Showing posts with label #menulis30hari. Show all posts
Showing posts with label #menulis30hari. Show all posts

July 15, 2020

Penjual Mainan

Cerita ini dituturkan oleh mertua saya tadi malam. sebuah cerita tentang kejadian yang menurut saya begitu sangat ironi dan menyedihkan. kerasnya hidup di Jakarta benar-benar membuat banyak orang kehilanga arah dan welas kasih, bahkan bukan hanya untuk yang berbeda kelas namun bahkan dengan sesama kelas bawah, mereka saling menikam yang seharusnya saling menggenggam tangan untuk menguatkan hidup.

Cerita ini persis terjadi di samping kami dan tepat diperlihatkan di hadapan. ada seorang penjual mainan yang sering lewat di sekitar gang tempat kami tinggal. dia menjual berbagai aneka mainan murahan. penjual semacam itu sangat mudah dijumpai di ibu kota. berbekal gerobang yang dipenuhi dengan mainan dan benda-benda sederhana yang terkadang tidak dijual di swalayan. sangat mudah mengidentifikasi ketika penjual tersebut lewat karena dia membunyikan suara yang khas. setiap kali dia lewat, anak saya sudah hapal dan selalu merengek minta dibelikan mainan. menurut saya tidak jadi soal karena toh mainan yang dia jual bukan mainan mahal bahkan ada yang cuma harga dua ribu.

Kemarin saat dia lewat, mertua dan anak saya menghampirinya. seperti biasa membeli mainan yang tidak terlalu mahal, sekitar lima ribu. setelah melakukan transaksi, kemudian si penjual curhat tentang kejadian tidak mengenakkan yang dia alami. dia dimarahi oleh tetangga kami jika berjualan lagi di sekitar gang tempat tinggal kami karena cucu si tetangga kami selalu menangis minta dibelikan mainan. si penjual bercerita dengn lirih sambil mengatakan bahwa saya kan cuma menjual.

Mendengar cerita tersebut yang diceritakan kembali mertua saya, lumayan agak sedih. hidup begitu kerasnya di Ibu kota sampai harus melarang seseorang menjual untuk mencari nafkah. si tetangga kami seharusnya punya kedaulatan untuk memberitahu cucunya bahwa jangan terlalu sering membeli mainan ataupun jika mau, dia membelikan yang harga dua ribu sekedar membantu penjual mainan tersebut. namun apa daya, si tetangga kami yang seorang bapak paruh baya, memilih melakukan tindakan yang menurutku mendegradasi hubungan antar sesama. dia memarahi penjual mainan lewat di sekitaran rumahnya. 

Saya bukan orang yang bermoral-moral amat namun menurut pandangan saya bahwa dengan terang-terangan melarang orang lain berjualan untuk mencari nafkah keluarganya adalah sebuah tindakan yang amoral. seharusnya para penjual keliling seperti itu diapresiasi karena mau berusaha keras mencari nafkah dengan jalan yang benar apatahlagi saya perkirakan bahwa untungnya tidak terlalu besar. bayangkan jika mainan yang hanya seharga tiga ribu, berapa selisih untung yang dia ambil. jauh lebih banyak penghasilan para tukang parkir yang setiap motor harus membayar dua ribu tanpa ada modal selain modal kursi untuk duduk di parkiran dan modal rompi orange.

Satu hal yang paling menyedihkan saya adalah si bapak tetangga kami yang memarahi penjual pun bukan orang terlalu kaya bahkan mungkin hampir sederajat secara ekonomi dengan mayoritas penduduk yang tinggal di gang kami. jika rasa kasih pun tidak dimiliki, lalu apa yang harus ditawarkan dan dibanggakan.

Entahlah, mungkin hidup memang harus seperti ini untuk mengajarkan kita mana yang harus diikuti dan mana yang sebaiknya dicampakkan di tempat sampah. 

December 1, 2016

Gus Mus dan hal-hal yang meneduhkan

https://www.brilio.net/news/22-quote-gus-mus-yang-bikin-hati-makin-adem-mak-nyess-160323o.html

Saya tidak tahu harus memulai dari mana tulisan ini pun juga ragu menulis tentang pribadi yang dihormati begitu banyak orang. ingin menulis testimoni tentang beliau namun saya rasa, karya-karyanya belum kupahami dengan sesungguh-sungguhnya. toh salah satu cara mengenal seseorang selain berinteraksi langsung adalah menelaah tulisan-tulisannya. 

