Perpisahan memang selalu mengharukan. entah kenapa ada perasaan yang pergi saat berpisah dengan orang terkasih. seperti layaknya sekeping hati ikut pergi menjauh. ada rasa perih dalam dada kemudian menggumpal dan menghasilkan perasaan sesak yang seakan tertahan. itulah mengapa terkadang orang menangis tersedu.
Aku tiba di bandara lebih cepat dari jadwalnya sehingga aku memilih untuk duduk di pintu keberangkatan dan mengamati setiap orang yang akan berpisah dengan sanak saudaranya. ada butiran air mata di setiap kelopak mata orang yang ditinggalkan maupun orang yang akan pergi. ada bapak yang terlihat menahan rasa haru meski wajah dan matanya tidak bisa berbohong bahwa dia sedang dalam perasaan haru. ada ibu yang melepaskan tangisnya melepas keluarganya sambil memuaskan diri memeluk anggota keluarga yang akan berangkat sebelum masuk ke bandara. ada pula yang menutupi haru mereka dengan memilih berfoto bersama di sekitar pintu keberangkatan.
Walau tidak diantar langsung ke bandara namun perpisahan dengan ibu sehari sebelumnya memang menyesakkan dadaku. aku memuaskan hasrat menanam rindu untuk ibu dengan cara mendaratkan kecupan di sekujur wajah ibu sesaat sebelum naik ke mobil yang membawaku ke Makassar. Ibu nampak membiarkan momen itu dan kulihat Ibu tidak berekspresi sama sekali entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya. aku pun sudah mulai bisa menguasai diriku dan tidak terlalu sentimentil ketika berpisah entah karena sudah sering ataupun karena sudah berdamai dengan setiap kondisi perpisahan meski pada akhirnya semua akan berakhir dengan rasa haru.
Di atas mobil, aku masih seperti merasakan wajah keriput ibu yang kehujani dengan ciumanku dan wajahnya masih menggelantung indah di sudut hatiku. tidak pernah mau beranjak selangkah pun. namun anehnya, tidak sebutir air mata pun menetes dari kelopak mataku seperti tahun-tahun pertama saat aku akan pergi jauh. aku tahu bahwa Ibu dan mungkin juga aku sudah berdamai dengan setiap momen perpisahan.
Walau tidak diantar langsung ke bandara namun perpisahan dengan ibu sehari sebelumnya memang menyesakkan dadaku. aku memuaskan hasrat menanam rindu untuk ibu dengan cara mendaratkan kecupan di sekujur wajah ibu sesaat sebelum naik ke mobil yang membawaku ke Makassar. Ibu nampak membiarkan momen itu dan kulihat Ibu tidak berekspresi sama sekali entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya. aku pun sudah mulai bisa menguasai diriku dan tidak terlalu sentimentil ketika berpisah entah karena sudah sering ataupun karena sudah berdamai dengan setiap kondisi perpisahan meski pada akhirnya semua akan berakhir dengan rasa haru.
Di atas mobil, aku masih seperti merasakan wajah keriput ibu yang kehujani dengan ciumanku dan wajahnya masih menggelantung indah di sudut hatiku. tidak pernah mau beranjak selangkah pun. namun anehnya, tidak sebutir air mata pun menetes dari kelopak mataku seperti tahun-tahun pertama saat aku akan pergi jauh. aku tahu bahwa Ibu dan mungkin juga aku sudah berdamai dengan setiap momen perpisahan.
Begitulah perpisahan. selalu meninggalkan lubang di dalam hati yang teramat perih. meski dari setiap perpisahan kita bisa memaknai tentang kebersamaan. pertemuan dan perpisahan silih berganti datangnya. perpisahan mengajarkan kita bagaimana menjaga cinta dan menghargai kebersamaan.
Pulogadung.
220715
Pulogadung.
220715
No comments:
Post a Comment