January 23, 2026

Marriage Beyond Physical Desires

Sekian tahun yang lalu ketika sedang ngobrol santai dengan salah seorang kawan, kami membahas tentang pernikahan. Topik yang sebenarnya tidak terlalu familiar bagi dua pria yang sedang ngobrol, biasanya hanya seputar sepakbola atau musik.

Dia seorang pria yang belum menikah dan nampaknya memilih untuk tidak menikah karena tidak pernah secara serius membahas pernikahan, bahkan saya belum pernah mendengar dia punya pacar selama kenal dengannya.

Sore ini, tiba-tiba saja pembicaraan tentang pernikahan. Dia berceloteh bahwa pernikahan itu ibaratnya mengkonsumsi makanan yang sama sepanjang hidup kita maka dia meyakini pasti ada titik kebosanan ketika setiap hari makan makanan yang sama.

Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dengan seseorang sepanjang hanyat karena apapun yang ada di dalam hidup pasti memiliki titik kebosanan.

Saya tidak terlalu bereaksi terhadap argumennya karena saya meyakini setiap orang punya perspektif masing-masing terkait semua hal termasuk juga tentang pernikahan. Pun kondisi kami juga berbebda, saya sudah menikah sementara dia belum jadi perbandingannya kurang pas.

Hanya saja, dia melakukan simplifikasi terhadap pernikahan dengan mengatakan bahwa pernikahan yang diibaratkan dengan makanan. Maka argumennya hanya pada sebatas kepentingan fisik.

Makanan hanya berfungsi untuk memastikan tubuh kita secara biologis tetap bekerja tetapi pernikahan tidak hanya sebatas hubungan badan. Pernikahan selain tentang kebutuhan badaniah, juga ada kebutuhan lain yang jauh lebih hakiki sehingga pernikahan itu terlalu cetek untuk diibaratkan hanya sekadar mengkonsumsi makanan.

Pernikahan adalah tentang komitmen yang harus dijaga sepanjang hidup kita tanpa melupakan kita sebagai manusia biologis.

Terlalu banyak analogi untuk membantah argumennya terkait pernikahan, salah satunya fenomena tentang seseorang -entah pihak wanita atau pria- yang rela tetap mendampingi pasangannya ketika pasangannya sakit dan tidak bisa lagi melakukan aktivitas fisik.

Maka pernikahan di sini bukan lagi bagaimana memenuhi hasrat biologis tetapi rasa cinta dalam konteks yang lebih hakiki. Ada nilai yang ingin diperjuangkan oleh masing-masing pasangan.

Berpikir Kritis



Kemarin siang sesaat setelah menyelesaikan rutinitas makan siang, saya merasa ada yang mengganjal di gigi bagian bawah. Awalnya saya anggap ada sisa makanan yang nyangkut. Setelah berkumur, tidak jua membaik. Saya memutuskan untuk mengecek di cermin, ternyata bukan makanan tetapi ada karang gigi yang cukup tebal. 

Saya berinisiatif untuk mencari klinik yang menyediakan jasa scalling. Saya merasa perlu untuk membersihkan karang gigi karena sudah mulai berpengaruh pada kesehatan gigi. Mulailah saya browsing dengan kata kunci #harga scalling terjangkau. Sepersekian detik kemudian, muncul di layar HP beberapa informasi tentang klinik yang menyediakan jasa scalling. 

Saya menghubungi salah satu di antaranya yang cukup murah dan terjangkau. Setelah beberapa saat chat dengan admin, saya menanyakan apakah masih ada tambahan biaya dari harga yang tercantum di website. 

Respons dari admin klinik menginformasikan bahwa tidak ada lagi kecuali biaya admin. Kalian bisa menebak berapa biaya adminnya? 33% dari harga yang tercantum.

Saya kemudian memilih untuk mencari klinik lain karena harga murah yang dicantumkan hanya semata teknik marketing dengan menyasar psikologis konsumen yang tertarik pada harga murah.

***

Di lain waktu, saya seringkali membeli salah satu merek kopi hitam kemasan di swalayan yang berbeda-beda. Setiap kali saya membeli di Swalayan yang menawarkan harga yang murah, saya selalu merayakannya karena mendapat harga murah. 

Namun pada kenyataannya bahwa harga murah yang saya maksud hanya selisih sangat sedikit. Misalnya satu pack di swalayan harganya 12.100, kemudian di swalayan yang lain, saya membeli dengan harga 11.900, dengan perasaan yang senang sekali, padahal kenyataannya selisih harga yang  200 perak. Kasus yang lain ketika saya butuh gelas kopi  yang berukuran 200 ml. Saya sering mencari gratisan dengan membeli kopi dengan bungkus besar, biasanya berhadiah gratis gelas.

Saya tidak pernah menyadari bahwa membeli kopi dengan gratis gelas lebih mahal dibandingkan saya membeli gelas terpisah. Salah satu kopi dengan merek terkenal menawarkan satu bungkus besar gratis gelas dengan harga 70 ribu rupiah. Sementara jika tidak gratis gelas, harga kopi hanya sekitar 30 ribu, artinya dengan membeli 1 paket kopi gratis gelas, saya harus mengeluarkan 40 ribu untuk gelasnya.

Contoh di atas bukan fiktif tetapi benar-benar saya alami bahkan dalam keadaan sadar sekalipun. Kata kuncinya bahwa manusia suka pada hal-hal yang gratis dan murah meskipun realitas yang ditawarkan oleh perusahaan tidak gratis dan lebih mahal. Psikologi konsumen sangat mudah dimanipulasi agar tertarik membeli.

Kemampuan untuk memahami pola seperti ini sebenarnya merupakan bagian kecil dari cara berpikir kritis. Kita tidak langsung percaya yang indrawi tetapi dianalis dan dijernihkan dulu informasi yang masuk ke dalam otak sebelum diolah dan disimpulkan untuk mendapatkan realitas yang sebenarnya.

Berpikir Kritis

Berpikir adalah tentang segala sesuatu. Berpikir kritis adalah model berpikir yang memiliki langkah-langkah spesifik, seperti memahami, meragukan, mengetes, dan membangun ulang. 

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menjumpai sesaat berpikir misalnya berargumentasi dengan ancaman, argumentasi dengan merendahkan, argumentasi dengan memojokkan, argumentasi karena tidak tahu, argumentasi karena belas kasihan, argumentasi karena populer, argumentasi karena kekuasaan, argumentasi karena menyamaratakan kasus, pembalikan perkecualian, argumentasi karena sebab palsu, argumentasi dengan pernyataan berbelit-belit dan argumentasi dengan pertanyaan basa-basi.

Berfikir kritis tidak selalu pada aspek ketidaksepakatan pada suatu hal tetapi proses bagaimana kita kemudian menentukan sikap dengan melihat secara komprehensif semua hal yang berkelindan dalam isu yang sedang dibicarakan. 

Berfikir kritis menemukan tantangannya yang cukup berat di era media sosial ketika konten menjadi sebuah kebenaran. Tanpa berfikir kritis, maka kita akan menjadi mangsa pada ciptaan manusia yang bernama teknologi.

Ketika kita mampu berpikir kritis maka kita tidak mudah dikelabui oleh hal-hal yang bersifat artifisial. Kita senantiasa mengambil jarak dan waktu dari sebuah fenomana viral, melihatnya secara utuh kemudian merespons dengan presisi.

Dua tahun silam, viral seorang Satpam Plaza Indonesia memukul anjingnya. Kejadian yang terekam oleh CCTV disebar oleh beberapa orang termasuk beberapa publik figur.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Ternyata tindakan Satpam tidak lain dilakukan semata karena refleks untuk mencegah anjingnya yang menyerang seekor anak kucing. Alhasil, kejadian viral membuat Satpam diberhentikan dari pekerjaannya.

Kejadian di atas merupakan bukti nyata bahwa berpikir kritis dibutuhkan oleh semua kalangan masyarakat. Kejadian viral tidak akan berdampak besar jika semua orang mampu mengambil jarak pada video yang beredar. Mencari tahu puzzle yang belum lengkap sebelum bereaksi.

Kejadian serupa terlalu sering terjadi di era digital. Penipuan menggunakan video AI juga marak terjadi dan menyasar masyarakat secara umum.  Telepon misterius dari orang tak dikenal yang mengaku dari kepolisian atau dari pihak rumah sakit. Mengabarkan bahwa sanak keluarga sedang bermasalah atau sedang kecelakaan kemudian diminta untuk mentransfer sejumlah uang. 

Ada orang yang mengambil jarak dengan berpikir jernih. Menelepon langsung keluarga yang disebut oleh oknum penipu, namun ada juga orang yang kalut dan biasanya langsung mentransfer uang sesuai yang diminta.

Kebiasaan berpikir kritis tidak datang tiba-tiba tetapi merupakan sesautu yang dibiasakan, maka demikianlah berpikir kritis merupakan hal yang sangat diperlukan oleh semua orang.

Bangsa Yang Mati

M. Subhan S.D, suatu waktu menulis opini berjudul "Bangsa Mati di Tangan Politikus." Tulisan tersebut kurang lebih mengkritisi para lakon Politisi yang tidak sadar diri dan posisi. Serangkaian kasus korupsi yang terjadi, tidak lantas menyadarkan para Politisi bahwa mereka telah membuat kerusakan besar jika tidak menyadari hakikat posisi yang mereka emban. 

Alih-alih sadar, Politikus DPR merongkong KPK sebagai lembaga independen dalam pemberantasan korupsi. Panitia angket DPR berusaha melemahkan posisi lembaga KPK. Manuver anggota DPR bahkan seolah didukung oleh partai politik. Reformasi setengah hati ini yang berdampak pada praktik KKN merambah ke segala bidang.

Tulisan itu diterbitkan hampir sembilan tahun lalu, namun sampai detik ini, tidak ada perbaikan dari kondisi lanskap politik Indonesia, yang ada malah sebaliknya, perilaku para politisi semakin bar-bar dalam banyak hal.

Akhir tahun kemarin, terjadi bencana banjir yang cukup parah melanda sebagian daratan Sumatera. Bencana yang seharusnya menyatukan semua kelompok untuk turut membantu agar kondisi segera membaik. 

Namun kita disuguhi pemandangan yang menyesakkan dada. Para politisi ramai-ramai menunjukkan eksistensinya, ada yang datang ke lokasi sambil memikul beras 5 kg, ada yang berkunjung dengan seragam seolah hendak berperang, dan tentu sebagian dari mereka melontarkan pernyataan yang menyiratkan bahwa memang mereka tidak sadar diri.

Mereka mengatakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan "bantuan" kepada korban banjir. Sekilas tidak ada yang keliru namun jika ditelisik lebih mendalam, mereka sangat senang menggunakan diksi "bantuan." Padahal anggaran yang digunakan adalah APBN yang seharusnya ditujukan kepada kepentingan rakyat. 

Tentu hakikatnya bukan bantuan tetapi memang sudah sesuai alur penggunaannya. Mereka seakan lupa posisi yang sedang mereka pikul sebagai wakil rakyat.

Sebagian lagi dari mereka membandingkan jumlah dana dari APBN dengan donasi dari para Relawan. Mereka mendiskreditkan Relawan dengan cara membandingkan jumlah bantuan, padahal posisinya berbeda. Relawan tidak punya kewajiban struktural untuk membantu sementara mereka punya kewajiban yang diatur UU untuk melakukan kerja-kerja publik.

Pada poin ini, tentu sangat dibutuhkan kesadaran diri dan kesadaran posisi, atau mungkin juga mereka memang denial bahwa intensi mereka menjadi wakil rakyat bukan karena niat mengabdi tetapi hal lain, mungkin.

M. Subhan S.D, suatu waktu menulis opini berjudul "Bangsa Mati di Tangan Politikus." Tulisan tersebut kurang lebih mengkritisi para lakon Politisi yang tidak sadar diri dan posisi. Serangkaian kasus korupsi yang terjadi, tidak lantas menyadarkan para Politisi bahwa mereka telah membuat kerusakan besar jika tidak menyadari hakikat posisi yang mereka emban.
Alih-alih sadar, Politikus DPR merongkong KPK sebagai lembaga independen dalam pemberantasan korupsi. Panitia angket DPR berusaha melemahkan posisi lembaga KPK. Manuver anggota DPR bahkan seolah didukung oleh partai politik. Reformasi setengah hati ini yang berdampak pada praktik KKN merambah ke segala bidang.
Tulisan itu diterbitkan hampir sembilan tahun lalu, namun sampai detik ini, tidak ada perbaikan dari kondisi lanskap politik Indonesia, yang ada malah sebaliknya, perilaku para politisi semakin bar-bar dalam banyak hal.
Akhir tahun kemarin, terjadi bencana banjir yang cukup parah melanda sebagian daratan Sumatera. Bencana yang seharusnya menyatukan semua kelompok untuk turut membantu agar kondisi segera membaik.
Namun kita disuguhi pemandangan yang menyesakkan dada. Para politisi ramai-ramai menunjukkan eksistensinya, ada yang datang ke lokasi sambil memikul beras 5 kg, ada yang berkunjung dengan seragam seolah hendak berperang, dan tentu sebagian dari mereka melontarkan pernyataan yang menyiratkan bahwa memang mereka tidak sadar diri.
Mereka mengatakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan "bantuan" kepada korban banjir. Sekilas tidak ada yang keliru namun jika ditelisik lebih mendalam, mereka sangat senang menggunakan diksi "bantuan." Padahal anggaran yang digunakan adalah APBN yang seharusnya ditujukan kepada kepentingan rakyat.
Tentu hakikatnya bukan bantuan tetapi memang sudah sesuai alur penggunaannya. Mereka seakan lupa posisi yang sedang mereka pikul sebagai wakil rakyat.
Sebagian lagi dari mereka membandingkan jumlah dana dari APBN dengan donasi dari para Relawan. Mereka mendiskreditkan Relawan dengan cara membandingkan jumlah bantuan, padahal posisinya berbeda. Relawan tidak punya kewajiban struktural untuk membantu sementara mereka punya kewajiban yang diatur UU untuk melakukan kerja-kerja publik.
Pada poin ini, tentu sangat dibutuhkan kesadaran diri dan kesadaran posisi, atau mungkin juga mereka memang denial bahwa intensi mereka menjadi wakil rakyat bukan karena niat mengabdi tetapi hal lain, mungkin.
Sadar Diri
Dua minggu yang lalu, salah seorang Dosen saya, Djayadi Hanan, hadir dalam sebuah dialog publik yang menghadirkan juga salah seorang politisi dari fraksi Golkar. Dialog tersebut tentang Pilkada dipilih oleh DPRD.
Ada satu sesi ketika pak Djayadi menjelaskan kepada anggota DPR tersebut mengenai dua bentuk demokrasi; demokrasi langsung dan tidak langsung atau demokrasi perwakilan. Semua demokrasi di dunia menganut demokrasi perwakilan.
Anggota DPR tersebut kemudian menyela dengan mengatakan bahwa kenapa kita bilang pilkada oleh DPR anti demokrasi?
Layaknya mengajar kami ketika masih mahasiswa, pak Djayadi dengan sabar menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa yang mempunyai kedaulatan itu rakyat. DPR dipilih oleh rakyat untuk mewakili mereka di bidang legislatif, bukan dipilih untuk memilih lagi wakil rakyat lain di bidang eksekutif.
Saya rasa, penjelasan yang sangat sederhana tersebut seharusnya dipahami dengan baik oleh anggota DPR, namun berbagai argumen menunjukkan bahwa dia tidak paham atau mungkin denial.
Kehilangan Diri
Saya tidak sedang ingin membahas dengan amat sangat detail isu politik. Hal yang ingin saya tekankan bahwa manusia seharusnya mengenal dirinya untuk mencapai adimanusia. Tidak ada seorang pun yang akan menjadi autentik ketika tidak mengenal dirinya dengan baik.
Ada berbagai macam penyebab seseorang gagal mengenal dirinya, namun yang paling sulit diobati ketika gagal karena denial. Contohnya para politisi yang harus tetap tarik urat leher mempertahankan argumennya karena sudah menjadi kesepakatan partai, alih-alih dari hasil refleksi pribadi.
Kehilangan diri sangat menyiksa karena kita hidup dalam bayang-bayang orang lain. Apa yang kita lakukan tidak murni muncul dari perenungan yang panjang namun sekadar kepentingan pragmatis, apapun bentuknya.
Maka perjalanan kita sejatinya adalah perjalanan panjang mengenal diri. Menepi ke dalam kesunyian sambil mendengarkan setiap bisikan yang lahir dari dalam. Apa yang berasal dari dalam diri merupakan mutiara yang seringkali diabadikan.

Dua minggu yang lalu, salah seorang Dosen saya, Djayadi Hanan, hadir dalam sebuah dialog publik yang menghadirkan juga salah seorang politisi dari fraksi Golkar. Dialog tersebut tentang Pilkada dipilih oleh DPRD.

Ada satu sesi ketika pak Djayadi menjelaskan kepada anggota DPR tersebut mengenai dua bentuk demokrasi; demokrasi langsung dan tidak langsung atau demokrasi perwakilan. Semua demokrasi di dunia menganut demokrasi perwakilan.

Anggota DPR tersebut kemudian menyela dengan mengatakan bahwa kenapa kita bilang pilkada oleh DPR anti demokrasi?

Layaknya mengajar kami ketika masih mahasiswa, pak Djayadi dengan sabar menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa yang mempunyai kedaulatan itu rakyat. DPR dipilih oleh rakyat untuk mewakili mereka di bidang legislatif, bukan dipilih untuk memilih lagi wakil rakyat lain di bidang eksekutif.

Saya rasa, penjelasan yang sangat sederhana tersebut seharusnya dipahami dengan baik oleh anggota DPR, namun berbagai argumen menunjukkan bahwa dia tidak paham atau mungkin denial.

Kehilangan Diri

Saya tidak sedang ingin membahas dengan amat sangat detail isu politik. Hal yang ingin saya tekankan bahwa manusia seharusnya mengenal dirinya untuk mencapai adimanusia. Tidak ada seorang pun yang akan menjadi autentik ketika tidak mengenal dirinya dengan baik.

Ada berbagai macam penyebab seseorang gagal mengenal dirinya, namun yang paling sulit diobati ketika gagal karena denial. Contohnya para politisi yang harus tetap tarik urat leher mempertahankan argumennya karena sudah menjadi kesepakatan partai, alih-alih dari hasil refleksi pribadi.

Kehilangan diri sangat menyiksa karena kita hidup dalam bayang-bayang orang lain. Apa yang kita lakukan tidak murni muncul dari perenungan yang panjang namun sekadar kepentingan pragmatis, apapun bentuknya.

Maka perjalanan kita sejatinya adalah perjalanan panjang mengenal diri. Menepi ke dalam kesunyian sambil mendengarkan setiap bisikan yang lahir dari dalam. Apa yang berasal dari dalam diri merupakan mutiara yang seringkali diabadikan.


January 6, 2026

Butuh dan Ingin

Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Beberapa hari ini, saya menaruh tas impian di keranjang marketplace yang saban hari mengecek apakah tas ini diskon atau tidak. Sekira sebulan berlalu, harganya masih tetap sama, alhasil membuat saya masih menunda jari untuk menekan tombol checkout.

Pagi ini, saya dipertemukan dengan bacaan tentang surat seorang ayah terhadap putrinya. Salah satu bagian tertulis “Nikmatilah sepenuhnya apa yang kau miliki dan tekanlah keinginan apa yang tak kau miliki sekecil mungkin.

Buku itu berjudul "Surat-Surat Kepada Karen." Buku yang sejatinya diterbitkan pertama kali pada tahun 1965, tepat 60 tahun yang lalu. Charlie Shedd, seorang ayah yang menulis nasihat indah penuh kasih saya kepada anak perempuannya yang hendak menikah. Meskipun ditulis 6 dekade silam namun isinya masih sangat relevan dengan kehidupan hari ini, bahkan hampir semunya.

Tulisan tersebut mampu menyadarkan saya bahwa begitu banyak keinginan-keinginan yang berhasil membuat saya tidak menikmati apa yang sudah saya miliki. Perihal tas, sebenarnya saya masih memiliki beberapa tas yang masih sangat layak digunakan namun hanya karena keinginan, saya berhasrat membeli tas baru.

Entah sudah sekian kali saya menulis kebutuhan dan keinginan yang harus dipisahkan. Sekeras apapun saya merefleksikan kedua hal tersebut, saya tetap saja terjebak dalam keinginan-keinginan yang tak berujung. Salah satu hal yang gagal saya kontrol adalah meembeli sepatu. 

Tas itu akhirnya terbeli juga dengan dalih bahwa saya jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah membeli tas beberapa tahun terakhir. Namun saya memiliki stok tas yang masih bisa digunakan dengan layak.

Bukan hanya tas, saya pun terjebak membeli sepatu bahkan saya memiliki enam pasang sepatu sementara yang sering saya pergunakan hanya dua.

Begitulah, untuk hidup dalam kedamaian maka saya harus menjadi nyata dan sadar. Menjalani hidup detik ini juga sambil mengontrol pikiran yang terlalu liar dan sangat sibuk. Saya perlu menjadi nyata dan sadar untuk menemukan diri saya yang sudah lama hidup dalam ilusi karena terpenjara oleh angan-angan.

Pria Yang Terdiam di Bangku Taman (1)

 BAGIAN I — Aku yang Kehilangan Arah

1. Aku tidak sedih, tapi juga tetap hidup

Apa itu sedih, dari mana datangnya dan bagaimana menawar kesedihan? Atau mungkin sedih merupakan hal yang alamiah dalam hidup setiap manusia. Bagaimana bangkit dari kesedihan  dan menemukan jawaban hidup dari perasaan sedih.

Mengapa ketika manusia sedih, energinya seakan terkuras dan tak mampu melakukan hal-hal yang produktif. Sedih tidak terlihat namun membunuh manusia perlahan bahkan keramaian sekalipun tidak berarti. 

Aku seorang pria yang sangat sering merasakan kesedihan sejak memutuskan menikah. Bukan, bukan karena menyesal tetapi begitu banyak alasan yang melahirkan kesedihan tak berujung. Atau mungkin juga khawatir, entahlah apapun namanya.

Aku lahir dari keluarga sederhana dengan tujuh bersaudara. Kami tidak pernah begitu menderita, setidaknya kami masih bisa makan bahkan sampai berapa kali dalam sehari jika mau. Kami pun masih mampu melanjutkan pendidikan bahkan sampai ke tingkat universitas. 

Namun demikian, aku tidak pernah begitu merasakan hal berlebih saat masih kecil. Seingatku, kami memiliki sepeda namun pemberian dari saudara dan sepeda itu beberapa kali diservis, sekali digunakan, tiga kali diservis.

Kami pun tidak punya kamar pribadi karena hanya ada tiga kamar di rumah. Alhasil kami berbagi kamar. Pengalaman ini yang membuat aku begitu sedih ketika menyadari bahwa aku belum mampu menyediakan kamar sendiri untuk satu-satunya putra kami. Saat menggambar atau belajar, dia harus berada di depan ruang tamu yang itupun tidak memadai. Itu kesedihanku dan beberapa kesedihan-kesedihan lain.

Begitu membayangkan ketidakmampuanku, aku memilih untuk berdiam diri di bangku taman, menyesapi udara sore hari yang nampaknya menyadari kehadiranku. Dia menyapa begitu lembut bahkan sangat hati-hati, mungkin dia mengerti bahwa aku sedang dalam kesedihan dan hanya butuh sedikit ruang untuk merasakan diri.

Aku cukup lama membenamkan pikiranku di bangku taman itu. Bocah-bocah bercanda di sebrang jalan sambil sesekali melirik kepadaku, mungkin mereka iba sambil berguman, "alangkah mengerikannya menjadi orang dewasa dengan berbagai problematikanya."

Ada benarnya, tidak harus disadari bahwa saat nafas masih menyatu dengan jasad maka pastikanlah bahwa masalah akan terus mengintai. Dia tidak akan menghilang dari setiap jejak langkah yang diukir di dunia ini.

Jika sebagian orang dewasa iri melihat bocah yang membunuh waktu dengan bermain, maka aku tidak, sama sekali tidak. Hidup adalah saat ini maka masa lalu hanya sejarah sementara esok hari adalah angan-angan.

Di bangku taman itu aku menyadari sesuatu yang ganjil, kesedihan tidak selalu datang untuk menghancurkan. Kadang ia hanya duduk di samping kita, diam, menunggu kita berani menatapnya. Dan sore itu, untuk pertama kalinya, aku tidak mengusirnya.

Aku menarik napas panjang. Udara terasa lebih berat, tapi juga lebih jujur. Mungkin aku belum mampu memberi kamar sendiri untuk anakku, belum mampu menjanjikan masa depan yang mewah. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup. Dan entah mengapa, kesadaran itu memberiku alasan kecil untuk tetap mendekap sore di bangku taman.

Tarikan nafasku melalui hidung sambil pikiranku menghitung sampai delapan. Aku menahan nafas dengan hitungan yang sama lalu melepaskan nafas melalui mulut, pun dengan hitungan yang sama. Aku menyadari menjadi nyata, merasakan pikiran yang menari-nari ke masa lalu kemudian ke masa depan. Aku tidak memenjarakannya, hanya mengontrolnya.

Setiap kali pikiran terbang, aku menariknya kembali ke masa sekarang. Kemudian mulai merasakan pundak, aliran darah di tangan, jemari yang seringkali kaku, perut yang tidak pernah lelah dijejali makanan. Aku pun merasakan kedua kaki yang tidak pernah lelah melangkah.

Bersama itu, aku juga merasakan hal dari luar diri, sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam, udara sore yang menyejukkan, suara-suara riuh dari lalu lalang manusia.

Aku merasakan semuanya kemudian tiba-tiba terang. Kepalaku seperti dikalibrasi dari berbagai kotoran yang menumpuk. Aku beranjak lalu berguman, mulai sekarang aku ingin hidup dalam kenyataan bukan dan kesadaran.

Selepas Membaca 23.59

Selepas membaca novelnya Brian Khrisna, 23.59, memoriku berjalan mundur 13 tahun silam. Tentang perpisahan tanpa pamit dan tentu sangat menyiksa bahkan menyisakan tanda tanya tak berujung. Cerita yang kemudian terkubur bersama waktu meski masih sering hadir untuk mengingatkan bahwa ada momen yang pernah melukai.

Ini bukan rekaan namun realitas yang menemani perjalananku sejauh ini. Aku masih ingat setiap potongan ceritanya, saat pertama kali kami menyatakan rasa. Setelah itu, beberapa waktu kemudian harus terpisah oleh ruang atas impian yang ingin dikejar. 

Mungkin memori paling indah ketika aku membeli seragam baju batik murah di Jogjakarta. Motifnya masih tersimpan rapi di sudut memoriku, didominasi warna putih dengan corak bunga yang berwarna navy. Aku memilih lengan pendek sementara dia kupilihkan batik model gamis. 

Baju untuknya kukirim ke kotanya, entah sampai atau tidak namun yang kuingat bahwa itulah terakhir kalinya dia kuhubungi, setelahnya dia menghilang dengan hanya ucapan selamat tinggal melalui pesan SMS. Di siang bolong, dia berlalu kemudian semuanya mesti berakhir.

Aku masih terus menyimpan sedikit harapan dan mencoba menghubunginya namun nihil. Dia seakan berlalu dalam gelap, atau mungkin menganggap bahwa perasaan bisa dipermainkan sesukanya. Satu hal yang pasti, tidak ada alasan jelas kenapa dia lenyap.

Saat itu, aku berusaha menghubunginya namun sia-sia belaka. Dia tidak pernah lagi memberika respons bahkan sampai saat ini. Dia hadir memberikan pertanyaan seumur hidupku tentang alasan dia memilih mundur.

Jika dalam novel 23.59, Ami didatangi oleh Raga dalam mimpi untuk memberikan jawaban yang utuh atas keputusannya pergi, namun aku tidak. Mimpi yang kutunggu tak kunjung datang dan terkubur bersama waktu.

Cerita fiksi dalam novel adalah realitas dalam hidupku meskipun tidak membuatku merana namun tetap saja ada kekecewaan yang terus membeku.

January 1, 2026

2016

Semalam, sebelum tidur lebih awal dari biasanya, saya merekam sebisa mungkin memori tentang pergantian tahun. Saya menyadari bahwa sedari dulu, pergantian tahun tidak pernah menjadi momen yang spesial bagi saya. Semalam, tepat jam 10, saya sudah memejamkan mata di sofa ruang tamu sambil memegang buku.

Saya terjaga kira-kira jam 12 lewat sedikit ketika dentuman petasan yang seakan memecah gendang telinga. Saya terjaga tidak lebih dari lima menit kemudian melanjutkan tidur. Pada akhirnya semua berjalan normal. Momentum pergantian tahun tidak lebih hanya abstraksi dalam pikiran kita untuk memaknai hal-hal yang dianggap ada padahal ilusi. Esoknya, tidak ada yang spesial dan saya pun menjalani hari sebagaimana biasanya.

Saya bangun lebih awal dari biasanya untuk kembali menemukan hal-hal baik yang saya lakukan. Sedikit meditasi dan lanjut rebahan. Rutinitas pagi hari tidak lepas dari secangkir kopi susu dan beberapa potong pisang goreng sambil membunuh waktu di depan layar laptop.

saya menemukan sebuah tulisan di website rumah filsafat dengan judul "Menjadi Nyata di Tahun 2026." Sebuah tulisan membumi tanpa angan-angan layaknya resolusi para manusia yang memburu kenyamanan materi. Tulisan ini menjelaskan tentang momentum tahun baru yang sejatinya abstrak dan ilusif dan tidak nyata, seperti halnya dunia, pikiran kita bahkan emosi juga tidak nyata karena dibatasi ruang dan waktu.

Penulisnya, Reza menyatakan bahwa resolusinya cukup simpel yaitu lebih sering berada dalam keabadian, mengakrabi keheningan yang disebutnya sebagai dirinya yang hakiki.

***

Dua hari sebelumnya, saya melumat sebuah buku dalam sehari kurang lebih 370 halaman. Sebuah buku semacam catatan perjalanan yang ditulis oleh Mohammad Zaim, Muslim dari Kediri yang menceritakan perjalanan panjang kehidupan spiritualnya. Awalnya kuliah di IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN) karena keadaan. Dia diterima di Unesa namun saudaranya menyuruh untuk kuliah di UIN. Hanya beberapa tahun, dia memilih pindah ke sekolah Tinggi Agama Budha di Jakarta.

Zaim memilih sekolah ini karena hasratnya untuk menjalani spiritual model meditasi yang lazim dilakukan pemeluk agama Budha. Selanjutnya dia melanjutkan pencarian jiwanya ke biara yang bernama Plume Village di Bordeaux. Selama 6 tahun, dia menempa dirinya di sana. Satu hal yang unik bahwa meskipun dalam tradisi Budha, dia tetap menganut agama Islam bahkan menurutnya, dengan melakukan itu semua, kepercayaannya terhadap Islam semakin menguat.

***

Momen lain dalam dua kali kesempatan pada platform berbahasa Inggris, saya mengobrol dengan Jade, salah satu mahasiswi di sekolah Budha di Vietnam yang sebentar lagi akan lulus. Kami mengobrol banyak tentang bagaimana meditasi dilakukan.

Saya membukan obrolan dengan menceritakan bahwa di tahun ini, saya berencana untuk meluangkan waktu minimal dua kali dalam sehari untuk belajar meditasi, ketika akan tidur di malam hari dan saat bangun pagi.

Jade dengan penuh semangat mengatakan bahwa meditasi bukan tentang bagaimana kita menyepi dalam keheningan, bukan tentang kondisi tetapi meditasi bisa dilakukan setiap saat. Ketika bekerja, ketika mengobrol, ketika belajar, dan apapun yang sedang kita lakukan. Meditasi sejatinya adalah menyadari apa yang sedang kita lakukan sekarang dan memanggil "Mind" untuk tetap berada pada kondisi present. Ketika dia sedang berkelana ke masa lalu maka panggil dia kembali, pun ketika dia sedang pergi ke masa depan, maka kembalikan dia di masa sekarang.

Dari ketiga momen di atas, mungkin saya sedang diingatkan untuk berusaha belajar sadar akan saat ini. Pikiran tidak bisa dipenjara tetapi dapat dikontrol untuk tidak terlalu mengembara karena sejatinya pikiran yang akan melahirkan berbagai macam hal yang berhubungan dengan psikologis. 


December 15, 2025

Romantisme Merantau

Enrekang-Bandung ternyata terlalu jauh membawaku dalam sepi. 

Dulu aku pernah  menyaksikan seorang pria yang harus merantau dan hanya pulang sekali dalam beberapa tahun. Ketika pulang, seakan sangat keren.

Dulu, beberapa orang di kampungku merantau jauh ke Irian, Malaysia, dan Kalimantan dalam waktu yang cukup lama bahkan puluhan tahun.

Dulu, aku pernah mendengar kisah alegori seorang bayi yang hidup di bawah perlindungan pohon tua. Semakin beranjak dewasa, si anak mengambil satu persatu pohon tersebut untuk kesenangannya. mulai dari buah, daun, ranting, sampai batang. Hingga tiba masa ketika dia sadar bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari pelindungnya si pohon.

Itu dulu, dan sekarang aku menyadari mereka adalah aku yang terdampar jauh di tanah rantau. Tempat yang tidak pernah benar-benar menawan jiwaku. 

Aku tetap merasa anak kampung yang terpaksa harus mendekap diri dan menjejak langkah di tempat ini, terperangkap dalam kesedihan berkepanjangan sambil menahan rindu kepadamu, ibu.

Aku naif mempercayai metaforik tentang merantau;

Merantaulah.. agar kamu tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang

Merantaulah... engkau akan tau betapa berharganya waktu bersama keluarga

Merantaulah... engkau kan mengerti alasan kenapa harus kembali.

....

Romantisasi merantau menjebakku dan memaksa mencerabut jiwaku dari akarnya.

Seringkali aku tak kuasa dan ingin melepaskan semua namun tak ada daya. Aku merasa bahwa hidupku tertinggal di umur 25 tahun dan sisanya hanya hampa.

December 2, 2025

Berita Awal Bulan

November cukup menguras energi dengan berbagai dinamikanya. Saya bahkan pada titik menyerahkan semua pada semesta sambil terus tertatih. Semua masalah muncul dari berbagai arah yang tak terduga, di lingkungan keluarga, di kerjaan, dan berbagai masalah yang membuat kepala serasa akan meledak.
Saya berharap pergantian bulan sedikit meredakan pikiran yang kacau, namun tidak. Semesta tetap menjalankan caranya sendiri.
Kemarin tepat di tanggal satu, berita yang selalu dikhawatirkan sampai di telinga saya. Salah seorang Tante yang cukup dekat dengan saya, sudah tiba pada titik akhir. Meski saya sadar bahwa dia begitu sepuh dan waktunya pasti tiba, tetapi tetap saja ada ruang kosong yang tersisa di sanubari saat memori merecall semua potongan waktu bersamanya, tentang bagaimana beliau yang dulu pernah menjadi penyelamat hidup saat masih kuliah.
Saya tidak tahu pasti usianya berapa tetapi perkiraan saya, beliau sudah mencapai angka 100.

November 13, 2025

Langkah Terakhir

Berita itu datang di siang bolong, telepon WA yang masuk tanpa nama. Aku mengangkat tanpa perasaan curiga akan berita menyedihkan. 

Meninggalki NN.

Aku terdiam, benar-benar terpaku dalam keheningan sejenak suara mulai larut dari gendang telingaku. Suara itu cukup akrab di telingaku dan nama yang disebutkan pun tak kalah akrab denganku bahkan kami sering mencela dalam keakraban.

Memoriku memutar kembali beberapa periode waktu ketika bercengkerama bersamanya dengan segala keguyuban yang ada di antara kami. Sedikitpun tak pernah luput suguhan aneka jajanan ketika aku bertandang. Namun aku juga sangat yakin bahwa dia akan menemukan apa yang dituju karena di akhir-akhir waktunya, selalu saja pesan sejuk yang diungkapkan.

11 Juli 2025, terakhir kali aku mengomentari status WA nya, tentang perjalanannya menunaikan ibadah umroh. Dia hanya merespons dengan ucapan terima kasih. Ah, benar-benar perjalanan hidup yang amat sangat singkat.

