February 4, 2015

Berhenti Melepas Penat

Didalamnya ada bayangbayang.
termangu nelangsa
menerawang dalam diam
adakah semua akan berjalan seperti sediakala ataukah bahkan sesuatu akan menjadi sebab semua musnah begitu saja

serupa labalaba yang menjaring waktu
tidak pernah tersisa ruang untuk semua
aku pun tidak
hanya menahan derita demi derita yang ironi. mengulum senyum dalam pedih
aku tahu semua akan berakhir dengan ceritanya sendiri
aku pun tidak berharap seperti merpati yang mencapai angkasa
pada waktunya nanti
aku akan menemukan semua jawaban yang pernah kutulis satu persatu

alangkah buruk setiap langkah yang sudah kususun secara rapi
laksasa bunga yang kemudian layu sebelum menghiasi indahnya taman

ah, penat menyerangku
aku tak bisa memikirkan apapa

040215

February 3, 2015

Berdua Saja

Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata
Ketika kita berdua
Hanya aku yang bisa bertanya
Mungkinkah kau tahu jawabnya
Malam jadi saksinya
Kita berdua diantara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian
Untuk datang membawa jawaban
Mungkinkah kita ada kesempatan
Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

Payung teduh
 SONG & LYRIC : IS

Mungkin sebagian besar lagu dari band payung teduh cocok di telingaku yang memang akrab dengan lagu yang mendayu-dayu. salah satu lagu diatas adalah satu diantara sekian lagu Payung Teduh yang selalu kudengarkan saat akan tidur. Entahlah namun lirik yang sederhana dengan bahasa puitis benar-benar membuatku hanyut dalam perasaan mendalam tentang apa saja.

Aku pernah membaca tulisan seorang kawan tentang lirik lagu Payung teduh dan aku memilih untuk bersepakat dengan pendapatnya bahwa Payung teduh mampu mengkonversikan semua perasaan entah itu cinta, benci bahkan rindu dalam bahasa yang sederhana namun tidak lebay seperti lirik lagu band yang sedang menjamur di indonesia.

Awal perkenalanku dengan Band yang keren ini adalah saat aku di Yogyakarta. Aku lupa persis tahunnya, kalau tidak salah ingat akhir 2012. Saat itu band ini tampil di kafe semesta. Tiga kawan dan aku segera meluncur ke sana. sesampai di sana, lokasi tempat manggung sudah sesak dengan pengunjung sehingga kami harus berdesakan dan memilih di pojokan. Sebelum tampil, ada sepatah kata dari personil payung teduh tentang kematian promotor mereka yang bunuh diri sehari sebelumnya dengan cara menabrakkan diri ke kereta karena terlilit utang.

Saat lagu pertama dinyanyikan, aku sudah jatuh hati pada lirik-liriknya yang sederhana dan yang membuatku terkesima adalah ternyata semua pengunjung ikut bernyanyi dan sudah hapal lagu-lagunya. Ternyata aku yang terlambat mengenal band yang keren ini.

Sensasi lagu-lagu payung terduh memang sangat terasa saat didengarkan di malam hari saat turun hujan sambil ditemani segelas kopi. Ah, payung teduh memang keren.

040215

Merajut Harkat

BUKU "MERAJUT HARKAT"

Merajut Harkat Putu Oka Sukanta 

Penerbit : PT. Elex Media Komputindo 

Tebal  : 548 halaman 

ISBN  : 978-979-27-8572-2 


 
 
 
 
 
Sebenarnya novel ini sudah sebulan yang lalu kubaca. mungkin saja ada beberapa segmen yang sudah terlupa namun karena kerennya novel ini maka aku tidak akan melewatkan untuk menuliskan lagi. Banyak hal yang mewajibkanku untuk menulis pesan yang kudapat dari novel ini.

Sebelumnya aku ingin bercerita jalan takdir sehingga buku ini sampai di tanganku. Liburan natal tahun kemarin, aku dan windi pulang ke madiun. Sekedar untuk melepas penat dari keruwetan denyut kehidupan di ibukota. Dua hari disana, kami jalan-jalan ke Carrefour madiun yang terletak di samping mall Sun City. Saat windi asyik berbelanja bersama Ibunya, aku memilih untuk duduk di bangku depan kasir. Bengong tak tahu harus ngapain, aku melihat disisi lain, novel-novel diobral. iseng aku memilah, tiba-tiba saja mataku melihat novel tersebut. Aku bahkan tidak tahu isinya seperti apa. Hal yang terlintas dipikiranku saat itu adalah lumayan novel tersebut buat koleksi karena lumayan tebal dan harganya cuma 30 ribu. Tanpa babibu, aku bayar novel tersebut. sepulang ke jakarta, hampir seminggu novel tersebut kuanggurin karena kesibukanku kemudian suatu malam aku memulai membacanya dan ternyata tentang sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata tahanan Politik semasa Orde Baru.

Sejarah perpolitikan Indonesia di saat Orde Baru meninggalkan begitu banyak cerita sedih tentang kemanusian. bermula dari cerita Gerakan 30 S 1965. Titik balik perpolitikan terjadi pada saat itu. Pihak Orde baru yang tampil layaknya Pahlawan dan menjadikan komunis sebagai pesakitan bahkan terhdapa orang yang baru diindikasi sebagai pengikut komunis harus membayar dengan nyawa. Sejarah memang selalu menemukan kebenarannya dari siapa saja yang berkuasa.

Novel ini mengangkat cerita tentang tokoh Hawa. seorang guru yang diindikasikan ikut paham Komunis. Stigma tersebut membuatnya harus berada dalam kecemasan. bersama kekasihnya Nio, mereka menjalani hari-hari dalam kekalutan hingga pada akhirnya, hawa ditangkap dan dipenjara.

Konflik di novel ini bermula ketika Hawa masuk penjara hanya karena tuduhan bahwa dia berafiliasi dengan paham komunis. setelah di penjara tanpa tuduhan dan tanpa proses hukum yang jelas, Hawa melewati masa-masa di penjara dengan amat sangat menyedihkan bahkan jauh dari penjara yang memanusiakan. Mereka harus berada di dalam penjara seperti barang yang ditumpuk bahkan perlakuan yang tidak manusiawi sering diterima dari sipir ataupun tentara yang berjaga.

Konflik yang lain adalah tentang penghianatan diantara mereka.penjara TAPOL pada masa Orde Baru benar-benar menguji kesetiakawanan seorang tahanan dan juga bagaimana mereka tetap konsisten memeluk prinsip yang mereka yakini tanpa harus mengeliminasi kepentingan perut. Hawa benar-benar menjadi gambaran tahanan yang mampu menjaga semua itu. ketika Tahanan lain enggan membagi makanan yang dikirimkan oleh keluarganya karena takut kelaparan, Hawa malah sebaliknya, ketika ada kiriman makanan dari sang pacar (Nio), maka Hawa tidak sungkan untuk membagi ke semua Tahanan. Hawa benar-benar mampu menjaga kepala dari godaan perut yang lapar. dia mampu tetap menempatkan kepalanya di atas perutnya.

Pembelajaran tetap kesetiaan kawan benar-benar teruji di masa seperti itu. Aku bahkan membayangkan begitu dangkalnya arti seorang kawan di masa seperti ini. Bagaimana seorang Abraham Samad yang malah dijerumuskan oleh kawannya sendiri si Zainal Tahir tentang pengakuan foto AS yang sedang memeluk seorang wanita di hotel. entah apa sekarang makna seorang kawan di mata mereka, bahkan dalam ajaran agama yang sampai saat ini kuyakini bahwa kita diwajibkan untuk menutupi aib seorang saudara.

Potret tentang perkawanan pun sedang disajikan dihadapanku. Tentang kawan di kantorku yang saling mencurigai. Ah entahlah, kita memang bukan orang-orang hebat yang mampu menjaga martabat kawan bahkan kita memilih untuk menjadi kawan yang munafik

09-02-15

Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan


Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan
Judul : Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan
Pengarang : Ernest JK Wen              





 
Sudah beberapa hari ini aku kembali mencoba untuk menggali minatku membaca dengan membeli novel-novel ringan. Beberapa genre novel 2 bulan terakhir telah kulahap habis. mulai dari novel percintaan yang mainstream sampai pada novel politik yang diangkat dari kisah nyata penulisnya.


Novel kali ini yang ingin kuceritakan adalah tentang novel percintaan remaja yang tidak lazim. Dua remaja perempuan tanggung yang saling mencintai dan memadu kasih. novel tersebut berjudul Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan Karya ernest JK Wen. Sekilas membaca novel tersebut benar-benar mengaduk emosi kita, bagaimana tidak, seorang ika yang berasal dari keluarga tidak mampu bertekad untuk tetap melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi meski kerapkali keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orang tuanya karena masalah ekonomi, alhasil Ika mendapat kesempatan masuk di sekolah yang mengharuskan tinggal di Asrama dan mendapatkan beasiswa.

Konflik dan klimaks dari cerita di novel tersebut dimulai saat Ika tinggal di Asrama sekolahnya. Dia kemudian sekamar dengan Anggie yang notabene berasal dari keluarga terpandang bahkan keponakan dari kepala yayasan. Tidak seperti cerita pada umumnya dimana terkadang tokoh yang kaya menjadi sombong, namun sebaliknya, Anggie menjadi pribadi yang sangat baik terhadap Ika meskipun status sosial mereka bak bumi dan langit. Namun keakraban mereka itu pula lah yang kemudian menjadi bumerang terhadap hubungan mereka.

Entah karena pengalaman masa lalu kedua perempuan tanggung tersebut lama kelamaan mereka terjerat cinta sesama jenis (Lesbian). Anggie yang amat sangat membenci ayahnya karena bercerai dengan ibunya sedangkan Ika yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya semakin membuat mereka melepaskan segala rasa bersama.

Prestasi Ika yang memang mempunyai otak yang encer semakin mentereng ketika dia mewakili sekolahnya juara olimpiade. Malang tak dapat dicegah dan hubungan yang ditutup terus menerus akan terbuka dengan sendirinya. Hubungan Anggie dan Ika sebagai sepasang kekasih akhirnya terbongkar pula dan seluruh pihak yayasan mengetahuinya. akhirnya ketua yayasan yang juga adalah tante Anggie memutuskan untuk memindahkan Ika dari sekolah tersebut.

Konflik di novel tersebut tidak berhenti setelah Ika dikeluarkan dari sekolah bahkan semua seakan baru dimulai. Kedua remaja tersebut akhirnya tidak pernah lagi ketemu sampai umur 21 tahun. Ika kuliah di Bandung setelah selesai sekolah dan Anggie ikut ibunya ke singapura dan kuliah di sana.

Sebelumnya Lanny (Ibu Anggie) sudah mengetahui bahwa Anggie jatuh ke dalam kesalahan yang sama yang pernah dilaluinya pada saat gadis yaitu jatuh cinta pada sesama jenis. Lanny sama sekali tidak pernah marah karena pernah merasakan hal yang sama. Lanny hanya berharap bahwa Anggie tidak perlu untuk bertemu Ika sebelum umr 21 tahun. Dalam hal ini bahwa Lanny masih mempunyai tanggung jawab sebelum umur tersebut dan selalu berharap Anggie kembali melupakan Ika namun pada dasarnya saat umur Anggie sudah 21 tahun maka dia akan memberikan kebebasan apakah Anggie tetap akan mengikuti kata hatinya mencintai Ika dengan menabrak norma yang ajeg ataukah berpikir ulang tentang keputusan tersebut.

Pada endingnya, Anggie tetap melanjutkan hubungan dengan Ika setelah mereka berumur 21 tahun dan di kata-kata novel tersebut bahwa Anggie merengkuh kebahagiannya meskipun harus melawan norma yang berlaku.

Yah, begitulah sebuah novel ditulis dan diceritakan. aku bahkan harus menolak kesimpulan dari novel tersebut karena amat sangat bebas nilai. hubungan sesama jenis tetaplah sebuah hal yang keliru meski atas nama kebahagiaan. hubungan tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa. aku masih percaya bahwa seorang  mencintai sesama jenis adalah sebuah penyakit yang amat bisa disembuhkan, bukan naluriah, sekali lagi bukan naluriah.

