Showing posts with label toleransi. Show all posts
Showing posts with label toleransi. Show all posts

March 5, 2018

Islam Tuhan, Islam Manusia


Judul:           Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis:        Haidar Bagir
Penerbit:       Mizan
Tahun terbit: 20
Tebal:           288

Haidar Bagir adalah salah seorang cendikiawan muslim di Indonesia yang tidak perlu diragukan lagi kedalaman ilmunya dan juga tebaran pengetahuan yang beliau pupuk selama ini. Selain mengurus sebuah penerbitan beliau juga sibuk mengelolah yayasan pendidikan, dimana salah seorang kawan saya mengajar di salah satu sekolahnya.

Tak terkira berapa buku yang sudah dihasilkan dari olah pikirnya salah satunya buku "Islam Tuhan Islam Manusia." bagian belakang buku ini dihiasi testimoni orang-orang besar di negeri ini. K.H Ahmad Mustofa Bisri, Goenawan Muhammad, Mochtar Pabottingi dan Franz Magnis-Suseno.

Pada bagian awal buku ini pada tulisan "Aku dan Islamku" Haidar Bagir menjelaskan dengan runut seperti apa beliau mengenali dirinya terlepas dari tudingan-tudingan orang yang tidak bersepakat dengannya. Entah berapa kali beliau mengklarifikasi secara langsung maupun tidak langsung atas tuduhan bahwa dirinya penganut Syiah namun klarifikasi tersebut tidak menyurutkan tuduhan dari orang-orang yang tidak bersepakat dengan dirinya.

Beliau meyakini bahwa akal ada anugerah Tuhan meski di lain sisi, beliau juga menyadari bahwa akal memiliki keterbatasannya sendiri. Dalam pencarian opini yang benar, fokusnya terletak pada kebenaran bukan pada popularitas. Sebelum mengkritik, kita harus memahami pendapat yang akan kita kritik seperti pemahaman penganutnya. Beliau melakukan pendekatan terhadap teks Al-Qur'an, sunnah dan tradisi Islam bersifat hermeneutika. Meski di lain sisi, beliau percaya bahwa pendekatan hermenutika memiliki jebakan-jebakannya tersendiri.

Isi buku ini sendiri terbagi ke dalam 5 bagian: Masalah, "Islam di zaman kacau. Khazanah Pemikiran Islam. Pendekatan, "Dialog Intra Islam". Pendekatan, " Dialog Islam, Budaya dan Peradaban".dan Solusi, "Islam,Cinta dan Spritualitas".

Pada bagian pertama, beliau mengelaborasi tentang masalah yang sedang dihadapi umat Islam secara spesifik. Tentang radikalisme, asal usul takfirisme dan negara yang disebutnya sebagai tuna budaya.

Saya akan menuliskan ulang beberapa inti pemikiran beliau dari setiap lembar tulisannya yang dijelaskan secara runut di buku ini.

Budaya adalah soal menjadi manusia secara komprehensif. Manusia spritual, bermoral, berestetika, sadar dan berpikir.berakar dari concern kemanusiaan paling dalam sebagai pengejawantahan dari Ketuhanan yang cirinya memiliki fitrah cinta kebenaran, kebaikan dan keindahan. Selain dari hal tersebut adalah antibudaya. Negara ini sudah lama menanggalkan budayanya dan menjadi santapan hegemoni ekonomi, komersialisasi cukong kapital besar berkolaborasi dengan politik busuk untuk menyerap seluruh saripati negara ini tanpa sisa. Meski demikian, budaya juga tidak seharusnya statis tetapi harus berkembang secara organis. Peran Pemerintah dalam revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dalam meletakkan budaya sebagai persemaian seluruh aspek kehidupan.

"Information spill over" telah membuat orang mengalami diorientasi. Terlalu banyak informasi justru membuat orang kebingungan, hilangnya kedalaman dan lahirnya generasi baru pengguna internet, "orang-orang dangkal" (The shallows) menuruut Nicholas Carr. Orang-orang yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman.

Situasi yang mengkhawatirkan ini masih ditambah dengan perilaku tidak kritis masyarakat yang dengan mudahnya menggandakan dan menyebarluaskan apa saja yang dibacanya, ke ruang publik baik via WA, Twitter, Facebook dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, sebagian media mendasarkan informasi dari sumber yang tidak dipertanggungjawabkan ini.

Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa setelah semua keberlimpahan itu tercapai, kebahagiaan hidup tidak ditemukan di sana.

Maka menjadi tugas para agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu paham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. Haidar Bagir merasa bahwa sejenis pemahaman keagamaan yang bersifat mistik (sufistik) merupakan alternatif paling efektif.

Mengenai Hermeneutika, Haidar Bagir mengutip pemikiran Friederich Schleimermacher yang mengandung dua langkah. Pertama, pemahaman teks melalui penguasaan aturan-aturan sintaksis bahasa komunitas si pengarang. kedua, penangkapan muatan emosianal dan batiniah pengarang secara intuinitif dengan jalan menempatkan diri subjek dalam benak pengarang.

Tentang Takwil, Haidar Bagir mengutip pahaman Ibn' Arabi dalam futuhat menyatakan bahwa "sesungguhnya setiap orang punya akses kepada pemahaman atas teks Al-Qur'an selama bersifat terbuka, tulus yakni dengan pemikiran sehat dan hati bersih yang tak tercampuri nafsu. Baik pemahaman yang bersifat 'ardhi (horizontal/tafsir) maupun thuli (Vertikal/Takwil).

Naql dipahami dengan aql, karena aql bisa keliru, dicek lagi dengan naql begitu seterusnya. Persis ketika kita membaca maknanya kita bisa simpulkan dari konteks kalimat tetapi untuk mendapatkan terjemahan yang pas, kita cek kesimpulan kita dengan membuka kamus, makna kamus pun pada gilirannya akan kita pahami dengan pas dalam konteks kalimat, begitu prosesnya terus menerus.

Dalam sebuah konfrensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ilmuwan ditanya mengenai sebab kemunduran Sains di wilayah ini. Prof. Osman mengatakan bahwa permusuhan terhadap filsafat di negara Islam selama beberapa abad menjadi sebab utama persoalan ini.

Manusia modern mengalami kehampaan spritual, krisis makna, legitimasi hidup serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan terhadap dirinya sendiri. Seyyed Hossein Nasr dalam the Plight of Modern Man mengatakan bahwa krisis eksistensial berawal dari pemberontakan manusia modern terhadap Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan Renaisans.

Dalam sebuah wawancara, Haidar Bagir menjelaskan bahwa dalam berbicara ekonomi yang ideal itu apakah kapitalistik atau sosialistik atau yang bersifat lain, mau tidak mau kita diskusi defenisi tentang keadilan. Ketika membedah politik. apakah yang bagus itu demokrasi atau otoritarianisme maka mesti kita diskusi tentang tujuan politik itu apa?

Tentang Mazhab. Imam Syafii secara luas diriwayatkan pernah berkata, "pendapatku benar, namun sangat potensial keliru sementara pendapat orang selainku keliru namun sangat mungkin benar." di lain waktu  Beliau berkata "jika suatu Hadist itu sahih,  maka itulah mazhabku."

Pada prinsipnya setiap perbuatan bersifat netral nilai. Tindakan baikdan buruk dinilai berbeda bergantung pada penerapannya. Mencuri bisa dinilai terlarang tetapi bisa juga sunnah bahkan wajib. Ibn Hazn al-Zhahiri dalam bukunya yang berjudul al-Muhalla pernah mengatakan bahwa seorang pencuri yang mengambil harta dari seorang kaya dikarenakan haknya tidak diberikan kemudian tertangkap dan terbunuh,maka dipercaya mati syahid.

