Showing posts with label RenunganJuli. Show all posts
Showing posts with label RenunganJuli. Show all posts

July 31, 2020

Idul Adha 1441 H

Hari raya Qurban kembali datang menjumpai. Sebuah penanda bahwa tepat setahun lamanya saya tidak pulang kampung. Sebuah kenyataan yang ironi karena saya tidak pernah selama ini tidak pulang menengok masa laluku. namun harus bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk memendam rasa rindu. kondisi yang tidak menentu membuat semuanya terhambat, rencana-rencana yang sudah disusun dimentahkan oleh keadaan. Lebaran Idul Adha kali ini harus dijalani di kota perantauan yang meskipun sangat ramai namun tetap saja jiwaku merasa kesepian dan kosong.

Subuh hari tepat di saat semua masjid dekat rumah bersahut-sahutan mengumandangkan takbir, saya sudah terjaga, duduk di kursi depan sambil memperbaiki napas yang belum pulih dari mimpi. takbir bergema yang membuat jiwaku terbang ke beberapa tahun yang lalu di mana perasaan tenang menghinggapi setiap kali suasana lebaran menjelang, namun kali ini sepertinya semua terasa hambar. jiwaku yang terlalu lelah dengan urusan duniawi seakan tidak mampu menemukan ketenangan dalam takbir-takbir yang sedari malam sudah berkumandang.

Setelah selesai menunaikan salat subuh dan mandi. saya memilih pakaian putih yang merupakan baju lebaranku tiga atau empat tahun yang lalu namun masih terlihat baru karena jarang saya gunakan. Saya dan isteri berboncengan ke arah musala untuk menunaikan salat ied. Kami memang memilih untuk salat ied di musala mengingat jamaahnya tidak terlalu padat dan jarak antar jamaah masih diberlakukan sehingga tidak harus berdesak-desakan.

sekitar 15 menit setelah kami tiba di musala tersebut, salat kemudian dimulai dengan terbit. butuh waktu 40 menit di musala tersebut termasuk mendengarkan ceramah. Kami kemudian pulang melewati jalan yang terdapat masjid besar disampingnya. ternyata jalanan tersebut ditutup karena jamaahnya memenuhi jalanan dan ceramah di masjid tersebut belum selesai. terpaksa kami harus menunggu. 

Saat tiba di rumah, suasana lebaran tidak saya jumpai. berbeda halnya di kampung ketika momen lebaran yang penuh dengan makanan dan keluarga yang sedang bercengkerama, namun kali ini, semua itu tidak tersaji di depanku. namun tak apalah, memang situasi kehidupan saya sudah berubah dan tidak seperti saat masih di kampung.

Satu-satunya momen yang membuat suasana lebaran kali ini sedikit terasa adalah tadi saat ikut membantu di pemotongan qurban. bau amis darah qurban dan daging segar membangunkan jiwa saya bahwa benar kali ini adalah lebaran idul Adha. setelah itu, semua kembali menjadi normal. saya pulang ke rumah, duduk di ruang depan menghabiskan waktu bermain hp kemudian tidur dan mencicipi apa yang bisa dimakan. membunuh waktu dalam kesia-siaan sambil terus mencemaskan masa depan dan menyesali masa lalu kemudian tidak menyadari masa sekarang. sebuah ritme hidup yang membuat saya jauh dari diri saya sendiri.

Saya sedih pada banyak hal terutama pada diri saya yang tidak mampu sedikit berkeras kepada diriku sendiri yang selalu berencana tanpa tindakan, terlalu banyak angan yang menggelayut di pikiranku yang membuat diriku jauh dari apa yang sedang kujalani. 

Saya jauh dari diriku...!


Merayakan 10 tahun

#RenunganJuli yang sudah saya buat selama 31 hari sebenarnya adalah sebuah usaha untuk merayakan blog ini yang bisa bertahan sampai 10 tahun lamanya meskipun dengan tulisan-tulisan yang kadang hanya curhatan menggelikan nan memalukan. namun demikian, usaha untuk tetap meninggalkan jejak hidup dalam sebuah tulisan sehingga bisa abadi dan dijadikan bahan untuk melihat masa lalu yang sudah terlewati.

Di bulan Juli ini pula, banyak sekali tulisan di blog ini yang saya edit karena menurut saya sangat ridiculous dan tidak pantas lagi untuk saya tayangkan di masa sekarang. beberapa diantaranya adalah tulisan curhat yang menjijikkan dan juga tulisan tentang orang-orang yang terlalu vulgar saya tuliskan baik itu identitasnya maupun segala macam aktivitasnya.

Hari ini sudah menjadi akhir di Juli tahun ini dan saya sudah berusaha keras dalam bulan ini untuk menulis setiap hari meski terkadang tertunda namun demikian, saya tetap harus menunaikan target yang sudah saya buat di awal bulan. sebuah usaha untuk membuktikan kepada diri bahwa saya tidak semalas dengan apa yang ada di pikiranku. 

Semua tulisan di bulan ini yang mungkin konyol atau juga terlalu cengeng namun tak apalah karena tulisan-tulisan di bulan ini memang sebagai sebuah usaha untuk kembali membangkitkan gairah dalam diri saya sudah menulis yang lebih baik.

July 28, 2020

Masalah

Hidup adalah perjalanan dari masalah yang satu ke masalah yang lain. tidak ada manusia yang masih bernafas, yang lepas dari sebuah masalah, siapapun itu. Hanya saja tingkat masalah mereka yang berbeda. tidak ada masalah yang berat namun juga tidak ada masalah yang ringan. hal yang menentukan adalah kedewasaan seorang manusia menghadapi masalah mereka masing-masing. mungkin inilah yang dimaksud dalam Al-Qur'an bahwa "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Saya terlalu picik saat belum menikah kemudian berpikir bahwa setelah menikah, kemungkinan masalah saya akan menjadi sedikit lebih ringan, ternyata tidak. masalah yang datang bertubi-tubi membuat saya seringkali kelimpungan. ternyata masalah tidak menjadi lebih mudah namun sebaliknya semakin berat namun kita harus lebih kuat dari masalah itu sendiri. "What doesn't kill you, will makes you stronger." selalu saja kutipan Nietzche tersebut masih relevan dengan kehidupan sekarang bahkan sampai kapan pun. orang yang tidak kalah oleh masalah mereka akan semakin kuat dan semakin siap dalam menghadapi masalah demi masalah yang akan menyerang di hari-hari berikutnya. selama jantung masih berdenyut maka masalah akan tetap ada. iya masalah adalah sebuah keniscayaan dalam hidup.

Saat mengamati berbagai periode masalah yang saya lewati, satu hal yang saya pelajari adalah ketika bertemu masalah, jangan pernah membelakanginya kemudian menjauh karena masalah tersebut tidak akan pernah sirna jika dihindari. satu hal yang menurutku terbaik adalah menghadapi masalah kemudian melakukan hal yang terbaik, setelah itu, semesta akan menuntun langkah kita melewati masalah tersebut.

Masalah itu terbagai dalah dua kotak besar. ada masalah yang diluar jangkauan kita dan ada masalah yang terjadi karena ulah kita sendiri. masalah datang di luar kemampuan kita adalah bencana dan hal-hal yang sifatnya alamiah. sedangkan masalah yang datang karena polah kita yang tidak mengukur diri misalnya kita dililit hutang karena tidak mempertimbangkan secara rasional ketika hendak berutang. semua masalah tersebut harus dihadapi untuk diselesaikan.


July 26, 2020

Hal-Hal Sepele

Kemarin sore saat berolahraga di taman Dadap Merah. tiba-tiba melintas 4 orang dengan pakaian rapi. sangat mencolok dari pengunjung taman karena rata-rata orang yang ke taman tersebut berniat olaharaga. sepersekian detik, saya tidak terlalu memperhatikannya sampai pada saat mereka melintas di pos satpam, salah satu dari mereka, seorang cewek dengan dandanan rapi, bersitegang dengan tukang parkir taman. entah apa yang dipermasalahkan namun yang pasti si cewek mengomel dengan kata-kata yang tidak pantas sambil berlalu sedangkan tukang parkir dengan muka memerah, terus saja meneriakinya. akhirnya mereka menjadi tontotan bagi semua orang di sekitar taman.

Tadi pagi saat kembali berolahraga, saat hendak pulang dan menuju parkiran, saya menyodorkan uang parkir ke pemuda yang bersitegang dengan si cewek sehari sebelumnya. saya iseng menanyakan apa yang membuatnya begitu murka dengan cewek yang berdandan rapi kemarin sore.

Si Tukang parkir menjelaskan dengan detail bahwa sebenarnya si cewek tersebut berniat foto prewed di taman kemudian disarankan oleh si tukang parkir untuk meminta izin kepada pihak kelurahan karena regulasinya seperti itu. si cewek ternyata tidak terima bahkan dia sepertinya menantang si tukang parkir.

Begitulah, hidup di kota ini seakan terlalu berat. manusia-manusianya dihantam dengan berlipat masalah secara sporadis yang membuat urat-urat mereka tegang setiap saat. seringkali saya menemukan masalah yang sebenarnya sangat sederhana namun selalu diselesaikan dengan urat leher yang seharusnya bisa dibicarakan secara baik-baik.

Saya pun tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kali momen, saya menjadi sangat temperamental, entah karena memang bawaan atau kota ini ikut menyeret saya dalam budaya adu urat leher. momen yang paling membuatku tidak bersabar ketika berada di jalan raya. saat ada kendaraan yang menghalangi jalan saya atau mungkin sedikit mengganggu saya maka dengan serta merta, saya merasa tergangggu tanpa berusaha untuk berusaha. saya benar-benar sudah tenggelam dalam budaya kota ini. budaya yang tidak melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya.

July 25, 2020

Keluarga

Tadi malam saya menelepon Ibu saya sebagai rutinitas ba'da maghrib. seperti biasa bercerita apa saja yang sedang terjadi di kampung dan menanyakan kabar tentang keluarga nun jauh di sana. Ibu bercerita tentang rumah saudara yang baru saja dibangun kembali dan diresmikan siang hari sebagai bentuk sukur dengan mengundang para tetangga untuk makan siang, dan berbagai cerita tentang pola cucu-cucunya yang ada di rumah.

Salah satu cerita sentimentil semalam adalah saudara sepupu yang berumur 40an tahun, diceraikan oleh isterinya karena dia menderita sakit stroke sehingga tidak bisa lagi bekerja. saudara sepupu saya tersebut akhirnya dirawat oleh adik perempuannya yang juga sudah berkeluarga. sebuah relasi hubungan suami isteri yang akhirnya harus kandas karena persoalan salah satu diantara mereka sakit. saya pun tidak sedang menjustifikasi siapa yang salah namun dari cerita yang saya dengar, saudara sepupu saya tersebut sempat dirawat oleh isterinya namun dalam rentang waktu setahun atau dua tahun, isterinya sudah menyerah dan akhirnya menyatakan kepada para iparnya bahwa dia sudah tidak kuat dan berniat untuk mengembalikan suaminya ke keluarga.

Satu pelajaran dari percakapan semalam bahwa apapun yang terjadai dalam perjalanan hidup kita, maka keluarga inti tetap akan menjadi pelarian akhir jika terjadi apa-apa. sejauh apapun langkah kaki kita melangkah dan dari kalangan manapun pasangan yang kita pilih namun pada akhirnya, ketika ada masalah pelik yang kita hadapi, whatever the kind of it, keluarga inti tetap yang akan menjadi benteng pertahanan bahkan seringkali kita harus kembali ke keluarga seperti halnya kasus saudara sepupu saya yang mengalami sakit stroke namun isterinya tidak mau merawat sehingga yang terjadi adalah dia akhirnya dirawat oleh adiknya sendiri.

Ibuku mengamini kesimpulanku tersebut dengan suara lirih. saya bisa merasakan bagaimana ibuku begitu menghawatirkan anak-anaknya jika saja sesuatu yang buruk terjadi.

