July 15, 2020

Penjual Mainan

Cerita ini dituturkan oleh mertua saya tadi malam. sebuah cerita tentang kejadian yang menurut saya begitu sangat ironi dan menyedihkan. kerasnya hidup di Jakarta benar-benar membuat banyak orang kehilanga arah dan welas kasih, bahkan bukan hanya untuk yang berbeda kelas namun bahkan dengan sesama kelas bawah, mereka saling menikam yang seharusnya saling menggenggam tangan untuk menguatkan hidup.

Cerita ini persis terjadi di samping kami dan tepat diperlihatkan di hadapan. ada seorang penjual mainan yang sering lewat di sekitar gang tempat kami tinggal. dia menjual berbagai aneka mainan murahan. penjual semacam itu sangat mudah dijumpai di ibu kota. berbekal gerobang yang dipenuhi dengan mainan dan benda-benda sederhana yang terkadang tidak dijual di swalayan. sangat mudah mengidentifikasi ketika penjual tersebut lewat karena dia membunyikan suara yang khas. setiap kali dia lewat, anak saya sudah hapal dan selalu merengek minta dibelikan mainan. menurut saya tidak jadi soal karena toh mainan yang dia jual bukan mainan mahal bahkan ada yang cuma harga dua ribu.

Kemarin saat dia lewat, mertua dan anak saya menghampirinya. seperti biasa membeli mainan yang tidak terlalu mahal, sekitar lima ribu. setelah melakukan transaksi, kemudian si penjual curhat tentang kejadian tidak mengenakkan yang dia alami. dia dimarahi oleh tetangga kami jika berjualan lagi di sekitar gang tempat tinggal kami karena cucu si tetangga kami selalu menangis minta dibelikan mainan. si penjual bercerita dengn lirih sambil mengatakan bahwa saya kan cuma menjual.

Mendengar cerita tersebut yang diceritakan kembali mertua saya, lumayan agak sedih. hidup begitu kerasnya di Ibu kota sampai harus melarang seseorang menjual untuk mencari nafkah. si tetangga kami seharusnya punya kedaulatan untuk memberitahu cucunya bahwa jangan terlalu sering membeli mainan ataupun jika mau, dia membelikan yang harga dua ribu sekedar membantu penjual mainan tersebut. namun apa daya, si tetangga kami yang seorang bapak paruh baya, memilih melakukan tindakan yang menurutku mendegradasi hubungan antar sesama. dia memarahi penjual mainan lewat di sekitaran rumahnya. 

Saya bukan orang yang bermoral-moral amat namun menurut pandangan saya bahwa dengan terang-terangan melarang orang lain berjualan untuk mencari nafkah keluarganya adalah sebuah tindakan yang amoral. seharusnya para penjual keliling seperti itu diapresiasi karena mau berusaha keras mencari nafkah dengan jalan yang benar apatahlagi saya perkirakan bahwa untungnya tidak terlalu besar. bayangkan jika mainan yang hanya seharga tiga ribu, berapa selisih untung yang dia ambil. jauh lebih banyak penghasilan para tukang parkir yang setiap motor harus membayar dua ribu tanpa ada modal selain modal kursi untuk duduk di parkiran dan modal rompi orange.

Satu hal yang paling menyedihkan saya adalah si bapak tetangga kami yang memarahi penjual pun bukan orang terlalu kaya bahkan mungkin hampir sederajat secara ekonomi dengan mayoritas penduduk yang tinggal di gang kami. jika rasa kasih pun tidak dimiliki, lalu apa yang harus ditawarkan dan dibanggakan.

Entahlah, mungkin hidup memang harus seperti ini untuk mengajarkan kita mana yang harus diikuti dan mana yang sebaiknya dicampakkan di tempat sampah. 

No comments: