Saya berencana mudik dua hari lagi. setelah dua puluh empat bulan merantau, akhirnya saya berencana mudik. euforia mudik selalu saja meninggalkan berbagai kesan bagi siapa saja yang pernah merasakan getirnya merantau entah bekerja ataupun sekolah.cerita tentang mudik memang tidak akan pernah habis untuk dituturkan melalui kata-kata meski setiap orang menuliskannya.
Tentu saja yang membuat orang selalu antusias menanti momen mudik karena perasaan emosional dan keterikatan terhadap kampung halaman. memang manusiawi bahwa orang yang lahir dan bertumbuh di sebuah daerah akan merasakan keterikatan yang tidak mungkin dilepaskan begitu saja entah suatu waktu ketika dia akan jauh merantau namun selalu saja ada serpihan hatinya yang tertinggal.
Ada banyak kisah yang tersimpan disetiap mudik dan selalu saja kaum urban menantikan momen tersebut. saya yang akhirnya akan merasakan sensasi mudik yang lain karena mudik kali ini dengan pesawat meski dua tahun lalu pun saya sudah mudik dengan angkutan udara seperti ini.
Cerita di kampung halaman akan menjadi lebih seru dengan kedatangan para perantau yang dianggap "sukses' oleh orang yang tetap memilih untuk tetap tinggal di kampung. momen lebaran akan ditandai dengan ramainya suasana kampung yang sebelumnya sepi senyap. berbagai mobil mewah akan lalu lalang di jalanan kampung yang sebelumnya hanya dilalui oleh mobil butut. orang perantau yang notabene berasal dari kampung akan tampil mencolok dengan balutan pakaian bermerek atau dengan gadget mewah di tangan dan langkah yang sok di gagah-gagahin.
Saya tidak sedang menjustifikasi secara general orang kampung yang merantau kemudian mudik lebaran namun harus diakui bahwa sebagian dari mereka "semoga saja saya tidak termasuk" seperti memamerkan apa yang sudah didapatkan di kota. cerita mereka seperti sudah terbang ke langit dan tidak pernah menyadari bahwa mereka pun berasal dari kampung yang kebetulan saja merantau dan ketiban rejeki.
Satu hal yang membuat kesenjangan antara desa dengan kota adalah perilaku kaum urban ketika mudik yang memperlihatkan kemewahan sehingga orang yang memilih untuk tetap di kampung dan menjadi Petani kemudian silau dan merasa tertantang pula untuk merantau ke kota alhasil kota semakin sesak dan desa semakin tidak berpenghuni. hal yang perlu dicatat bahwa hidup di kota apatahlagi di ibukota tidak seindah di sinetron. memilih untuk merantau ke ibu kota berarti memilih untuk menggadaikan hidup baik waktu maupun ketenangan hati.
Momen mudik Lebaran juga menjadi ajang reuni bagi kawan lama. reuni kemudian berubah wujud dari hakekatnya adalah untuk menjalin silaturrahim kemudian lebih seperti lomba pamer kesuksesan. cerita dari mereka yang sudah merasa sok paling berhasil. reuni ini pula yang selalu dihindari oleh kawan lama yang tetap di kampung dan menjadi petani tetapi sangat dinanti oleh mereka yang sudah merasa sukses di perkotaan.
Mungkin lebih baik ketika menjadi kaum urban yang sedang merayakan momen mudik, tidak perlu untuk terlalu mencolok apatahlagi kalau masih memungkinkan mudik dengan kendaraan umum meski memiliki kendaraan pribadi. demi untuk menjaga harmoni saat bertemu sanak saudara di kampung. mudik bukan untuk ajang pamer namun tidak lebih sekedar untuk menyicil rindu kampung halaman yang masih tersisa di sanubari dan juga menjalin silaturrahim dengan handai tauladan. itu saja hakekat mudik
Selamat mudik
hati-hati di jalan
Pulogadung
13 Juli 2015
Ada banyak kisah yang tersimpan disetiap mudik dan selalu saja kaum urban menantikan momen tersebut. saya yang akhirnya akan merasakan sensasi mudik yang lain karena mudik kali ini dengan pesawat meski dua tahun lalu pun saya sudah mudik dengan angkutan udara seperti ini.
Cerita di kampung halaman akan menjadi lebih seru dengan kedatangan para perantau yang dianggap "sukses' oleh orang yang tetap memilih untuk tetap tinggal di kampung. momen lebaran akan ditandai dengan ramainya suasana kampung yang sebelumnya sepi senyap. berbagai mobil mewah akan lalu lalang di jalanan kampung yang sebelumnya hanya dilalui oleh mobil butut. orang perantau yang notabene berasal dari kampung akan tampil mencolok dengan balutan pakaian bermerek atau dengan gadget mewah di tangan dan langkah yang sok di gagah-gagahin.
Saya tidak sedang menjustifikasi secara general orang kampung yang merantau kemudian mudik lebaran namun harus diakui bahwa sebagian dari mereka "semoga saja saya tidak termasuk" seperti memamerkan apa yang sudah didapatkan di kota. cerita mereka seperti sudah terbang ke langit dan tidak pernah menyadari bahwa mereka pun berasal dari kampung yang kebetulan saja merantau dan ketiban rejeki.
Satu hal yang membuat kesenjangan antara desa dengan kota adalah perilaku kaum urban ketika mudik yang memperlihatkan kemewahan sehingga orang yang memilih untuk tetap di kampung dan menjadi Petani kemudian silau dan merasa tertantang pula untuk merantau ke kota alhasil kota semakin sesak dan desa semakin tidak berpenghuni. hal yang perlu dicatat bahwa hidup di kota apatahlagi di ibukota tidak seindah di sinetron. memilih untuk merantau ke ibu kota berarti memilih untuk menggadaikan hidup baik waktu maupun ketenangan hati.
Momen mudik Lebaran juga menjadi ajang reuni bagi kawan lama. reuni kemudian berubah wujud dari hakekatnya adalah untuk menjalin silaturrahim kemudian lebih seperti lomba pamer kesuksesan. cerita dari mereka yang sudah merasa sok paling berhasil. reuni ini pula yang selalu dihindari oleh kawan lama yang tetap di kampung dan menjadi petani tetapi sangat dinanti oleh mereka yang sudah merasa sukses di perkotaan.
Mungkin lebih baik ketika menjadi kaum urban yang sedang merayakan momen mudik, tidak perlu untuk terlalu mencolok apatahlagi kalau masih memungkinkan mudik dengan kendaraan umum meski memiliki kendaraan pribadi. demi untuk menjaga harmoni saat bertemu sanak saudara di kampung. mudik bukan untuk ajang pamer namun tidak lebih sekedar untuk menyicil rindu kampung halaman yang masih tersisa di sanubari dan juga menjalin silaturrahim dengan handai tauladan. itu saja hakekat mudik
Selamat mudik
hati-hati di jalan
Pulogadung
13 Juli 2015
No comments:
Post a Comment