Entah beberapa tahun yang lalu, sebagai seorang bocah yang belum mengerti apa-apa secara hakekat dan menilai sesuatu yang kasat mata, saya pernah memimpikan hidup di Jakarta atau minimal di kota besar. sebuah impian yang nampaknya menghantui mayoritas bocah di kampung karena pengaruh TV yang sangat kuat. kemewahan-kemewahan yang ditampilkan di media menjerumuskan sebagian dari pemuda desa untuk rela berpindah ke kota dengan apa yang disebut sebagai kehidupan yang layak, meski pada akhirnya saat sudah tiba di kota, mereka dan termasuk saya, menyadari bahwa kehidupan kota bukanlah sebuah surga yang selalu ditampilkan di TV namun tidak lebih dari sebuah zona antah berantah yang buas.
Saya tidak sedang menjustifikasi bahwa kehidupan di kota khususnya di Jakarta adalah sebuah dosa namun saya hanya merefleksikan apa yang saya rasakan selama sekian tahun menetap di ibu kota.
Di kota ini, segala macam tersaji di depan hidung kita. tidak ada yang luput satu pun. di sini malaikat bertebaran di mana-mana namun juga setan-setan mengisi setiap ruang kosong. jika ingin menjadi orang yang sabar maka cobalah hidup di Jakarta dan sekalipun jangan mengeluh atas semua hal yang tidak disukai di kota ini. seseorang yang ingin mencoba menguji kesyukurannya maka datanglah di kota ini dan rasakan sendiri seperti apa seharusnya kita bersyukur.
Orang yang ingin menghabiskan hidupnya dengan tenang, di pagi hari bisa menikmati udara segar sambil bercengkerama dengan alam, di siang hari beristirahat dengan tenang dan di sore hari merasakan desiran angin yang sepoi-sepoi dengan sinar matahari yang akan terbenam dengan sedikit polusi maka saya sarankan untuk tidak mencoba-coba ke Jakarta karena kondisi tersebut tidak bakalan ada di kota ini.
Kota ini adalah arena bertarung. bertarung dengan diri dan saling mengalahkan segala nafsu yang meronta melihat dinamika kehidupan kota ini. nafsu ingin mewah dengan tawaran kemewahan setiap detik di setiap kedipan mata, nafsu seksual dengan makhluk-makhluk yang dipermak tanpa noda sedikit pun baik yang jantan maupun yang betina dan nafsu apapun dengan godaan yang begitu besar.
Pada akhirnya, saya kemudian menghel nafas panjang. menyadari bahwa semesta telah menakdirkan saya di kota ini dengan kehidupan yang ironi. saya harus ke kantor pagi hari kemudian pulang ke rumah menjelang maghrib. sabtu dan minggu dihabiskan dengan tidur atau sesekali liburan di mall yang memamerkan kemewahan. saat bertemu tetangga, hanya saling senyum dan jarang bercerita. hakekat kemanusiaan sepertinya sudah tercerabut satu persatu.
Ingatan saya kembali ke masa lalu di kampung. semua hari di kampung saling kenal dan hidup bersama. jika saya tidak punya makanan, saya bisa numpang makan di tetangga, hidup dihabiskan dengan bersenda gurau dan kesepian seakan tidak ada. mungkin benar lirik lagu Dewa,
"di dalam keramaian aku masih merasa sepi"
Saya menyadari bahwa hidup saya telah berubah, menjadi sangat ironi. saya menangis namun tidak meneteskan air mata. jiwaku gersang.
Apakah hidup seperti ini yang kucari?
entahlah...!!!
10 Juli 2020
No comments:
Post a Comment