Rawamangun. 030215

Kita Memilih Jalan

Aku tibatiba saja menulis tentang kawan yang mungkin kuanggap dekat saat masih menjadi remaja tanggung penuh dengan hal-hal yang ingin mencoba segalanya. Aku rasa titik tolaknya sampai pada hari ini ketika kami memilih jalan masing-masing yang berdasarkan pada pertimbangan yang sudah amat sangat rasional.

Kita sedang memilih jalan masing-masing kawan, iya kan. Masa lalu hanyalah euforia keremajaan kita yang telah tertinggal menjadi kenangan. sebuah masa yang mungkin pada saat itu tidak ada yang terpikir tentang masa yang akan kita lalui sekarang. kebersamaan yang dijalani dengan keceriaan tanpa harus berpikir hidup esok hari seperti apa dan akhirnya waktu jualah yang membawa kita ke masa sekarang yang mana pada masa lalu kita anggap sebagai masa depan.

Kita sedang memilih jalan kan kawan. Engkau mungkin memilih jalan yang masih kau anggap ideal seperti perlawanan kita masa lalu tentang apa saja yang kita anggap salah dan engkau sekarang masih merintis tentang jalan ideal itu.

Aku memilih jalan lain kawan. Menjauh dari kampung halaman dan membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja. pernah kita bertemu di persimpangan jalan jauh dari kota kita namun aku tahu itu sementara kawan. Kita hanya bernostalgia tentang masa lalu sembari tetap menyambung silaturrahim namun sejatinya kita akan tetap menjalani kembali jalan yang telah kita pilih masing-masing.

Engkau masih tetap di kota dulu kawan. merintis sebuah idealisme hidup yang dulu sering kita konsepkan dan aku tahu engkau kuat akan menjalani itu karena kutahu banyak hal yang telah engkau dapat dari hidup. Kepedulianmu terhadap sesama memang membuktikan bahwa engkau tidak akan membiarkan seseorang tersakiti oleh sistem yang kita anggap sebagai musuh bersama (itu dulu kawan).

Aku memilih jalan menyingkir dari bayang-bayang masa lalu. mencoba tegak dengan jalan seperti yang sedang aku pilih dan entah sampai kapan aku akan bertahan dengan kehidupanku. Aku hanya ingin mengumpulkan semua hikmah kehidupan yang telah aku temui di sepanjang setapak yang aku jalani. Mungkin suatu saat nanti kita kembali akan bersua dan menghabiskan waktu kita bercerita panjang tentang kehidupan masing-masing di puncak gunung.

Kita memilih jalan masing-masing kan kawan. aku selalu merindukan percakapan kita tentang idealisme hidup yang masih tersisa di dalam dadaku.

Ingatkah dulu saat kita menertawai semua pegawai kantoran yang harus berkejaran dengan waktu berangkat saat matahari belum terbit dan pulang saat matahari sudah berlalu. Kita menertawakan mereka dengan cara kita. Saat mereka berangkat, ktia memuaskan diri dengan tidur sampai siang. Itulah cara kita menertawakan mereka yang memburu waktu.

Kita sedang memilih jalan kawan. aku terjebak  di rutinitas yang dulu kita anggap sebagai hidup yang membosankan. Tapi tak apalah kawan. Hidup memang sering berubah haluan karena setiap masa adalah pergantian paradigma dan mungkin saja karena sesuatu hal yang dulunya kita anggap sebagai sebuah ketidakwajaran akan kita jalani sendiri.

