Mengalami hambatan dalam perjalanan jauh seperti mobil mogok atau tiba-tiba acara agustusan membuat perjalananmu terhambat, sebenarnya hal yang biasa dan seringkali terjadi. Tidak perlu menjadi sesuatu yang wah.
Berbeda dengan perjalananku kali ini ke kampung halaman. Sejatinya, setiap kali akan melakukan perjalanan, Saya terbiasa merapalkan doa-doa keselamatan. Pulang kampung kemarin, entah apa yang merasukiku sehingga doa yang sering kujadikan jimat seakan sulit terucap. Saya berpikir bahwa toh semua akan berjalan semestinya.
Perjalanan dari rumah ke bandara masih lancar bahkan Pesawat tepat waktu sampai di kota tujuan. Masalah mulai muncul ketika Saya menunggu mobil jemputan di bandara. Sebelumnya sang Sopir sudah berjanji akan menjemput Saya pukul 08.00 namun Saya harus menunggu sejam lamanya.
Perjalanan ke Kampung tepat pukul 09.00 dan perkiraan Kami tiba di Kampung sekitar pukul 2 siang. Mobil sepertinya dalam kondisi yang prima namun memasuki kota Pangkep, mobil mengalami kendala pada gardan yang mengharuskan masuk bengkel. Butuh sekitar 1 jam lamanya sebelum si Sopir menemukan bengkel Mobil.
Belum berhenti di situ, ternyata perbaikan mobil tersebut memakan waktu lebih sejam. Setelah itu, perjalanan kemudian dilanjutkan dan nampaknya sudah tidak ada lagi hambatan. Saya sudah memperkirakan bisa tiba di kampung pukul 5 atau mulai sekitar 3 jam dari perkiraan awal.
Ternyata hambatan belum berakhir. Memasuki kota Rappang, jalan antar kota ditutup dalam rangka pawai HUT RI 72. Kami berhenti sekitar 1 jam lebih sebelum diperbolehkan melintas oleh petugas.
Alhasil, Saya baru tiba di kampung pukul 19.00 Wita. Molor sekitar 5 jam dari estimasi awal.
Lama Saya berpikir tentang apa penyebab dari kejadian ini sebelum akhirnya Saya menyadari bahwa sebelum berangkat, Saya tidak secara sungguh-sungguh memohon doa agar dilancarkan perjalanan. Malahan yang timbul dalam hati Saya sedikit keyakinan bahwa semua akan berjalan normal tanpa harus berdoa.
Kejadian tersebut menampar Saya tentang dampak meremehkan doa. Kalimat sakti yang seharusnya dirapalkan untuk mengiringi setiap langkah kita. Bahkan sebagai penanda bahwa kita berjalan atas kerja Tuhan.
27 8 17