![]() |
| BUKU "MERAJUT HARKAT" |
Merajut Harkat : Putu Oka Sukanta
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tebal : 548 halaman
ISBN : 978-979-27-8572-2
Sebenarnya novel ini sudah sebulan yang lalu kubaca. mungkin saja ada beberapa segmen yang sudah terlupa namun karena kerennya novel ini maka aku tidak akan melewatkan untuk menuliskan lagi. Banyak hal yang mewajibkanku untuk menulis pesan yang kudapat dari novel ini.
Sebelumnya aku ingin bercerita jalan takdir sehingga buku ini sampai di tanganku. Liburan natal tahun kemarin, aku dan windi pulang ke madiun. Sekedar untuk melepas penat dari keruwetan denyut kehidupan di ibukota. Dua hari disana, kami jalan-jalan ke Carrefour madiun yang terletak di samping mall Sun City. Saat windi asyik berbelanja bersama Ibunya, aku memilih untuk duduk di bangku depan kasir. Bengong tak tahu harus ngapain, aku melihat disisi lain, novel-novel diobral. iseng aku memilah, tiba-tiba saja mataku melihat novel tersebut. Aku bahkan tidak tahu isinya seperti apa. Hal yang terlintas dipikiranku saat itu adalah lumayan novel tersebut buat koleksi karena lumayan tebal dan harganya cuma 30 ribu. Tanpa babibu, aku bayar novel tersebut. sepulang ke jakarta, hampir seminggu novel tersebut kuanggurin karena kesibukanku kemudian suatu malam aku memulai membacanya dan ternyata tentang sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata tahanan Politik semasa Orde Baru.
Sejarah perpolitikan Indonesia di saat Orde Baru meninggalkan begitu banyak cerita sedih tentang kemanusian. bermula dari cerita Gerakan 30 S 1965. Titik balik perpolitikan terjadi pada saat itu. Pihak Orde baru yang tampil layaknya Pahlawan dan menjadikan komunis sebagai pesakitan bahkan terhdapa orang yang baru diindikasi sebagai pengikut komunis harus membayar dengan nyawa. Sejarah memang selalu menemukan kebenarannya dari siapa saja yang berkuasa.
Novel ini mengangkat cerita tentang tokoh Hawa. seorang guru yang diindikasikan ikut paham Komunis. Stigma tersebut membuatnya harus berada dalam kecemasan. bersama kekasihnya Nio, mereka menjalani hari-hari dalam kekalutan hingga pada akhirnya, hawa ditangkap dan dipenjara.
Konflik di novel ini bermula ketika Hawa masuk penjara hanya karena tuduhan bahwa dia berafiliasi dengan paham komunis. setelah di penjara tanpa tuduhan dan tanpa proses hukum yang jelas, Hawa melewati masa-masa di penjara dengan amat sangat menyedihkan bahkan jauh dari penjara yang memanusiakan. Mereka harus berada di dalam penjara seperti barang yang ditumpuk bahkan perlakuan yang tidak manusiawi sering diterima dari sipir ataupun tentara yang berjaga.
Konflik yang lain adalah tentang penghianatan diantara mereka.penjara TAPOL pada masa Orde Baru benar-benar menguji kesetiakawanan seorang tahanan dan juga bagaimana mereka tetap konsisten memeluk prinsip yang mereka yakini tanpa harus mengeliminasi kepentingan perut. Hawa benar-benar menjadi gambaran tahanan yang mampu menjaga semua itu. ketika Tahanan lain enggan membagi makanan yang dikirimkan oleh keluarganya karena takut kelaparan, Hawa malah sebaliknya, ketika ada kiriman makanan dari sang pacar (Nio), maka Hawa tidak sungkan untuk membagi ke semua Tahanan. Hawa benar-benar mampu menjaga kepala dari godaan perut yang lapar. dia mampu tetap menempatkan kepalanya di atas perutnya.
