Serupa orang yang selalu mengumpat polisi entah institusinya bahkan oknumnya, namun aku selalu berusaha untuk menghindari ketidaksukaan yang terlalu berlebih terhadap entitas polisi. Ada 3 hal mendasar yang menjadi alasanku menghidari hal tersebut, pertama karena kakakku pernah beberapa kali mencoba mendaftar polisi namun selalu gagal. Kedua, aku mengenal banyak oknum polisi, entah itu saudara sepupu bahkan teman sekolahku yang berhasil menjadi polisi dan mereka semua adalah orang baik bahkan mungkin lebih baik dari orang yang sering mengumpat polisi. Hal ketiga yang amat prinsipil adalah manusia tidak punya sama sekali hak untuk membenci manusia lainnya.
aku kembali menemukan polisi yang menurutku baik. meski baru sekali berinteraksi saat itu juga namun dari beberapa hal yang kulihat, dia tidak termasuk polisi yang arogan. entahlah dia menjaga image dengan orang yang baru dikenal atau mungkin memang baik tetapi sama sekali sifat arogannya tidak diperlihatkan ketika berbincang denganku. hanya diselingi canda dan sedikit cerita tentang tanaha kelahirannya di dataran pegunungan kidul.
namanya pak suratman. tinggi besar dan kuperkirakan umurnya sekitar 40an. entahlah tebakanku benar ataupun keliru namun dari guratan di wajahnya kutemukan garis kehidupan yang mungkin sebagian besar dihabiskan di kampung. awal mula aku mengenalnya karena adalah nasabah yang menyerempet mobilnya di samping Mall Artha Graha. dia bertutur saat itu, si Sopir yang menyerempet mobilnya hingga spion kanan rusak membentaknya dan menggebuk bagian belakang mobilnya. si sopir yang belakang aku tahu namanya bernama Tan Rusli sama sekali belum tahu bahwa pak suratman yang diserempet mobilnya adalah seorang polisi. entah apa yang terjadi pada saat itu karena Pak Suratman tidak bercerita lebih detailnya namun yang kutahu bahwa dia hanya menegur tan Rusli.
indikasi dari kesimpulanku bahwa pak suratman baik dan bisa menjaga emosinya karena dia tidak menghadiakan tan Rusli bogem mentah padahal dia sudah dibentak. aku berpikir bahwa seandainya polisi yang lain, maka sudah bisa dipastikan tan rusli akan digebuk habis-habisan.
saat di kantor pak suratman Polsek Metro kelapa Gading. aku dijamu dengan baik saat memperkenalkan bahwa aku dari pihak insurance yang akan mengganti kerugiannya. tidak ada sediktpun keangkuhan di wajahnya seperti yang kutemui di wajah para polisi. saat itu pula ada Tan Rusli yang mengantarkan berkas Polis. terlihat sekali di wajahnya ada rasa gentar bertemu dengan pak suratman. kacamata hitamnya tidak dilepaskan dan juga tangannya gemetar bahkan ketika menyerahkan berkas polis, dia nampaknya bergegas pamit. ah, begitulah setiap orang yang merasa bersalah.
sebenarnya semua cerita diatas adalah pengantar tentang hikmah yang ingin kukatakan bahwa dimanapun dan dengan siapapun kita berinteraksi apatahlagi ketika kita yang salah, maka jangan sekali-kali sok jagoan ataupun angkuh dan merasa paling benar karena kita adalah selemah-lemahnya manusia.
pernah juga sekali aku membaca sebuah berita tentang oknum TNI yang menghajar habis-habisan sopir angkot. kejadiannya hampir sama dengan diatas. mobil angkot dan mobil TNI tersebut bersenggolan di jalanan. menurut cerita TNI saat diwawancarai bahwa si sopir angkot malah memakinya alhasil dia menguber mobil angkot tersebut dan menghajarnya.
mungkin saat berkendara memang kerapkali terjadi hal yang tidak diinginkan namun menunjukkan arogansi adalah sisi lain yang salah. bukan karena kita takut seperti kejadian diatas namun pada dasarnya bahwa memaki adalah perbuatan yang keliru. memperlihatkan arogansi dan sikap sok jagoan malah terlihat menggelikan.
yah, begitulah ibukota. menawarkan pelajaran-pelajaran hidup yang tak berkesudahan.
28 Februari2015
No comments:
Post a Comment