kita sudah mampu menempatkan diri kita bagian dari alam semesta maka di situ titik tolak dimana kita mampu merasakan setiap akibat dari apa yang akan kita lakukan di bumi ini. contoh kecil saja ketika kita membuang sampah sembarang maka kita akan merasa risih ketika sudah menjadi bagian dari bumi. kita akan merasakan bagaimana beratnya bumi mengurai sampah plastik yang memakan waktu sampai jutaan tahun lamanya.

Bumi adalah rumah kita dan harus diperlakukan sebagai milik sendiri.  dijaga layaknya kita membutuhkan untuk selamanya dan selalu dibersihkan. mencintai bumi seperti rumah yang akan diwariskan kepada anak-anak kita sehingga tidak ada kerusakan bahkan ketika kita berpikir untuk mewariskan kepada generasi, rumah itu diperbaiki sedemikian rupa dan tanpa cacat sedikitpun





cuap-cuap tentang novel Dunia Anna
Akhir Mei 2015

Mei dan Juni Dalam Waktu

Perjalanan yang cukup melelahkan dari Mei ke Juni. entah apa yang membuat asaku selalu mengepul setiap kali pergantian waktu entah itu bulan ataupun tahun. kali ini tepat pergantian bulan yang memasuki pertengahan tahun 2015 tepatnya bulan juni. aku kembali merapikan kerah bajuku yang acak-acakan di bulan mei. penuh noda dan lumpur. memulai bulan Juni dengan perasaan yang ceria.

Aku bukan pribadi yang terlalu perfeksionis di dalam semua hal meski akupun menyadari bahwa dalam hal tertentu, menjadi pribadi yang perfeksionis sekali-kali dibutuhkan misalnya dalam hal yang prinsipil entah itu pekerjaan ataupun dalam kehidupan sehari-hari. lain halnya ketika hal yang bukan prinsipil seperti penampilan, terkadang aku tidak terlalu ingin menjadi sempurna karena penampilan luar hanyalah berhenti di pandangan mata orang lain, cukuplah saja penampilan yang sopan dan bersih dan tidak perlu terlalu mewah dan mencolok apatahlagi ingin menjadi pusat perhatian.

Juni sedang memasuki langkah awal. aku menyadari bahwa perjalanan bulan ini mungkin sedikit lebih diperlambat dan diisi dengan hal yang baik karena di pertengahan bulan ini pun, Ramadhan akan tiba. tentu saja bahwa momen itu akan merubah beberapa rutinitas di bulan lainnya. aku harus menyusun ulang beberapa schedule yang sudah aku terapkan sebelum Ramadhan menghampiri.

Aku butuh nutrisi lebih untuk mengarungi bulan ini. fisikku yang belum kunjung segar bugar pun terkadang ikut mempengaruhi aktivitas rohaniku meski bukan alasan untuk melemahkan energi rohani karena aku yakin bahwa terkadang keadaan seperti ini pula yang membuat manusia kuat dan mengolah mata batin yang terdalam.

Pekerjaan di kantor pun berjalan seperti apa adanya. tidak ada perubahan signifikan meski terkadang ada pekerjaan yang menumpuk namun hal yang lumrah karena terkadang ada pula momen dimana tidak terlalu padat perkerjaan. Teman kantor pun tidak ada masalah karena seringkali aku berpikir bahwa ketika ada perbedaan maka bukan sebuah masalah.

Aku sedikit harus lebih menebalkan perasaan terhadap hal-hal yang sifatnya sentimental. Membuang perasaan rendah diri kemudian bersabar untuk hal-hal yang orang lain tidak mengerti akan diriku karena disitulah letak memulai menjadi pribadi yang rendah hati. Banyak hal yang mungkin menjadi jalan untuk melawan diri sendiri, disaat orang lain merendahkan kita dan di saat orang lain meremehkan apa yang kita miliki. ingatlah bahwa hidup bukan untuk menyenangkan orang lain dan bukan untuk menjadi terlihat jago di mata orang lain namun hiduplah untuk menjadi diri sendiri.

Masalah utama ketika kita merasa terganggu dengan omongan orang lain adalah karena kemungkinan besar kita masih ada perasaan ingin terlalu sempurna di mata orang lain. Hal yang mungkin harusnya kuperbaiki lagi adalah menjaga mulut menceritakan kejelekan orang lain bahkan meski dalam hal yang sederhana. Aku yakin bahwa menjelekkan orang lain di belakang mereka akan mematikan energi positif dari dalam diri.

Ah, aku ngomong opo toh
tapi lumayanlah untuk memulai juni yang hangat
Pulogadung, 010615 08:18