July 8, 2015

Cerita Tentang THR

Hidup memang dengan begitu mudahnya bisa di bolak balik oleh Sang Pemilik hidup tanpa kita pernah merasakan prosesnya bahkan seperti kedipan mata, peruabahan dalam hidup seperti kilatan cahaya yang tak terhentikan. Perubahan akan selalu begitu adanya, tidak akan pernah menunggu setiap manusia yang berleha-leha dan tak akan pernah mengenal kata berhenti.

Masih segar dalam ingatanku dua tahun yang lalu saat masih di Ngawi sebagai marketing salah satu penerbit buku sekolah terbesar di negeri ini. Saat-saat menjelang hari raya, aku dan team Ngawi menyiapkan begitu banyak parcel yang nantinya akan dikirimkan ke beberapa nasabah Pareto ( Baca Prioritas ) bahkan aku sendiri yang mengantarkannya ke beberapa diantara nasabah tersebut. Yang kutahu bahwa satu-satunya alasan siapa saja yang akan kami berikan parcel lebaran adalah pertimbangan bisnis semata. Jika sang guru mempunyai peranan penting di suatu sekolah dalam pengadaan buku maka kami akan memanjakannya dengan parcel atau hadiah lebaran yang harganya tidak menjadi persoalan. disini aku masih percaya teori bahwa yang abadi di dunia ini adalah kepentingan.

Seperti yang aku bayangkan sebelumnya bahwa hidup berganti begitu saja dan tidak perlu prosedur macam-macam karena memang seperti itulah sunnahtullahnya berjalan. akhirnya aku sampai di masa ini dan menjadi staf klaim di salah satu perusahaan finance. Pekerjaan yang mengahuskanku untuk selalu berurusan dengan nasabah. terkadang aku berpikir jauh kebelakang bahwa mungkin saja aku memang ditakdirkan pada pekerjaan yang lebih banyak berinteraksi dengan manusia.

Mendekati hari raya idul fitri, perusahaan di seluruh nusantara punya kebiasaan membagi bagikan parcel kepada klien mereka meski pada sampai titik ini, aku percaya dengan haqqul yakin bahwa pemberian parcel tersebut didasarkan pada kepentingan bisnis semata. Di kantorku yang sekarang pun begitu adanya. Semua klien direkap dan dipilih dari perusahaan rekanan yang memang berkontribusi menguntungkan perusahaan setahun terakhir, aku melihat sendiri rekapan tersebut.

Akupun sampai saat ini sudah tiga rekanan yang ingin memberiku "THR." Perusahaan yang satu bahkan sudah mengirimiku kartu ucapan yang disisipkan didalamnya uang senilai 500 ribu. Uang tersebut akhirnya kuserahkan kepada bosku dan dibagi rata kepada teman-teman staff. Aku dua perusahaan rekanan lain yang meneleponku dan ingin memberikanku THR namun kuacuhkan saja.

Pulogadung
090115

No comments: