March 20, 2015

Nasabah yang Legowo

Genap sudah 7 bulan aku bekerja di kantor ini. Divisi kerja yang menurutku harus banyak berinteraksi dengan para nasabah yang mengajukan klaim. Sudah terlalu banyak karakter orang yang kutemui dan mayoritas dari mereka tidak sabar dan bahkan harus dibayarkan sekarang juga klaimnya apatahlagi ketika klaim yang ditolak, sudah tidak terbayangkan kata-kata yang akan keluar dari mulut mereka. Sumpah serapah laksana peluru yang keluar dari mulut mereka yang klaimnya ditolak bahkan menyumpahi setiap karyawan yang bekerja di kantor.

Aku pernah menulis seorang nasabah bernama ibu fitriana, umurnya sekitar 30 tahun. Hal yang kuingat saat dia melengkapi berkas adalah bertepatan dengan tutup buku sehingga kasie keuangan belum bisa membayarkan klaim dan ditunda sekitar 2 minggu. Berawal dari situ, dia begitu geram dan menyumpahiku dengan kata-kata bahkan dengan ancaman bahwa dia akan menulis tentang perusahaan kantorku ke koran.

Sejujurnya dalam hati yang paling dalam, aku sama sekali tidak gentar dengan setiap ancaman seperti itu namun ada hal yang harus kujaga dalam setiap berinteraksi dengan nasabah. mereka adalah nyawa dari perusahaan. Sering pula aku menempatkan diriku sebagai nasabah dan aku berpikir mungkin saja ketika aku yang diposisi mereka, aku mungkin juga tidak bisa bersabar seperti beberapa diantara mereka.

Ketika ditelepon oleh N bahwa ada tamu namanya Zuharudin. Pikiranku sudah berkecamuk untuk menguatkan hati mendengarkan sumpah serapah karena dia datang untuk mengambil surat penolakannya. berbekal rasa tanggung jawab, aku menemuinya di ruang tamu kantor. Kujelaskan bahwa  tidak bisa diakseptasi karena kasus Hipnotis dan pengemudinya tidak ada surat. 

Saat sedang menjelaskan, kuperhatikan setiap perubahan rona di wajahnya namun sampai pada kalimat bahwa ditolak, tak sedikitpun perubahan rona memerah di wajahnya bahkan ketika aku sudah selesai menjelaskan semua, dia kemudian menimpali dengan bijak bahwa ketika peraturannya seperti itu, dia tidak bisa berbuat banyak. tak lupa saat dia pamit pulang, dia mengucapkan terima kasih dan salam. 

Ah, begitulah kita manusia, selalu tidak bisa ditebak.

Aku tidak tahu apakah dia akan datang lagi memprotes keputusan ditolaknya tersebut namun setidaknya dia telah menunjukkan sebuah sikap tenang meski sesuatu tidak sesuai dengan harapannya. aku bahkan membandingkan dengan nasabah yang suka mengeluarkan sumpah serapah.

Beginilah hari-hariku di kantor ini. berinteraksi dengan setiap orang yang mengajukan klaim. bertemu dengan bermacam karakter manusia. Setidaknya bahwa semua dari mereka menjadi pelajaran hidup untukku supaya lebih tenang dan sabar.

pulogadung, 200315 

No comments: