March 26, 2015

Perempuan di Kelokan Cipinang

Sudah beberapa minggu ini aku sering lewat di depan LP Cipinang ketika pulang dari kuningan. Sebelumnya aku lebih memilih jalur cawang kemudian belok kanan melewati belakang UNJ namun setelah beberapa kali melintasi cipinang, kurasa jalur ini yang paling cepat. tepat di seberang LP Cipinang, saat melintas diatas jam 8, beberapa wanita dengan dandanan menor dan pakaian seksi berdiri sambil mengisap rokok di sepanjang jalan tersebut. mungkin pula ada waria diantara mereka jika saja pandanganku tidak salah.

Entah apa yang berkecamuk di pikiranku ketika melihat fenomena tersebut. Mungkin saja hal biasa karena kesenjangan sosial di kota ini yang semakin menggila sehingga setiap orang menempuh caranya masing-masing untuk mengisi perut, namun pemaklumanku tersebut bukan berarti aku mengamini profesi yang sedang dijalani oleh mereka yang dengan sabarnya berdiri di pinggir jalan menunggu setiap pengendara yang lewat dan sudi menikmati tubuh mereka dengan bayaran seadanya.

Mungkin juga aku khilaf karena beberapa kali aku memperhatikan setiap gerak-gerik mereka hanya untuk sebuah tulisan bahkan semalam, aku membunyikan klakson tepat di depan mereka hanya menguji bagaimana reaksi mereka ketika dibunyikan klakson. senyum ramah tersungging di bibir perempuan tersebut ketika aku memperlambat motor dan membunyikan klakson bahkan melambaikan tangan sebagai bahasa tubuh untuk memintaku berhenti.

Mengatakan mereka sebagai penyakit sosial mungkin keliru meski ada benarnya karena sejatinya, akar dari tindakan mereka memilih menjadi perempuan yang mengeksploitasi dirinya karena masalah perut. Pemerintah sudah terlalu acuh dan lebih asyik dengan obrolan kosong mereka di gedung-gedung yang sejuk dengan AC yang tidak pernah dimatikan. persoalan masyarakat dan bacotan mereka tentang kepedulian terhadap masyarakat hanyalah tameng agar mereka tetap bertahan sebagai pemerintah. Masyarakat tetap harus berjuang sendiri mengisi perut.

Aku harus sadari bahwa mungkin saja aku adalah bagian dari mereka yang tidak peduli sama sekali dengan persoalan masyarakat atau tepatnya aku hanya berpura-pura peduli tanpa ada tindakan nyata yang kuperbuat.semua hanyalah hampa yang tak ada gunanya.

Ah, sudah terlalu penat jariku menulis tentang setiap persoalan yang kujumpai. Bahkan mulutku berbusa untuk mengkritik pemerintah bahkan menghakimi setiap orang yang kuanggap berada di jalan yang keliru namun aku sendiri masih tetap diam dan lebih berhasrat memenuhi setiap keinginan-keinginanku yang tidak pernah ada habisnya.

Malam semakin menampakkan tubuhnya tanpa ada setitik cahaya. akupun harus menyudahi semua lakonku yang kupertontonkan kepada dunia. semua hanyalah palsu dan lebih baik aku memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Hati adalah kuncinya dan mengenali diri adalah jalannya.

260315

No comments: