Pernah aku berpikir tentang bagaimana angkuhnya para Pramugari yang dengan langkah tegap dan tidak ada senyum saat mereka berjalan di bandara ketika mereka baru saja landing ataupun hendak melakukan perjalanan. langkah yang tegap dan muka yang serius dengan dandanan yang mulus.
Pernah aku berpikir bagaimana mereka dengan senyum dipaksakan saat melayani para penumpang diatas pesawat. aku berpikir mereka melakukan semua itu hanyalah karena tuntutan pekerjaan dan selebihnya kemudian mereka kembali merasa lebih jauh berada di udara tanpa melihat ke bumi.
Namun itu semua mulai kukikis dari pikiran-pikiranku setelah menemui banyak hal tentang mereka. Aku punya senior seorang pramugari Maskapai terbesar di indonesia milik Pemerintah. Aku beberapa kali pernah bertemu dan dia adalah pribadi yang baik. Dia seringkali menulis kisah rindunya terhadap keluarganya ketika dalam tugas. aku kenal baik dengan Suaminya yang juga bekerja di sebuah perusahaan perminyakan di Timur Tengah.
Seandainya saja keluarga mereka ingin memamerkan apa yang sudah didapatkan maka sudah sangat pantas untuk itu namun tidak, sama sekali tidak, bahkan Suaminya yang memang akrab denganku kukenal sebagai pribadi yang amat sangat sabar, low profile dan tidak pernah menampilkan kemewahan seperti apa yang sudah didapatkannya. berinteraksi dengannya seakan kita berinteraksi dengan teman yang selalu mengalah. tidak terdapat sedikit pun garis kesombongan pada setiap ucapannya.
Cerita tentang Pramugari pun berlanjut diatas pesawat Sriwijaya Air yang aku tumpangi dari Makassar ke Jakarta. Ketika pesawat sudah mengudara, aku tidak tahan melepas hasrat untuk membuang sisa air di kantong kemih. Karena toilet pesawat masih penuh, aku memilih untuk menunggu di belakang pesawat. Pandanganku tertuju kepada seorang Pramugari yang selesai melaksanakan tugasnya di pesawat dan memilih duduk di belakang pesawat. Tahu apa yang dia lakukan..?
Dia sedang membaca kitab suci. Yah, dia sedang mengaji. aku terenyuh bahwa dibalik manis mereka ternyata punya sisi religius yang tinggi. aku bahkan berpikir bahwa keselamatan para penumpang Pesawat selain doa dari keluarga juga doa-doa suci dari para Pramugari yang "mungkin saja" menjadi washilah keselamatan dalam penerbangan karena sejatinya ketika ketika melakukan perjalanan udara maka kita telah menyerahkan hidup pada nasib.
Sepanjang perjalanan diatas Pesawat, pikiranku tertuju pada setiap tindakan para Pramugari dan mencoba menyadari betapa berat menjadi mereka. tanggung jawab untuk memastikan setiap Penumpang nyaman dan aman. mereka sama seperti pekerja lainnya yang harus banting tulang untuk keluarganya. tidak ada lagi pikiran untuk mencibir mereka. Mungkin hal yang biasa Pramugari yang mengaji di Pesawat namun aku baru sekali ini menjumpai. Seketika semua asumsi-asumsiku tentang pramugari kucampakkan. Memang mungkin banyak dari mereka yang merasa hebat namun masih banyak juga yang tetap membumi.
selalu saja ada hikmah di setiap lembaran perjalanan hidup.
Bandara Soetta
210715
Sepanjang perjalanan diatas Pesawat, pikiranku tertuju pada setiap tindakan para Pramugari dan mencoba menyadari betapa berat menjadi mereka. tanggung jawab untuk memastikan setiap Penumpang nyaman dan aman. mereka sama seperti pekerja lainnya yang harus banting tulang untuk keluarganya. tidak ada lagi pikiran untuk mencibir mereka. Mungkin hal yang biasa Pramugari yang mengaji di Pesawat namun aku baru sekali ini menjumpai. Seketika semua asumsi-asumsiku tentang pramugari kucampakkan. Memang mungkin banyak dari mereka yang merasa hebat namun masih banyak juga yang tetap membumi.
selalu saja ada hikmah di setiap lembaran perjalanan hidup.
Bandara Soetta
210715
No comments:
Post a Comment