kalau Pilkada diibaratkan sebagai sebuah pertarungan, kita sudah kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai. pesta sudah bubar bahkan sebelum tenda-tenda untuk merayakan pesta dikibarkan. itu jika pilkada dianggap sebagai sebuah perayaan demokrasi.
apa yang bisa diperebutkan, apa yang patut dibanggakan dari pesta yang sudah tercederai. apa pula yang harus dikejar jika harus saling menghancurkan, siapa yang paling bertanggung jawab atas semua kekacauan ini?
dari manakah asal mula dari semua ribut-ribut ini dan kemana pula ujungnya?
pada titik tertentu, saya selalu berharap bahwa negeri ini senantiasa merawat persatuan dan bahu-membahu melawan setiap kelompok yang ingin menghancurkan persatuan.
namun apalah dayaku ini apatahlagi cuma harapan-harapan, ketika kelompok tertentu berusaha mencapai tujuannya dengan mengedepankan sentimen agama, maka bisa dipastikan akan banyak simpatisan yang datang dari segala penjuru, mungkin itulah yang sedang terjadi sekarang.
jikalau memang ribut-ribut ini sudah mencapai titik nadirnya, saya berharap supaya kekacauan ini jangan tanggung, sekalian perang sehingga semua menemui kehancuran.mungkin saja dengan kehancuran, mereka akan lebih memaknai kehidupan yang damai.
atau karena imanku masih seujung kuku sehingga tidak bisa mengikuti alur berpikir para pengawal kesucian agama yang selalu mendiskreditkan manusia lain yang memilih menganut agama yang berbeda.
sejak kecil, kita selalu dicekoki tentang asumsi-asumsi yang tak berdasar bahwa kaum agama lain selalu menjadi ancaman. jika agama lain melakukan aktivitas sosial, kita selalu curiga bahwa pasti mereka sedang menjalankan kerja-kerja misionaris.
"meskipun mereka menyumbang masjid, mendirikan sekolah ataupun aktivitas yang membantu sesama, toh mereka tetap kafir." pernyataan yang benar-benar ngeri dilontarkan oleh sebagian dari manusia yang mendeklarasikan dirinya seorang muslim. teman sekantor saya pun melontarkan hal yang sama sesaat setelah kami berbincang masalah kepemimpinan Gubernur Jakarta.
Saya tidak berani menjustifikasi kafir seseorang yang sudah berbuat baik meskipun seorang non-Islam. sikap saya sebenarnya lebih kepada tidak peduli apakah orang akan masuk syurga ataupun neraka sepanjang mereka berbuat baik terhadap semesta. toh saya sendiri tidak mampu menjamin diri saya akan masuk surga, kemudian kenapa saya harus memusingkan seseorang apakah dia seorang kafir atau bukan?
Saya pernah mempercayai asumsi bahwa setiap kaum non-Islam selalu punya agenda terselubung jika berbuat kebaikan. wajarlah karena di kampung saya, warganya homogen, 100 persen Islam. sampai pada akhirnya ketika saya menempuh pendidikan di bangku kuliah, saya menjumpai fenomena yang membalikkan semua asumsi saya.
saya sering bertamu bahkan menginap di rumah teman saya yang nasrani. sikap mereka menurutku cukup membuktikan bahwa asumsi saya keliru. mereka bahkan menyiapkan sajadah ketika waktunya shalat dan bahkan mengingatkan saya shalat ketika adzan sudah berkumandang. saat makan pun mereka menyediakan makanan yang halal buat saya. jika sudah seperti itu, kok saya tega-teganya mengasumsikan bahwa mereka sedang menjalankan agenda terselubung untuk menjeratku? tetapi ketika fenomena seperti ini diceritakan kepada mereka yang yang selalu curiga kepada kaum non-Islam maka kemungkinan saya dianggap sudah terpengaruh.
kita sudah kalah dan saya sudah hampir menyerah memupuk keinginan saya melihat masyarakat yang penuh toleransi. alasan saya sederhana karena sampai pada lapisan masyarakat paling bawah pun sudah mulai berani menjustifikasi bahwa keyakinan mereka sudah benar secara absolut sehingga yang tidak sepaham dengannya pasti kafir. intoleransi di negeri ini apatahlagi di Ibu kota sudah semakin mengerikan.
saya bermimpi melihat negeri ini hidup dengan penuh toleransi. tidak ada saling curiga antar sesama penganut agama. tetapi nampaknya saya harus mengubur impian saya sebentar lagi tepat tanggala 4 november 2016.
sekali lagi saya tidak mendukung siapa-siapa. saya hanya ingin menyaksikan kehidupan masyarakat yang penuh dengan sikap toleransi dan saling menghormati.
1 11 16
sejak kecil, kita selalu dicekoki tentang asumsi-asumsi yang tak berdasar bahwa kaum agama lain selalu menjadi ancaman. jika agama lain melakukan aktivitas sosial, kita selalu curiga bahwa pasti mereka sedang menjalankan kerja-kerja misionaris.
"meskipun mereka menyumbang masjid, mendirikan sekolah ataupun aktivitas yang membantu sesama, toh mereka tetap kafir." pernyataan yang benar-benar ngeri dilontarkan oleh sebagian dari manusia yang mendeklarasikan dirinya seorang muslim. teman sekantor saya pun melontarkan hal yang sama sesaat setelah kami berbincang masalah kepemimpinan Gubernur Jakarta.
Saya tidak berani menjustifikasi kafir seseorang yang sudah berbuat baik meskipun seorang non-Islam. sikap saya sebenarnya lebih kepada tidak peduli apakah orang akan masuk syurga ataupun neraka sepanjang mereka berbuat baik terhadap semesta. toh saya sendiri tidak mampu menjamin diri saya akan masuk surga, kemudian kenapa saya harus memusingkan seseorang apakah dia seorang kafir atau bukan?
Saya pernah mempercayai asumsi bahwa setiap kaum non-Islam selalu punya agenda terselubung jika berbuat kebaikan. wajarlah karena di kampung saya, warganya homogen, 100 persen Islam. sampai pada akhirnya ketika saya menempuh pendidikan di bangku kuliah, saya menjumpai fenomena yang membalikkan semua asumsi saya.
saya sering bertamu bahkan menginap di rumah teman saya yang nasrani. sikap mereka menurutku cukup membuktikan bahwa asumsi saya keliru. mereka bahkan menyiapkan sajadah ketika waktunya shalat dan bahkan mengingatkan saya shalat ketika adzan sudah berkumandang. saat makan pun mereka menyediakan makanan yang halal buat saya. jika sudah seperti itu, kok saya tega-teganya mengasumsikan bahwa mereka sedang menjalankan agenda terselubung untuk menjeratku? tetapi ketika fenomena seperti ini diceritakan kepada mereka yang yang selalu curiga kepada kaum non-Islam maka kemungkinan saya dianggap sudah terpengaruh.
kita sudah kalah dan saya sudah hampir menyerah memupuk keinginan saya melihat masyarakat yang penuh toleransi. alasan saya sederhana karena sampai pada lapisan masyarakat paling bawah pun sudah mulai berani menjustifikasi bahwa keyakinan mereka sudah benar secara absolut sehingga yang tidak sepaham dengannya pasti kafir. intoleransi di negeri ini apatahlagi di Ibu kota sudah semakin mengerikan.
saya bermimpi melihat negeri ini hidup dengan penuh toleransi. tidak ada saling curiga antar sesama penganut agama. tetapi nampaknya saya harus mengubur impian saya sebentar lagi tepat tanggala 4 november 2016.
sekali lagi saya tidak mendukung siapa-siapa. saya hanya ingin menyaksikan kehidupan masyarakat yang penuh dengan sikap toleransi dan saling menghormati.
1 11 16