July 7, 2015

Di Manakah Semangat Itu?

Aku semakin meredup di sini dalam keramaian yang sepi. Semangat pun mengurai begitu saja bagai debu yang berterbangan oleh semilir angin senja. Aku masih terus berjuang membangun kembali semangat hidup yang temaram karena masa lalu yang tak ditata rapi, entah untuk pembelajaran ataukah mungkin aku yang masih bisa mengejar kembali ketertinggalan tersebut.

Aku yang harus tertunduk bisu dengan dominasi rutinitas yang mungkin mulai sudah tidak menyenangkan lagi. Aku harus bangun pagi kemudian mandi dan memakai baju yang kadang diseterika ketika terlalu kusut dan seringkali tak diseterika ketika malas mendera. 

Aku berangkat ke kantor yang hanya berjarak sekitar 1 km. Terkadang naik motor maupun jalan kaki ketika tidak bangun kesiangan. Aku seringkali tiba di kantor lebih dulu dari teman-temanku. Menyedu kopi sachet kemudian duduk manis di meja kerja samping meja kasie teknik. membaca berita di media online dan ketika kacab lewat, seringkali sok serius mengerjakan sesuatu meski kuyakin, mayoritas orang kantoran seperti itu.

Menginput polis property namun seringkali survey keluar, entah itu kehilangan motor, mobil yang kecelakaan ataupun survey penutupan. Rutinitas yang selalu berulang dan membuatku merasa penat karena pekerjaan yang masih berhubungan dengan uang perusahaan.

Seringkali pula aku mengeryitkan dahi, apakah kepenatan ini semua hadir karena ketidaksyukuranku dan masih memimpikan pekerjaan yang lebih baik? mungkin iya ataupun mungkin tidak. masih saja aku belum memahami dengan sempurna seperti apa yang diinginkan oleh kepalaku. ingin seperti apa dan mau kemana hidup yang kujalani?

Aku kadang merasa berdosa terhadap ide di kepalaku karena beberapa hal yang tidak kusepakati namun tetap saja kujalani. aku duduk sebagai pesakitan di hidupku sendiri. Hal lain yang membuatku penat adalah kecemasan masa depan. 

Aku menarik kesimpulan di titik ini. ini kesimpulan yang ingin kusimpan di dalam kepalaku, bahwasanya aku bahagia dengan apa yang kujalani karena pilihanku sendiri meski kutahu pilihan semakin menyempit namun kesimpulan berikutnya adalah aku ingin bertemu dengan nasib yang lain dimana bukan tentang urusan finance.

Aku ingin mengeksplorasi diriku lebih jauh. jikalaupun berada disini karena kondisi yang memaksa dan masalah perut maka aku iyakan saja sambil terus mengintip sedikit peluang yang masih disisakan semesta untukku.

Rawamangun
07.0715 13:53

No comments: