Berkecamuk hatiku bahkan semua perasaan yang tak menentu menyerang rongga kepalaku saat tahu tante eny yang mungkin sebentar lagi akan menjadi orang tuaku ternyata memendam perasaan sakit hati terhadapku. namun apapun alasannya, akulah biang dari semua sakit hatinya. Perlakuanku terhadap anaknya memang tidak seperti ekspetasinya dan akulah pesakitan itu. Menyia-nyiakan kepercayaan yang kuemban hingga berujung fatal.
Bukan bermaksud untuk membela diri namun aku kerapkali berpesan kepada anaknya ketika kami sedang dalam perselisihan ataupun ketidakcocokan, jangan sekali-kali ibunya tahu karena akan menimbulkan image negatif terhadapku, namun sesering aku menasehatinya tidak pernah sekalipun dia berusaha untuk tidak bercerita alhasil semua masalah kami diketahui oleh tante dan sialnya aku memang biang dari masalah.
Aku sebenarnya berharap banyak ketika kami sedang selisih paham, tidak ada seorang pun yang tahu hingga kami menyelesaikan sendiri namun tidak baginya. Selalu saja semua masalah diumbar kepada ibunya.
Aku sekalipun tidak pernah menceritakan masalahku kepada orang tuaku seberat apapun itu. Bahkan ketika aku dan anaknya marahan, aku sama sekali tidak ingin keluargaku tahu karena menjaga nama baiknya di depan keluargaku. Sampai pada titik ini, orang tuaku tidak sekalipun tahu kalau kami sering bertengkar. Mereka hanya tahu bahwa kami baik-baik saja.
Ah, setidaknya nasi telah menjadi bubur. Aku telah dianggap loser di pandangan keluarganya. Aku tidak bisa berkelit lagi.
Entah apa yang kurasakan sekarang. Aku hanya merasa seperti seonggok manusia yang mempertahankan janji. Karena menepati sebuah janji adalah salah satu dari prinsip hidupku maka suka ataupun tidak suka, aku harus menjalani semua ini dan mungkin saja bersanding dengannya dengan alasan menepati janjiku. Nothing to loose untuk semua hal yang akan terjadi bahkan aku sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk ketika suatu saat rencana kami tidak terlaksana.
Aku bahkan harus berbesar hati untuk semua yang akan terjadi kedepannya meski nama keluarga besarku menjadi taruhannya karena di kampungku nan jauh disana, banyak orang yang sudah mendengar desas-desus bahwa sebentar lagi aku menikah dan ketika itu tidak terjadi, muka keluargaku akan tercoreng. Itu adalah satu dari beberapa alasan kenapa aku masih tetap bertahan dsini.
030315
No comments:
Post a Comment