Tentang fenomena Sunni-Syiah. ada dua sebab yang memperkeruh konflik antara Sunni-Syiah. Pertama, sejak revolusi Iran, ada sekelompok di dalam negeri Iran yang ingin mengekspor Revolusi Islam ke negara lain. Kedua, ada ketakukan dari negara teluk monarki kalau revolusi yang terjadi di Iran akan merembet ke negara mereka. Harus diingat bahwa Iran menjadi negara Islam bukan karena revolusi tetapi lewat referendum.

Di masing-masing kubu Sunni-Syiah, ada kelompok ekstrim, mereka inilah yang memanas-manasi keadaan akibatnya timbul ketegangan yang terus menguat.

Tentang pembahasan Kafir.

Abu Sufyan tetap bertahan dengan agama arab jahiliah bukan karena percaya dan mengimaninya sebagai sebuah kebenaran, namun lebih karena sistem purba itu menguntungkannya secara politik dan sosial. Doktrin Islam terkait reformasi sosial yang memberatkan orang semacam Abu Sufyan untuk memeluk Islam bukan soal pengakuan dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya faktor ekonomi dan politik bukan faktor teologis yang menjadi dasar penyangkalan terhadap Islam.

Sebuah perkataan Nabi Ibrahim seperti yang disitir Al-Qur'an, kebencian dan permusuhan diarahkan kepada sifat/perbuatan buruk orang, bukan kepada orang/pelakunya sendiri (QS. Mumtahanah 60:4).

Beragama, betapa pun melibatkan fisik dalam menjalankan ritual-ritualnya, adalah urusan "rumah", urusan hati yang ada di dalam diri. urusan rohani. Ritual, seberapa pun pentingnya dalam kehidupan beragama, adalah simbol. baik agama maupun politik dan hukum, kesemuanya itu dimaksudkan untuk membantu manusia agar dapat meraih kehidupan yang baik/bahagia.

Ketika ditanya tentang apakah beliau Syiah atau Sunni, inilah jawabannya. "Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga."


5 3 18

 

November 1, 2016

Mari Berkabung

kalau Pilkada diibaratkan sebagai sebuah pertarungan, kita sudah kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai. pesta sudah bubar bahkan sebelum tenda-tenda untuk merayakan pesta dikibarkan. itu jika pilkada dianggap sebagai sebuah perayaan demokrasi.

apa yang bisa diperebutkan, apa yang patut dibanggakan dari pesta yang sudah tercederai. apa pula yang harus dikejar jika harus saling menghancurkan, siapa yang paling bertanggung jawab atas semua kekacauan ini?

dari manakah asal mula dari semua ribut-ribut ini dan kemana pula ujungnya? 

pada titik tertentu, saya selalu berharap bahwa negeri ini senantiasa merawat persatuan dan bahu-membahu melawan setiap kelompok yang ingin menghancurkan persatuan.

namun apalah dayaku ini apatahlagi cuma harapan-harapan, ketika kelompok tertentu berusaha mencapai tujuannya dengan mengedepankan sentimen agama, maka bisa dipastikan akan banyak simpatisan yang datang dari segala penjuru, mungkin itulah yang sedang terjadi sekarang.

jikalau memang ribut-ribut ini sudah mencapai titik nadirnya, saya berharap supaya kekacauan ini jangan tanggung, sekalian perang sehingga semua menemui kehancuran.mungkin saja dengan kehancuran, mereka akan lebih memaknai kehidupan yang damai.

atau karena imanku masih seujung kuku sehingga tidak bisa mengikuti alur berpikir para pengawal kesucian agama yang selalu mendiskreditkan manusia lain yang memilih menganut agama yang berbeda.

sejak kecil, kita selalu dicekoki tentang asumsi-asumsi yang tak berdasar bahwa kaum agama lain selalu menjadi ancaman. jika agama lain melakukan aktivitas sosial, kita selalu curiga bahwa pasti mereka sedang menjalankan kerja-kerja misionaris.

"meskipun mereka menyumbang masjid, mendirikan sekolah ataupun aktivitas yang membantu sesama, toh mereka tetap kafir." pernyataan yang benar-benar ngeri dilontarkan oleh sebagian dari manusia yang mendeklarasikan dirinya seorang muslim. teman sekantor saya pun melontarkan hal yang sama sesaat setelah kami berbincang masalah kepemimpinan Gubernur Jakarta.

