Di awal menjadi karyawan di kantor sekarang, saya membangun beberapa idealisme mengenai irisan kepentingan kantor dengan kepentingan pribadi. sebuah sikap yang saya mulai cicil sejak dulu dan diperkuat dengan lingkaran pertemanan saya di Makassar yang lumayan idealis untuk hal-hal yang prinsipil. sebenarnya pelajaran-pelajaran yang semacam itu sudah diajarkan oleh orang tua saya sejak kecil namun terkadang atau bahkan seringkali terlupa jika tidak dikuatkan dengan tekad yang bulat. ada banyak faktor yang membuat pelajaran-pelajaran semacam itu luntur, salah duanya adalah lingkungan pertemanan dan kebutuhan hidup.
Prinsip sederhana yang coba saya bangun adalah tidak mengambil sesuatu yang bukan merupakan hak saya. contoh sederhananya di kantor adalah tidak menggunakan barang-barang kantor untuk kepentingan pribadi dalam bentuk apapun itu, atau tidak menggunakan jam kantor untuk hal-hal yang bukan merupakan pekerjaan kantor. sebenarnya amat sangat sulit untuk batasan-batasan ini karena selalu ada waktu senggang dalam jam kantor meski sering dilakukan pembenaran bahwa terkadang juga ada jam di luar kantor yang digunakan untuk pekerjaan kantor ketika ada pekerjaan-pekerjaan yang mendesak.
Di beberapa kesempatan, saya menjumpai teman kantor yang melakukan sesuatu hal yang menurutku di luar batas idealismeku misalnya print sesuatu yang merupakan kepentingan pribadinya, download vidio untuk anak ataupun untuk dia tonton dan beberapa potongan-potongan tindakan yang menurutku tidak seharusnya. sesuatu yang juga terkadang saya lakukan untuk kesenangan saya. hal sepele yang saya sadari ketika orang lain yang melakukan namun abai ketika saya sendiri yang menjadi pelakunya. mungkin seperti pribahasa klise bahwa gajah di depan mata tidak terlihat namun semut di seberang nampak.
Sebenarnya mungkin hal yang sepele lagian pengandaian-pengandaian seperti itu sering muncul dalam pertanyaan psikotes saat tes kerja namun menurut saya bahwa seringkali kita melupakan hal yang seperti itu.
saya akhirnya beberapa kali kompromi terhadap hal yang di luar batas idealismeku. saya juga sadar bahwa banyak hal yang menurutku tidak seharusnya saya lakukan di kantor namun jebol dengan berbagai pembenaran salah satunya karena sudah jenuh dengan pekerjaan yang sama ditambah lagi dengan pimpinan yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah bahkan hanya melakukan penekanan-penekanan dengan pekerjaan rutinitas dan tidak menempatkan dirinya sebagai bagian dari pekerjaan itu sendiri, akhirnya hanya menjadi rutinitas harian dan tidak pernah ada dialog dalam pengembangan diri.
Salah satu horor paling menakutkan dalam sebuah pekerjaan rutinitas ketika di dalam pekerjaan itu sudah tidak ada lagi proses pengembangan diri bagi siapa pun. tidak ada dialog atau pun diskusi yang tercipta baik antar atasan dan bawahan maupun sesama jenjang jabatan, yang terjadi hanya instruksi yang satu arah dengan dalih bahwa kita bawahan dan kita harus patuh karena kita digaji sebagai bawahan tanpa mempertimbangankan sisi kemanusiaan yang butuh didengarkan atau ada sisi yang butuh pengembangan diri.
Ketika hal semacam ini yang terjadi, maka ujungnya adalah demotivasi atau bahkan di level stress paling akut, mengajukan resign.
Kompromi-kompromi kecil terhadap kehidupan perkantoran mempertimbangkan banyak hal yang butuh penalaran lebih jauh. idealisme adalah sesuatu yang mewah namun terkadang tergadaikan oleh hal-hal yang menjadi pelampiasan seseorang. idealisme tidak berdiri sendiri namun diiringi dengan banyak hal di lingkaran sekitarnya. idealisme yang tertanam kuat tanpa dipengaruhi oleh faktor X adalah idealisme sejatinya sedangkan yang masih terpengaruh oleh variabel-variabel lain adalah idealisme yang masih rapuh,
dan saya masih dalam kategori idealisme yang rapuh.
6 Juli 2020
No comments:
Post a Comment