July 3, 2015

Sisa Percakapan dengan Ibu

Ibu seringkali memngurai semua cerita kepadaku setiap kami menyicil rindu lewat benda kecil bernama Hp. cerita mengalir begitu saja bahkan sampai pada hal yang remeh temeh. aku terkadang hanya diam mendengarkan gairah ibu mengurai kisahnya sampai pada titik dia ingin mendengarkan pula ceritaku meski dia tahu bahwa tidak terlalu banyak yang mesti kuceritakan karena aktivitasku hanyalah rutinitas yang bisa ditebak oleh siapapun. berangkat pagi dan pulang sore.

Semalam ibu bercerita tentang kehidupanku di sini. ibu bertutur bahwa saudaraku yang berada di sorong dan sudah memiliki kemewahan duniawi menanyakan kabarku dan aktivitasku. ibu menceritakan apa adanya dan apa aktivitasku, kemudian saudara sepupuku tersebut dengan spontan mengatakan kepada ibu " kok saya bekerja di tempat seperti itu..?" ibu kemudian menimpali bahwa tidak masalah kerja apapun yang penting bekerja toh bekerja adalah berpenghasilan. setelah itu, aku tidak tahu lagi kelanjutan cerita ibuku dengan sepupuku tersebut.

Terkadang memang orang lain seakan lebih mengerti dengan apa yang kita jalani bahkan dengan santainya mereka menjustifikasi apa yang kita jalani tanpa berusaha untuk mengerti namun disatu sisi, aku pun harus meningkatkan pemaklumanku terhadap situasi seperti itu karena aku tidak akan pernah menutup mulut orang lain yang akan berkata apa tentangku dalam artian bahwa aku harus berdamai dengan keadaan yang tidak seperti yang kuinginkan dan tetap berjalan seperti apa yang aku yakini benar adanya.

Cerita seperti ini pernah terjadi pada Luqman Al-Hakim, orang biasa yang diabadikan di dalam Al-Qur'an karena kemampuannya memungut hikmah kehidupan. 

Dikisiahkan dalam sebuah riwayat, bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim telah memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang berkata, "Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang tersebut maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya. Kemudian orang-orang berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu." Karena ia tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, dan himar itu tidak dikendarai." Dalam perjalanan pulang, Luqman al-Hakim menasihati anaknya mengenai sikap manusia dan ucapan-ucapan mereka. Ia berkata, "Sesungguhnya tidak ada seseorang pun yang lepas dari ucapannya. Maka orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan kecuali kepada Allah saja. Siapa pun yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya."

Kemudian Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang fakir itu kecuali mereka mengalami tiga perkara, yaitu tipis keimanan terhadap agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu), dan hilang kepribadiannya. Lebih celaka lagi, orang-orang yang suka merendahkan orang lain dan menganggap ringan urusan orang lain." Jiplak dari sini

Salah satu cara melepaskan bayang-bayang hidup dari pandangan orang lain adalah mengacuhkan setiap hal yang tidak perlu didengar dari mereka. akan ada banyak komentar-komentar dari orang lain tentang hidup kita dan sejatinya kita tidak bisa membungkam mulut mereka, yang bisa dilakukan adalah mengangkat kedua tangan kemudian menutup kedua kuping dan tidak membiarkan hal negatif masuk ke dalam otak sehingga tujuan yang sudah kita rancang tidak terganggu oleh pendapat mereka.

Rawamangun
3 Juli 2015

No comments: