Akhirnya momen yang ditunggu kaum urban tiba. Mudik ke kampung halaman ada penyemangat bagi mereka yang memutuskan untuk bergabung dalam barisan kaum urban sembari meninggalkan suasana tenang di kampung. Akupun larut dalam euforia ini.
03:10
Aku mulai sadar dari mimpi dan bangkit mencari sesuap nasi untuk sahur. selesai menyantap sahur dengan lauk seadanya, aku menunggu adzan subuh dan bergegas ke mesjid dekat terminal Rawamangun. dengan dua tas ransel penuh baju baru untuk keluarga tersayang di kampung.
05:30
aku duduk dengan manis di atas damri bandara sambil menunggu penumpang yang lain. mengambil tempat duduk paling depan tepat di belakang sopir. sambil menikmati teduhnya ibu kota di subuh dini hari meski pikiran sudah melayang jauh sampai di kampung halaman. pikiran berkecamuk dan tidak sabar berjumpa dengan masa lalu setelah dua tahun bergelut dengan kerasnya kehidupan.
06:20
aku sudah sampai di depan bandara terminal 1B. terlalu dini memang mengingat pesawat yang akan membawaku ke makassar baru akan berangkat pukul 09:20. akhirnya harus menunggu di halte sambil menikmati lalu lalang manusia yang hendak mudik sepertiku. kehidupan selalu seperti itu dan sepertinya mengasyikkan menikmati setiap jejak hidup yang berjalan dengan rapi.
08:10
aku beranjak dari halte dan menuju tempat chek in. memperlihatkan tiket ke petugas kemudian bergegas menuju ke ruang tunggu dengan tas yang lumayan berat. sekitar 10 menit di ruang tunggu, kulihat kak ochan juga memasuki ruang tunggu yang sama denganku. kemungkinan satu pesawat denganku. dia menuju ruang tunggu yang berbeda arah dengan tempat dudukku kemudian aku menghampirinya dan memperkenalkan nama. tidak banyak yang keluar dari mulutnya hanya senyum khasnya dan menanyakan apakah aku sudah menikah. aku beriringan dengannya menuju ke dalam pesawat dan dia sempat berujar bahwa di dalam tasnya terdapat mukena ole-ole untuk ibundanya. setelah itu, dia menanyakan nomor kursiku dan selanjutnya kami berpisah karena tempat duduk kami yang berjauhan. sempat kulirik Dia mengambil sebuah buku yang tidak sempat kulihat sampul kemudian hanyut dalam kata-kata. aku berpikir bahwa memang untuk menjadi orang hebat, bijak dan cerdas haruslah banyak membaca.
09:20
Pesawat sudah lepas landas dan meninggalkan kota Jakarta menuju Makassar. suara yang ada hanya mesin Pesawat dan Para Pramugari yang memperagakan simulasi jika ada kecelakaan. selanjutnya lalu lalang Pramugari yang menjual souvenir. aku sama sekali tidak tertarik membeli dan hanya mengambil koran yang dibagikan oleh pramugari.
13:30
pesawat akhirnya landing di bandara Sultan Hasanuddin setelah 2 jam lamanya mengudara. aku mengemasi tas yang kutaruh di kabin kemudian antri keluar dari pesawat. aku masih sempat berpapasan dengan kak Ochan di Mushalah dan shalat bersama kemudian dia berjalan duluan setelah itu. setelah melaksanakan shalat zuhur dijamak dengan shalat Ashar, aku menuju pintu kedatangan bandara dan menunggu kakakku yang memang sedang dalam perjalanan menjemputku. lumayan lama menunggu karena dia terjebak macet di daerah Maros.
14:10
Mobil avanza DP 1225 akhirnya muncul di depanku dan aku naik duduk di kursi tengah. selanjutnya kami menuju gudang penjualan kopi karena kakakku masih punya urusan di sana.
19:30
kami baru melaju ke kampung karena urusan kakakku baru saja selesai di gudang penjualan kopi. jalanan sedikit padat berhubungan karena mudik lebaran yang sudah mencapai puncaknya. sesekali kupejamkan mata kemudian terbangun ketika mobil terantuk di jalanan rusak. aku kemudian tertidur pulas saat di Barru menuju Cakke. baru tersadar ketika mobil sudah tiba di pasar Cakke.
02:10
kami sudah tiba di Cakke dan menunggu mobil lain yang akan membawaku ke Buntu Lamba karena kakakku hendak melanjutkan perjalanan ke Sudu sedangkan arah kedua daerah tersebut berlawanan. setengah jam menunggu mobil namun nihil maka aku putuskan untuk ikut kakakku ke Sudu dan baru akan diantar siang harinya ke Buntu Lamba. aku di Sudu sampai siang harinya karena kakakku masih punya beberapa urusan di Pasar Sudu
12:20
akhirnya aku sampai di rumah. tidak banyak yang berubah di kampung ini, hanya saja di bawah rumahku sudah ada rumah dan di pertigaan masuk lorong rumahku, dibangun rumah mewah untuk ukuran rumah di kampung oleh salah seorang masyarakat di kampungku yang memang adalah pejabat di kantor pajak.
setelah itu, cerita di kampung seperti apa adanya. menikmati setiap serpihan yang masih tertinggal di kampung. memuaskan hasrat memandang wajah sendu ibuku yang semakin menua. uban yang semakin menjamur diatas kepalanya namun satu yang tidak pernah luntur darinya, rasa sayangnya terhadap anak-anaknya. aku selalu merindukan teriakannya menyuruhku apa saja. merindukan senyumnya yang merekah saat bercengkerama dengan cucunya.
aku selalu menyimpan wajahnya di sudut hatiku karena aku menyisakan separuh untuknya.
200715
No comments:
Post a Comment