Mungkin di kota ini aku menjumpai begitu banyak cerita yang sebelumnya sama sekali tidak terpikir olehku. Seperti mimpi saja saat mendengar orang yang begitu gampangnya menghakimi orang lain, tentang maling yang ketangkap basah di samping kantorku, tentang teman kantor yang selalu berkonflik dan tentang apa saja yang mungkin akan memberikan kita pelajaran tentang hidup.
Ritme kehidupan yang begitu cepat dan tuntutan yang semakin melambung tidak membiarkan sedikit pun manusia di sini untuk bernafas dan berhenti sejenak melepas penat. saling sikut dan saling lomba dalam hal apa saja. tidak mengherankan ketika arus manusia dalam keruwetan kota ini sering menimbulkan berbagai macam konflik horizontal bahkan tentang hal sekecil apapun.
Sangat mudah untuk menemui orang yang dengan begitu mudahnya meluapkan emosi. orang-orang sepertinya tidak lagi memiliki sedikit kesabaran untuk memaafkan orang lain. cobalah untuk naik bis, busway ataupun angkot, semua orang tidak ada sedikitpun yang melempar senyum. mereka hening dalam keheningan yang artifisial atau bahkan parah lagi yang sibuk dengan hp nya sampai di tempat tujuan. cobalah untuk naik lift bersama kerumunan orang, tidak akan ada saling tegur, bahkan yang ada menunduk sambil hening seperti memikirkan sesuatu yang sangat pelik bahkan menurutku di kota ini, senyuman begitu mahal harganya.
Cobalah untuk memutari kota ini dan mencari alamat. Saat kesasar dan kesulitan menemukan alamat maka coba untuk bertanya ke tukang ojek atau siapa pun yang engkau temui. Aku yakin engkau akan mendapat banyak diantara mereka yang dengan acuh menjawab atau bahkan dengan wajah malas menjelaskan alamat yang engkau tanyakan meski mungkin mereka tahu alamat tersebut. Di sini aku tidak menggeneralisasikan semua orang di Jakarta ataupun tidak sedang mencoba untuk menghayal karena aku sendiri mengalaminya. pekerjaanku sebagai surveyor kantor membuatku harus melancong ke seantero Jabodetabek mencari alamat. Kerapkali aku bertanya ke orang-orang dan tanggapan yang kuterima seringkali mereka dengan wajah masam menjawab pertanyaanku. aku bahkan berpikir bahwa seandainya bisa dibayar, mungkin bertanya pun kita harus membayar di kota ini. ironi sekaligus menyedihkan.
Bagaimana pun kota ini penuh dengan dinamika kehidupan. Jika ingin mencoba nyali untuk menentukan kadar kesabaran sampai dimana batasnya maka sering-seringlah berkendara di kota ini. Jika mampu menjaga hati tanpa kesal sedikitpun saat sedang di jalanan kota ini maka level kesabaran kita sudah teruji. aku bahkan seringkali kesal, jengkel atau apapun itu ketika berkendara dan ada saja yang membuat hati seakan ingin mengumpat.
Inilah Jakarta dengan seluk beluknya. Bagaimanapun juga bahwa kota ini Insya Allah akan menjadi kota tempat tinggal mungkin sampai tua ataupun mungkin 10 tahun ke depan. aku harus belajar ikhlas dan mencintai kota dengan segala seni kehidupan di dalamnya.
January, 30 2015
No comments:
Post a Comment