July 22, 2015

Selamat Ulang Tahun, Dek

Tulisan yang amat sangat telat untuk cerita ulang tahunmu kali ini. Bukan bermaksud melupakan ataupun pura-pura lupa kemudian memberikanmu kejutan, tidak sama sekali. Aku bukan tipe orang seperti itu. bahkan tepat di hari ulang tahunmu, aku sama sekali tidak mengirimimu ucapan selamat seperti sebagian besar pasangan akan menjadi orang pertama memberikan selamat ulang tahun kepada pasangannya. aku yakin engkau sudah mafhum dengan setiap apa yang ada di pikiranku bahwa aku bukanlah orang yang terlalu mengagungkan hari ulang tahun bahkan budaya tersebut sama sekali tidak ada di dalam tradisi keluarga kami. mungkin engkau tidak percaya bahwa aku sama sekali tidak menghapal tanggal lahir keluargaku bahkan kedua orang tuaku.

Aku memang tidak terlalu suka untuk menunggu momen kemudian mendoakanmu seperti di hari ulang tahunmu karena aku sudah menanam doa untukmu di setiap lima kali sujudku. Bahkan mungkin setiap saat di bhatinku selalu terselip segenggam doa untukmu di sela doa untuk keluargaku yang lain. tidak banyak memang namun cukup untuk mengharapkan kebaikan untukmu dan untuk setiap apa yang akan engkau hadapi.

Aku hanya ingin bercerita apa saja disini sekedar pengingat bahwa engkau sedang merayakan ulang tahun. 2,6 tahun kebersamaan kita mungkin belum cukup untuk menyingkap siapa sebenarnya aku di depanmu meskipun engkau sudah sering menjumpai perangaiku yang buruk bahkan aku sendiri pun menyadari itu adalah tabiat yang harusnya kuubah demi diriku sendiri namun setiap apa yang kuperbuat untukmu tidak pernah sekalipun membuatmu berjalan berbalik arah dariku bahkan setiap detik bertambah kebersamaan kita, kasihmu pun semakin menebal. aku terkadang masih belum percaya bertemu dengan perempuan yang se sabar denganmu dan mencintaiku begitu dalam. tidak perlu kuuraikan satu persatu setiap bukti kesabaranku karena cukup kuukir di dalam memoriku untuk menjadi pengingat betapa di setiap langkahku kedepan, ada seorang wanita dengan semangat karang menuntunku mengarungi samudera kehidupan ini.

marilah kita bercerita tentang biduk rumah tangga dan teori apa saja yang akan kita jadikan referensi di dalamnya. Jika Allah meridhai, 2 bulan lagi kita akan menyatu dalam restu semesta dengan ikatan  yang halal menurut apa yang kita yakini. aku sudah menunggu momen itu pun juga dirimu sudah tidak sabar untuk menjadi seorang bidadari bersanding bersamaku di pelaminan, namun kita berdua telah sepakat bahwa kebahagiaan tidak berhenti di hari itu. masih banyak rintangan yang mestinya kita lewati untuk menggenggam kebahagiaan itu walau aku sendiri meyakini bahwa setiap badai ataupun duka yang kita hadapi nantinya adalah bagian dari bahagia itu sendiri. uppss, tunggu dulu. engkau pasti tertawa terbahak-bahak membaca kalimat diatas karena sudah tahu bahwa aku adalah teoritis paling ulung namun miskin implementasi. semua teori kulahap habis dan mental saat berhadapan dengan realitas dan itulah aku. kita seakan dua insan yang sangat paradoks.

ijinkan aku berteori apa saja ditulisan ini. semoga saja engkau tidak menjustifikasiku dengan ke-soktahuanku yang teramat tinggi. ada banyak teori dalam biduk rumah tangga dalam menghadapi konflik yang sewaktu-waktu terjadi antara lain
  1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah. pesan ini sebenarnya sudah sering kudengar dari orang di kampungku meski dalam penuturan yang berbeda. sejatinya bahwa jika salah seorang pasangan sedang emosi maka seharusnya yang satu diam dan menahan diri karena amarah yang dilawan dengan amarah akan menjadi berkali-kali lipat. kita berdua beberapa kali mempraktekkan ini namun masih sering gagal karena kita sama-sama emosi.
  2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa. dibagian ini, mungkin saya yang paling sering gagal karena aku terkadang suka mengungkit masa lalu kita saat masih labil. aku bahkan tidak pernah menemukan dirimu mengungkit masa laluku ketika sedang marah karena engkau mampu berdamai dengan setiap khilaf di masa lalu namun tidak bagiku, aku mengakui sering gagal untuk teori ini.
  3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga. ini juga termasuk salah satu hal yang paling vital karena suka tidak suka, kita punya keluarga yang sejak kecil kita sayangi dan jika mereka disakiti maka kita pun akan merasa sakit. aku akan berusaha untuk tidak membawa masalah keluarga ketika kita bertengkar. engkau mungkin berpikir bahwa aku sering menanyakan apa yang dilakukan keluarga mas mu dan sering menentang hal yang tidak sejalan denganku namun jika saja engkau tahu bahwa semua itu karena aku sayang  ibumu dan tidak tega jika keluarga mas mu masih saja merepotkan bahkan aku bilang menyusahkan ibumu. aku tahu betapa berat beban ibumu dan selalu berpikir harusnya dia menikmati masa tuanya tanpa ada lagi tanggungan namun ternyata tidak, tanggungannya semakin bertambah menjadi empat orang, selain mas mu juga isterinya dan kedua cucunya. semoga kita tidak menyusahkan orang tua kita. aku sayang ibumu.
  4. Kalau marah jangan di depan anak-anak ! ini kita sering perbincangkan dan tinggal menunggu waktu untuk kita praktekkan. sejatinya bahwa marah di depan anak-anak akan merusak mentalnya karena aku sudah merasakan hal yang sama.  
  5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat ! ada juga yang mengatakan bahwa kalau marah jangan lebih dari 3 hari namun rentang waktu satu waktu shalat lebih bagus lagi meski betapa sulitnya menjadi cepat pulih dari amarah namun kita sering pada kondisi ini. ketika kita marah dan engkau sudah menangis, bahkan amarahku selalu pudar kemudian berbalik arah dan memelukmu erat kemudian mengusap sisa air matamu dan mendaratkan kecupan manis di keningmu.  engkau pasti ingat beberapa momen seperti itu ketika amarahku menguap disaat tangisanmu menjadi-jadi
  6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan. aku menyayangimu tanpa tanda tanya.  SUMBER 
sudah terlalu banyak cerita yang kubagi di tulisan ulang tahunmu meski masih banyak lagi yang belum sampai. ada alasan kenapa di ulang tahunmu kali ini, isinya berupa teori berumah tangga karena itu tadi, Jika Allah mengijinkan dan meridhai, 2 bulan lagi kita akan menjadi sepasang manusi yang saling mengikat janji suci.

aku sisipkan Hadits untuk diriku sendiri pada penghujung tulisan untukmu “Bila engkau melihat seorang wanita yang menjadikanmu tertegun kagum maka segeralah engkau pulang menjumpai istrimu dan lampiaskanlah hasratmu padanya, karena semua yang ada pada wanita tersebut ada pula pada istrimu” (HR. Ibnu Hibban dan lainnya, dishahihkan Al Albani dalamShahih Al Jami).

semoga selalu sehat dek dalam hidup yang berberkah
selama mencapai umur seperempat abad

Rawamangun
22 Juli 2015

No comments: