“Satu-satunya yang saya perlukan ialah waktu. Alangkahkah hebatnya jika saya dapat membeli waktu-waktu yang terbuang”
“Michael Faraday”
Serasa waktu bagaikan sambaran kilat yang berlalu begitu cepat bahkan terkadang kumpulan usia seperti hanya sehari. aku merenungi semua waktuku yang terbuang sia-sia dan juga yang kuhabiskan untuk maksiat, mendzalimi diriku sendiri. pergantian pagi, senja dan malam hanyalah roda kehidupan yang digenjut begitu cepatnya sehingga tak ada nafas buat mereka yang masih terlelap dalam buaian mimpi. hidup adalah berkejaran dengan kumpulan waktu yang berlalu.
entah bagaimana menceritakan kehidupan setiap manusia namun satu hal yang diyakini bahwa apapun tujuan manusia saat masih di bumi tetaplah harus menggunakan waktu dengan baik. seorang pengejar duniawi yang ingin materi yang berlimpah harus menggunakan waktunya untuk mencapai tujuannya pun demikian dengan orang yang mempersiapkan dirinya untuk bekal di alam berikutnya, mereka pun harus mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk berbuat baik. waktu adalah elemen penting dalam hidup.
aku telah menyia-nyiakan waktu yang kujalani untuk 2 tahun terakhir. entahlah namun apa yang sedang menderaku, inginku menjauh dari kesalahan yang sama namun kembali terjebak dan mengulangi lagi. mungkin untuk hal duniawi, aku sudah tidak memberatkan orang tua dan mampu memenuhi setiap kebutuhan dan sedikit keinginan namun hal yang prinsipil telah aku hancur leburkan selama 2 tahun terakhir. aku goyah dan menghancurkan nuraniku. sering tertunduk dan meresapi setiap helaan nafas panjang hingga menggoreskan setiap kesalahan dan menghapuskan namun benar-benar kembali terulang lagi. ah penat memang.
maret telah datang menjemput. permulaan yang mungkin pedih karena hitam itu tertoreh untuk kesekian kalinya. aku merapalkan beribu doa kepada Sang Khalik, kiranya Dia membantuku untuk menguatkan hati melangkah jauh dari noda hitam tersebut. janji telah terikrar dan dengan izinNya mungkin 7 bulan lagi aku melangkah ke tahap selanjutnya dalam hidupku namun benar-benar aku tidak ingin terlalu jauh memikirkan hal tersebut. aku hanya ingin memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang sama. meski pada akhirnya aku sampai namun sebenarnya itu bukanlah sebuah tujuan. pembicaraan yang melekat di memoriku dengan seorang kawan di makassar yang pernah belajar di jepang adalah "bukan masalah tujuannya, kalau tujuan mungkin akan sampai juga namun satu hal yang perlu diingat adalah prosesnya. bisakah engkau menjaga dirimu dan mengecap manisnya saat waktu itu datang. proses yang sedang engkau jalani adalah penentu apakah engkau berhasil atau gagal dalam ujian kesabaran."
aku tertegun saat memutar kembali percakapanku dengan kawan tersebut namun anehnya, ketika aku kembali mendekati hitam tersebut, semua hilang tak bersisa. entahlah apa yang membawanya pergi.aku pun tidak bisa menalar dengan pikiran jernih karena sudah terbutakan oleh nista dan dosa yang menggunung. semua sirna tak berbekas.
010315. aku melaju ke tempat win. entah namun sedari malam kami sudah bertukar sapa dan mungkin dengan berbagai ocehan. hitam itu kembali adanya. meluapkan apa yang menjijikkan. menangisi setelah itu dan kemudian bertengkar. melaju ke cibubur dengan guyuran hujan yang amat deras. tak sedikit pun kuhiraukan hujan itu dan aku tetap melaju melalui TMII menuju kota wisata. hujan pun menyamarkan butiran air yang bercucuran dari sudut mata win. kumaki dia habis-habisan untuk melampiaskan kemarahanku kepada diriku sendiri. rajukannya tak jua meluluhkan hatiku.
sampailah di cibubur dengan kondisi basah kuyup. tujuan selanjutnya adalah arisan keluarga di kota wisata. kami molot sejam namun tak apalah, janji sudah ditepati. bercanda bercengkerama di tempat itu kemudian makan dan mengocok arisan. pak endro dan fais yang mendapat giliran. kami menyelesaikan janji dengan tidak sempurna karena jauh dari jam yang disepakati.
akhirnya kembali memutar haluan menuju hiruk pikuk jakarta. melintas di kramat jati. motor melaju pelan sampai akhirnya singgah di sebuah penjual durian. menghabiskan 1 durian seharga 15 ribu kemudian kembali melaju. melintas di depan kantor tentara, ada hiruk pikuk pertandingan bola. kami menonton selama 2 jam kemudian berputar haluan.
diujung permulaan maret. hitam itu kembali dan berjanji akan membuang hitam tersebut jauh dari kehidupan dalam proses menuju persiapan diri yang lebih baik. begitulah waktu menghanyutkan setiap orang yang tidak mampu mempergunakannya seperti diriku. aku terkadang harus menyerah dengan setiap apa yang ingin kuperbaiki. namun waktu untukku masih ini. meski hitam hari kemarin tetap tertoreh, setidaknya aku punya waktu hari ini dan esok hari untuk memutihkan setiap hariku.
010315-031015
No comments:
Post a Comment