Hari ini tepat tanggal 25 maret, kami dan segenap staff teknik lembur karena tutup buku. memang di kantorku, tutup buku setiap tanggal 25 dan selalu saja kami harus lembur sampai malam mengejar target produksi. Sebenarnya aku sendiri tidak begitu sibuk karena divisi kerjaku adalah staf klaim namun tetap saja bahwa ketika tutup buku, aku harus membantu sesama staf yang mempunyai tugas lebih menginput polis. Semenjak bergelut di bidang perusahaan ini, rasanya aku seperti terjebak dalam rutinitas harian yang dulunya hanya bisa kusaksikan di sinetron ataupun kubaca di cerpen yang menggambarkan betapa sibuknya karyawan di ibu kota.
Di tengah pekerjaan yang menumpuk, kami terkadang bercanda untuk lemeskan otot yang tegang karena pekerjaan. seorang teman kantor yang memang sudah mempunyai anak tiba-tiba berujar bahwa kasihan anaknya tidak bisa menonton konser one direction hari ini di GBK. Oh yah, memang hari ini bertepatan dengan konser salah satu boyband dari London yang sedang digandrungi oleh ABG-ABG tanggung. Teman tersebut dengan nada yang memelas benar-benar kasihan anaknya yang ngefans one direction dan menjadi salah satu Directioners tidak bisa menonton bahkan kemudian dia berujar "sabar nak, suatu saat nanti kita nonton, untung-untung bisa jadi MC supaya ngomong langsung."
Aku tidak ingin menjustifikasi bahkan menyalahkan teman tadi karena dengan sayangnya kepada anaknya ingin membahagiakan anaknya dengan menonton konser, tidak sama sekali. meski aku harus mengelus dada bahwa begitu banyak dari orang tua yang menuruti anaknya meski dengan hal yang mungkin hanya sebagai kesenangan namun pembelajaran yang minim bahkan lebih kearah membuat si anak terjerumus dalam hal yang membuat perkembangan mentalnya menjadi pemuja kemewahan.
Aku mungkin terlalu membual ataupun mungkin pula aku belum mempunyai anak sehingga perasaan untuk membahagiakan anak sama sekali belum aku rasakan namun disisi lain, tulisan ini hanya kuperuntukkan untuk menjadi pengingatku kelak bahwa ketika mempunyai anak, maka membahagiakan anak adalah kewajiban namun cara membahagiakan tersebut yang berbeda-beda diantara semua orang. Mengikuti semua kemauan anak menurutku bukan cara terbaik dalam mendidik dan membahagiakan anak.
Orangtua adalah figur yang akan diikuti oleh anaknya bahkan mayoritas anak terbentuk bagaimana mereka dibesarkan oleh orang tuanya. Mengidolakan artis bahkan menonton konsernya pun bukan sebuah hal yang salah namun dalam memenuhi keinginan seorang anak, selalu saja ada nilai yang mengikutinya, tidak sekedar mengikuti kemauan anak. misalnya saja membelikan seorang anak motor yang belum cukup umur bahkan belum mempunyai SIM mungkin saja disatu sisi membuat anak bahagia namun disisi lain menjerumuskan anak ke hal yang salah bahkan melanggar aturan. pastinya melanggar aturan ketika seorang anak mengendarai motor tanpa SIM. Pun begitu adanya dengan mengikuti kemauan anak yang menonton konser dengan harga mahal dan ditengah kerumunan banyak orang. disatu sisi, anak akan merasa senang menonton idolanya namun disisi lain, dia diajarkan tentang kemewahan, belum lagi jika ada kerusuhan di tengah-tengah konser.
Kembali lagi bahwa mungkin aku yang terlalu idealis atau bahkan belum punya anak yang disayangi dan harus dipenuhi semua permintaannya.
Aku tidak ingin menjustifikasi bahkan menyalahkan teman tadi karena dengan sayangnya kepada anaknya ingin membahagiakan anaknya dengan menonton konser, tidak sama sekali. meski aku harus mengelus dada bahwa begitu banyak dari orang tua yang menuruti anaknya meski dengan hal yang mungkin hanya sebagai kesenangan namun pembelajaran yang minim bahkan lebih kearah membuat si anak terjerumus dalam hal yang membuat perkembangan mentalnya menjadi pemuja kemewahan.
Aku mungkin terlalu membual ataupun mungkin pula aku belum mempunyai anak sehingga perasaan untuk membahagiakan anak sama sekali belum aku rasakan namun disisi lain, tulisan ini hanya kuperuntukkan untuk menjadi pengingatku kelak bahwa ketika mempunyai anak, maka membahagiakan anak adalah kewajiban namun cara membahagiakan tersebut yang berbeda-beda diantara semua orang. Mengikuti semua kemauan anak menurutku bukan cara terbaik dalam mendidik dan membahagiakan anak.
Orangtua adalah figur yang akan diikuti oleh anaknya bahkan mayoritas anak terbentuk bagaimana mereka dibesarkan oleh orang tuanya. Mengidolakan artis bahkan menonton konsernya pun bukan sebuah hal yang salah namun dalam memenuhi keinginan seorang anak, selalu saja ada nilai yang mengikutinya, tidak sekedar mengikuti kemauan anak. misalnya saja membelikan seorang anak motor yang belum cukup umur bahkan belum mempunyai SIM mungkin saja disatu sisi membuat anak bahagia namun disisi lain menjerumuskan anak ke hal yang salah bahkan melanggar aturan. pastinya melanggar aturan ketika seorang anak mengendarai motor tanpa SIM. Pun begitu adanya dengan mengikuti kemauan anak yang menonton konser dengan harga mahal dan ditengah kerumunan banyak orang. disatu sisi, anak akan merasa senang menonton idolanya namun disisi lain, dia diajarkan tentang kemewahan, belum lagi jika ada kerusuhan di tengah-tengah konser.
Kembali lagi bahwa mungkin aku yang terlalu idealis atau bahkan belum punya anak yang disayangi dan harus dipenuhi semua permintaannya.
rawamangun.250315
No comments:
Post a Comment