![]() |
| https://www.brilio.net/news/22-quote-gus-mus-yang-bikin-hati-makin-adem-mak-nyess-160323o.html |
Saya tidak tahu harus memulai dari mana tulisan ini pun juga ragu menulis tentang pribadi yang dihormati begitu banyak orang. ingin menulis testimoni tentang beliau namun saya rasa, karya-karyanya belum kupahami dengan sesungguh-sungguhnya. toh salah satu cara mengenal seseorang selain berinteraksi langsung adalah menelaah tulisan-tulisannya.
Mengandalkan google sebagai referensi dalam menulis testimoni tentang seseorang tokoh sebesar Gus Mus adalah sesuatu yang konyol dan tidak akan memiliki kekuatan apa-apa di tulisan tersebut, hanya sekedar barisan kata-kata yang tidak memiliki roh. kita harus memahami dari karya-karyanya, tidak harus seratus persen namun setidaknya, kita sudah paham arah pemikirannya.
nah, syarat yang saya buat di atas untuk menulis tentang seseorang sama sekali belum kupenuhi jika berniat menulis seputar pribadi Gus Mus. punya buku karyanya pun cuma dua. mendengar ceramahnya hanya sesekali ketika ada waktu lowong itupun dari yutub. tetapi satu semangatku bahwa sejauh ini, membaca karyanya dan mendengar tauziah-tauziahnya, saya selalu kagum dengan caranya menyebarkan kasih kepada semesta.
tapi tidak ada salahnya saya mencoba mengulas secuil ingatan saya tentang beliau. Saya pernah sekali bertemu, menyalami kemudian menyempatkan berfoto di Istora Senayan saat peluncuran buku Maman Suherman. kutemukan kesejukan di wajahnya bahkan keramahannya membuatku semakin kagum, beliau melayani semua orang yang menyalami dan mengajaknya berfoto tanpa sedikit guratan rasa kesal di mukanya. pada saat itu, beliau datang bersama alm. isterinya dan salah seorang anaknya.
pada salah satu masjid di kawasan kemang yang kulewati setiap pulang kantor, kulihat wajahnya terpampang di spanduk yang dipasang di masjid lengkap dengan puisi beliau yang berjudul "kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana." saya tidak pernah luput menikmati pemandangan tersebut setiap kali melintasi jalan di depan masjid tersebut.
bagi saya yang tidak berinteraksi dengan beliau, salah satu cara paling ampuh menggali hikmah yang terpancar dari dalam dirinya adalah menelaah karya beliau entah dari artikel maupun puisi dan bahkan ceramahnya yang tersebar luas melalui youtube.
Sependek pengetahuanku, beliau seorang yang sangat toleran dan penuh kasih terhadap semesta. bahkan dalam melontarkan kritik terhadap apa saja, beliau melakukannya dengan amat santun. Beliau mengkritik kelompok fundamentalis dalam puisinya yang berjudul "kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana." Beliau mengekspresikan kerinduannya terhadap Nabi Muhammad melalui puisi "oh Muhammadku." saya punya buku kumpulan puisinya yang berjudul "Aku Manusia," yang memuat kumpulan puisinya.
beberapa waktu lalu, Gus Mus mengupload sebuah lagu berjudul "Laskar Cinta." saya menduga, hal tersebut dilakukan sebagai kritik terhadap seorang yang menyanyikan lagu tersebut pasca orasinya pada aksi 411.
Gus Mus adalah pribadi yang sangat mencintai keluarganya. saya sering mengikuti status sosmed anak-anaknya yang selalu tulus mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Gus Mus. bahkan Alm. isternya selalu berada di sampingnya selama hidupnya.
pernah saya membaca bagaimana cara Gus Mus mengatasi saat ada sesuatu yang tidak disenangi terhadap isterinya. beliau mengurung diri di kamar kemudian menulis kekesalannya lalu kemudian merobek-robek tulisannya, esok hari, hatinya akan kembali tenang.
kesabaran dan keluasan hati Gus Mus diperlihatkan saat beberapa waktu lalu, Beliau dicaci dengan amat tidak pantas oleh Pandu, salah seorang karyawan BUMN. melalui twitter, Pandu menuliskan "Ndasmu" yang ditujukan kepada Beliau. sebagai seorang yang tidak khatam bahasa jawa namun sempat menetap di jawa timur beberapa tahun, saya menyadari betul bahwa kata "Ndasmu" adalah penghinaan yang sudah melampau batas apatahlagi diucapkan kepada seorang yang lebih tua. kata tersebut sepadan dengan umpatan "matamu" , "Cangkemmu", "mukamu" dan kata-kata lain yang disandingkan dengan panca indera. memang sih di jawa timur, kata-kata tersebut kadang menjadi kata sapaan akrab bagi anak muda yang sudah begitu akrab.
Gus Mus menanggapi cacian yang ditujukan kepadanya dengan memaafkan. begitu luas hatinya dan alangkah arif pribadi beliau.
masih banyak lagi hal-hal terlewatkan tentang pribadi beliau namun jika menilai secara kasat mata, terlihat dari wajahnya yang teduh dan bercahaya.
1 12 16
tapi tidak ada salahnya saya mencoba mengulas secuil ingatan saya tentang beliau. Saya pernah sekali bertemu, menyalami kemudian menyempatkan berfoto di Istora Senayan saat peluncuran buku Maman Suherman. kutemukan kesejukan di wajahnya bahkan keramahannya membuatku semakin kagum, beliau melayani semua orang yang menyalami dan mengajaknya berfoto tanpa sedikit guratan rasa kesal di mukanya. pada saat itu, beliau datang bersama alm. isterinya dan salah seorang anaknya.
pada salah satu masjid di kawasan kemang yang kulewati setiap pulang kantor, kulihat wajahnya terpampang di spanduk yang dipasang di masjid lengkap dengan puisi beliau yang berjudul "kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana." saya tidak pernah luput menikmati pemandangan tersebut setiap kali melintasi jalan di depan masjid tersebut.
bagi saya yang tidak berinteraksi dengan beliau, salah satu cara paling ampuh menggali hikmah yang terpancar dari dalam dirinya adalah menelaah karya beliau entah dari artikel maupun puisi dan bahkan ceramahnya yang tersebar luas melalui youtube.
Sependek pengetahuanku, beliau seorang yang sangat toleran dan penuh kasih terhadap semesta. bahkan dalam melontarkan kritik terhadap apa saja, beliau melakukannya dengan amat santun. Beliau mengkritik kelompok fundamentalis dalam puisinya yang berjudul "kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana." Beliau mengekspresikan kerinduannya terhadap Nabi Muhammad melalui puisi "oh Muhammadku." saya punya buku kumpulan puisinya yang berjudul "Aku Manusia," yang memuat kumpulan puisinya.
beberapa waktu lalu, Gus Mus mengupload sebuah lagu berjudul "Laskar Cinta." saya menduga, hal tersebut dilakukan sebagai kritik terhadap seorang yang menyanyikan lagu tersebut pasca orasinya pada aksi 411.
Gus Mus adalah pribadi yang sangat mencintai keluarganya. saya sering mengikuti status sosmed anak-anaknya yang selalu tulus mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Gus Mus. bahkan Alm. isternya selalu berada di sampingnya selama hidupnya.
pernah saya membaca bagaimana cara Gus Mus mengatasi saat ada sesuatu yang tidak disenangi terhadap isterinya. beliau mengurung diri di kamar kemudian menulis kekesalannya lalu kemudian merobek-robek tulisannya, esok hari, hatinya akan kembali tenang.
kesabaran dan keluasan hati Gus Mus diperlihatkan saat beberapa waktu lalu, Beliau dicaci dengan amat tidak pantas oleh Pandu, salah seorang karyawan BUMN. melalui twitter, Pandu menuliskan "Ndasmu" yang ditujukan kepada Beliau. sebagai seorang yang tidak khatam bahasa jawa namun sempat menetap di jawa timur beberapa tahun, saya menyadari betul bahwa kata "Ndasmu" adalah penghinaan yang sudah melampau batas apatahlagi diucapkan kepada seorang yang lebih tua. kata tersebut sepadan dengan umpatan "matamu" , "Cangkemmu", "mukamu" dan kata-kata lain yang disandingkan dengan panca indera. memang sih di jawa timur, kata-kata tersebut kadang menjadi kata sapaan akrab bagi anak muda yang sudah begitu akrab.
Gus Mus menanggapi cacian yang ditujukan kepadanya dengan memaafkan. begitu luas hatinya dan alangkah arif pribadi beliau.
masih banyak lagi hal-hal terlewatkan tentang pribadi beliau namun jika menilai secara kasat mata, terlihat dari wajahnya yang teduh dan bercahaya.
1 12 16