Kita sedang memilih jalan sendiri kawan

KamarKosRawamangun.030215


February 2, 2015

1 Februari 2015

Mungkin pilihannya adalah salah. atau mungkin memang setiap hal punya akibat yang mengikuti
aku sebenarnya bersyukur bahkan lebih dari itu
alam selalu saja memberikan pelajaran yang bermakna
entahlah
namun seringkali kumengingkarinya

kemarin
kalaupun disatu hal aku berontak
dan ingin melampiaskan semua amarah
namun satu hal yang aku yakini bahwa itu adalah akibat dari perbuatan yang dulu kuperbuat.
alam tidak pernah salah, semesta menyayangi makhluknya
aku belajar bahwa semua akan kembali ke dalam diri

ingin kumeronta
ingin kehancurkan semua yang ada dalam setiap langkah yang salah
namun siapa sebenarnya yang ingin kumaki, orang lainkah
atau bahkan muka ku sendiri

naif memang

aku menjadi pecundang yang tak berarti
namun aku tidak akan menghentikan langkahku untuk selalu belajar

kantorBumidaRawamangun. 020215
 

January 31, 2015

Kota Ini

Mungkin di kota ini aku menjumpai begitu banyak cerita yang sebelumnya sama sekali tidak terpikir olehku. Seperti mimpi saja saat mendengar orang yang begitu gampangnya menghakimi orang lain, tentang maling yang ketangkap basah di samping kantorku, tentang teman kantor yang selalu berkonflik dan tentang apa saja yang mungkin akan memberikan kita pelajaran tentang hidup.

Ritme kehidupan yang begitu cepat dan tuntutan yang semakin melambung tidak membiarkan sedikit pun manusia di sini untuk bernafas dan berhenti sejenak melepas penat. saling sikut dan saling lomba dalam hal apa saja. tidak mengherankan ketika arus manusia dalam keruwetan kota ini sering menimbulkan berbagai macam konflik horizontal bahkan tentang hal sekecil apapun.

Sangat mudah untuk menemui orang yang dengan begitu mudahnya meluapkan emosi. orang-orang sepertinya tidak lagi memiliki sedikit kesabaran untuk memaafkan orang lain. cobalah untuk naik bis, busway ataupun angkot, semua orang tidak ada sedikitpun yang melempar senyum. mereka hening dalam keheningan yang artifisial atau bahkan parah lagi yang sibuk dengan hp nya sampai di tempat tujuan. cobalah untuk naik lift bersama kerumunan orang, tidak akan ada saling tegur, bahkan yang ada menunduk sambil hening seperti memikirkan sesuatu yang sangat pelik bahkan menurutku di kota ini, senyuman begitu mahal harganya.

Cobalah untuk memutari kota ini dan mencari alamat. Saat kesasar dan kesulitan menemukan alamat maka coba untuk bertanya ke tukang ojek atau siapa pun yang engkau temui. Aku yakin engkau akan mendapat banyak diantara mereka yang dengan acuh menjawab atau bahkan dengan wajah malas menjelaskan alamat yang engkau tanyakan meski mungkin mereka tahu alamat tersebut. Di sini aku tidak menggeneralisasikan semua orang di Jakarta ataupun tidak sedang mencoba untuk menghayal karena aku sendiri mengalaminya. pekerjaanku sebagai surveyor kantor membuatku harus melancong ke seantero Jabodetabek mencari alamat. Kerapkali aku bertanya ke orang-orang dan tanggapan yang kuterima seringkali mereka dengan wajah masam menjawab pertanyaanku. aku bahkan berpikir bahwa seandainya bisa dibayar, mungkin bertanya pun kita harus membayar di kota ini. ironi sekaligus menyedihkan.

Bagaimana pun kota ini penuh dengan dinamika kehidupan. Jika ingin mencoba nyali untuk menentukan kadar kesabaran sampai dimana batasnya maka sering-seringlah berkendara di kota ini. Jika mampu menjaga hati tanpa kesal sedikitpun saat sedang di jalanan kota ini maka level kesabaran kita sudah teruji. aku bahkan seringkali kesal, jengkel atau apapun itu ketika berkendara dan ada saja yang membuat hati seakan ingin mengumpat.

Inilah Jakarta dengan seluk beluknya. Bagaimanapun juga bahwa kota ini Insya Allah akan menjadi kota tempat tinggal mungkin sampai tua ataupun mungkin 10 tahun ke depan. aku harus belajar ikhlas dan mencintai kota dengan segala seni kehidupan di dalamnya.

January, 30 2015

January 27, 2015

Mas Ed

Aku sering menjumpai orang di setiap perjalanan hidupku. Sudah begitu banyak orang yang silih berganti masuk dalam kehidupanku. Terkadang tidak cocok namun kerapkali pun satu paham. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di pulau jawa, ada paradigma yang terbongkar dari kepalaku tentang karakter orang jawa dan bahkan kalau Allah mengizinkan maka aku akan mempersunting gadis jawa.

Dulu saat masih berputar-putar di tanah Sulawesi, aku menyangka bahwa orang Jawa adalah orang yang suka menjajah bahkan mereka tidak mau susah dalam hidup. Itu dulu namun sekarang aku tahu dan paham bahwa manusia tidak bisa digeneralisasikan seenak dengkul kita. Dalam hal ini bahwa setiap manusia dari manapun berada dan suku apapun bahkan agama apapun dia, maka dia kan memiliki nurani. Karakternya terkadang dibentuk oleh keluarga yang membesarkannya. itulah kesimpulanku tentang manusia sampai saat ini.

Kembali ke perjalananku yang menemui orang silih berganti. kali ini selama lima bulan di tempat ini. Aku bertemu dengan salah seorang kokarda yang berasal dari klaten. seiring berjalan waktu, kami akrab karena aku sering menemaninya bermalam di kantor pada malam sabtu. Namanya mas E. Setelah lama bercengkerama dengannya, aku tahu banyak tentang dirinya. Dia mempunyai isteri dan seorang anak yang tinggal di kampung. Dia setiap sebulan sekali pulang menengok isterinya. Dia pernah bercerita bahwa dia sudah 10 tahun bekerja sebagai kokarda di kantor ini. Awal dia bekerja di sini, dia doyan dugem, mabuk dan jarang salat bahkan di kaki kirinya ada tatoo. Aku mengenal dia dalam keadaan seperti sekarang. Sudah amat sangat tertib salat bahkan tidak pernah aku menjumpai dia meninggalkan shalat duha di kantor. Merokok pun sudah ditinggalkannya. Setiap kali bekerja, dia sering menghapal Al-Qur'an.

Banyak hal yang membuatku salut kepada mas E. Ketulusannya dalam bekerja dan tidak pernah mengeluh bahkan pemikirannya yang visioner membuatku harus mengacungkan jempol untuknya. Ternyata selama bekerja, dia mengumpulkan uangnya untuk memulai usaha ternak bebek di kampungnya dan hingga di awal tahun ini, dia memutuskan untuk resign dari kantor ini dan pulang kampung melanjutkan usaha ternak bebeknya, berkumpul  dengan anak isterinya.

Terlalu singkat memang perkenalanku dengannya namun sesingkat itu aku bisa mengatakan bahwa dia adalah orang baik. aku sering bermain catur dengannya tapi dia lumayan jenius kalau main catur.

mengenangmasseyangsebentarlagipulangkampung
270115

Tentang Madiun dan Rencana Kita

Ini kebersamaan kami berjalan pulang ke madiun setelah penat dengan ritme hidup di ibu kota. terlalu sayang untuk tidak menuliskan setiap jejak kebersamaan. perjalanan dua tahun bersamamu cukup membuatku banyak belajar tentang hidup dan kesetiaan meski aku juga sadar bahwa ini belum apa-apa karena kita baru merencanakan sebuah kehidupan yang lain. kesetiaan dan kebersamaan bahkan hal yang tulus baru akan menemui ujiannya ketika kita mengarungi kehidupan yang sebenarnya. hanya satu yang kuharap darimu, jangan sekali-kali berubah. aku memang kerapkali marah, dan bahkan seringkali membuatmu menangis namun aku pun tidak akan membuatmu terluka. menangis dan terluka adalah dua hal yang berbeda dek. engkau adalah gadis mungil yang membuatku berarti dan berani melangkah bahkan tentang hidup seperti apa yang akan kita jalani. tidak tergantung dengan materi dan duniawi meski kita berdua pun sadar kita butuh akan hal itu.

Aku ingat saat menemui keluargamu yang menawarkan kita bantuan. aku sadar bahwa engkau memang bertekad memulai dari awal bersamaku karena tidak pernah memaksakan diri untuk menerima tawaran dari tantemu tentang bantuan yang katanya akan dijual murah kepada kita (meski aku sendiri sadar dan mengakui bahwa harga seperti itu amat sangat mahal). dengan tegas engkau berkata bahwa kita mengontrak dulu sesaat setelah menikah dan tidak perlu memaksakan diri untuk membeli rumah.

Dalam hati kecilku pun aku amat sangat setuju bahwa kita tidak mesti untuk memaksakan diri membeli rumah ketika belum cukup. biarkanlah orang berceloteh tentang kita dan kita tetap berjalan menjalani hidup sesuai dengan kodrat yang memang akan kita jalani. aku menyepakati prinsipmu yang tidak mau memberatkan keluargamu. Aku pun menancapkan dalam dadaku bahwa aku tidak akan menyusahkan orang lain. satu hal yang kuhindari adalah berutang budi kepada orang lain dan jangan sampai orang lain mendikte kehidupan kita karena merasa sudah membantu kehidupan kita.

Perjalanan kita sudah sejauh ini dan kita tidak pernah tergantung kepada orang lain. aku hanya menginginkan kita menjalani hidup tanpa harus berharap bantuan dari orang lain termasuk juga tantemu yang menawarkan bantuan. jikalau saja nantinya kita membeli rumah dari dia maka aku harap harga yang kita beli sesuai dengan yang dijual kepada orang lain dan tidak perlu untuk dimurahkan. aku menghindari berutang budi karena yakinlah jika orang lain merasa membantu kita maka ada suatu masa dia akan mengungkapkannya kepada orang lain dan itu yang amat tidak aku inginkan. bahkan tantemu belum apa-apa sudah bercerita banyak kepada keluargamu yang lain bahwa dia akan menjual murah rumah kepada kita, ingat ini belum ada deal loh dan dia sudah menyebar cerita tentang niatnya membantu kita membeli rumah dan apatahlagi nantinya kalau benar-benar kita membeli rumah dari dia.

hidup ini tidak meluluh tentang materi yang tidak ada habisnya. kita hidup sesuai dengan jalan yang dijalani.

kantorrawamangun. 270115
 #LatePost

January 26, 2015

3 Oktober 2015

Kemarin malam, aku ditelepon oleh mama E. Bercerita banyak tentang persiapan pernikahan yang memang sudah lama kami rencanakan. tanggal 3 oktober 2015 adalah waktu yang sudah disepakati untuk acara pernikahan. Kemarin malam pula, mama E menyarankan supaya keluargaku tidak perlu lagi untuk datang melamar, cukup saja saat pertemuan kakakku dengan mama eni beberapa bulan yang lalu. Aku sepakat dengan hal itu karena pertimbangan biaya.

Entah apa yang kurasakan saat mengingat-ingat tanggal 3 oktober. Semua perasaan bercampuk aduk dan bergelora di dalam dadaku. aku tak tahu harus menyebut perasaan itu sebagai perasaan senang, was-was ataupun khawatir. Aku hanya menjalani semua dengan ikhlas dan berusaha untuk tetap mawas diri. Pernikahan adalah sebuah janji suci yang tidak boleh dipermainkan. Tanggung jawab sebagai suami bukan yang yang mudah apatahlagi nantinya menjadi ayah.

Ah, benar-benar khawatir menyelimuti perasaanku.

tibatibateringat3oktober

260115

January 22, 2015

Rasa yang Tertinggal

Ya Allah, semoga aku tidak berada di pusaran orang yang di depan mereka saling bercanda namun di belakang kemudian harus saling menjatuhkan.

Aku tahu disini sudah mulai tidak sehat, setiap dari mereka merasa benar dan saat berhadapan mereka seperti sangat amat akrab namun tidak seperti adanya.

Kuatkan aku untuk tidak berada di dalam arus yang menenggelamkan ini. biarkanlah semua berjalan seperti apa adanya namun semoga saja aku tidak terjebak di dalamnya

Teringat sebuah candaan dosenku bahwa tidak baik berteman dengan orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain.
 
CONTINUED
2201015

January 21, 2015

Ibu yang Berceramah

Tuhan mungkin saja mengarahkanku ke tempat ini untuk bekerja supaya aku belajar banyak hal. Mengendalikan diri dengan semua kondisi yang ada. aku yakin itu. Perjalananku di dunia kerja memang penuh dengan lika-liku dan sejak aku mengamini semua yang kujalani, aku berusaha menemukan satu titik temu bahwa semua ini hanyalah untuk mendewasakanku.

Pertama kali bekerja sebagai DDC GP. Aku dituntut untuk mengendalikan ego. Bagaimana tidak, sebagai lulusan sarjana, aku harus berdiri di pinggir jalan dan berdiri mencari nasabah meski GP bertujuan baik namun tetap saja pandangan orang tentang mencari nasabah adalah hal yang tidak lazim.

Kemudian bekerja sebagai marketing Erlangga membuatku harus menabrak semua aturan yang kubuat dalam hidupku. Mencari pelanggan dengan berbagai macam cara bahkan cara yang tidak dibenarkan dengan nalarku. Aku sudah sering menyogok dan sudah sering mengacuhkan nuraniku saat harus memberikan grasi kepada guru-guru hanya untuk mencapai target jualan.

Pekerjaan yang kulalui sekarang memang sedikit lebih soft. bekerja sebagai staff namun aku harus sadari bahwa bidang pekerjaanku sekarang bergerak di jasa yang sebagian orang masih menganggapnya syubhat. Aku pun masih ragu meski sekarang aku bukan marketing namun tetap saja aliran bisnis ini berasal dari kapitalisasi modal.

Tadi ada momen lucu, bahkan lucu sekali menurutku meski sedikit miris dan aku pun harus diam seribu bahasa menghadapi nasabah tersebut. Sampai akhirnya aku diam seribu bahasa karena ibu itu nampaknya hanya ingin mengeluarkan uneg-unegnya. hingga diakhir pembicaraan, aku tersenyum dan mengatakan semoga ibu sehat dan rejeki lancar.
ibu itu mungkin sedang kesal. ah, sudahlah.

Kantorrawamangun. 210115

January 20, 2015

Keluarga dan Rumah

Untuk seorang pejalan pulang. meninggalkan rumah dalam keadaan hening. segalanya memang nampak menyenangkan namun percayalah bahwa ada masa dimana rumah menjadi istana yang tak tertandingi.

Tidak ada salah memang untuk berjalan jauh. langkah yang gontai tak boleh surut dan bahkan untuk seorang laki-laki di keluargaku, harus mencoba untuk merantau dan menguji dirinya sebagai lelaki meski sekali lagi aku ingatkan bahwa setegar apapun dan sekuat apapun jiwa lelaki, ada masa dimana dia menoleh ke belakang dan merindukan istana kecilnya.

Untuk yang mungkin saja mencoba untuk melupakan masa kecilnya atau pun bahkan berusaha untuk menghapus memori tentang rumah tempat dia tumbuh, yakinlah bahwa mereka telah melakukan hal yang siasia karena rumah tetap melekat dalam sanubari setiap manusia. Rumah menjadi saksi bisu ketika aku mulai tumbuh dan menjadi besar.

Boleh saja bangga bertemu banyak orang, berkawan dengan siapa saja bahkan dengan para manusia yang ditemui di setiap jalan yang ditempuh namun ada satu falsafah yang tidak pernah luntur di kepalaku bahwa " sejauh apapun kakimu melangkah di bumi Tuhan, maka keluarga adalah tempat sebaik-baik kembali untuk bersandar ketika merasa letih."

Dia saat semua kawan yang engkau kenal di dalam perjalananmu menyanjungmu, keluarga terkadang hanya mendoakan yang terbaik untuk dan ketika engkau terjatuh dan tidak satupun temanmu yang menolong maka keluarga akan selalu dengan tangan terbuka memberikan bantuan apapun.

Keluarga layaknya mereka yang dilupakan saat senang dan menjadi sandaran ketika susah.

Ingatlah suatu hal bahwa rumah dan keluargamu jauh di pelosok sana adalah harta yang tak bernilai. Mereka adalah berlian yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun.

keluarga adalah basis hidup seseorang. dia selalu ada untuk setiap hal yang menjadi keluhan maupun kesenangan.
 
 
200115
kantorbumidarawamangun