July 24, 2020

Pengingat Waktu

Salah satu pengingat waktu yang paling mujarab adalah kematian orang yang dikenal atau paling tidak pernah berinteraksi dengan kita meski terkadang hanya beberapa waktu. kematian membuat kita berpikir bahwa waktu benar-benar tidak bisa ditarik ulur dan akan terus berlalu sampai pada titik yang entah sampai kapan.

Mengingat waktu dengan cara memperhatikan diri secara fisik sangat tidak efisien karena seringkali manusia selalu merasa sehat dan muda. manusia tidak pernah merasa menua entah karena sikap denial bahwa mereka fana atau bisa juga karena mereka ingin tetap menikmati waktu dengan cara mereka sendiri. 

Manusia memang mempunyai cara masing-masing dalam merayakan hidup namun tetap harus diingat bahwa merayakan hidup dengan menelan habis waktu untuk hal yang sifatnya sia-sia, akan menempatkan manusia suatu saat dalam penyelesan, bahkan untuk manusia yang sudah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya pun tetap akan merasa menyesal di suatu momen. 

Pagi ini saya mendengar lagi seorang yang saya kenal, sudah menggenapkan waktunya di bumi ini. beliau mangkat menuju keabadian yang sempurna dengan meninggalkan jejak yang baik. bagaimana tidak, mereka yang pernah beriteraksi dengan beliau, bersaksi bahwa beliau orang baik dan tidak pernah mengalami pengalaman yang kurang baik selama berinteraksi dengannya. saya pun yang pernah beriteraksi dengannya hanya sekitar dua bulan, juga menemui tebaran kebaikan yang disemai untuk orang-orang di dekatnya. 

Begitulah hidup, bagai memakan sambal pedas. ketika sedang mengunyah dan menikmatinya, tidak ada perasaan pedas yang menempel di lidah karena pikiran fokus pada sensasinya namun ketika kunyahan terakhir, bibir mulai merasakan panas, perut mulai beraksi dan akhirnya lidah bereaksi.

Masing-masing dari kita hanya sedang berjalan menggenapkan waktu yang diamanatkan kepada kita. entah sampai kapan namun itulah rahasia semesta. makanya dalam beberapa petuah sucir, kita hanya dianjutkan untuk melakukan hal-hal baik dalam rangka mengisi waktu yang dijalani.

July 23, 2020

Kurir Ekspedisi

Beberapa jam yang lalu seusai shalat Jum'at (27/7/2020) seorang kurir salah satu ekspedisi masuk ke gang rumah kami. tebakan saya dia akan mengantarkan pesanan namun dugaan saya meleset, dia menanyakan apakah ada paket yang tercecer di sekitar depan rumah kami. memang di pagi hari, dia datang mengantar paket di tetangga. saya kemudian berpikir bagaimana jika dia tidak menemukan paket yang merupakan tanggung jawabnya. 

Berbagai dugaan-dugaan buruk muncul di kepalaku. apakah dia akan dipecat? disuruh ganti rugi berkali lipat dari harga paket? atau sanksi lain yang tentunya tidak mengenakkan baginya apatahlagi di masa yang lumayan sulit seperti sekarang ini. risiko pekerjaan yang harus ditanggung dan terjadi tanpa diduga yang terkadang membuat kita berpikir, kenapa harus terjadi sedangkan di sisi lain, sudah berusaha secara maksimal.

Entahlah, namun semoga saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat kondisi yang tidak bersahabat.

July 22, 2020

Doa

Saya sedang merenungi tentang hakekat doa. kenapa doa terucap yang tak terlalu diinginkan dan kadang spontan seringkali terkabul sedangkan doa yang benar-benar dipanjatkan sepenuh hati, terkadang literally tidak terpenuhi. 

Mungkin dari kita pernah berpikir bahwa hal-hal buruk yang tiba-tiba terbersit dalam pikiran kita seringkali diamini oleh semesta sedangkan beribu bait doa yang dipanjatkan dalam keheningan, seringkali meleset, meskipun dalam keyakinan agama yang saya anut bahwa semua doa terkabul meskipun dalam bentuk yang berbeda namun maksud saya di sini adalah doa yang terkabul sesuai dengan yang dipanjatkan. 

Rahasia semesta memang selalu menyisakan misteri yang manusia sendiri harus membuka tabirnya. jika tidak demikian, maka hidup ini akan semakin membosankan. itulah mengapa mungkin sebagian orang menganjurkan kita untuk tidak menyisakan ruang sedikitpun di otak kita untuk pikiran-pikiran dan energi negatif karena semesta akan mewujudkannya. 

Dulu, dulu sekali. saya pernah membaca buku yang judulnya the secret. sebuah buku tentang segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita berasal dari pikiran-pikiran kita maka buku tersebut menganjurkan jika menginginkan sesuatu maka pikirkan hal-hal tersebut dan tanamkan dalam pikiranmu sehingga suatu saat akan terwujud. 

Saya pribadi mengambil sikap yang tidak terlalu sepakat meskipun di beberapa bagian hidup saya, benar adanya bahwa ketika saya serius memikirkan sesuatu yang saya ingini maka terkadang terwujud namun ada juga potongan-potongan hidup saya yang sudah saya curahkan perhatian atas apa yang saya inginkan namun nyatanya nihil.

Saya berada pada posisi bahwa memang ada beberapa hal yang tidak terwujud dan ada yang bisa diwujudkan namun buka berarti hal tersebut membuat saya menjadi seorang fatalis.

July 21, 2020

Olahraga

Seminggu yang lalu, saya menyadari bahwa berat badan saya sudah tidak normal, hampir mencapai 75 kg. Saya memutuskan untuk olahraga dan mengurangi porsi makanan. sebuah usaha untuk tetap sehat di tengah kondisi kesehatan global yang sedang tidak menentu akibat pandemi yang tidak kunjung reda. olahraga dan menjaga pola makan adalah salah satu ikhtiar untuk tetap stay fit. olahraga yang masih memungkinkan untuk saya jalani sebatas jogging, push up, dan gerakan-gerakan lain yang tidak membutuhkan orang lain seperti olahraga beregu. 

Dulu, jenis olahraga yang benar-benar saya anggap olahraga adalah olahraga yang beregu khususnya sepakbola. bahkan dulu, saya tidak terlalu suka untuk melakukan olahraga yang hanya bergerak sendiri. jogging adalah salah satu olahraga yang paling membosankan menurut saya dan sama sekali tidak ada gairahnya. 

Kondisi sosial saya yang berubah 180 derajat, memaksa saya untuk mengikuti alur olahraga mainstream di kota ini. ikut jogging bersama rombongan kaum urban setiap sabtu dan minggu adalah satu satunya alternatif untuk tetap berkeringat selain di rumah melakukan push up. 

Kita memang harus work out dalam segala ha yang diinginkan tidak terkecuali untuk tetap berkeringat sehingga proses alamiah dalam tubuh tetap terjaga dan makanan-makanan yang setiap hari dimasukkan ke dalam tubuh tidak tertimbun menjadi penyakit.

July 20, 2020

Mudik

Lumayan menyiksa keadaan di masa pendemi Covid-19 seperti sekarang. saya sebagai perantau dari kampung yang sudah terlalu jauh melangkah dan harus menyimpan rindu selama setahun untuk menengok masa depan, harus terhalangi oleh pandemi yang entah sampai kapan. 

Lebaran idul fitri kemarin di bulan Mei, saya seharusnya mudik menengok serpihan masa lalu di kampung dan melepaskan semua sisa rindu yang tertimbun di ubun-ubun sambil menyerap energi kampung yang selalu menyisakan untuk perantau tanggung seperti saya, namun apa daya, semua sirna dengan keadaan yang tiba-tiba muncul tak diundang. rindu yang sudah disimpan rapi selama setahun semakin membuncah dan melepaskan energi negatif dalam kehidupan sehingga setiap hal yang dilakukan menjadi tidak maksimal. rutinitas mudik tahunan akhirnya batal dan hanya jiwa yang terbang jauh membawa beribu serpihan rindu yang tak pernah tuntas. 

Di pertengahan tahun ini, data pandemi ini tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan segera berakhir. meski demikian, masyarakat seakan sudah jenuh tinggal di rumah dengan berbagai alasan dan salah satu alasan yang mendominasi adalah faktor ekonomi. mereka harus keluar demi sesuap nasi karena tinggal di rumah dalam waktu yang tak menentu adalah sebuah hal yang tidak menyelesaikan masalah. ekonomi mikro sampai yang makro hancur berantakan. semua elemen masyarakat mengalami dampak dari pandemi ini dengan berbagai tingkat keparahan. 

Saya pribadi, meski tidak mengalami penurunan pendapatan dibandingkan sebelum pandemi ini, namun tetap saja bahwa tinggal di rumah bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. berbagai kebosanan menyerang sampai akhirnya harus memutar otak untuk mengantisipasi jika suatu waktu, kantor tempat saya bekerja juga memberlakukan pemotongan gaji. 

Selain mengkhawatirkan masalah pendapatan, saya juga sedang menimbang untuk tetap mudik di akhir tahun ini mengingat hari libur lebaran dipindahkan ke akhir tahun. meski demikian, saya juga masih tetap melihat perkembangan kondisi ini yang tidak benar-benar selesai. namun apa daya, rindu harus disalurkan dengan pulang kampung.

Dan semoga semesta mengamini rencana saya mudik di akhir tahun ini

July 19, 2020

Tulisan Lama

Selama pandemi ini, saya bersih-bersih blog dan menemukan begitu banyak tulisan lama di blog ini yang sangat menggelikan bahkan tidak membawa pesan apa-apa. blog ini sudah saya kreasi tepat 10 tahun yang lalu dan awalnya saya ingin memenuhinya dengan tulisan tulisan mengenai fenomena internasional. 

Setelah tidak berafiliasi dengan dunia akademik, saya kemudian membanting arah menjadikan blog ini sebagai tulisan-tulisan refleksi, namun entah kenapa di 5 atau 6 tahun yang lalu, blog ini saya penuhi dengan puisi-puisi menjijikkan. saya bahkan tidak sudi membacanya namun juga tidak menghapus karena saya jadikan sebagai histori untuk mengenang betapa saya tidak pernah berhasil menulis dengan baik.

July 18, 2020

Menyudahi Kebiasaan Buruk

Begitu sulitnya menyudahi kebiasaan buruk atau hal yang sia-sia seperti mengorek kuping dan menyia-nyiakan waktu dengan menonton youtube atau sekedar menghabiskan kuota internet dengan memelototi media sosial. saya tidak mengerti kenapa saya begitu rapuh di depan hal-hal remeh yang sering saya lakukan, namun mungkin ini adalah bukti bahwa kebiasaan yang terulang terus menerus akan menjadi habit yang susah dilepaskan dari hidup. 

Saya menyadari bahwa begitu banyak pekerjaan yang menunggu saya dan harus segera saya tuntaskan namun saya selalu terjatuh dalam absurditas yang melenakan. setiap kali ingin melakukan sesuatu, saya mengkompromikan diriku untuk sekedar membuka media sosial atau sekedar menonton youtube dengan alasan hanya beberapa menit namun sekian menit berlalu, saya sudah menyadari bahwa berjam-jam waktu sudah terbuang dalam kesia-siaan.

Rak buku saya dipenuhi dengan buku-buku yang saya beli untuk menambah kapasitas keilmuan saya sebagai salah seorang Mahasiswa namun selalu tidak berhasil saya tuntaskan. beberapa buku yang seharusnya sudah saya baca, masih tersusun rapi di rak sedangkan waktu terus berlari dan tugas akhir kuliah sudah menanti. sampai pada akhirnya nanti, saya baru menyadari bahwa saya menjebak diri saya sendiri dalam sebuah pemenuhan nafsu kepalsuan. memandangi media sosial dan berangan-angan yang tinggi tanpa melakukan tindakan nyata, setelah itu kosong.

Oh Tuhan. semoga saya bisa mengalahkan diri sendiri yang selalu ingin membuka youtube ketika berniat membaca buku atau keinginan memandangi sosial media ketika akan beranjak mengerjakan tugas. jika pada tahapan ini saya bisa menang maka saya yakin langkah-langkah selanjutnya akan semakin ringan.

July 17, 2020

Jangan Sok Tahu

Catatan ini saya sadur dari kajian ust. Fahruddin Faiz bahwa menjadi manusia itu jangan sok tahu. Jika tidak mengerti akan sesuatu maka katakan saya tidak tahu. Semua pesan yang menohok saya karena harus diakui bahwa saya dan mungkin banyak orang, selalu tidak ingin dikatakan tidak tahu jika ditanya sesuatu dan terkadang kita berusaha menjawab apa yang sebenarnya tidak diketahui sehingga kita jatuh dalam istilah yang sering disebut "sok tahu." 

Ust Fahruddin Faiz menuturkan kisah tentang Buya Hamka yang mengangkat sebuah cerita tentang Imam Malik bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 20 masalah yang butuh penyelesaian secara ijtihad. 

Masalah yang dapat dijawab oleh Imam Malik cuma 3 masalah dan yang 17 masalah dijawab oleh Beliau bahwa "saya belum tahu." Meskipun demikian, orang tetap memandang Imam Malik sebagai Mujtahid. Jadi diantara integritas seorang ulama, seorang Ilmuwan itu adalah kejujuran. 

Meskipun Mujtahid, meskipun ulama besar kalau mereka tidak tahu pasti bilang tidak tahu, jangan ngarang. Tidak perlu khawatir, jika memang tidak tahu maka jawablah bahwa saya tidak tahu. Masyarakat tidak akan hilang penghormatannya justru semakin mulia karena orang tahu kita jujur. Kita tidak akan kehilangan integritas dengan kejujuran. Ulama zaman dulu sangat tawaddu. Bicara apa saja diakhiri "wallahu alam bissawab." 

Itu pelaran Imam Malik yang dikutip oleh Buya Hamka.

Kisah tersebut di atas sangat relevan dengan kondisi sekarang khususnya diri saya sendiri. Seberapa sering saya ketika ditanya, selalu berusaha untuk menjawab bahkan ketika saya sendiri sama sekali tidak yakin bahwa masalah tersebut saya pahami. Ada rasa dalam diri semacam keinginan dianggap tahu segalanya yang sebenarnya hal tersebut adalah jebakan. 

Mungkin perasaan ini pula yang membuat saya terkadang tidak konsentrasi dalam mempelajari sebuah ilmu karena dorongan ingin menunjukkan bahwa saya tahu sebuah masalah. 

Apatahlagi saat ini saya sedang kuliah, tentunya rasa ingin dianggap pintar terlalu kuat dari dalam diri sehingga jika tidak bisa mengalahkan diri atas perasaan tersebut maka ketika saya belajar tentang suatu hal, maka yang muncul pertama dalam diri bahwa saya bisa menjawab ketika ditanya dosen kemudian orang lain menganggap saya pintar. Sebuah perasaan konyol yang harusnya saya eliminasi dari dalam diri saya sebagai seorang Pelajar. 

Tentunya, untuk menepis hal-hal semacam itu, langkah pertama adalah berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Ketika disuruh menanggapi, maka tanggapilah hal-hal yang memang dipahami. jangan menanggapi hal yang orang lain tidak menginginkannya.

begitulah kira-kira untuk belajar menjadi tidak sok tahu.

July 16, 2020

Relasi

Ada sebuah pola relasi yang saya pelajari selama ini. sebuah relasi sosial yang menurut saya seharusnya bisa saya terapkan dalam kehidupan untuk menjalani hidup lebih ringan dan tidak terbebani oleh pikiran-pikiran yang memberatkan. sebuah relasi pertemanan yang tidak sehat harus ditinggalkan dan dibiarkan menguap untuk membuat hati tetap terjaga. 

Jadi begini, di masa kuliah beberapa tahun yang lalu, saya mempunyai beberapa teman yang menurut saya sekedar teman namun diantara beberapa teman saya tersebut, adalah salah seorang teman yang menurut saya tidak terlalu suka berteman dengan saya. bukan tanpa alasan, karena di beberapa momen, dia tidak pernah menanggapi saya bahkan sekeras apapun saya mencoba untuk berinteraksi dengannya, dia tidak bergeming bahkan 2 tahun setelah kami tamat dan bertemu lagi di sebuah tempat, perlakuannya terhadap saya masih tetap saya. setiap kali saya mencoba untuk membuka percakapan, sama sekali tidak ada reaksi. akhirnya sejak saat itu, saya memutuskan untuk memilih tidak mencoba mengakrabinya dan sampai sekarang, hampir 8 tahun kami tidak bertemu, saya merasa tidak pernah bisa membuatnya merasa nyaman berbicara dengan saya. hingga akhirnya saya sudah melupakan relasi pertemanan seperti itu. 

Entah sejak kapan, setiap kali saya bertemu dan berinteraksi dengan seseorang yang memiliki pola yang sama, saya sudah mulai terbiasa untuk tidak memikirkan terlalu jauh dan bahkan menganggap hal tersebut lumrah. jika ada orang yang nampaknya tidak nyaman beriteraksi dengan saya maka saya tidak pernah lagi berusaha untuk mengakrabinya bahkan sebaliknya, saya memilih untuk tidak memikirkannya. saya selalu berpikir bahwa ada suatu masa ketika kita akan lepas dari interaksi semacam itu. 

Dulu, saya mungkin seorang yang sangat perasa dan jika ada orang yang nampaknya tidak menyukai kehadiran saya, hal yang pertama muncul dalam pikiran saya bahwa apa yang salah dalam diri saya padahal menurut saya bahwa dalam pola interaksi sosial, adalah hal yang lazim ketika seseorang tidak suka berinteraksi dengan salah satu orang karena berbagai alasan dan hal tersebut seharusnya tidak menjadi sebuah masalah besar karena masih banyak orang lain yang mau berinteraksi secara karib dengan kita. 

Begitulah kira-kira apa yang saya pelajari dari pola interaksi selama ini dan nampaknya saya tidak harus menjadi orang yang disukai oleh semua orang yang berinteraksi dengan saya karena pasti ada orang mengenal saya tidak suka terhadap saya dengan berbagai alasan yang tidak perlu saya ketahui

July 15, 2020

Penjual Mainan

Cerita ini dituturkan oleh mertua saya tadi malam. sebuah cerita tentang kejadian yang menurut saya begitu sangat ironi dan menyedihkan. kerasnya hidup di Jakarta benar-benar membuat banyak orang kehilanga arah dan welas kasih, bahkan bukan hanya untuk yang berbeda kelas namun bahkan dengan sesama kelas bawah, mereka saling menikam yang seharusnya saling menggenggam tangan untuk menguatkan hidup.

Cerita ini persis terjadi di samping kami dan tepat diperlihatkan di hadapan. ada seorang penjual mainan yang sering lewat di sekitar gang tempat kami tinggal. dia menjual berbagai aneka mainan murahan. penjual semacam itu sangat mudah dijumpai di ibu kota. berbekal gerobang yang dipenuhi dengan mainan dan benda-benda sederhana yang terkadang tidak dijual di swalayan. sangat mudah mengidentifikasi ketika penjual tersebut lewat karena dia membunyikan suara yang khas. setiap kali dia lewat, anak saya sudah hapal dan selalu merengek minta dibelikan mainan. menurut saya tidak jadi soal karena toh mainan yang dia jual bukan mainan mahal bahkan ada yang cuma harga dua ribu.

Kemarin saat dia lewat, mertua dan anak saya menghampirinya. seperti biasa membeli mainan yang tidak terlalu mahal, sekitar lima ribu. setelah melakukan transaksi, kemudian si penjual curhat tentang kejadian tidak mengenakkan yang dia alami. dia dimarahi oleh tetangga kami jika berjualan lagi di sekitar gang tempat tinggal kami karena cucu si tetangga kami selalu menangis minta dibelikan mainan. si penjual bercerita dengn lirih sambil mengatakan bahwa saya kan cuma menjual.

Mendengar cerita tersebut yang diceritakan kembali mertua saya, lumayan agak sedih. hidup begitu kerasnya di Ibu kota sampai harus melarang seseorang menjual untuk mencari nafkah. si tetangga kami seharusnya punya kedaulatan untuk memberitahu cucunya bahwa jangan terlalu sering membeli mainan ataupun jika mau, dia membelikan yang harga dua ribu sekedar membantu penjual mainan tersebut. namun apa daya, si tetangga kami yang seorang bapak paruh baya, memilih melakukan tindakan yang menurutku mendegradasi hubungan antar sesama. dia memarahi penjual mainan lewat di sekitaran rumahnya. 

Saya bukan orang yang bermoral-moral amat namun menurut pandangan saya bahwa dengan terang-terangan melarang orang lain berjualan untuk mencari nafkah keluarganya adalah sebuah tindakan yang amoral. seharusnya para penjual keliling seperti itu diapresiasi karena mau berusaha keras mencari nafkah dengan jalan yang benar apatahlagi saya perkirakan bahwa untungnya tidak terlalu besar. bayangkan jika mainan yang hanya seharga tiga ribu, berapa selisih untung yang dia ambil. jauh lebih banyak penghasilan para tukang parkir yang setiap motor harus membayar dua ribu tanpa ada modal selain modal kursi untuk duduk di parkiran dan modal rompi orange.

Satu hal yang paling menyedihkan saya adalah si bapak tetangga kami yang memarahi penjual pun bukan orang terlalu kaya bahkan mungkin hampir sederajat secara ekonomi dengan mayoritas penduduk yang tinggal di gang kami. jika rasa kasih pun tidak dimiliki, lalu apa yang harus ditawarkan dan dibanggakan.

Entahlah, mungkin hidup memang harus seperti ini untuk mengajarkan kita mana yang harus diikuti dan mana yang sebaiknya dicampakkan di tempat sampah. 

July 14, 2020

Status Sosial dan Fenomena Sepeda

Di masa saya bocah, sepeda adalah kemewahan tersendiri namun meskipun saya sadari bahwa zaman di kampung saya saat itu, sepeda adalah strata terbawah dalam kepemilikan kendaraan dalam masyarakat, namun memiliki sepeda sudah menjadi kemewahan tersendiri bagi saya yang terlahir dengan saudara enam orang dan dari orang tua yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuh primer dan sekunder sedangkan kebutuhan tersier jarang dimasukkan dalam list kebutuhan.

Saya ingat keluarga kami pernah memiliki speda merek BMX tapi seingat saya bahwa sepeda itu tidak dibelikan oleh orang tua namun diberikan secara percuma oleh saudara lain. Saya dan kakak saya yang beda umur 2 tahun dengan saya yang sering menggunakan sepeda tersebut. paling sering digunakan untuk mengantar beras yang akan digiling dan dibikin kue oleh ibu saya. jadi intinya bahwa sepeda saya tersebut bukan untuk bersenang-senang namun difungsikan untuk alat bekerja.

Beberapa tahun kemudian, Sepeda dikomodifikasi oleh para Pengusaha menjadi trend kalangan atas. meskipun trend sepeda sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya namun mencapai puncaknya ketika wabah Covid-19 menyerang. fenomena bersepeda menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat urban untuk meningkatkan imun dari serangan virus, namun yang terlihat di mata saya bukan tujuan berolahraganya tetapi bagaimana para Perusahaan sepeda berhasil mengkontruksi paradigma masyarakat untuk beralih ke gaya hidup sepeda alhasil, Perusahaan sepeda mendapat keuntungan yang tak terkira.

melihat fenomena sepeda yang semakin menjamur di masa pandemi saat ini, saya menyadari bahwa status sepeda tidak lagi berada pada strata paling bawah bahkan ada sepeda yang lebih mahal dari 1 unit mobil Agya maupun Ayla. untuk ukuran sepeda yang umum, butuh duit dengan digit jutaan untuk bisa membeli sepeda di saat sekarang. salah seorang teman kantor saya beberapa hari lalu menjual sepedanya seharga 8 jutaan yang sebelumnya dia membeli sepeda tersebut sebelum booming sekitar 4 jutaan. 

