“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (HR. Bukhari)
Sebenarnya cerita ini sudah kutulis dalam bentuk puisi namun aku merasa sayang kalau cuma dalam barisan puisi yang tak beraturan. Aku ingin bercerita panjang tentang percakapan kami di sudut warung daerah cikini suatu malam saat hujan deras. Percakapan ringan tentang bocah yang menantang getirnya hidup dengan teman-temannya.
Kebiasaan saya dengan W memang sering mengamati apa saja yang ada di sekitar kami. Jakarta yang berbeda jauh dengan kehidupan di Surabaya membuat kami sering menemukan fenomena yang nampaknya tidak bisa dicerna dengan akal sehat bahkan semua hal ekstrim ada di kota ini. Kita hanya butuh sedikit memicingkan mata untuk peka terhadap fenomena meski saya sendiri tidak mengklaim diriku sebagai seorang yang peka sosial namun setidaknya ada rasa miris yang menggelayut di ruang nuraniku ketika tragedi kehidupan orang lain diperlihatkan kepadaku.
Minggu malam saat kami pulang dari TIM, kami mampir di sebuah warung daerah Cikini. saat itu hujan deras dan perut kami pun sudah meminta untuk diisi. Warung tersebut sangat ramai oleh pengunjung sehingga lumayan berdesakan saat akan mengambil makanan. Kami menikmati makanan dengan lahap. Hujan pun tak henti mengguyur bumi. kami butuh sekitar 30 menit duduk di warung tersebut kemudian keluar dan berdiri di beranda warung untuk menanti hujan reda.
Salah satu suasana yang paling kunikmati adalah ketika hujan deras pada malam hari. selalu saja ada kenangan yang membuncah di rongga dadaku menyaksikan butiran demi butiran jatuh di jalanan, di sudut atap, di dedaunan dan disetiap sisi bumi. Malam itupun begitu adanya. kubiarkan W diam terpaku di sampingku sementara saya sibuk dengan pikiran-pikiranku yang memungut semua kenangan tentang hujan dan malam. Kami tidak terganggu sama sekali dengan riuhnya para manusia yang juga sedang berteduh menanti hujan reda.
Kami baru memalingkan pikiran kami dari syahdunya hujan setelah segerombolan bocah yang kira-kira berumur dibawah 10 tahun lewat di hadapan kami masuk ke warung menawarkan tisue seharga 3 ribu rupiah. Ada rasa lirih saat mereka kedinginan dengan melipatkan tangan di dada namun tetap semangat dengan beberapa bungkus tissue menawarkannya kepada para pengunjung warung. Saat lewat tepat di hadapan kami, kudengar secara samar-samar mereka bercakap dalam bahasa jawa kasar. Hal tersebut sedikit membuat saya dan W kaget bahwa ternyata mereka bukan bocah asli Jakarta.
Berbagai pikiran macam-macam mulai merasuki pikiran kami. Menerka bahwa mereka disuruh oleh seseorang untuk berjualan, menerka bahwa mereka dibawa dari ujung pulau ini untuk dieksploitasi di Jakarta menjadi pengamen, penjual, pengemis dan apapun yang bisa menghasilkan uang buat mereka yang memanfaatkan keluguan mereka.
Kami kemudian bersepakat bahwa mereka melakukan hal tersebut bukan karena keinginan mereka. Aku dan w yakin akan hal tersebut. kami melempar jauh memori kami ke masa lampau saat masih seumuran mereka. tak setitik pun kami jumpai perasaan apa artinya mencari uang, berjualan bahkan apapun yang mungkin berkaitan dengan hal mencari sesuatu untuk perut. Kami hanya menemui perasaan kami masa itu tentang indahnya bermain, bercanda dan apa saja tentang kesenangan hati. Lalu ketika hal tersebut lumrah kepada semua anak seusia dibawah umur 10 tahun, kenapa bocah-bocah malam itu begitu giatnya berjualan, mengamen dan bahkan pernah kutemui yang menjadi kernet?
Jawaban dari pikiran kami sendiri adalah mereka dibiasakan. meski bukan keinginan mereka namun mereka dipaksa dalam keadaan seperti itu, entah dibawah ancaman atau bahkan dipaksa "menikmati" profesi yang sedang mereka jalani. Bocah-bocah seumuran mereka tak sedikitpun berpikir untuk bekerja, mendapatkan uang kemudian kaya. masa menjadi bocah hanyalah bermain dan seperti itulah hidup mereka. mungkin sesekali mereka melayangkan hidup mereka ke masa tua namun seringkali yang mereka bayangkan adalah hal yang imajinatif dan tak terduga. Tak sekalipun mereka berpikir tentang masa depan yang orientasinya adalah kekayaan. aku yakin itu.
Begitulah ibukota menawarkan tragedi kehidupan bagi sebagian anak-anak yang terlahir dari orang tua yang tidak "bertanggung jawab". Ibu kota seringkali menghadirkan fenomena yang menebalkan empati bagi siapa saaja yang masih memilikinya namun juga menebalkan keegoan bagi mereka yang sama sekali tidak peduli terhadap apa yang dihadirkan di sekitar mereka. Terlalu berat memang untuk menjadi bocah yang tidak beruntung di kota ini. amat sangat berat.
Saya percaya pada hadits di awal tulisan ini bahwa orang tua mempunyai peran yang sangat besar terhadap perkembangan anak. mereka setidaknya punya andil dalam membentuk karakter seorang anak sehingga tidak heran bahwa menjadi orang tua adalah menjadi teladan bagi anak. Aku bukan sok tahu namun dari beberapa pengamatan melihat fenomena anak maka tidak terlepas dari bagaimana cara orang tua membesarkannya. Lingkungan hanyalah variabel kecil pembentuk karakter seorang anak.
Saat berteman, saya selalu ingin mengenali orang tua teman-temanku. saya terkadang ingin membuktikan hipotesaku tentang hubungan orangtua dengan anak.
suatu waktu di Cikini. 220315
No comments:
Post a Comment