Kemudian terjadi lagi kekejian atas nama agama. seseorang yang lagi-lagi mengatasnamakan agama membunuh seorang bocah mungil yang sedang menikmati hidupnya dengan bermain-main di beranda rumah ibadah.
anak ini terlalu polos menanggung perilaku biadab seorang. hanya lantaran dia sedang berada di rumah ibadah yang berbeda dengan rumah ibadah yang sering didatangi oleh pelaku.
Setelah kejadian yang merenggut nyawa gadis mungil yang masih polos, mungkin kita akan bertanya kenapa dia Tuhan, kenapa pada saat kejadian, dia harus ditakdirkan bermain di teras gereja, kenapa pada saat pelaku melempar bom, dia di dalam gereja saja sedang lari bersama teman-temannya sambil menunggu orang tuanya beribadah?
dan pasti begitu banyak lagi pertanyaan menggugat yang tidak bakalan mengembalikan hidupnya. setelah lelah bertanya, akan ada orang yang menyudahinya dengan beranggapan bahwa itulah takdir maka seharusnya diterima dengan sabar.
oke, saya sendiri meyakini bahwa itu adalah takdir karena sudah terjadi. namun tidak harus sampai pada sebatas menerima pemakluman atas nama takdir akibat ulah manusia.
Seandainya saja bukan karena bom yang menyebabkan tubuhnya terbakar, seandainya saja dia terkena petir atau bencana yang murni dari alam maka mungkin sekedar pemakluman atas takdir sudah cukup dan doa-doa yang dipanjatkan. namun apa yang dialami oleh gadis ini akibat kekerdilan berpikir seseorang yang melegitimasi tindakannya atas nama agama, demi sebuah angan-angan kehidupan surgawi.
Lantas, dimana letak surgawi yang sedang dikejar ketika jalan yang ditempuh harus mengorbankan orang lain apatahlagi seorang gadis kecil yang tentunya masih dipenuhi jiwa kepolosan tanpa setitik dosa?
Saya sudah punya seorang bayi mungil berumur 4 bulan. tentunya saya tahu betul rasanya punya seorang bocah dan bagaimana saya mengasihi dan menyayangi anak saya.
Dalam beberapa kali episode, anak saya mengalami demam dan itu sudah membuatku panik setengah mati. saya selalu berharap demamnya berpindah ke saya saja. bahkan pada saat dia menangis pun, ada rasa sedih yang kemudian bergelayut di hatiku.
Tidak berlebihan ketika saya sedih melihat foto ayah intan pasca kematiannya akibat bom yang membakar sebagian besar tubuh anaknya. betapa hancur hatinya.
Saya tidak pernah percaya atas ajaran mengejar surgawi yang mengorbankan orang lain apapun alasannya. kita selalu berada dalam perasaan paling benar dan berhak menghakimi orang lain bahkan dalam beberapa kesempatan, kita merasa paling didzalimi kemudian membenarkan tindakan-tindakan kita dalam menista penganut agama lain.
oh Tuhan, kapan berakhirnya kekejaman atas nama agama, atas nama mengejar cintaMu.
Maafkan kami
14 11 16
Seandainya saja bukan karena bom yang menyebabkan tubuhnya terbakar, seandainya saja dia terkena petir atau bencana yang murni dari alam maka mungkin sekedar pemakluman atas takdir sudah cukup dan doa-doa yang dipanjatkan. namun apa yang dialami oleh gadis ini akibat kekerdilan berpikir seseorang yang melegitimasi tindakannya atas nama agama, demi sebuah angan-angan kehidupan surgawi.
Lantas, dimana letak surgawi yang sedang dikejar ketika jalan yang ditempuh harus mengorbankan orang lain apatahlagi seorang gadis kecil yang tentunya masih dipenuhi jiwa kepolosan tanpa setitik dosa?
Saya sudah punya seorang bayi mungil berumur 4 bulan. tentunya saya tahu betul rasanya punya seorang bocah dan bagaimana saya mengasihi dan menyayangi anak saya.
Dalam beberapa kali episode, anak saya mengalami demam dan itu sudah membuatku panik setengah mati. saya selalu berharap demamnya berpindah ke saya saja. bahkan pada saat dia menangis pun, ada rasa sedih yang kemudian bergelayut di hatiku.
Tidak berlebihan ketika saya sedih melihat foto ayah intan pasca kematiannya akibat bom yang membakar sebagian besar tubuh anaknya. betapa hancur hatinya.
Saya tidak pernah percaya atas ajaran mengejar surgawi yang mengorbankan orang lain apapun alasannya. kita selalu berada dalam perasaan paling benar dan berhak menghakimi orang lain bahkan dalam beberapa kesempatan, kita merasa paling didzalimi kemudian membenarkan tindakan-tindakan kita dalam menista penganut agama lain.
oh Tuhan, kapan berakhirnya kekejaman atas nama agama, atas nama mengejar cintaMu.
Maafkan kami
14 11 16
No comments:
Post a Comment