Kemudian apa yang harus dipelajari dari fenomena seperti ini? bahwasanya masyarakat begitu mudahnya digiring dalam sebuah trend yang biasanya diinisiasi oleh para Pengusaha besar dengan menggandalkan media-media untuk mempromosikan sesuatu dengan tampilan yang berbeda dengan hakekatnya, misalnya bersepada ditampilkan sebagai usaha untuk menjaga tubuh tetap kuat dan sehat meski pada akhirnya bahwa mereka tetap berusaha mengeruk keuntungan yang besar dari trend yang sedang menjamur. toh selain bersepada, banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat badan tetap berkeringat. 

Saya tidak sedang mendegradasi orang-orang yang memang hobi bersepeda namun lebih pada beberapa kalangan yang pada akhirnya mengeluarkan dana yang begitu besar hanya untuk menjadi terlihat keren dengan bersepeda.

July 13, 2020

Kuliah Online

Wabah Covid-19 sungguh menerjang sebuah sisi kehidupan manusia tanpa tersisa satu pun. tidak ada ruang yang disisakan dari dampak virus ini. salah satu bidang kehidupan yang terdampak adalah bidang pendidikan. pola interaksi pendidikan yang selama ini dilakukan dalam ruang-ruang kelas akhirnya harus dialihkan menjadi kuliah online. sebuah sistem perkuliahan yang sejak beberapa tahun sebelumnya sudah diterapkan oleh Universitas Terbuka (UT). Kebijakan tersebut ditempuh sebagai salah satu cara untuk menghambat penyebaran virus yang semakin massif. 

Di awal-awal pandemi Covid-19, semua pelajar dari berbagai tingkatan mafhum akan kebijakan tersebut karena menyadari betapa berbahayanya jika membiarkan virus ini menyebar secara luas. masalah kemudian muncul setelah berjalan empat bulan, sikap kritis Pelajar khususnya Mahasiswa mulai mengemuka dengan menganalisa bahwa kuliah online menyisakan berbagai hal yang harus dikritisi. bukan kebijakan kuliah online yang masih berlangsung namun lebih pada apa yang harus dikeluarkan oleh anak didik dan feedback yang didapatkan dari pihak kampus. 

Beberapa Mahasiswa di berbagai kampus kemudian melancarkan aksi menyuarkan pendapat. mereka menuntut pihak kampus memotong biaya SPP dengan berbagai alasan, misalnya ekonomi yang sedang hancur, biaya kampus yang efisien dari sisi pendanaan operasional karena ruang-ruang kelas tidak difungsikan, dan berbagai alasan-alasan lain yang sangat rasional.

Namun apa respon dari pihak kampus?

Salah satu kampus di Jakarta Selatan bahkan melakukan tindakan represif terhadap Mahasiswanya yang melakukan aksi menyalurkan pendapat. beberapa diantaranya diskors bahkan yang lebih parah, ada sebagian yang di DO. sebuah tindakan kampus yang menandakan bahwa mereka tidak menghargai apa yang disebut penyaluran pendapat, lagian alasan-alasan Mahasiswa tersebut sangat rasional dan pantas untuk dipertimbangkan. 

Di kampus saya sendiri yang berada di bilangan Gatot Subroto, saya belum mendengar kabar jika ada aksi serupa menuntu pihak kampus untuk menurunkan biaya SPP namun satu hal yang saya tahu bahwa salah satu kawan saya yang sudah tidak aktif bekerja sejak Pandemi ini, mengajukan keringanan biaya SPP ke pihak kampus dan pengajuannya tersebut diakseptasi oleh pihak kampus dengan menghapuskan biaya SPP selama tiga kali cicilan. angka yang lumayan signifikan untuk kondisi sekarang ini. 

Saya sendiri berpendapat bahwa Pemerintah dalam hal ini seharusnya mempertimbangkan suara-suara sumbang dari Mahasiswa untuk memangkas biaya SPP karena secara rasional, pengeluaran Kampus untuk biaya operasional, menjadi sangat efisien di masa pandemi karena tidak ada pertemuan di kelas sehingga otomatis, biaya listrik berkurang, tidak ada penggunaan AC dan berbagai fasilitas lainnya di kampus yang hanya digunakan ketika ada interaksi di kelas. 

Hal lain yang tersisa dari kuliah online adalah metodenya yang sangat tidak efektif menurutku. jangankan para Mahasiswa, para tenaga pengajar pun banyak yang belum siap dengan metode kuliah online. presentasi seadanya, menanyakan apakah ada tanggapan kemudian mengakhiri kuliah dengan tugas. metode yang mungkin akan mereduksi banyak hal.

Hal yang terpenting adalah ada sesuatu yang tidak bisa tergantikan dari interaksi langsung di kelas. manusia adalah makhluk sosial yang tidak hanya puas beriteraksi via benda-benda teknologi namun mereka akan memenuhi hasratnya sebagai makhluk sosial ketika saling bertatapan, saling bersalaman dan beriteraksi secara langsung.

July 12, 2020

Tulus

Saya random menonton youtube di setiap waktu senggang yang saya punya. saya sadari bahwa kebiasaan tersebut tidak berdampak baik terhadap peningkatan kapasitas diri saya. alih-alih belajar untuk mengisi masa senggang, saya malah asik menonton youtube dan menghabiskan bergiga-giga paket data saya.

Di sela-sela menonton youtube, saya mendapati sedikit pelajaran yang menurut pengamatan saya sesuai dengan apa yang saya lihat. jadi salah seorang publik figur diwawancarai kisah hidupnya yang berasal dari 0. dia seorang tukang bersih jalanan kemudian pindah menjadi OB di sebuah kantor media dan jalan hidup membawanya menjadi publik figur. dari kisahnya tersebut, dia menceritakan bagaimana dia tulus menjalani semua pekerjaan yang mungkin sebagian masyarakat menganggap bahwa pekerjaan tersebut untuk kaum proletar. ketulusan lah yang memperkuat takdirnya menggapai hal-hal baik yang sekarang berada di tangannya. ketulusan yang dapat diartikan juga sebagai keikhlasan dalam menjalani hidup seringkali mempertemukan kita dengan hal-hal baik. ketulusan dalam hal ini bahwa menjalani profesi dengan hati yang senang tanpa berkeluh kesah.

