Selepas membaca novelnya Brian Khrisna, 23.59, memoriku berjalan mundur 13 tahun silam. Tentang perpisahan tanpa pamit dan tentu sangat menyiksa bahkan menyisakan tanda tanya tak berujung. Cerita yang kemudian terkubur bersama waktu meski masih sering hadir untuk mengingatkan bahwa ada momen yang pernah melukai.
Ini bukan rekaan namun realitas yang menemani perjalananku sejauh ini. Aku masih ingat setiap potongan ceritanya, saat pertama kali kami menyatakan rasa. Setelah itu, beberapa waktu kemudian harus terpisah oleh ruang atas impian yang ingin dikejar.
Mungkin memori paling indah ketika aku membeli seragam baju batik murah di Jogjakarta. Motifnya masih tersimpan rapi di sudut memoriku, didominasi warna putih dengan corak bunga yang berwarna navy. Aku memilih lengan pendek sementara dia kupilihkan batik model gamis.
Baju untuknya kukirim ke kotanya, entah sampai atau tidak namun yang kuingat bahwa itulah terakhir kalinya dia kuhubungi, setelahnya dia menghilang dengan hanya ucapan selamat tinggal melalui pesan SMS. Di siang bolong, dia berlalu kemudian semuanya mesti berakhir.
Aku masih terus menyimpan sedikit harapan dan mencoba menghubunginya namun nihil. Dia seakan berlalu dalam gelap, atau mungkin menganggap bahwa perasaan bisa dipermainkan sesukanya. Satu hal yang pasti, tidak ada alasan jelas kenapa dia lenyap.
Saat itu, aku berusaha menghubunginya namun sia-sia belaka.
Dia tidak pernah lagi memberika respons bahkan sampai saat ini. Dia hadir
memberikan pertanyaan seumur hidupku tentang alasan dia memilih mundur.
Jika dalam novel 23.59, Ami didatangi oleh Raga dalam mimpi
untuk memberikan jawaban yang utuh atas keputusannya pergi, namun aku tidak.
Mimpi yang kutunggu tak kunjung datang dan terkubur bersama waktu.
Cerita fiksi dalam novel adalah realitas dalam hidupku meskipun tidak membuatku merana namun tetap saja ada kekecewaan yang terus membeku.