Mengandalkan google sebagai referensi dalam menulis testimoni tentang seseorang tokoh sebesar Gus Mus adalah sesuatu yang konyol dan tidak akan memiliki kekuatan apa-apa di tulisan tersebut, hanya sekedar barisan kata-kata yang tidak memiliki roh. kita harus memahami dari karya-karyanya, tidak harus seratus persen namun setidaknya, kita sudah paham arah pemikirannya.

nah, syarat yang saya buat di atas untuk menulis tentang seseorang sama sekali belum kupenuhi jika berniat menulis seputar pribadi Gus Mus. punya buku karyanya pun cuma dua. mendengar ceramahnya hanya sesekali ketika ada waktu lowong itupun dari yutub. tetapi satu semangatku bahwa sejauh ini, membaca karyanya dan mendengar tauziah-tauziahnya, saya selalu kagum dengan caranya menyebarkan kasih kepada semesta.

tapi tidak ada salahnya saya mencoba mengulas secuil ingatan saya tentang beliau. Saya pernah sekali bertemu, menyalami kemudian menyempatkan berfoto di Istora Senayan saat peluncuran buku Maman Suherman. kutemukan kesejukan di wajahnya bahkan keramahannya membuatku semakin kagum, beliau melayani semua orang yang menyalami dan mengajaknya berfoto tanpa sedikit guratan rasa kesal di mukanya. pada saat itu, beliau datang bersama alm. isterinya dan salah seorang anaknya.

pada salah satu masjid di kawasan kemang yang kulewati setiap pulang kantor, kulihat wajahnya terpampang di spanduk yang dipasang di masjid lengkap dengan puisi beliau yang berjudul "kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana." saya tidak pernah luput menikmati pemandangan tersebut setiap kali melintasi jalan di depan masjid tersebut.

bagi saya yang tidak berinteraksi dengan beliau, salah satu cara paling ampuh menggali hikmah yang terpancar dari dalam dirinya adalah menelaah karya beliau entah dari artikel maupun puisi dan bahkan ceramahnya yang tersebar luas melalui youtube.

Sependek pengetahuanku, beliau seorang yang sangat toleran dan penuh kasih terhadap semesta. bahkan dalam melontarkan kritik terhadap apa saja, beliau melakukannya dengan amat santun. Beliau mengkritik kelompok fundamentalis dalam puisinya yang berjudul "kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana." Beliau mengekspresikan kerinduannya terhadap Nabi Muhammad melalui puisi "oh Muhammadku." saya punya buku kumpulan puisinya yang berjudul "Aku Manusia," yang memuat kumpulan puisinya.

beberapa waktu lalu, Gus Mus mengupload sebuah lagu berjudul "Laskar Cinta." saya menduga, hal tersebut dilakukan sebagai kritik terhadap seorang yang menyanyikan lagu tersebut pasca orasinya pada aksi 411.

Gus Mus adalah pribadi yang sangat mencintai keluarganya. saya sering mengikuti status sosmed anak-anaknya yang selalu tulus mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Gus Mus. bahkan Alm. isternya selalu berada di sampingnya selama hidupnya.

pernah saya membaca bagaimana cara Gus Mus mengatasi saat ada sesuatu yang tidak disenangi terhadap isterinya. beliau mengurung diri di kamar kemudian menulis kekesalannya lalu kemudian merobek-robek tulisannya, esok hari, hatinya akan kembali tenang.  

kesabaran dan keluasan hati Gus Mus diperlihatkan saat beberapa waktu lalu, Beliau dicaci dengan amat tidak pantas oleh Pandu, salah seorang karyawan BUMN. melalui twitter, Pandu menuliskan "Ndasmu" yang ditujukan kepada Beliau. sebagai seorang yang tidak khatam bahasa jawa namun sempat menetap di jawa timur beberapa tahun, saya menyadari betul bahwa kata "Ndasmu" adalah penghinaan yang sudah melampau batas apatahlagi diucapkan kepada seorang yang lebih tua. kata tersebut sepadan dengan umpatan "matamu" , "Cangkemmu", "mukamu" dan kata-kata lain yang disandingkan dengan panca indera. memang sih di jawa timur, kata-kata tersebut kadang menjadi kata sapaan akrab bagi anak muda yang sudah begitu akrab.

Gus Mus menanggapi cacian yang ditujukan kepadanya dengan memaafkan. begitu luas hatinya dan alangkah arif pribadi beliau. 

 masih banyak lagi hal-hal terlewatkan tentang pribadi beliau namun jika menilai secara kasat mata, terlihat dari wajahnya yang teduh dan bercahaya.

1 12 16