Aku tibatiba saja menulis tentang kawan yang mungkin kuanggap dekat saat masih menjadi remaja tanggung penuh dengan hal-hal yang ingin mencoba segalanya. Aku rasa titik tolaknya sampai pada hari ini ketika kami memilih jalan masing-masing yang berdasarkan pada pertimbangan yang sudah amat sangat rasional.
Kita sedang memilih jalan masing-masing kawan, iya kan. Masa lalu hanyalah euforia keremajaan kita yang telah tertinggal menjadi kenangan. sebuah masa yang mungkin pada saat itu tidak ada yang terpikir tentang masa yang akan kita lalui sekarang. kebersamaan yang dijalani dengan keceriaan tanpa harus berpikir hidup esok hari seperti apa dan akhirnya waktu jualah yang membawa kita ke masa sekarang yang mana pada masa lalu kita anggap sebagai masa depan.
Kita sedang memilih jalan kan kawan. Engkau mungkin memilih jalan yang masih kau anggap ideal seperti perlawanan kita masa lalu tentang apa saja yang kita anggap salah dan engkau sekarang masih merintis tentang jalan ideal itu.
Aku memilih jalan lain kawan. Menjauh dari kampung halaman dan membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja. pernah kita bertemu di persimpangan jalan jauh dari kota kita namun aku tahu itu sementara kawan. Kita hanya bernostalgia tentang masa lalu sembari tetap menyambung silaturrahim namun sejatinya kita akan tetap menjalani kembali jalan yang telah kita pilih masing-masing.
Engkau masih tetap di kota dulu kawan. merintis sebuah idealisme hidup yang dulu sering kita konsepkan dan aku tahu engkau kuat akan menjalani itu karena kutahu banyak hal yang telah engkau dapat dari hidup. Kepedulianmu terhadap sesama memang membuktikan bahwa engkau tidak akan membiarkan seseorang tersakiti oleh sistem yang kita anggap sebagai musuh bersama (itu dulu kawan).
Aku memilih jalan menyingkir dari bayang-bayang masa lalu. mencoba tegak dengan jalan seperti yang sedang aku pilih dan entah sampai kapan aku akan bertahan dengan kehidupanku. Aku hanya ingin mengumpulkan semua hikmah kehidupan yang telah aku temui di sepanjang setapak yang aku jalani. Mungkin suatu saat nanti kita kembali akan bersua dan menghabiskan waktu kita bercerita panjang tentang kehidupan masing-masing di puncak gunung.
Kita memilih jalan masing-masing kan kawan. aku selalu merindukan percakapan kita tentang idealisme hidup yang masih tersisa di dalam dadaku.
Ingatkah dulu saat kita menertawai semua pegawai kantoran yang harus berkejaran dengan waktu berangkat saat matahari belum terbit dan pulang saat matahari sudah berlalu. Kita menertawakan mereka dengan cara kita. Saat mereka berangkat, ktia memuaskan diri dengan tidur sampai siang. Itulah cara kita menertawakan mereka yang memburu waktu.
Kita sedang memilih jalan kawan. aku terjebak di rutinitas yang dulu kita anggap sebagai hidup yang membosankan. Tapi tak apalah kawan. Hidup memang sering berubah haluan karena setiap masa adalah pergantian paradigma dan mungkin saja karena sesuatu hal yang dulunya kita anggap sebagai sebuah ketidakwajaran akan kita jalani sendiri.
Kita sedang memilih jalan sendiri kawan
Kita sedang memilih jalan kan kawan. Engkau mungkin memilih jalan yang masih kau anggap ideal seperti perlawanan kita masa lalu tentang apa saja yang kita anggap salah dan engkau sekarang masih merintis tentang jalan ideal itu.
Aku memilih jalan lain kawan. Menjauh dari kampung halaman dan membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja. pernah kita bertemu di persimpangan jalan jauh dari kota kita namun aku tahu itu sementara kawan. Kita hanya bernostalgia tentang masa lalu sembari tetap menyambung silaturrahim namun sejatinya kita akan tetap menjalani kembali jalan yang telah kita pilih masing-masing.
Engkau masih tetap di kota dulu kawan. merintis sebuah idealisme hidup yang dulu sering kita konsepkan dan aku tahu engkau kuat akan menjalani itu karena kutahu banyak hal yang telah engkau dapat dari hidup. Kepedulianmu terhadap sesama memang membuktikan bahwa engkau tidak akan membiarkan seseorang tersakiti oleh sistem yang kita anggap sebagai musuh bersama (itu dulu kawan).
Aku memilih jalan menyingkir dari bayang-bayang masa lalu. mencoba tegak dengan jalan seperti yang sedang aku pilih dan entah sampai kapan aku akan bertahan dengan kehidupanku. Aku hanya ingin mengumpulkan semua hikmah kehidupan yang telah aku temui di sepanjang setapak yang aku jalani. Mungkin suatu saat nanti kita kembali akan bersua dan menghabiskan waktu kita bercerita panjang tentang kehidupan masing-masing di puncak gunung.
Kita memilih jalan masing-masing kan kawan. aku selalu merindukan percakapan kita tentang idealisme hidup yang masih tersisa di dalam dadaku.
Ingatkah dulu saat kita menertawai semua pegawai kantoran yang harus berkejaran dengan waktu berangkat saat matahari belum terbit dan pulang saat matahari sudah berlalu. Kita menertawakan mereka dengan cara kita. Saat mereka berangkat, ktia memuaskan diri dengan tidur sampai siang. Itulah cara kita menertawakan mereka yang memburu waktu.
Kita sedang memilih jalan kawan. aku terjebak di rutinitas yang dulu kita anggap sebagai hidup yang membosankan. Tapi tak apalah kawan. Hidup memang sering berubah haluan karena setiap masa adalah pergantian paradigma dan mungkin saja karena sesuatu hal yang dulunya kita anggap sebagai sebuah ketidakwajaran akan kita jalani sendiri.
Kita sedang memilih jalan sendiri kawan
KamarKosRawamangun.030215
No comments:
Post a Comment