Membeli buku adalah salah satu kegemaranku meskipun saya sadari bahwa dari sekian buku yang saya beli, beberapa diantara hanya terdampar rapi di rak buku dalam waktu lama dan biasanya saya baca ketika pikiran sedang tenang.
Kebiasaan membeli buku saat ini menjadi menjadi sebuah ajang balas dendam terhadap masa lalu saya di mana ada momen-momen ketika saya menginginkan beberapa buku yang tidak bisa saya beli karena masalah keuangan. ketika saya sudah bisa memperoleh uang sendiri, saya sepertinya ingin menunjukkan pada diriku bahwa sekarnag saya bisa membeli buku apa saja yang saya senangi meskipun saya terkadang menyadari bahwa libido membacaku tidak sekuat dulu.
Sangat paradoks bukan? ketika dulu saya masih gemar membaca, saya tidak bisa dengan bebasnya membeli buku sehingga terkadang tidak tersalurkan namun saat ini, ketika saya bisa menyisihkan uang untuk membeli buku apa saja, minat membaca saya yang mulai mengalami degradasi yang massif. dunia memang absurd, kata Camus.
Minggu lalu saya membeli buku bekas di kawasan blok M. ini kali pertama saya ke blok M melakukan pencarian buku ketika tiga bulan berdiam diri di rumah karena Covid-19 yang tak kunjung minggat. saya menyenangi belanja di basement Blok M karena selain bukunya murah, terkadang menemukan buku-buku langka, namun tetap harus tekun karena buku-buku tersebut ditumpuk tak beraturan.
Meskipun buku-buku di blok M murah, tetap aja menyimpan masalah karena mayoritas buku tersebut bajakan dan saya sadar bahwa buku bajakan merupakan pencurian hak cipta namun di sisi lain, buku-buku bajakan tersebut menghidupi banyak pedagang buku. butuh diskusi lebih lanjut tentang masalah ini. hal lain adalah buku asli namun merupakan buku-buku yang illegal karena terkadang merupakan koleksi perpustakaan.
Kemarin saat memilih buku, saya melihat buku agak tipis namun menarik perhatianku karena berkaitan dengan kuliah saya. pada saat penjual menawarkan bukti tersebut kepada saya, sudah terbersit kecurigaan melihat buku tersebut sedikit usang dan ada bekas copotan cap di lipatan bawah buku tersebut. saya tidak sempat membukanya karena adzan ashar sudah berkumandang dan si penjual sudah gelisah ingin segera ke musala. melihat gelagatnya, saya segera membayar buku tersebut.
benar saja, beberapa hari setelah buku tersebut akhirnya saya baca, saya menemukan stempel perpustakaan salah satu kampus swasta di kawasan Lenteng Agung. saya amat yakin bahwa buku tersebut merupakan koleksi kampus namun saya tidak berani menduga bagaimana bisa buku tersebut bisa sampai di lapakan blok M.
Saya belum tahu hukumnya membeli buku yang seperti itu dan apakah ilmunya bisa diserap
9 Juli 2020
No comments:
Post a Comment