Pembelajaran tetap kesetiaan kawan benar-benar teruji di masa seperti itu. Aku bahkan membayangkan begitu dangkalnya arti seorang kawan di masa seperti ini. Bagaimana seorang Abraham Samad yang malah dijerumuskan oleh kawannya sendiri si Zainal Tahir tentang pengakuan foto AS yang sedang memeluk seorang wanita di hotel. entah apa sekarang makna seorang kawan di mata mereka, bahkan dalam ajaran agama yang sampai saat ini kuyakini bahwa kita diwajibkan untuk menutupi aib seorang saudara.
Potret tentang perkawanan pun sedang disajikan dihadapanku. Tentang kawan di kantorku yang saling mencurigai. Ah entahlah, kita memang bukan orang-orang hebat yang mampu menjaga martabat kawan bahkan kita memilih untuk menjadi kawan yang munafik
09-02-15
Sejarah perpolitikan Indonesia di saat Orde Baru meninggalkan begitu banyak cerita sedih tentang kemanusian. bermula dari cerita Gerakan 30 S 1965. Titik balik perpolitikan terjadi pada saat itu. Pihak Orde baru yang tampil layaknya Pahlawan dan menjadikan komunis sebagai pesakitan bahkan terhdapa orang yang baru diindikasi sebagai pengikut komunis harus membayar dengan nyawa. Sejarah memang selalu menemukan kebenarannya dari siapa saja yang berkuasa.
Novel ini mengangkat cerita tentang tokoh Hawa. seorang guru yang diindikasikan ikut paham Komunis. Stigma tersebut membuatnya harus berada dalam kecemasan. bersama kekasihnya Nio, mereka menjalani hari-hari dalam kekalutan hingga pada akhirnya, hawa ditangkap dan dipenjara.
Konflik di novel ini bermula ketika Hawa masuk penjara hanya karena tuduhan bahwa dia berafiliasi dengan paham komunis. setelah di penjara tanpa tuduhan dan tanpa proses hukum yang jelas, Hawa melewati masa-masa di penjara dengan amat sangat menyedihkan bahkan jauh dari penjara yang memanusiakan. Mereka harus berada di dalam penjara seperti barang yang ditumpuk bahkan perlakuan yang tidak manusiawi sering diterima dari sipir ataupun tentara yang berjaga.
Konflik yang lain adalah tentang penghianatan diantara mereka.penjara TAPOL pada masa Orde Baru benar-benar menguji kesetiakawanan seorang tahanan dan juga bagaimana mereka tetap konsisten memeluk prinsip yang mereka yakini tanpa harus mengeliminasi kepentingan perut. Hawa benar-benar menjadi gambaran tahanan yang mampu menjaga semua itu. ketika Tahanan lain enggan membagi makanan yang dikirimkan oleh keluarganya karena takut kelaparan, Hawa malah sebaliknya, ketika ada kiriman makanan dari sang pacar (Nio), maka Hawa tidak sungkan untuk membagi ke semua Tahanan. Hawa benar-benar mampu menjaga kepala dari godaan perut yang lapar. dia mampu tetap menempatkan kepalanya di atas perutnya.
Pembelajaran tetap kesetiaan kawan benar-benar teruji di masa seperti itu. Aku bahkan membayangkan begitu dangkalnya arti seorang kawan di masa seperti ini. Bagaimana seorang Abraham Samad yang malah dijerumuskan oleh kawannya sendiri si Zainal Tahir tentang pengakuan foto AS yang sedang memeluk seorang wanita di hotel. entah apa sekarang makna seorang kawan di mata mereka, bahkan dalam ajaran agama yang sampai saat ini kuyakini bahwa kita diwajibkan untuk menutupi aib seorang saudara.
Potret tentang perkawanan pun sedang disajikan dihadapanku. Tentang kawan di kantorku yang saling mencurigai. Ah entahlah, kita memang bukan orang-orang hebat yang mampu menjaga martabat kawan bahkan kita memilih untuk menjadi kawan yang munafik
09-02-15

No comments:
Post a Comment