Saya tidak berani menjustifikasi kafir seseorang yang sudah berbuat baik meskipun seorang non-Islam. sikap saya sebenarnya lebih kepada tidak peduli apakah orang akan masuk syurga ataupun neraka sepanjang mereka berbuat baik terhadap semesta. toh saya sendiri tidak mampu menjamin diri saya akan masuk surga, kemudian kenapa saya harus memusingkan seseorang apakah dia seorang kafir atau bukan?

Saya pernah mempercayai asumsi bahwa setiap kaum non-Islam selalu punya agenda terselubung jika berbuat kebaikan. wajarlah karena di kampung saya, warganya homogen, 100 persen Islam. sampai pada akhirnya ketika saya menempuh pendidikan di bangku kuliah, saya menjumpai fenomena yang membalikkan semua asumsi saya.

saya sering bertamu bahkan menginap di rumah teman saya yang nasrani. sikap mereka menurutku cukup membuktikan bahwa asumsi saya keliru. mereka bahkan menyiapkan sajadah ketika waktunya shalat dan bahkan mengingatkan saya shalat ketika adzan sudah berkumandang. saat makan pun mereka menyediakan makanan yang halal buat saya. jika sudah seperti itu, kok saya tega-teganya mengasumsikan bahwa mereka sedang menjalankan agenda terselubung untuk menjeratku? tetapi ketika fenomena seperti ini diceritakan kepada mereka yang yang selalu curiga kepada kaum non-Islam maka kemungkinan saya dianggap sudah terpengaruh.

kita sudah kalah dan saya sudah hampir menyerah memupuk keinginan saya melihat masyarakat yang penuh toleransi. alasan saya sederhana karena sampai pada lapisan masyarakat paling bawah pun sudah mulai berani menjustifikasi bahwa keyakinan mereka sudah benar secara absolut sehingga yang tidak sepaham dengannya pasti kafir. intoleransi di negeri ini apatahlagi di Ibu kota sudah semakin mengerikan.

saya bermimpi melihat negeri ini hidup dengan penuh toleransi. tidak ada saling curiga antar sesama penganut agama. tetapi nampaknya saya harus mengubur impian saya sebentar lagi tepat tanggala 4 november 2016.

sekali lagi saya tidak mendukung siapa-siapa. saya hanya ingin menyaksikan kehidupan masyarakat yang penuh dengan sikap toleransi dan saling menghormati.

1 11 16

4 November

Saya sudah sekuat hati menahan gejolak supaya tidak larut dalam kegaduhan menjelang Pilkada Ibu kota. alasannya karena memang saya tidak pernah percaya atas setiap hal yang berbau politik dan yang kedua karena pada dasarnya KTP saya bukan Jakarta meskipun saya sudah beberapa tahun bermukim di Jakarta.

Saya akhirnya harus menuliskan kerisauan yang terus menumpuk di kepalaku. bagaimana tidak, setiap hari saya mendengar dan disesaki dengan celutukan masalah pilkada khususnya caci maki terhadap Petahana.

Teman kantor samping mejaku setiap hari menyentil isu-isu mengenai Petahana. dia pun sepakat dengan golongan yang menginginkan supaya Petahana diadili. Saya seringkali mengatakan bahwa saya sama sekali tidak peduli dengan dunia politik karena hanya permainan para politikus. contoh nyata, menjelang dan pasca pilpres 2014, Jokowi berseberang dengan Prabowo, namun lihatlah kejadian kemarin, mereka sedang bermesraan sambil berkuda.

teman saya masih saja bersikukuh bahwa fenomena Petahana bukanlah ranah politik namun murni masalah penistaan agama. menurut saya, terlalu naif jika masih saja haqqul yakin bahwa masalah tersebut murni agama. tidakkah kita sedikit berpikir bahwa jauh hari sebelum pidato blunder yang diucapkan oleh Petahana, isu penolakan dirinya sebagai Gubernur sudah mengalun keras di mana-mana. pidato tersebut hanyalah setitik celah untuk menjegal dirinya menjadi Gubernur.

saya bukan pendukung Gubernur petahana dan tidak peduli siapapun yang akan terpilih nantinya sebagai Gubernur DKI. bahkan banyak ketidaksepatan saya terhadap Petanaha, misalnya kebijakan gusur-menggusur dan reklamasi pantai. namun menurut saya, ada hal yang sudah tidak bisa dikompromikan dalam polemik menjelang pilkada. Petahana yang notabene beragama minoritas harus menghadapi bertubi-tubi serangan dalam segala bentuk dan dari kelompok yang merasa sedang berjuang menegakkan ajaran agamanya. menurut saya, hal tersebut sudah termasuk perbuatan dzalim.

Dalam diam pun, Petahana akan mendapat resistensi yang tidak terbendung apatahlagi, beberapa waktu yang lalu, dia membuat blunder yang menurutku cukup signifikan dan dijadikan pintu masuk oleh kelompok "agamis" untuk menjatuhkan dirinya.

imbas dari pidatonya beberapa waktu yang lalu ternyata berdampak besar. bukan hanya di Jakarta, namun di beberapa daerah, demo besar-besaran menuntut Petahana diadili atas tuduhan penistaan agama. banyak dari kaum mayoritas yang tiba-tiba berubah wujud menjadi malaikat yang ingin mengadili seseorang atas tuduhan melecehkan Tuhan dan ayat-ayatNya, oh sungguh ironi. sedangkan sesungguhnya Tuhan adalah Tuhan dengan segala kesuciannya.

4 November dijadikan momentum oleh para penjaga agama melakukan aksi unjuk rasa menuntut Petahana diseret ke meja hukum. entah apa arti dibalik tanggal tersebut sehingga dijadikan momentum selain karena bertepatan dengan hari Jum'at.

Rencananya, Para serdadu pembela agama akan berkumpul di Istiqlal menunaikan shalat Jum'at kemudian setelah itu akan pawai jalan kaki ke Istana. mereka tidak hanya berasal dari Ibu kota tetapi seluruh penjuru nusantara.

saya pribadi sama sekali tidak ada dorongan nurani untuk ikut aksi tersebut bahkan kemarin saat kawan saya mengatakan bahwa jika seandainya semua pegawai diliburkan maka akan banyak massa yang ikut dan dia pun berniat ikut, saya kemudian menimpali bahwa lebih baik saya tidak libur daripada harus ikut aksi menuntut seseorang diadili karena tuduhan melecehkan agama.

entahlah, atau mungkin iman saya yang lemah sehingga sama sekali tidak terbersit sedikit pun untuk ambil bagian dalam aksi tersebut. satu hal yang saya yakini bahwa pertama, Tuhan tidak akan pernah bisa dilecehkan. kedua, isu di atas sama sekali bukan fokusnya pada masalah agama namun bagaimana sekelompok orang yang berkepentingan menjegal Petahana yang beragama minoritas supaya gagal menjadi Gubernur.

pada akhirnya, saya berharap semoga mendapat hidayah untuk menggerakkan hati saya untuk ikut aksi 4 november, masih tersisa 4 hari. saya khawatir sudah digolongkan ke dalam barisan golongan liberal atau kelompok yang tidak perduli terhadap agama. saya juga berharap ikut dalam garda pembela kesucian agama.

ah, tetapi setelah saya pikir-pikir, saat mereka berangkat aksi, lebih baik saya pulang ke rumah menjumpai anak saya. mengganti popoknya, memandikannya kemudian menggendongnya sambil mendongeng tentang sebuah agama yang lebih mencintai dan memuliakan semua makhluk dan menemukan Tuhan dalam cinta kasih tidak melalui perang dan caci maki tidak pula beragama secara simbolis. setelah itu, dia tertidur dalam dekapanku dan kucium pipinya berulang kali.

Cipaku, 1 November 16