Perjumpaan kami di awal tahun ini dan ternyata yang terakhir. Kami tidak saling mengucapkan selamat tinggal karena semesta sama sekali menyisakan tanda, atau mungkin memang seperti itu. Kita selalu disuruh waspada karena tak pernah diberitahu kapan langkah terakhir kita.

Kita benar-benar sangat yakin bahwa kematian pasti akan hadir menjumpai seluruh makhluk tetapi setiap kali momen tiba pada orang yang kita kenal, selalu saja menyisakan ruang hampa, entah apa namanya. Tidak ada yang siap mendengar kematian tanpa persiapan apa-apa.

November 12, 2025

Ibu dan Segala Kebahagiaan

Luruhlah segala kepedihan, 

yang terpendar dari sanubari sang perempuan. 

Suara keheningan di subuh hari, 

semakin menyesakkan dada


kenangan terlempar di masa silam, 

ketika kemewahan tidur di pangkuannya

Perlahan-lahan, genangan air hangat mengalir di sudut mata

semakin menyesakkan dada


Semakin langkah menjauh dari rumah, 

semakin jauhlah apa yang dicari

Aku terlempar dalam fatamorgana, 

yang kuanggap dulunya hakiki


Setelah ini, apa lagi

Entahlah

Gelap dalam pandanganku 

Terjebak dalam angan-angan kosong


Apa maknanya semua ini

Jika jarak langkah dan tujuan semakin menjauh

Semakin aku mencari,

Semakin hilanglah dia


November 4, 2025

Republik Kampus (3)

#Menemukan Diri

Deadline publikasi tinggal dua hari lagi, dokumen akreditasi yang harus diupload esok hari, bahan ajar yang tak kunjung diselesaikan, dan sekian tugas-tugas lain masih menunggu untuk disentuh. Namun malam yang semakin menua, Gunawan tidak bergeming. Dia hanyut dalam bacaan tentang mitologi  Sisyphus, makhluk yang dikutuk oleh Zeus untuk mendorong batu besar ke atas bukit dan setiap kali akan mencapai puncak, batu jatuh kembali dan Sisyphus harus mengulang hal yang sama. Kutukannya abadi.

Apa yang dilakukan Sisyphus? 

Alih-alih bunuh diri atau putus atas akan takdirnya, dia menari-nari dalam gelombang yang dihadapinya, menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang absurd. Melakukan hal yang repetitif tanpa tau ujungnya memang cukup menyiksa. Gunawan merasa dia seorang Sisyphus di dunia modern yang terus saja melakukan hal yang repetitif.

Apakah ini yang dinamakan hidup bermakna?” gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi kebisingan di kepalanya yang terus berdengung.

Gunawan menutup mata dan merasakan angin malam, menarik napas panjang. Ia sadar bahwa yang mengekang bukan pekerjaan atau sistem, tapi ekspektasi idealisme dalam dirinya sendiri. Ia ingin kampus menjadi laboratorium pemikiran, bukan sekadar tempat mencari angka kredit atau dana hibah. Ia ingin mahasiswa membaca buku, berdiskusi, dan berpikir kritis, bukan sekadar sosok-sosok yang mencitrakan diri sebagai intelektual.

November 2, 2025

Detik Terakhir

Tetangga yang saya ceritakan tempo hari, sudah menutup hidupnya di Jum'at malam tepatnya setengah dua belas malam. Kami mengenalnya sejak delapan tahun silam ketika pindah ke sini. Tentu interaksi kami dengan mereka cukup intens karena rumahnya tepat di depan rumah kami dan kalau hendak ke luar maka kami melewati depan rumah.

Jika tidak salah, dua bulan lalu sebelum pensiun dari kerjaannya, dia masih sangat segar dan semangat menjalani rutinitasnya. Sebenarnya dia belum berniat pensiun namun karena kondisi kesehatannya yang kadang-kadang drop maka akhirnya dia memutuskan untuk pensiun. Ternyata penyakitnya cukup serius dan baru didiagnosa setelah chek up ke RS UI.

Sejak itu, kesehatannya terus menurun sampai akhirnya menutup hidupnya tepat di akhir Oktober. Sebelum nafas terakhir, saya masih sempat menengoknya sesaat setelah tiba dari Bandung. Kalau tidak salah, jam setengah sembilan malam saya menengoknya kemudian tiga jam kemudian berpulang. 

Kita meyakini bahwa momen demikian akan dialami oleh semua makhluk hanya saja bentuknya yang berbeda. Ada yang sakit, ada yang kecelakaan, dan berbagai penyebab hilangnya nyawa meskipun kita sadar bahwa semua itu hanyalah sebab normatif karena sesungguhnya ketika kontrak hidup sudah berakhir maka berakhirlah.

Apa yang membuat kematian begitu mendapat perhatian dari manusia sementara mereka meyakini bahwa kematian merupakan hal yang alamiah?


October 28, 2025

Memeluk Kehidupan

Siapa yang tidak mengenal Viktor Emil Frankl, seorang Psikiater yang tidak hanya pintar berteori tetapi dia mengalami sendiri pengalaman menyedihkan selama di tahan di camp konsentrasi Nazi (Auschwitz, Dachau, dll). Meski sebelum ditahan, dia sudah membuka praktik psikiater, namun pengalaman hidup membawanya pada momen merasakan sendiri bagaimana harus mengimplementasikan teorinya kepada dirinya sendiri sebelum diterapkan kepada orang lain.

Seakan Tuhan ingin mengatakan kepada Viktor bahwa apa yang kau ketahui harus diuji secara empiris pada dirimu, apakah kau mampu melewatinya atau tidak. 

"What doesnt kill you will makes you stronger"

Viktor melewati hari-harinya dengan caranya sendiri untuk tetap survive. Dia merawat ingatan pada kenangan-kenangan tentang istrinya dan percaya bahwa suatu saat, dia kembali mendapatkan hidupnya. Meski demikian, tetap saja ada momen yang membuat dirinya serasa angkat tangan.

Semesta membawa viktor kembali menemukan hidupnya saat dibebaskan. Alih-alih menangisi periode kesengsaraan yang dialami, dia kembali melanjutkan praktiknya lalu kemudian menemukan teknik penyembuhan dalam psikiater yang dikenal dengna Logoterapi. 

viktor menjadi contoh bagaimana manusia harus diuji pada setiap ilmu yang bertumpuk di kepalanya. Ujian hidup yang akan menilai apakah manusia lulus dalam kehidupannya ataukah gagal. Meskipun viktor tidak pernah lagi menemukan istrinya setelah dibebaskan, tetapi satu hal yang pasti, dia memenangkan pertarungan dengan dirinya.

***

Membaca kisah para tokoh besar dalam menghadapi kesulitan hidup merupakan salah satu cara untuk meneguhkan diri ketika menghadapi masalah bahwa pada dasarnya, masalah merupakan sesuatu hal yang inheren dalam diri manusia. Hidup adalah masalah maka menghindari hidup sama saja dengan bunuh diri eksistensial.

October 26, 2025

Pengingat Terbaik

Seharusnya, semakin jauh jejak langkah yang kita kisahkan, maka semakin paham bahwa hidup ini akan menuju satu titik temu. Idealnya seperti itu, namun ternyata terlalu banyak dinamika yang membuat idealitas itu menjauh dari realitas yang dijalani. Manusia sering terkecoh dengan hal-hal artifisial dan tidak mampu mengidentifikasi mana yang seharusnya menjadi prioritas.

Saya termasuk kumpulan manusia yang semakin menua tetapi belum jua menemukan kebijaksanaan. Saya masih terus memendam berbagai ambisi yang fatamorgana dan serangkaian keinginan yang sifatnya material. Saya percaya bahwa untuk mendapatkan hal inti, kita harus memilih rasa sakit yang harus dijalani.

Tadi pagi, saya menjenguk engkong, tetangga yang rumahnya tepat hanya beberapa jengkal dari rumah kami. Dia tetangga yang pertama kali kami kenal sejak memilih bermukim di tempat kami sekarang, sejak delapan tahun silam. 

Saya begitu sangat kaget ketika mengetahui bahwa ternyata dia sudah tidak mampu duduk dan badannya semakin kurus. Padahal dua minggu lalu ketika sakitnya baru didiagnosa, dia masih sangat semangat bercerita apa saja. Atau dua bulan lalu ketika istrinya dirawat di RS, dia bercerita dengan penuh harap bahwa semoga istrinya segera sembuh dan biarkan dia mencari nafkah.

Tidak sampai sebulan, dia jatuh sakit yang lebih parah, kemudian hanya berselang beberapa minggu kemudian, keadaannya semakin lemah.

Saya kemudian menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat karena serasa baru kemarin dia terlihat energik menjalani hari-harinya.

Benarlah nasihat bahwa pengingat terbaik dalam hidup adalah menjenguk orang sakit. Melihat keadaan mereka akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa hidup ini akan berujung pada kefanaan dan dalam penantian ke titik itu, kita sebaiknya melakukan hal yang baik-baik saja.

October 25, 2025

Pertanyaan Repetitif

Rabu kemarin di sebuah kelas pagi, salah seorang mahasiswa bertanya pertanyaan retoris dan sangat umum, Apakah agama meruapakn salah satu penghambat kemajuan sebuah negara? 

Mahasiswa yang bertanya memang salah satu mahasiswa yang cukup vokal di kelas saya dan seringkali menanyakan isu-isu terkini yang mungkin tidak terlalu relevan dengan mata kuliah, namun saya suka karena sejatinya ruang kelas harus menjadi ruang dialektis antara mahasiswa dengan pengajar.

Di kelas Politik luar negeri kemarin, kami membahas tentang signifikansi Islam dalam politik luar negeri kemudian dalam sesi diskusi, lahirnya pertanyaan di atas. Entah pertanyaan itu benar-benar lahir dari refleksi pribadinya dengan mengamati fenomena yang ada di tengah masyarakat atau pernah membaca pertanyaan yang sama. Satu hal yang pasti bahwa pertanyaan semacam itu sudah sangat umum saya temukan di berbagai forum bahkan sejak saya kuliah S1 hampir dua puluh tahun yang lalu.

Relevansi agama dan ilmu pengetahuan telah menjadi perdebatan yang cukup sengit beberapa abad terakhir bahkan sampai sekarang. Ada begitu banyak perbedaan pendapat terkait diskursus ini. Sebagian memang percaya bahwa agama menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, sebagian lagi mencoba untuk menemukan titik temua antara kedua dan sebagian tidak terlalu peduli tetapi menempatkan konteksnya.

Sekira dua tahun lalu, saya pernah ikut dalam forum diskusi dengan Hamid Basaid tentang agama dan ilmu pengetahuan. Dia sendiri seperti memisahkan antara kedua diskursus ini namun dalam hal ilmu pengetahuan, dia mencoba untuk tidak membawa unsur agama. 

Salah satu ilustrasinya yang masih saya ingat bahwa kalau agama, percaya dulu sebelum diriset sementara sains, kita wajib melakukan riset sebelum mempercayai itu semua. 

Begitulah dua hal ini selalu diperdebatkan tetapi kemudian pada konteks yang lebih spesifik tentang jawaban atas pertanyaan di atas, apakah agama benar-benar menghambat perkembangan sains?

Sejarah membuktikan bahwa jawabannya bisa "ya" dan "tidak."

Ada masa ketika agama dijadikan alat untuk membungkam sains seperti yang kita saksikan pada abad pertengahan di Eropa, namun ada juga masa ketika agama fine-fine saja saat bergandengan dengan agama yang bisa kita baca pada sejarah perkembangan sains masa keemasan Islam.

Manusia oh Manusia

Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta kemarin sore dengan iringan hujan deras yang mengguyur, saya asyik mendengarkan radio dari HP. Tepat di bilangan Pasteur sebelum masuk tol, penyiar berita menceritakan tentang kisah pilu di Garut. Kisah yang tidak mampu saya selesaikan secara tuntas karena sudah mual, bukan karena mabok darat tetapi isi ceritanya.
Kisah itu tentang seorang ayah tiri yang merudapaksa anak tirinya sejak 2023 saat si anak masih duduk di bangku SMP. Kejadian itu baru diketahui ketika si anak sudah SMA dan sedang hamil. Teman-temannya yang curiga karena perubahan bentuk tubuhnya kemudian melaporkan ke gurunya lalu dibawa ke puskesmas.
Ironisnya, kejadian itu terjadi di rumah sendiri ketika ibu kandung, atau istri si ayah sedang tidak berada di rumah. Si anak tidak bisa berbuat apa-apa karena mungkin berada di dalam ancaman. 
Kemudian pagi ini, saya membaca berita di media online tentang seorang remaja yang mengubur bayinya di kebun pisang. Entah mungkin hasil dari hubungan gelap atau karena kebablasan saat pacaran namun saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana bisa manusia mengubur bayinya yang tidak berdaya. 
Kita disuguhi dengan berbagai peristiwa-peristiwa yang membawa pada satu pertanyaan bahwa apakah manusia benar-benar makhluk yang paling tinggi dari yang lain, ataukah seperti yang dikatakan oleh Dostoyevsky dalam bukunya
"Catatan dari Bawah Tanah"
"Cacat terburuk manusia adlah penyimpangna moralnya yang terus-menurus tak kenal henti. Apabila manusia tidak menemukan sebuah jalan keluar, dia akan menciptkana kehancuran dan kekacauan, menciptakan segala macam penderitaan supaya mencapai tujuan."

October 24, 2025

Hal-Hal yang Tidak Perlu Direspons

Sepertinya saya harus merutinkan kembali menulis untuk melepaskan semua penat yang ada di kepala. Melepaskan semua tanpa harus menyiksa diri dengan pikiran-pikiran yang tak kan pernah ada habisnya. Saya bahkan merasa tidak mampu menampung informasi yang masuk jadi menulis merupakan saluran untuk mengeluarkan satu persatu yang tidak harus ditampung.

Saya mulai dari satu hal yang harus saya lepaskan tentang informasi bahwa saya menjadi objek gibahan. Berat memang tapi saya berusaha untuk lebih rasional memikirkan apa respons yang lebih baik. Saya menakar berbagai hal yang sebaiknya dilakukan, mulai dari reaktif, mendiamkan, atau cara-cara lain yang mungkin bisa dilakukan.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari referensi yang mungkin membantu saya untuk menemukan solusi yang terbaik. Saya membuka youtube dengan kata kunci merespons gibah. Muncullah berbagai ceramah yang menganjurkan untuk tidak terlalu peduli karena sejatinya, sekeras apapun kita berusaha dan melakukan hal yang baik-baik, selalu saja menyisakan orang-orang yang tidak akan pernah setuju dengan kita.

Hidup adalah pilihan tentang diri kita, tentang apa yang seharusnya diusahakan tanpa berusaha untuk menyenangkan semua orang. Perjalanan hidup adalah perjalanan untuk menemukan siapa kita sebenarnya yang autentik tanpa perlu menjadi seorang yang disukai semua orang. Toh bahkan nabi Muhammad sekalipun sebagai manusia yang paripurna, tetap saja ada yang tidak menyukainya.

Sepanjang perjalanan hidup saya, tidak pernah saya menemukan sesosok manusia yang dihormati karena berusaha menyenangkan semua orang. Manusia yang terhormat adalah dia yang melakukan hal-hal baik atas dasar niat yang baik, bukan ingin dipuji dan disukai.

Jadi berhentilah untuk menjadi manusia yang ingin disukai semua orang, namun bukan berarti melakukan apa saja yang memang di luar batas-batas aturan. Jika pada akhirnya mendengar bahwa ada sebagian yang tidak menyukai diri kita bahkan bergunjing di belakang kita maka yakinilah bahwa itulah hidup. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah menjadi objek gibahan kecuali yang hidup menyendiri.

"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu" (Ali bin Abi Thalib).

October 21, 2025

Republik Kampus (2)

#Kelelahan Eksistensial

Lima tahun yang dijalani di kampus ini tidak membuat Gunawan mampu menerima realitas yang ada. Dia seolah menjadi budak industri pendidikan yang menjalani hari-hari yang repetitif, bangun pagi, bersiap ke kampus, aktivitas di kampus, pulang ke rumah, malam mengerjakan tugas yang tertunda, kemudian kembali berbaring untuk sekadar melepas penat dan esoknya akan berlangsung seperti biasanya.

Gunawan sadar bukan ini yang ada di idenya ketika pertama kali memutuskan menjadi seorang Pengajar di kampus. Dia terlalu idealis membayangkan ruang-ruang seperti lingkaran Wina, mazhab teori kritis, Akademianya Platon, dan kelompok intelektual lain yang melahirkan berbagai ide-ide besar.

Setiap kali tiba di kampus dan mulai membuka laptopnya, yang tersisa di dadanya hanyalah rasa sesak yang merupakan kristalisasi dari kelelahan psikis. Kelelahan yang lahir dari realitas yang jauh dari idealitas yang dia impikan.

Setiap kali Gunawan ingin memulai untuk kembali produktif namun idenya terhenti pada kalimat pertama, "menjadi Dosen merupakan panggilan hati nurani....," Gunawan merasa sangat bersalah untuk melanjutkan kalimat berikutnya karena yang dia saksikan hanyalah realitas semu tentang dunia Dosen yang penuh dengan drama kehidupan. Tidak ada nuansa akademik secara lahiriah tetapi hanya artifisial.

Dosen melakukan penelitian karena kewajiban dan dana hibah yang besar, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dikerjakan hanya memenuhi kewajiban BKD, pun mengajar tidak benar-benar menciptakan ruang akademis yang emansipatif kepada seluruh mahasiswa. 

Bahan presentasi dibuat dengna bantuan AI, referensi dari situs internet yang tidak jelas, Dosen yang tidak pernah membaca buku dan berbagai ironi lain.Publikasi artikel di jurnal jangan ditanya, sebagian mengambil tugas mahasiswa diedit menggunakan chatGPT kemudian dipublikasikan dengan sistem fastrek, jadilah sebuah aritkel publikasi yang diklaim.

Gunawan duduk di sudut pantry dengan segelas kopi yang masih ngebul sambil menatap dari jendela langit Surabaya yang dipenuhi polusi di pagi hari. Kampus yang dulunya dianggap bermartabat ternyata hanya gedung yang ramai oleh akademisi tetapi sepi.

Sebuah spanduk besar terpajang di gerbang kampus dengan tulisan "Kampus Berdampak" berkibar lesu tanpa makna. Kalimat tersebut hanya jargon kosong yang sama sekali tidak berdampak pada siapa saja yang ada di kampus.

Akreditasi kampus yang unggul hanyalah tulisan di sertifikat, bukan kualitas pemikiran yang benar-benar mencerminkan keunggulan kampus. Merdeka belajar hanya sebatas pelonggaran pada sistem belajar yang digunakan oleh dosen pemalas, bukan pada aspek pemikiran yang berdaulat.

Gunawan membuka diktat yang dipenuhi catatan-catatan kecil tentang rencana penelitian, kini kosong tak bermakna. Ia menulis curhatannya "Saya tidak sedang bekerja tetapi lelah mengharapkan hal-hal ideal." Kalimat itu menenangkan sekaligus menakutkan dan bagai mimpi buruk. Ada pengakuan bahwa harapan yang dulu menjadi bahan bakar semangatnya sebagi seorang Pengajar, kini nyaris padam. 

Gunawan menatap ke luar jendela dan memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang di area kampus. Beberapa sibuk  membuat konten promosi untuk acara kampus, beberapa duduk di taman sambil tertawa dengan ponsel di tangan. Dia tidak mendapati mahasiswa yang duduk di bangku taman sambil membaca buku, pemandangan yang dulu sering dia saksikan ketika masih kuliah.

Gunawan menatap mereka dengan sambil merefleksikan apa yang terjadi. Ia muak atas kondisi yang dia saksikan, tapi juga tak sanggup. 

Mungkin mereka hanya meniru kami,” gumamnya lirih. 

Kalau dosennya sibuk rapat dan menulis laporan, kenapa mereka harus sibuk membaca buku?”

Senja menjelang maghrib, Gunawan memutuskan pergi ke kafe baca di pinggir kota, tempat pelariannya selama ini sambil merawat idealitas yang hanya tersisa sedikit di kepalanya. Di sana, aroma kopi dan tumpukan buku tua menjadi semacam terapi penyembuhan jiwa. Ia membuka kembali buku The Myth of Sisyphus karya Albert Camus, yang dulu ia baca saat kuliah.

Manusia absurd,” tulis Camus, 

“Manusia yang sadar akan kehampaan hidup namun tetap menolak bunuh diri.

Gunawan sedang menjadi Sisifus yang jenuh tentang makna kehidupan, dan tetap bertahap sambil terus menjalani absurditas kehidupan. selain karena larangan agama, Gunawan menolak bunuh diri juga karena menyadari bahwa hidup yang absurd tidak selayaknya diselesaikan dengan bunuh diri.

Gunawan membaca kalimat itu berulang-ulang tentang Sisifus yang menjalani hidup absurd dengan kebahagiaan. Ia merasa seperti sedang menatap dirinya sendiri di cermin. Ya, hidupnya absurd. Ia tahu dunia akademik penuh kepalsuan, tapi tetap datang setiap hari ke kampus, mengajar, memberi nilai, dan menghadiri rapat. Seolah semua itu masih berarti.

Gunawan mencoba untuk menjadi Sisifus yang utuh bahwa apa yang dia jalani itu memang membosankan tetapi bagaimana menjalani kebosanan dengan rasa bahagia.

Beberapa hari kemudian, Bu Rani menghampirinya di kantin kampus. “Gun, kamu jarang kelihatan akhir-akhir ini. Katanya sekarang lebih sering di luar?”
Gunawan tersenyum tipis getir. “Masih di sini, Bu. Hanya sedang mencoba memahami kembali apa artinya menjadi dosen.”
Bu Rani tertawa kecil nan sinis “Kamu terlalu serius, Gun. Jalani saja, toh semua orang juga begitu.
Gunawan membalas pelan, “Ya, Bu. Mungkin itu masalahnya."

Gunawan tidak pernah sekalipun menemukan koleganya di kampus yang memiliki pemikiran yang sama, bagaimana merawat marwah kampus yang seharusnya menjadi laboratorium kehidupan untuk menguji hal-hal yang ideal, bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah.

Sambil mengendarai motor bututnya,  pikirannya berkecamuk tentang banyak hal. Ia menatap kaca spion motornya. Dalam pantulan kaca itu, ia melihat wajahnya yang mulai menua. Lelah, tapi masih menyala samar meskipun sangat sedikit. Ia sadar, bukan sistem kampus yang sepenuhnya membuatnya hampa, tapi dirinya sendiri yang masih menuntut makna dari ruang yang sudah berhenti bermakna.

Malam itu, Gunawan menulis lagi di jurnal pribadinya. Blog yang sudah dibuatnya puluhan tahun silam ketika masih kuliah S1.

Aku tidak sedang mencari dunia yang sempurna sebagaimana di dalam kepala saya, hanya ingin tempat di mana kejujuran tidak dianggap ancaman dan menyisakan sedikit harapan bagi mahasiswa yang ingin menjadi manusia.”

Hari berikutnya, Gunawan kembali mengajar. Kali ini ia memilih untuk bicara lebih sedikit dan mendengar lebih banyak. Ia memulai kelas dengan pertanyaan sederhana, 

Kenapa kalian kuliah?”

Pertanyaaan retoris yang selalu dia dengar dari dosen-dosennya dulu. 

Ruang kelas hening, beberapa mahasiswa heran dengan sikap Gunawan yang lain dari biasanya. Sosok yang biasanya memulai kelas dengan senyuman tipis sambil berusaha melontarkan candaan yang garing, kali ini Gunawan sedikit lebih serius.

"Biar dapat kerja, pak" tiga atau empat mahasiswa menjawab serentak.

Gunawan mengangguk dan mencoba memahami apa yang ada di benak mahasiswanya. 

"Itu alasan yang tidak salah, tetapi coba direfleksikan dengan lebih mendalam, apakah bekerja benar-benar adalah tujuan akhir kalian, atau hanya cara untuk bertahan hidup?"

Tidak ada yang merespons tetapi hanya wajah-wajah penuh tanda tanya, entah heran atas sikap Gunawan atau benar-benar berpikir tentang jawaban.

Sore harinya, setelah kelas selesai. Gunawan memilih untuk tidak langsung pulang tetapi ia kembali membuka laptopnya. File tulisan lama“Perbaikan Negara diawali dari Dunia Kampus” kembali terbuka. Ia membaca paragraf pembuka, lalu menambahkan satu kalimat baru di bawahnya:

Mugnkin saja ide perbaikan negara tak akan pernah dimulai dari dunia kampus seperti yang dikisahkan sejarah yang romantik, karena kampus sudah lebih dulu menjadi negara, lengkap dengan pejabat, fraksi, dan rakyat kecilnya. Negara yang penuh dengan intrik dan melupakan bagaimana membangun manusianya

Gunawan berhenti menatap layar yang memantulkan wajahnya. Entah kenapa, kali ini ia tidak merasa mual. Mungkin karena ia akhirnya berdamai dengan absurditas yang sedang dijalaninya. Berat, tetapi dia terlanjur setuju dengan Albert Camus bahwa absurditas kehidupan harus dijalani dengan riang gembira, toh akhirnya juga akan mati.

Di luar, Surabaya malam itu ramai, suara klakson, tawa anak muda, Bonek mania yang sedang menuju stadion, dan aroma hujan bercampur debu. Gunawan menutup laptopnya dan tersenyum kecil.

Ia tahu, kelelahan ini mungkin tak akan hilang. Tapi setidaknya ia kini mengerti tentang hidupanya,

"Bertahan pun bisa menjadi bentuk perlawanan."

October 19, 2025

Republik Kampus (1)

#Merawat Idealisme

Gunawan tidak pernah sama sekali membayangkan sebelumnya apa yang sedang dijalaninya sekarang di dunia kampus. Ruang yang sebelumnya dibayangkan sebagia dunia ideal ternyata tidak lebih dari sebuah republik mini. 

Birokrasi yang tak kalah rumit dari birokrasi pemerintah, fraksi yang saling hujat, idealisme yang dibonsai, dan nuansa yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia politik. Dunia akademik yang Gunawan bayangkan sebagai dunia dialektis, tempat ide dipertengkarkan, dan hasil riset yang melimpah ternyata hanya fatamorgana kosong.

Tahun ini memasuki lima tahun Gunawan menjalani profesi sebagai pengajar di tingkat universitas. Idelismenya masih utuh namun mulai luruh sekian persen. Semangatnya masih tinggi meski dia mulai realistis atas apa yang harus dijalani di hari-hari mendatang. Ruang ini bukan potongan surga yang ada di bumi, tapi tidak lebih dari ruang orang-orang yang sedang berkompetisi memapankan diri masing-masing.

Masih segar diingatannya saat minggu pertama menginjakkan kaki di kampus. Dia disambut para Dosen yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing tanpa ada sama sekali salam perkenalan. Gunawan mulai ragu, namun mencoba menepis dengan pikiran-pikiran baik bahwa begitulah para Akademisi, karena terlalu sibuk memikirkan masa depan bangsa sehingga sapaan pun tak sempat.

Sekian hari berlalu, aktivitasnya dipenuhi dengan aneka hidangan rapat, tumpukan map, ratusan borang, dan wajah-wajah kolega yang tidak lebih sekadar karyawan, bukan pribadi yang berdaulat atas ide-ide, bahkan Gunawan tak sempat lagi mengingat berapa rapat yang harus diikuti dalam sebulan.

Agenda pertama, pembagian tugas akreditasi,” kata Pak Kaprodi, suaranya serak seperti mesin fotokopi yang kelelahan. Wajahnya seakan menggambarkan bahwa dia sudah cukup lelah dengan segala rutinitas di industri pendidikan, bukan instansi pendidikan.

Bu Rani langsung menimpali, “Saya pegang kriteria penelitian ya, Pak. Biar cepat, soalnya saya sudah biasa ngerjain.” Kalimat yang sepertinya template dan respons yang cepat agar tidak diberikan tugas yang memberatkan.

Gunawan mencoba menawar, “Kalau boleh, saya ingin bantu di bagian pengabdian masyarakat, Pak. Biar bisa turun langsung ke UMKM. Saya tertarik untuk mengimplementasikan beberapa hasil penelitian saya di masyarakat

Bu Rani menatapnya sambil tersenyum pahit dan menampakkan senioritas di sorot wajahnya. “Wah, semangat ya, Gunawan. Tapi di sini sistemnya sudah jalan. Jangan diutak-atik dulu, nanti repot. Tidak perlu terlalu idealis.

Bu Rani tidak pernah memanggilnya dengan panggilan mas meskipun secara usia, mereka lahir di tahun yang sama. Entahlah. Namun Gunawan tidak pernah mempermasalahkan karena sejak kuliah, dia selalu terbiasa dengan iklim emansipasi di setiap organisasi yang diikutinya. Penghormatan tidak pada panggilan tapi bagaimana menghargai sesama dalam ruang-ruang akademik. Penghormatan panggilan hanyalah sekadar retoris dan artifisial.

Gunawan hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu “sistem” itu hanya cara halus dari para kolega senior untuk membungkam dan menutup ruang bertumbuh bagi orang baru dan tentu dimaknai sebagai: Jangan ganggu status quo.

Hampir dua dekade silam ketika masih kuliah, Gunawan selalu menentang setiap sistem yang dia anggap tidak adil dan merusak iklim kampus yang seharusnya inklusif dan emansipatif. Namun saat ini, dia mencoba untuk menyimak setiap fenomena yang ditemuinya meskipun pada beberapa kesempatan, kehadirannya hanya dianggap angin lalu.

Hari-hari berlalu sampai menjelang lima tahun, Gunawan sadar bahwa ide tidak pernah menjadi barang istimewa di kampus, namun siapa yang paling mampu mengambil hati pimpinan, dia yang akan berada di posisi yang nyaman. 

Satu-satunya pelarian Gunawan ketika sedang penat adalah sebuah kafe baca di pinggir Surabaya menuju Sidoarjo. Buku, kopi, dan laptop menjadi senjata untuk mencoba menerima kenyataan bahwa dia sedang terjebak di suatu tempat yang ideal dalam pikirannya namun realitasnya tidak lebih dari sekadar industri pendidikan. Pengajar bukan lagi sosok yang dijaga marwahnya tetapi hanya atribut yang dikejar untuk kepentingan masing-masing.

Gunawan belajar cara bertahan untuk tetap survive, dengar lebih banyak, bicara secukupnya dan tidak perlu menjilat. Tapi setiap kali ia mencoba diam dan menjauh dari keriuhan, selalu saja muncul suara di kepalanya yang memberontak dan menuntut Gunawan secara moral, suara idealisme yang dulu membuatnya yakin jadi dosen adalah panggilan, bukan pekerjaan

Suatu pagi ketika Surabaya didera hujan yang sangat deras. Setibanya di ruang dosen, Gunawan mendengar percakapan dua koleganya.
Katanya semester depan bu Rani mau naik jadi wakil dekan,” bisik bu Nirma, dosen yang minggu lalu bergibah dengan ibu Rani tentang Kaprodi yang dianggap memihak ke dosen lain.
Pantesan akhir-akhir ini rajin ikut semua kegiatan, dari seminar sampai lomba tumpeng” balas pak Sukamto sambil terkekeh.

Gunawan pura-pura sibuk di depan laptopnya, tapi bibirnya ikut tersenyum. Dalam hati ia mengakui, politik kampus di Surabaya lebih hidup daripada politik di Balai Kota. Minggu lalu bu Nirma begitu akrab dengan bu Rani namun dibelakang bergunjing tentang koleganya.

Gunawan tidak hanya menyerah pada para kolega tetapi juga para mahasiswa yang semakin berkurang keinginan untuk belajar. Tentu bukan karena kesalahan mahasiswa karena dosen mencontohkan hal yang sama.

Mahasiswa sekarang kehilangan seleranya untuk membaca buku dan diskusi, pikir Gunawan. Sangat fasih berpendapat tetapi sangat lemah mempertahankan argumennya secara ilmiah. Nilai bukan hasil belajar, tapi hasil negosiasi. Saat diberi tugas esai, yang mereka cari bukan referensi, tapi “contoh dari ChatGPT.

Dalam beberapa kali kesempatan sebelum memulai kelas, Gunawan sering bertanya secara retoris “Kenapa tidak baca literatur sendiri di buku atau jurnal?”

Jawabannya selalu sama dan serentak, Waktunya, Pak... saya juga kerja sambilan.

Gunawan memahami bahwa hidup di Surabaya keras, bahkan mungkin juga di kota-kota besar lain. Banyak mahasiswa kuliah sambil kerja, ngekos seadanya, bahkan kadang ngajar les demi bayar UKT. Tapi di sisi lain, mereka juga terlalu cepat menyerah dan pasrah pada kondisi, seolah perjuangan akademik tak lagi relevan di kota yang lebih menghargai relasi daripada argumen.

Kondisi ini diperparah dengan realitas kampus bahwa mayoritas dosen akan selalu memberikan nilai tinggi kepada mahasiswanya karena berpengaruh pada akreditas.

Sore itu, setelah kelas selesai, seorang mahasiswi menghampirinya di kantin kampus.

Pak, saya mau bimbingan. Saya pengen nulis skripsi soal potensi usaha anak muda Surabaya untuk ekspor, tapi bingung teorinya apa.”

Gunawan memandang wajah mahasiswi itu, penuh gugup tapi jujur. Ada sesuatu yang membuatnya tenang.

“Coba mulai dari hal yang kamu alami sendiri. Kamu lihat temanmu-temanmu yang sudah pernah membuat usaha? usaha di bidang apa? Apakah usaha sejenis sudah pernah ekspor? Dari situ cari teorinya.”

Mahasiswi itu mengangguk. “Makasih, Pak. Saya kira teori dulu baru observasi.

Gunawan tersenyum. “Kalau di lapangan, kadang teori harus mengejar realitas, bukan sebaliknya.” hal yang membuatnya senang karena masih ada sebagian mahasiswa yang benar-benar serius dalam belajar dan juga memikirkan apa yang akan diteliti.

Saat mahasiswi itu pergi dan menghilang dari pandangannya, Gunawan duduk sendirian di ruang dosen sambil memandang tumpukan buku yang menunggu dibaca. Di luar, suara klakson dan pedagang sate Madura menembus jendela. Surabaya sore itu panas, tapi ada rasa damai kecil di dadanya.

Ia sadar, mungkin dunia akademik tak seindah yang dulu ia bayangkan. Tapi di antara laporan akreditasi palsu, rapat tak berujung, dan mahasiswa yang setengah putus asa, masih ada momen-momen kecil yang membuat semuanya terasa berarti seperti percakapan barusan.

Malamnya, Gunawan pulang melewati kawasan Bungurasih yang ramai. Orang-orang hendak pulang ke kota masing-masing. Lampu toko menyala, pedagang asongan yang tetap bersemangat, dan aktivitas lain yang membuatnya merasa hidup kembali. 

Ia berpikir, mungkin memang begitu hidup di kota ini, kota pahlawan yang keras tapi jujur. Tak ada ruang untuk bersembunyi di balik slogan “akademik yang bermartabat.

Kampusnya mungkin tak pernah tidur. Tapi bukan karena semangat ilmiah, melainkan karena semua orang terlalu sibuk menjaga posisi.

Gunawan tersenyum getir. Di sisa malam itu, ia menyalakan laptopnya, membuka berkas tulisan lama, esai tentang integritas akademik yang dulu ingin ia kirim ke media nasional.

Judulnya masih sama: “Perbaikan Negara diawali dari Dunia Kampus”

Dan ia menulis ulang kalimat pertamanya:

Menjadi dosen merupakan tugas mulia untuk berkontribusi dalam memperbaiki kondisi negara. menjadi dosen bukan sekadar atribut untuk dibanggakan di depan mertua tetapi panggilan nurani untuk tumbuh bersama para mahasiswa. Kelak mereka akan menjadi laskar negara yang membawa kebaikan bangsa dan negara.

Kalimat yang cukup ideal yang membuat Gunawan beberapa kali merasa mual ketika menyadari bahwa kampus tidak lebih dari miniatur negara dengan segala problematikanya.

#Edisi 1