July 18, 2020

Menyudahi Kebiasaan Buruk

Begitu sulitnya menyudahi kebiasaan buruk atau hal yang sia-sia seperti mengorek kuping dan menyia-nyiakan waktu dengan menonton youtube atau sekedar menghabiskan kuota internet dengan memelototi media sosial. saya tidak mengerti kenapa saya begitu rapuh di depan hal-hal remeh yang sering saya lakukan, namun mungkin ini adalah bukti bahwa kebiasaan yang terulang terus menerus akan menjadi habit yang susah dilepaskan dari hidup. 

Saya menyadari bahwa begitu banyak pekerjaan yang menunggu saya dan harus segera saya tuntaskan namun saya selalu terjatuh dalam absurditas yang melenakan. setiap kali ingin melakukan sesuatu, saya mengkompromikan diriku untuk sekedar membuka media sosial atau sekedar menonton youtube dengan alasan hanya beberapa menit namun sekian menit berlalu, saya sudah menyadari bahwa berjam-jam waktu sudah terbuang dalam kesia-siaan.

Rak buku saya dipenuhi dengan buku-buku yang saya beli untuk menambah kapasitas keilmuan saya sebagai salah seorang Mahasiswa namun selalu tidak berhasil saya tuntaskan. beberapa buku yang seharusnya sudah saya baca, masih tersusun rapi di rak sedangkan waktu terus berlari dan tugas akhir kuliah sudah menanti. sampai pada akhirnya nanti, saya baru menyadari bahwa saya menjebak diri saya sendiri dalam sebuah pemenuhan nafsu kepalsuan. memandangi media sosial dan berangan-angan yang tinggi tanpa melakukan tindakan nyata, setelah itu kosong.

Oh Tuhan. semoga saya bisa mengalahkan diri sendiri yang selalu ingin membuka youtube ketika berniat membaca buku atau keinginan memandangi sosial media ketika akan beranjak mengerjakan tugas. jika pada tahapan ini saya bisa menang maka saya yakin langkah-langkah selanjutnya akan semakin ringan.

July 17, 2020

Jangan Sok Tahu

Catatan ini saya sadur dari kajian ust. Fahruddin Faiz bahwa menjadi manusia itu jangan sok tahu. Jika tidak mengerti akan sesuatu maka katakan saya tidak tahu. Semua pesan yang menohok saya karena harus diakui bahwa saya dan mungkin banyak orang, selalu tidak ingin dikatakan tidak tahu jika ditanya sesuatu dan terkadang kita berusaha menjawab apa yang sebenarnya tidak diketahui sehingga kita jatuh dalam istilah yang sering disebut "sok tahu." 

Ust Fahruddin Faiz menuturkan kisah tentang Buya Hamka yang mengangkat sebuah cerita tentang Imam Malik bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 20 masalah yang butuh penyelesaian secara ijtihad. 

Masalah yang dapat dijawab oleh Imam Malik cuma 3 masalah dan yang 17 masalah dijawab oleh Beliau bahwa "saya belum tahu." Meskipun demikian, orang tetap memandang Imam Malik sebagai Mujtahid. Jadi diantara integritas seorang ulama, seorang Ilmuwan itu adalah kejujuran. 

Meskipun Mujtahid, meskipun ulama besar kalau mereka tidak tahu pasti bilang tidak tahu, jangan ngarang. Tidak perlu khawatir, jika memang tidak tahu maka jawablah bahwa saya tidak tahu. Masyarakat tidak akan hilang penghormatannya justru semakin mulia karena orang tahu kita jujur. Kita tidak akan kehilangan integritas dengan kejujuran. Ulama zaman dulu sangat tawaddu. Bicara apa saja diakhiri "wallahu alam bissawab." 

Itu pelaran Imam Malik yang dikutip oleh Buya Hamka.

Kisah tersebut di atas sangat relevan dengan kondisi sekarang khususnya diri saya sendiri. Seberapa sering saya ketika ditanya, selalu berusaha untuk menjawab bahkan ketika saya sendiri sama sekali tidak yakin bahwa masalah tersebut saya pahami. Ada rasa dalam diri semacam keinginan dianggap tahu segalanya yang sebenarnya hal tersebut adalah jebakan. 

Mungkin perasaan ini pula yang membuat saya terkadang tidak konsentrasi dalam mempelajari sebuah ilmu karena dorongan ingin menunjukkan bahwa saya tahu sebuah masalah. 

Apatahlagi saat ini saya sedang kuliah, tentunya rasa ingin dianggap pintar terlalu kuat dari dalam diri sehingga jika tidak bisa mengalahkan diri atas perasaan tersebut maka ketika saya belajar tentang suatu hal, maka yang muncul pertama dalam diri bahwa saya bisa menjawab ketika ditanya dosen kemudian orang lain menganggap saya pintar. Sebuah perasaan konyol yang harusnya saya eliminasi dari dalam diri saya sebagai seorang Pelajar. 

Tentunya, untuk menepis hal-hal semacam itu, langkah pertama adalah berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Ketika disuruh menanggapi, maka tanggapilah hal-hal yang memang dipahami. jangan menanggapi hal yang orang lain tidak menginginkannya.

begitulah kira-kira untuk belajar menjadi tidak sok tahu.

July 16, 2020

Relasi

Ada sebuah pola relasi yang saya pelajari selama ini. sebuah relasi sosial yang menurut saya seharusnya bisa saya terapkan dalam kehidupan untuk menjalani hidup lebih ringan dan tidak terbebani oleh pikiran-pikiran yang memberatkan. sebuah relasi pertemanan yang tidak sehat harus ditinggalkan dan dibiarkan menguap untuk membuat hati tetap terjaga. 

Jadi begini, di masa kuliah beberapa tahun yang lalu, saya mempunyai beberapa teman yang menurut saya sekedar teman namun diantara beberapa teman saya tersebut, adalah salah seorang teman yang menurut saya tidak terlalu suka berteman dengan saya. bukan tanpa alasan, karena di beberapa momen, dia tidak pernah menanggapi saya bahkan sekeras apapun saya mencoba untuk berinteraksi dengannya, dia tidak bergeming bahkan 2 tahun setelah kami tamat dan bertemu lagi di sebuah tempat, perlakuannya terhadap saya masih tetap saya. setiap kali saya mencoba untuk membuka percakapan, sama sekali tidak ada reaksi. akhirnya sejak saat itu, saya memutuskan untuk memilih tidak mencoba mengakrabinya dan sampai sekarang, hampir 8 tahun kami tidak bertemu, saya merasa tidak pernah bisa membuatnya merasa nyaman berbicara dengan saya. hingga akhirnya saya sudah melupakan relasi pertemanan seperti itu. 

Entah sejak kapan, setiap kali saya bertemu dan berinteraksi dengan seseorang yang memiliki pola yang sama, saya sudah mulai terbiasa untuk tidak memikirkan terlalu jauh dan bahkan menganggap hal tersebut lumrah. jika ada orang yang nampaknya tidak nyaman beriteraksi dengan saya maka saya tidak pernah lagi berusaha untuk mengakrabinya bahkan sebaliknya, saya memilih untuk tidak memikirkannya. saya selalu berpikir bahwa ada suatu masa ketika kita akan lepas dari interaksi semacam itu. 

Dulu, saya mungkin seorang yang sangat perasa dan jika ada orang yang nampaknya tidak menyukai kehadiran saya, hal yang pertama muncul dalam pikiran saya bahwa apa yang salah dalam diri saya padahal menurut saya bahwa dalam pola interaksi sosial, adalah hal yang lazim ketika seseorang tidak suka berinteraksi dengan salah satu orang karena berbagai alasan dan hal tersebut seharusnya tidak menjadi sebuah masalah besar karena masih banyak orang lain yang mau berinteraksi secara karib dengan kita. 

Begitulah kira-kira apa yang saya pelajari dari pola interaksi selama ini dan nampaknya saya tidak harus menjadi orang yang disukai oleh semua orang yang berinteraksi dengan saya karena pasti ada orang mengenal saya tidak suka terhadap saya dengan berbagai alasan yang tidak perlu saya ketahui

July 15, 2020

Penjual Mainan

Cerita ini dituturkan oleh mertua saya tadi malam. sebuah cerita tentang kejadian yang menurut saya begitu sangat ironi dan menyedihkan. kerasnya hidup di Jakarta benar-benar membuat banyak orang kehilanga arah dan welas kasih, bahkan bukan hanya untuk yang berbeda kelas namun bahkan dengan sesama kelas bawah, mereka saling menikam yang seharusnya saling menggenggam tangan untuk menguatkan hidup.

Cerita ini persis terjadi di samping kami dan tepat diperlihatkan di hadapan. ada seorang penjual mainan yang sering lewat di sekitar gang tempat kami tinggal. dia menjual berbagai aneka mainan murahan. penjual semacam itu sangat mudah dijumpai di ibu kota. berbekal gerobang yang dipenuhi dengan mainan dan benda-benda sederhana yang terkadang tidak dijual di swalayan. sangat mudah mengidentifikasi ketika penjual tersebut lewat karena dia membunyikan suara yang khas. setiap kali dia lewat, anak saya sudah hapal dan selalu merengek minta dibelikan mainan. menurut saya tidak jadi soal karena toh mainan yang dia jual bukan mainan mahal bahkan ada yang cuma harga dua ribu.

Kemarin saat dia lewat, mertua dan anak saya menghampirinya. seperti biasa membeli mainan yang tidak terlalu mahal, sekitar lima ribu. setelah melakukan transaksi, kemudian si penjual curhat tentang kejadian tidak mengenakkan yang dia alami. dia dimarahi oleh tetangga kami jika berjualan lagi di sekitar gang tempat tinggal kami karena cucu si tetangga kami selalu menangis minta dibelikan mainan. si penjual bercerita dengn lirih sambil mengatakan bahwa saya kan cuma menjual.

Mendengar cerita tersebut yang diceritakan kembali mertua saya, lumayan agak sedih. hidup begitu kerasnya di Ibu kota sampai harus melarang seseorang menjual untuk mencari nafkah. si tetangga kami seharusnya punya kedaulatan untuk memberitahu cucunya bahwa jangan terlalu sering membeli mainan ataupun jika mau, dia membelikan yang harga dua ribu sekedar membantu penjual mainan tersebut. namun apa daya, si tetangga kami yang seorang bapak paruh baya, memilih melakukan tindakan yang menurutku mendegradasi hubungan antar sesama. dia memarahi penjual mainan lewat di sekitaran rumahnya. 

Saya bukan orang yang bermoral-moral amat namun menurut pandangan saya bahwa dengan terang-terangan melarang orang lain berjualan untuk mencari nafkah keluarganya adalah sebuah tindakan yang amoral. seharusnya para penjual keliling seperti itu diapresiasi karena mau berusaha keras mencari nafkah dengan jalan yang benar apatahlagi saya perkirakan bahwa untungnya tidak terlalu besar. bayangkan jika mainan yang hanya seharga tiga ribu, berapa selisih untung yang dia ambil. jauh lebih banyak penghasilan para tukang parkir yang setiap motor harus membayar dua ribu tanpa ada modal selain modal kursi untuk duduk di parkiran dan modal rompi orange.

Satu hal yang paling menyedihkan saya adalah si bapak tetangga kami yang memarahi penjual pun bukan orang terlalu kaya bahkan mungkin hampir sederajat secara ekonomi dengan mayoritas penduduk yang tinggal di gang kami. jika rasa kasih pun tidak dimiliki, lalu apa yang harus ditawarkan dan dibanggakan.

Entahlah, mungkin hidup memang harus seperti ini untuk mengajarkan kita mana yang harus diikuti dan mana yang sebaiknya dicampakkan di tempat sampah. 

July 14, 2020

Status Sosial dan Fenomena Sepeda

Di masa saya bocah, sepeda adalah kemewahan tersendiri namun meskipun saya sadari bahwa zaman di kampung saya saat itu, sepeda adalah strata terbawah dalam kepemilikan kendaraan dalam masyarakat, namun memiliki sepeda sudah menjadi kemewahan tersendiri bagi saya yang terlahir dengan saudara enam orang dan dari orang tua yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuh primer dan sekunder sedangkan kebutuhan tersier jarang dimasukkan dalam list kebutuhan.

Saya ingat keluarga kami pernah memiliki speda merek BMX tapi seingat saya bahwa sepeda itu tidak dibelikan oleh orang tua namun diberikan secara percuma oleh saudara lain. Saya dan kakak saya yang beda umur 2 tahun dengan saya yang sering menggunakan sepeda tersebut. paling sering digunakan untuk mengantar beras yang akan digiling dan dibikin kue oleh ibu saya. jadi intinya bahwa sepeda saya tersebut bukan untuk bersenang-senang namun difungsikan untuk alat bekerja.

Beberapa tahun kemudian, Sepeda dikomodifikasi oleh para Pengusaha menjadi trend kalangan atas. meskipun trend sepeda sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya namun mencapai puncaknya ketika wabah Covid-19 menyerang. fenomena bersepeda menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat urban untuk meningkatkan imun dari serangan virus, namun yang terlihat di mata saya bukan tujuan berolahraganya tetapi bagaimana para Perusahaan sepeda berhasil mengkontruksi paradigma masyarakat untuk beralih ke gaya hidup sepeda alhasil, Perusahaan sepeda mendapat keuntungan yang tak terkira.

melihat fenomena sepeda yang semakin menjamur di masa pandemi saat ini, saya menyadari bahwa status sepeda tidak lagi berada pada strata paling bawah bahkan ada sepeda yang lebih mahal dari 1 unit mobil Agya maupun Ayla. untuk ukuran sepeda yang umum, butuh duit dengan digit jutaan untuk bisa membeli sepeda di saat sekarang. salah seorang teman kantor saya beberapa hari lalu menjual sepedanya seharga 8 jutaan yang sebelumnya dia membeli sepeda tersebut sebelum booming sekitar 4 jutaan. 

Kemudian apa yang harus dipelajari dari fenomena seperti ini? bahwasanya masyarakat begitu mudahnya digiring dalam sebuah trend yang biasanya diinisiasi oleh para Pengusaha besar dengan menggandalkan media-media untuk mempromosikan sesuatu dengan tampilan yang berbeda dengan hakekatnya, misalnya bersepada ditampilkan sebagai usaha untuk menjaga tubuh tetap kuat dan sehat meski pada akhirnya bahwa mereka tetap berusaha mengeruk keuntungan yang besar dari trend yang sedang menjamur. toh selain bersepada, banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat badan tetap berkeringat. 

Saya tidak sedang mendegradasi orang-orang yang memang hobi bersepeda namun lebih pada beberapa kalangan yang pada akhirnya mengeluarkan dana yang begitu besar hanya untuk menjadi terlihat keren dengan bersepeda.

July 13, 2020

Kuliah Online

Wabah Covid-19 sungguh menerjang sebuah sisi kehidupan manusia tanpa tersisa satu pun. tidak ada ruang yang disisakan dari dampak virus ini. salah satu bidang kehidupan yang terdampak adalah bidang pendidikan. pola interaksi pendidikan yang selama ini dilakukan dalam ruang-ruang kelas akhirnya harus dialihkan menjadi kuliah online. sebuah sistem perkuliahan yang sejak beberapa tahun sebelumnya sudah diterapkan oleh Universitas Terbuka (UT). Kebijakan tersebut ditempuh sebagai salah satu cara untuk menghambat penyebaran virus yang semakin massif. 

Di awal-awal pandemi Covid-19, semua pelajar dari berbagai tingkatan mafhum akan kebijakan tersebut karena menyadari betapa berbahayanya jika membiarkan virus ini menyebar secara luas. masalah kemudian muncul setelah berjalan empat bulan, sikap kritis Pelajar khususnya Mahasiswa mulai mengemuka dengan menganalisa bahwa kuliah online menyisakan berbagai hal yang harus dikritisi. bukan kebijakan kuliah online yang masih berlangsung namun lebih pada apa yang harus dikeluarkan oleh anak didik dan feedback yang didapatkan dari pihak kampus. 

Beberapa Mahasiswa di berbagai kampus kemudian melancarkan aksi menyuarkan pendapat. mereka menuntut pihak kampus memotong biaya SPP dengan berbagai alasan, misalnya ekonomi yang sedang hancur, biaya kampus yang efisien dari sisi pendanaan operasional karena ruang-ruang kelas tidak difungsikan, dan berbagai alasan-alasan lain yang sangat rasional.

Namun apa respon dari pihak kampus?

Salah satu kampus di Jakarta Selatan bahkan melakukan tindakan represif terhadap Mahasiswanya yang melakukan aksi menyalurkan pendapat. beberapa diantaranya diskors bahkan yang lebih parah, ada sebagian yang di DO. sebuah tindakan kampus yang menandakan bahwa mereka tidak menghargai apa yang disebut penyaluran pendapat, lagian alasan-alasan Mahasiswa tersebut sangat rasional dan pantas untuk dipertimbangkan. 

Di kampus saya sendiri yang berada di bilangan Gatot Subroto, saya belum mendengar kabar jika ada aksi serupa menuntu pihak kampus untuk menurunkan biaya SPP namun satu hal yang saya tahu bahwa salah satu kawan saya yang sudah tidak aktif bekerja sejak Pandemi ini, mengajukan keringanan biaya SPP ke pihak kampus dan pengajuannya tersebut diakseptasi oleh pihak kampus dengan menghapuskan biaya SPP selama tiga kali cicilan. angka yang lumayan signifikan untuk kondisi sekarang ini. 

Saya sendiri berpendapat bahwa Pemerintah dalam hal ini seharusnya mempertimbangkan suara-suara sumbang dari Mahasiswa untuk memangkas biaya SPP karena secara rasional, pengeluaran Kampus untuk biaya operasional, menjadi sangat efisien di masa pandemi karena tidak ada pertemuan di kelas sehingga otomatis, biaya listrik berkurang, tidak ada penggunaan AC dan berbagai fasilitas lainnya di kampus yang hanya digunakan ketika ada interaksi di kelas. 

Hal lain yang tersisa dari kuliah online adalah metodenya yang sangat tidak efektif menurutku. jangankan para Mahasiswa, para tenaga pengajar pun banyak yang belum siap dengan metode kuliah online. presentasi seadanya, menanyakan apakah ada tanggapan kemudian mengakhiri kuliah dengan tugas. metode yang mungkin akan mereduksi banyak hal.

Hal yang terpenting adalah ada sesuatu yang tidak bisa tergantikan dari interaksi langsung di kelas. manusia adalah makhluk sosial yang tidak hanya puas beriteraksi via benda-benda teknologi namun mereka akan memenuhi hasratnya sebagai makhluk sosial ketika saling bertatapan, saling bersalaman dan beriteraksi secara langsung.

July 12, 2020

Tulus

Saya random menonton youtube di setiap waktu senggang yang saya punya. saya sadari bahwa kebiasaan tersebut tidak berdampak baik terhadap peningkatan kapasitas diri saya. alih-alih belajar untuk mengisi masa senggang, saya malah asik menonton youtube dan menghabiskan bergiga-giga paket data saya.

Di sela-sela menonton youtube, saya mendapati sedikit pelajaran yang menurut pengamatan saya sesuai dengan apa yang saya lihat. jadi salah seorang publik figur diwawancarai kisah hidupnya yang berasal dari 0. dia seorang tukang bersih jalanan kemudian pindah menjadi OB di sebuah kantor media dan jalan hidup membawanya menjadi publik figur. dari kisahnya tersebut, dia menceritakan bagaimana dia tulus menjalani semua pekerjaan yang mungkin sebagian masyarakat menganggap bahwa pekerjaan tersebut untuk kaum proletar. ketulusan lah yang memperkuat takdirnya menggapai hal-hal baik yang sekarang berada di tangannya. ketulusan yang dapat diartikan juga sebagai keikhlasan dalam menjalani hidup seringkali mempertemukan kita dengan hal-hal baik. ketulusan dalam hal ini bahwa menjalani profesi dengan hati yang senang tanpa berkeluh kesah.

Saya pribadi sedang dalam masa yang bisa dianggap demotivasi. saya terlalu sering mengeluh tentang pekerjaan saya sekarang padahal di awal-awal bekerja, saya mampu mengatasinya dengan mengatakan bahwa ini pilihan sadar saya dan saya sendiri yang memilih untuk mendaftar kemudian memutuskan bekerja di sini, lalu kenapa kemudian saya harus menghabiskan energi saya dengan berkeluh kesah tak berujung. Sampai kapan saya harus mengeluhkan apa yang saya pilih sebagai sebuah pilihan sadar. 

Saya sedang berusaha untuk mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab ini semua. mungkinkah perasaan pride terhadap diri yang terlalu tinggi atau mungkin juga keinginan-keinginan yang tidak tercapai sehingga begitu sulitnya berdamai dengan diri dalam masa seperti ini. bahkan jika terlepas dari lingkaran pekerjaan ini dengan perasaan insecure pun berarti saya telah gagal dalam satu momen hidup. seharusnya ketika berpisah dari satu potongan hidup seharusnya dengan hati yang senang bukan semacam pelarian karena tidak mampu berdamai dengan apa yang sedang dihadapi.

benar-benar hidup yang membingungkan.

July 11, 2020

Wabah Covid-19

wabah virus ini yang tak kunjung berakhir membuat sebagian orang frustrasi bahkan saya sendiri dalam beberapa momen bersikap pesimis dan frustrasi. bayangan akan rencana-rencana ke depan seakan tiba-tiba buram tak berbentuk apatahlagi tidak ada yang bisa memprediksi kapan wabah ini berakhir. sebuah kondisi di mana semua orang tidak mampu berjalan dengan keinginan mereka sendiri.

Saya teringat kembali ajaran agama saya bahwa di masa ketika dunia sebentar lagi akan musnah, akan banyak fenomena yang membuat manusia tidak mengenal dirinya dan bingung mau mengikut yang mana. semua manusia menjadi sangat bingung tentang apa yang terjadi, mana yang benar dan harus bersikap seperti apa.

Saya tidak sedang berpendapat bahwa fenomena sekarang adalah tanda kiamat namun setidaknya bahwa gambaran bagaimana manusia-manusia yang tidak mengenal dirinya akan menjadi bimbang dan bingung apa yang harus dilakukan. manusia yang tujuannya berhenti pada hal-hal material akan sangat frustrasi karena semua nampak tidak jelas saat ini.

11 Juli 2020

July 10, 2020

Hidup di Jakarta

Entah beberapa tahun yang lalu, sebagai seorang bocah yang belum mengerti apa-apa secara hakekat dan menilai sesuatu yang kasat mata, saya pernah memimpikan hidup di Jakarta atau minimal di kota besar. sebuah impian yang nampaknya menghantui mayoritas bocah di kampung karena pengaruh TV yang sangat kuat. kemewahan-kemewahan yang ditampilkan di media menjerumuskan sebagian dari pemuda desa untuk rela berpindah ke kota dengan apa yang disebut sebagai kehidupan yang layak, meski pada akhirnya saat sudah tiba di kota, mereka dan termasuk saya, menyadari bahwa kehidupan kota bukanlah sebuah surga yang selalu ditampilkan di TV namun tidak lebih dari sebuah zona antah berantah yang buas. 

Saya tidak sedang menjustifikasi bahwa kehidupan di kota khususnya di Jakarta adalah sebuah dosa namun saya hanya merefleksikan apa yang saya rasakan selama sekian tahun menetap di ibu kota. 

Di kota ini, segala macam tersaji di depan hidung kita. tidak ada yang luput satu pun. di sini malaikat bertebaran di mana-mana namun juga setan-setan mengisi setiap ruang kosong. jika ingin menjadi orang yang sabar maka cobalah hidup di Jakarta dan sekalipun jangan mengeluh atas semua hal yang tidak disukai di kota ini. seseorang yang ingin mencoba menguji kesyukurannya maka datanglah di kota ini dan rasakan sendiri seperti apa seharusnya kita bersyukur. 

Orang yang ingin menghabiskan hidupnya dengan tenang, di pagi hari bisa menikmati udara segar sambil bercengkerama dengan alam, di siang hari beristirahat dengan tenang dan di sore hari merasakan desiran angin yang sepoi-sepoi dengan sinar matahari yang akan terbenam dengan sedikit polusi maka saya sarankan untuk tidak mencoba-coba ke Jakarta karena kondisi tersebut tidak bakalan ada di kota ini. 

Kota ini adalah arena bertarung. bertarung dengan diri dan saling mengalahkan segala nafsu yang meronta melihat dinamika kehidupan kota ini. nafsu ingin mewah dengan tawaran kemewahan setiap detik di setiap kedipan mata, nafsu seksual dengan makhluk-makhluk yang dipermak tanpa noda sedikit pun baik yang jantan maupun yang betina dan nafsu apapun dengan godaan yang begitu besar. 

Pada akhirnya, saya kemudian menghel nafas panjang. menyadari bahwa semesta telah menakdirkan saya di kota ini dengan kehidupan yang ironi. saya harus ke kantor pagi hari kemudian pulang ke rumah menjelang maghrib. sabtu dan minggu dihabiskan dengan tidur atau sesekali liburan di mall yang memamerkan kemewahan. saat bertemu tetangga, hanya saling senyum dan jarang bercerita. hakekat kemanusiaan sepertinya sudah tercerabut satu persatu. 

Ingatan saya kembali ke masa lalu di kampung. semua hari di kampung saling kenal dan hidup bersama. jika saya tidak punya makanan, saya bisa numpang makan di tetangga, hidup dihabiskan dengan bersenda gurau dan kesepian seakan tidak ada. mungkin benar lirik lagu Dewa, 
"di dalam keramaian aku masih merasa sepi"

Saya menyadari bahwa hidup saya telah berubah, menjadi sangat ironi. saya menangis namun tidak meneteskan air mata. jiwaku gersang. 

Apakah hidup seperti ini yang kucari? 

entahlah...!!!


10 Juli 2020

July 9, 2020

Buku Bekas

Membeli buku adalah salah satu kegemaranku meskipun saya sadari bahwa dari sekian buku yang saya beli, beberapa diantara hanya terdampar rapi di rak buku dalam waktu lama dan biasanya saya baca ketika pikiran sedang tenang. 

Kebiasaan membeli buku saat ini menjadi menjadi sebuah ajang balas dendam terhadap masa lalu saya di mana ada momen-momen ketika saya menginginkan beberapa buku yang tidak bisa saya beli karena masalah keuangan. ketika saya sudah bisa memperoleh uang sendiri, saya sepertinya ingin menunjukkan pada diriku bahwa sekarnag saya bisa membeli buku apa saja yang saya senangi meskipun saya terkadang menyadari bahwa libido membacaku tidak sekuat dulu. 

Sangat paradoks bukan? ketika dulu saya masih gemar membaca, saya tidak bisa dengan bebasnya membeli buku sehingga terkadang tidak tersalurkan namun saat ini, ketika saya bisa menyisihkan uang untuk membeli buku apa saja, minat membaca saya yang mulai mengalami degradasi yang massif. dunia memang absurd, kata Camus.

Minggu lalu saya membeli buku bekas di kawasan blok M. ini kali pertama saya ke blok M melakukan pencarian buku ketika tiga bulan berdiam diri di rumah karena Covid-19 yang tak kunjung minggat. saya menyenangi belanja di basement Blok M karena selain bukunya murah, terkadang menemukan buku-buku langka, namun tetap harus tekun karena buku-buku tersebut ditumpuk tak beraturan. 

Meskipun buku-buku di blok M murah, tetap aja menyimpan masalah karena mayoritas buku tersebut bajakan dan saya sadar bahwa buku bajakan merupakan pencurian hak cipta namun di sisi lain, buku-buku bajakan tersebut menghidupi banyak pedagang buku. butuh diskusi lebih lanjut tentang masalah ini. hal lain adalah buku asli namun merupakan buku-buku yang illegal karena terkadang merupakan koleksi perpustakaan.

