Ini kebersamaan kami berjalan pulang ke madiun setelah penat dengan ritme hidup di ibu kota. terlalu sayang untuk tidak menuliskan setiap jejak kebersamaan. perjalanan dua tahun bersamamu cukup membuatku banyak belajar tentang hidup dan kesetiaan meski aku juga sadar bahwa ini belum apa-apa karena kita baru merencanakan sebuah kehidupan yang lain. kesetiaan dan kebersamaan bahkan hal yang tulus baru akan menemui ujiannya ketika kita mengarungi kehidupan yang sebenarnya. hanya satu yang kuharap darimu, jangan sekali-kali berubah. aku memang kerapkali marah, dan bahkan seringkali membuatmu menangis namun aku pun tidak akan membuatmu terluka. menangis dan terluka adalah dua hal yang berbeda dek. engkau adalah gadis mungil yang membuatku berarti dan berani melangkah bahkan tentang hidup seperti apa yang akan kita jalani. tidak tergantung dengan materi dan duniawi meski kita berdua pun sadar kita butuh akan hal itu.
Aku ingat saat menemui keluargamu yang menawarkan kita bantuan. aku sadar bahwa engkau memang bertekad memulai dari awal bersamaku karena tidak pernah memaksakan diri untuk menerima tawaran dari tantemu tentang bantuan yang katanya akan dijual murah kepada kita (meski aku sendiri sadar dan mengakui bahwa harga seperti itu amat sangat mahal). dengan tegas engkau berkata bahwa kita mengontrak dulu sesaat setelah menikah dan tidak perlu memaksakan diri untuk membeli rumah.
Dalam hati kecilku pun aku amat sangat setuju bahwa kita tidak mesti untuk memaksakan diri membeli rumah ketika belum cukup. biarkanlah orang berceloteh tentang kita dan kita tetap berjalan menjalani hidup sesuai dengan kodrat yang memang akan kita jalani. aku menyepakati prinsipmu yang tidak mau memberatkan keluargamu. Aku pun menancapkan dalam dadaku bahwa aku tidak akan menyusahkan orang lain. satu hal yang kuhindari adalah berutang budi kepada orang lain dan jangan sampai orang lain mendikte kehidupan kita karena merasa sudah membantu kehidupan kita.
Perjalanan kita sudah sejauh ini dan kita tidak pernah tergantung kepada orang lain. aku hanya menginginkan kita menjalani hidup tanpa harus berharap bantuan dari orang lain termasuk juga tantemu yang menawarkan bantuan. jikalau saja nantinya kita membeli rumah dari dia maka aku harap harga yang kita beli sesuai dengan yang dijual kepada orang lain dan tidak perlu untuk dimurahkan. aku menghindari berutang budi karena yakinlah jika orang lain merasa membantu kita maka ada suatu masa dia akan mengungkapkannya kepada orang lain dan itu yang amat tidak aku inginkan. bahkan tantemu belum apa-apa sudah bercerita banyak kepada keluargamu yang lain bahwa dia akan menjual murah rumah kepada kita, ingat ini belum ada deal loh dan dia sudah menyebar cerita tentang niatnya membantu kita membeli rumah dan apatahlagi nantinya kalau benar-benar kita membeli rumah dari dia.
hidup ini tidak meluluh tentang materi yang tidak ada habisnya. kita hidup sesuai dengan jalan yang dijalani.
kantorrawamangun. 270115
#LatePost
No comments:
Post a Comment