![]() |
| Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan |
Pengarang : Ernest JK Wen
Sudah beberapa hari ini aku kembali mencoba untuk menggali minatku membaca dengan membeli novel-novel ringan. Beberapa genre novel 2 bulan terakhir telah kulahap habis. mulai dari novel percintaan yang mainstream sampai pada novel politik yang diangkat dari kisah nyata penulisnya.
Novel kali ini yang ingin kuceritakan adalah tentang novel percintaan remaja yang tidak lazim. Dua remaja perempuan tanggung yang saling mencintai dan memadu kasih. novel tersebut berjudul Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan Karya ernest JK Wen. Sekilas membaca novel tersebut benar-benar mengaduk emosi kita, bagaimana tidak, seorang ika yang berasal dari keluarga tidak mampu bertekad untuk tetap melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi meski kerapkali keinginannya tersebut ditentang oleh kedua orang tuanya karena masalah ekonomi, alhasil Ika mendapat kesempatan masuk di sekolah yang mengharuskan tinggal di Asrama dan mendapatkan beasiswa.
Konflik dan klimaks dari cerita di novel tersebut dimulai saat Ika tinggal di Asrama sekolahnya. Dia kemudian sekamar dengan Anggie yang notabene berasal dari keluarga terpandang bahkan keponakan dari kepala yayasan. Tidak seperti cerita pada umumnya dimana terkadang tokoh yang kaya menjadi sombong, namun sebaliknya, Anggie menjadi pribadi yang sangat baik terhadap Ika meskipun status sosial mereka bak bumi dan langit. Namun keakraban mereka itu pula lah yang kemudian menjadi bumerang terhadap hubungan mereka.
Entah karena pengalaman masa lalu kedua perempuan tanggung tersebut lama kelamaan mereka terjerat cinta sesama jenis (Lesbian). Anggie yang amat sangat membenci ayahnya karena bercerai dengan ibunya sedangkan Ika yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya semakin membuat mereka melepaskan segala rasa bersama.
Prestasi Ika yang memang mempunyai otak yang encer semakin mentereng ketika dia mewakili sekolahnya juara olimpiade. Malang tak dapat dicegah dan hubungan yang ditutup terus menerus akan terbuka dengan sendirinya. Hubungan Anggie dan Ika sebagai sepasang kekasih akhirnya terbongkar pula dan seluruh pihak yayasan mengetahuinya. akhirnya ketua yayasan yang juga adalah tante Anggie memutuskan untuk memindahkan Ika dari sekolah tersebut.
Konflik di novel tersebut tidak berhenti setelah Ika dikeluarkan dari sekolah bahkan semua seakan baru dimulai. Kedua remaja tersebut akhirnya tidak pernah lagi ketemu sampai umur 21 tahun. Ika kuliah di Bandung setelah selesai sekolah dan Anggie ikut ibunya ke singapura dan kuliah di sana.
Sebelumnya Lanny (Ibu Anggie) sudah mengetahui bahwa Anggie jatuh ke dalam kesalahan yang sama yang pernah dilaluinya pada saat gadis yaitu jatuh cinta pada sesama jenis. Lanny sama sekali tidak pernah marah karena pernah merasakan hal yang sama. Lanny hanya berharap bahwa Anggie tidak perlu untuk bertemu Ika sebelum umr 21 tahun. Dalam hal ini bahwa Lanny masih mempunyai tanggung jawab sebelum umur tersebut dan selalu berharap Anggie kembali melupakan Ika namun pada dasarnya saat umur Anggie sudah 21 tahun maka dia akan memberikan kebebasan apakah Anggie tetap akan mengikuti kata hatinya mencintai Ika dengan menabrak norma yang ajeg ataukah berpikir ulang tentang keputusan tersebut.
Pada endingnya, Anggie tetap melanjutkan hubungan dengan Ika setelah mereka berumur 21 tahun dan di kata-kata novel tersebut bahwa Anggie merengkuh kebahagiannya meskipun harus melawan norma yang berlaku.
Yah, begitulah sebuah novel ditulis dan diceritakan. aku bahkan harus menolak kesimpulan dari novel tersebut karena amat sangat bebas nilai. hubungan sesama jenis tetaplah sebuah hal yang keliru meski atas nama kebahagiaan. hubungan tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa. aku masih percaya bahwa seorang mencintai sesama jenis adalah sebuah penyakit yang amat bisa disembuhkan, bukan naluriah, sekali lagi bukan naluriah.
Rawamangun. 030215

No comments:
Post a Comment