Kemarin saat memilih buku, saya melihat buku agak tipis namun menarik perhatianku karena berkaitan dengan kuliah saya. pada saat penjual menawarkan bukti tersebut kepada saya, sudah terbersit kecurigaan melihat buku tersebut sedikit usang dan ada bekas copotan cap di lipatan bawah buku tersebut. saya tidak sempat membukanya karena adzan ashar sudah berkumandang dan si penjual sudah gelisah ingin segera ke musala. melihat gelagatnya, saya segera membayar buku tersebut.

benar saja, beberapa hari setelah buku tersebut akhirnya saya baca, saya menemukan stempel perpustakaan salah satu kampus swasta di kawasan Lenteng Agung. saya amat yakin bahwa buku tersebut merupakan koleksi kampus namun saya tidak berani menduga bagaimana bisa buku tersebut bisa sampai di lapakan blok M.

Saya belum tahu hukumnya membeli buku yang seperti itu dan apakah ilmunya bisa diserap

9 Juli 2020

July 8, 2020

Makanan

Sudah menjadi kebiasaan di kantor Isteri saya bahwa ketika mereka lembur sampai malam, biasanya akan disiapkan makan malam beserta makanan pelengkap lainnya entah kue, buah-buahan atau apapun. hal yang sama kemarin malam ketika saya menjemput isteri saya. sesaat sebelum naik ke motor, dia memberitahu bahwa ada dua nasi kotak dan kemungkinan yang satu tidak dimakan karena mama sudah makan. biasanya jika seperti itu, kami memberikan ke siapa saja yang kami temui di jalan yang kami anggap layak dan biasanya para orang tua sepuh yang mendorong gerobak.

entah apa yang dipikiran saya saat itu, saya jawab bahwa bawa saja ke rumah dan besok saya mau bawa ke kantor sebagai bekal. biasanya kalau seperti itu, tidak bakalan menjadi rezeki.

Esok hari, makanan tersebut dipanasi di ricecooker beserta lauknya. saya masukkan ke tempat makan sebagai bekal makan siang di kantor. 

Seharian di kantor, ada hidangan cemilan sehingga perut saya tidak terasa lapar sampai siang. akhirnya saya tidak menyentuh makanan tersebut sampai sore. menjelang pulang, saya membuka bekal tersebut karena merasa bersalah jika tidak dimakan meskipun dengan perut yang tidak terlalu lapar. dugaanku benar, nasinya sudah keras dan sudah tidak enak dikonsumsi. akhirnya saya hanya memakan lauknya dan nasinya berakhir di tempat sampah. 

Saya sering mengalami hal-hal seperti itu bahwa dalam berbagai kondisi, jika keinginan yang mendominasi maka hasilnya tidak sesuai harapan. kasus di atas contohnya, saya sudah kenyang namun tetap saja pikiranku ingin memakan makanan yang seharusnya bukan rezekiku. 

8 Juli 2020

July 7, 2020

Meluangkan Waktu untuk Hal yang Diprioritaskan

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah video yang lumayan menarik perhatianku, meski sebenarnya begitu banyak video yang menginsprirasi namun sebatas dalam niatku, video yang menceritakan tentang bagaimana seorang karyawan kantoran yang memiliki tekad untuk mengejar apa yang dia sukai dan menjadi prioritasnya. meskipun masih bekerja sebagai seorang karyawan, dia memutuskan untuk meluangkan waktu 1-2 jam setiap malam sepulang dari kantor untuk mengerjakan hal yang menyenangkan baginya. hal tersebut dijalani dalam rentang waktu yang lama dan tetap menjaga konsistensinya. 

Pada akhirnya, dia sampai pada satu titik di mana apa yang dia senangi dan menjadi prioritasnya sudah bisa dijadikan sumber penghasilan. dia kemudian memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan immerse dirinya dalam bidang tersebut. meskipun pada awalnya, dia masih menyimpan kekhawatiran-kekhawatiran namun tetap dijalani dan menjadi sebuah kesenangan yang juga menghidupinya. sebuah bukti bahwa konsistensi dalam suatu hal menjadi kunci bagi keberhasilan. 

Kenapa video tersebut menarik perhatian saya? 

Satu hal yang pasti bahwa saya dan mungkin sebagian besar karyawan, memiliki sesuatu yang menyenangkan hati dan menjadi prioritas namun tetap bertahan sebagai seorang karyawan karena 1 hal, pertimbangan tentang uang khususnya mereka yang sudah berkeluarga seperti saya. 

Banyak karyawan yang ingin keluar dari rutinitas yang menjemukan untuk menemukan diri mereka namun tidak pernah berhasil karena kekhawatiran tentang kekurangan uang selalu menghantui, sehingga video di atas menjadi inspirasi yang cukup sahih bagaimana keluar dari rutinitas yang sebenarnya tidak menarik perhatian kita namun tetap dijalani karena masalah perut. 

Luangkan waktu sejam dua jam sepulang kantor untuk melalukan apa saja yang menjadi kesenangan kita yang bisa diprioritaskan sebagai karya di masa depan sambil tetap bekerja sebelum benar-benar yakin bahwa hal tersebut sudah bisa menjadi pegangan..

kuncinya ada pada satu kata "konsisten"

7 Juli 2020

July 6, 2020

Kompromi terhadap Idealisme

Di awal menjadi karyawan di kantor sekarang, saya membangun beberapa idealisme mengenai irisan kepentingan kantor dengan kepentingan pribadi. sebuah sikap yang saya mulai cicil sejak dulu dan diperkuat dengan lingkaran pertemanan saya di Makassar yang lumayan idealis untuk hal-hal yang prinsipil. sebenarnya pelajaran-pelajaran yang semacam itu sudah diajarkan oleh orang tua saya sejak kecil namun terkadang atau bahkan seringkali terlupa jika tidak dikuatkan dengan tekad yang bulat. ada banyak faktor yang membuat pelajaran-pelajaran semacam itu luntur, salah duanya adalah lingkungan pertemanan dan kebutuhan hidup. 

Prinsip sederhana yang coba saya bangun adalah tidak mengambil sesuatu yang bukan merupakan hak saya. contoh sederhananya di kantor adalah tidak menggunakan barang-barang kantor untuk kepentingan pribadi dalam bentuk apapun itu, atau tidak menggunakan jam kantor untuk hal-hal yang bukan merupakan pekerjaan kantor. sebenarnya amat sangat sulit untuk batasan-batasan ini karena selalu ada waktu senggang dalam jam kantor meski sering dilakukan pembenaran bahwa terkadang juga ada jam di luar kantor yang digunakan untuk pekerjaan kantor ketika ada pekerjaan-pekerjaan yang mendesak.

Di beberapa kesempatan, saya menjumpai teman kantor yang melakukan sesuatu hal yang menurutku di luar batas idealismeku misalnya print sesuatu yang merupakan kepentingan pribadinya, download vidio untuk anak ataupun untuk dia tonton dan beberapa potongan-potongan tindakan yang menurutku tidak seharusnya. sesuatu yang juga terkadang saya lakukan untuk kesenangan saya. hal sepele yang saya sadari ketika orang lain yang melakukan namun abai ketika saya sendiri yang menjadi pelakunya. mungkin seperti pribahasa klise bahwa gajah di depan mata tidak terlihat namun semut di seberang nampak.

Sebenarnya mungkin hal yang sepele lagian pengandaian-pengandaian seperti itu sering muncul dalam pertanyaan psikotes saat tes kerja namun menurut saya bahwa seringkali kita melupakan hal yang seperti itu.

saya akhirnya beberapa kali kompromi terhadap hal yang di luar batas idealismeku. saya juga sadar bahwa banyak hal yang menurutku tidak seharusnya saya lakukan di kantor namun jebol dengan berbagai pembenaran salah satunya karena sudah jenuh dengan pekerjaan yang sama ditambah lagi dengan pimpinan yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah bahkan hanya melakukan penekanan-penekanan dengan pekerjaan rutinitas dan tidak menempatkan dirinya sebagai bagian dari pekerjaan itu sendiri, akhirnya hanya menjadi rutinitas harian dan tidak pernah ada dialog dalam pengembangan diri. 

Salah satu horor paling menakutkan dalam sebuah pekerjaan rutinitas ketika di dalam pekerjaan itu sudah tidak ada lagi proses pengembangan diri bagi siapa pun. tidak ada dialog atau pun diskusi yang tercipta baik antar atasan dan bawahan maupun sesama jenjang jabatan, yang terjadi hanya instruksi yang satu arah dengan dalih bahwa kita bawahan dan kita harus patuh karena kita digaji sebagai bawahan tanpa mempertimbangankan sisi kemanusiaan yang butuh didengarkan atau ada sisi yang butuh pengembangan diri. 

Ketika hal semacam ini yang terjadi, maka ujungnya adalah demotivasi atau bahkan di level stress paling akut, mengajukan resign. 

Kompromi-kompromi kecil terhadap kehidupan perkantoran mempertimbangkan banyak hal yang butuh penalaran lebih jauh. idealisme adalah sesuatu yang mewah namun terkadang tergadaikan oleh hal-hal yang menjadi pelampiasan seseorang. idealisme tidak berdiri sendiri namun diiringi dengan banyak hal di lingkaran sekitarnya. idealisme yang tertanam kuat tanpa dipengaruhi oleh faktor X adalah idealisme sejatinya sedangkan yang masih terpengaruh oleh variabel-variabel lain adalah idealisme yang masih rapuh,

dan saya masih dalam kategori idealisme yang rapuh.

6 Juli 2020