Saya pribadi sedang dalam masa yang bisa dianggap demotivasi. saya terlalu sering mengeluh tentang pekerjaan saya sekarang padahal di awal-awal bekerja, saya mampu mengatasinya dengan mengatakan bahwa ini pilihan sadar saya dan saya sendiri yang memilih untuk mendaftar kemudian memutuskan bekerja di sini, lalu kenapa kemudian saya harus menghabiskan energi saya dengan berkeluh kesah tak berujung. Sampai kapan saya harus mengeluhkan apa yang saya pilih sebagai sebuah pilihan sadar. 

Saya sedang berusaha untuk mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab ini semua. mungkinkah perasaan pride terhadap diri yang terlalu tinggi atau mungkin juga keinginan-keinginan yang tidak tercapai sehingga begitu sulitnya berdamai dengan diri dalam masa seperti ini. bahkan jika terlepas dari lingkaran pekerjaan ini dengan perasaan insecure pun berarti saya telah gagal dalam satu momen hidup. seharusnya ketika berpisah dari satu potongan hidup seharusnya dengan hati yang senang bukan semacam pelarian karena tidak mampu berdamai dengan apa yang sedang dihadapi.

benar-benar hidup yang membingungkan.

July 11, 2020

Wabah Covid-19

wabah virus ini yang tak kunjung berakhir membuat sebagian orang frustrasi bahkan saya sendiri dalam beberapa momen bersikap pesimis dan frustrasi. bayangan akan rencana-rencana ke depan seakan tiba-tiba buram tak berbentuk apatahlagi tidak ada yang bisa memprediksi kapan wabah ini berakhir. sebuah kondisi di mana semua orang tidak mampu berjalan dengan keinginan mereka sendiri.

Saya teringat kembali ajaran agama saya bahwa di masa ketika dunia sebentar lagi akan musnah, akan banyak fenomena yang membuat manusia tidak mengenal dirinya dan bingung mau mengikut yang mana. semua manusia menjadi sangat bingung tentang apa yang terjadi, mana yang benar dan harus bersikap seperti apa.

Saya tidak sedang berpendapat bahwa fenomena sekarang adalah tanda kiamat namun setidaknya bahwa gambaran bagaimana manusia-manusia yang tidak mengenal dirinya akan menjadi bimbang dan bingung apa yang harus dilakukan. manusia yang tujuannya berhenti pada hal-hal material akan sangat frustrasi karena semua nampak tidak jelas saat ini.

11 Juli 2020

July 10, 2020

Hidup di Jakarta

Entah beberapa tahun yang lalu, sebagai seorang bocah yang belum mengerti apa-apa secara hakekat dan menilai sesuatu yang kasat mata, saya pernah memimpikan hidup di Jakarta atau minimal di kota besar. sebuah impian yang nampaknya menghantui mayoritas bocah di kampung karena pengaruh TV yang sangat kuat. kemewahan-kemewahan yang ditampilkan di media menjerumuskan sebagian dari pemuda desa untuk rela berpindah ke kota dengan apa yang disebut sebagai kehidupan yang layak, meski pada akhirnya saat sudah tiba di kota, mereka dan termasuk saya, menyadari bahwa kehidupan kota bukanlah sebuah surga yang selalu ditampilkan di TV namun tidak lebih dari sebuah zona antah berantah yang buas. 

Saya tidak sedang menjustifikasi bahwa kehidupan di kota khususnya di Jakarta adalah sebuah dosa namun saya hanya merefleksikan apa yang saya rasakan selama sekian tahun menetap di ibu kota. 

Di kota ini, segala macam tersaji di depan hidung kita. tidak ada yang luput satu pun. di sini malaikat bertebaran di mana-mana namun juga setan-setan mengisi setiap ruang kosong. jika ingin menjadi orang yang sabar maka cobalah hidup di Jakarta dan sekalipun jangan mengeluh atas semua hal yang tidak disukai di kota ini. seseorang yang ingin mencoba menguji kesyukurannya maka datanglah di kota ini dan rasakan sendiri seperti apa seharusnya kita bersyukur. 

Orang yang ingin menghabiskan hidupnya dengan tenang, di pagi hari bisa menikmati udara segar sambil bercengkerama dengan alam, di siang hari beristirahat dengan tenang dan di sore hari merasakan desiran angin yang sepoi-sepoi dengan sinar matahari yang akan terbenam dengan sedikit polusi maka saya sarankan untuk tidak mencoba-coba ke Jakarta karena kondisi tersebut tidak bakalan ada di kota ini. 

Kota ini adalah arena bertarung. bertarung dengan diri dan saling mengalahkan segala nafsu yang meronta melihat dinamika kehidupan kota ini. nafsu ingin mewah dengan tawaran kemewahan setiap detik di setiap kedipan mata, nafsu seksual dengan makhluk-makhluk yang dipermak tanpa noda sedikit pun baik yang jantan maupun yang betina dan nafsu apapun dengan godaan yang begitu besar. 

Pada akhirnya, saya kemudian menghel nafas panjang. menyadari bahwa semesta telah menakdirkan saya di kota ini dengan kehidupan yang ironi. saya harus ke kantor pagi hari kemudian pulang ke rumah menjelang maghrib. sabtu dan minggu dihabiskan dengan tidur atau sesekali liburan di mall yang memamerkan kemewahan. saat bertemu tetangga, hanya saling senyum dan jarang bercerita. hakekat kemanusiaan sepertinya sudah tercerabut satu persatu. 

Ingatan saya kembali ke masa lalu di kampung. semua hari di kampung saling kenal dan hidup bersama. jika saya tidak punya makanan, saya bisa numpang makan di tetangga, hidup dihabiskan dengan bersenda gurau dan kesepian seakan tidak ada. mungkin benar lirik lagu Dewa, 
"di dalam keramaian aku masih merasa sepi"

Saya menyadari bahwa hidup saya telah berubah, menjadi sangat ironi. saya menangis namun tidak meneteskan air mata. jiwaku gersang. 

Apakah hidup seperti ini yang kucari? 

entahlah...!!!


10 Juli 2020