November 1, 2016

4 November

Saya sudah sekuat hati menahan gejolak supaya tidak larut dalam kegaduhan menjelang Pilkada Ibu kota. alasannya karena memang saya tidak pernah percaya atas setiap hal yang berbau politik dan yang kedua karena pada dasarnya KTP saya bukan Jakarta meskipun saya sudah beberapa tahun bermukim di Jakarta.

Saya akhirnya harus menuliskan kerisauan yang terus menumpuk di kepalaku. bagaimana tidak, setiap hari saya mendengar dan disesaki dengan celutukan masalah pilkada khususnya caci maki terhadap Petahana.

Teman kantor samping mejaku setiap hari menyentil isu-isu mengenai Petahana. dia pun sepakat dengan golongan yang menginginkan supaya Petahana diadili. Saya seringkali mengatakan bahwa saya sama sekali tidak peduli dengan dunia politik karena hanya permainan para politikus. contoh nyata, menjelang dan pasca pilpres 2014, Jokowi berseberang dengan Prabowo, namun lihatlah kejadian kemarin, mereka sedang bermesraan sambil berkuda.

teman saya masih saja bersikukuh bahwa fenomena Petahana bukanlah ranah politik namun murni masalah penistaan agama. menurut saya, terlalu naif jika masih saja haqqul yakin bahwa masalah tersebut murni agama. tidakkah kita sedikit berpikir bahwa jauh hari sebelum pidato blunder yang diucapkan oleh Petahana, isu penolakan dirinya sebagai Gubernur sudah mengalun keras di mana-mana. pidato tersebut hanyalah setitik celah untuk menjegal dirinya menjadi Gubernur.

saya bukan pendukung Gubernur petahana dan tidak peduli siapapun yang akan terpilih nantinya sebagai Gubernur DKI. bahkan banyak ketidaksepatan saya terhadap Petanaha, misalnya kebijakan gusur-menggusur dan reklamasi pantai. namun menurut saya, ada hal yang sudah tidak bisa dikompromikan dalam polemik menjelang pilkada. Petahana yang notabene beragama minoritas harus menghadapi bertubi-tubi serangan dalam segala bentuk dan dari kelompok yang merasa sedang berjuang menegakkan ajaran agamanya. menurut saya, hal tersebut sudah termasuk perbuatan dzalim.

Dalam diam pun, Petahana akan mendapat resistensi yang tidak terbendung apatahlagi, beberapa waktu yang lalu, dia membuat blunder yang menurutku cukup signifikan dan dijadikan pintu masuk oleh kelompok "agamis" untuk menjatuhkan dirinya.

imbas dari pidatonya beberapa waktu yang lalu ternyata berdampak besar. bukan hanya di Jakarta, namun di beberapa daerah, demo besar-besaran menuntut Petahana diadili atas tuduhan penistaan agama. banyak dari kaum mayoritas yang tiba-tiba berubah wujud menjadi malaikat yang ingin mengadili seseorang atas tuduhan melecehkan Tuhan dan ayat-ayatNya, oh sungguh ironi. sedangkan sesungguhnya Tuhan adalah Tuhan dengan segala kesuciannya.

4 November dijadikan momentum oleh para penjaga agama melakukan aksi unjuk rasa menuntut Petahana diseret ke meja hukum. entah apa arti dibalik tanggal tersebut sehingga dijadikan momentum selain karena bertepatan dengan hari Jum'at.

Rencananya, Para serdadu pembela agama akan berkumpul di Istiqlal menunaikan shalat Jum'at kemudian setelah itu akan pawai jalan kaki ke Istana. mereka tidak hanya berasal dari Ibu kota tetapi seluruh penjuru nusantara.

saya pribadi sama sekali tidak ada dorongan nurani untuk ikut aksi tersebut bahkan kemarin saat kawan saya mengatakan bahwa jika seandainya semua pegawai diliburkan maka akan banyak massa yang ikut dan dia pun berniat ikut, saya kemudian menimpali bahwa lebih baik saya tidak libur daripada harus ikut aksi menuntut seseorang diadili karena tuduhan melecehkan agama.

entahlah, atau mungkin iman saya yang lemah sehingga sama sekali tidak terbersit sedikit pun untuk ambil bagian dalam aksi tersebut. satu hal yang saya yakini bahwa pertama, Tuhan tidak akan pernah bisa dilecehkan. kedua, isu di atas sama sekali bukan fokusnya pada masalah agama namun bagaimana sekelompok orang yang berkepentingan menjegal Petahana yang beragama minoritas supaya gagal menjadi Gubernur.

pada akhirnya, saya berharap semoga mendapat hidayah untuk menggerakkan hati saya untuk ikut aksi 4 november, masih tersisa 4 hari. saya khawatir sudah digolongkan ke dalam barisan golongan liberal atau kelompok yang tidak perduli terhadap agama. saya juga berharap ikut dalam garda pembela kesucian agama.

ah, tetapi setelah saya pikir-pikir, saat mereka berangkat aksi, lebih baik saya pulang ke rumah menjumpai anak saya. mengganti popoknya, memandikannya kemudian menggendongnya sambil mendongeng tentang sebuah agama yang lebih mencintai dan memuliakan semua makhluk dan menemukan Tuhan dalam cinta kasih tidak melalui perang dan caci maki tidak pula beragama secara simbolis. setelah itu, dia tertidur dalam dekapanku dan kucium pipinya berulang kali.

Cipaku, 1 November 16

No comments: