July 5, 2020

Jualan Teman

Dalam beberapa kali kesempatan saat ditawari jualan oleh teman yang sedang mencoba membuka usaha, entah itu makanan, usaha baju atau usaha apapun, saya selalu berusaha untuk membeli meskipun tidak dalam jumlah banyak. saya tidak terlalu memusingkan motif saya membeli namun paling tidak, saya memberi semangat kepada mereka untuk mengembangkan usahanya.

bukan pula ingin membanggakan diri bahwa saya telah membantu teman namun lebih pada perasaan yang sama. maksudnya bahwa saya juga sedang berada pada posisi yang sedang meraba apa yang harus saya lakukan untuk usaha sampingan yang membutuhkan kreatifitas bukan melulu mengharapkan gaji bulanan. juga bahwa usaha baju online yang sudah beberapa tahun belakang ini dirintis oleh isterinya saya pun pada awalnya ditawarkan ke teman-temannya.

selain itu, saya juga berusaha untuk memantapkan hati bahwa jika teman bahagia maka saya juga harus ikut berbahagia. hati kita sebagai manusia seringkali diisi oleh perasaan iri  bahwa ketika melihat teman sedang berusaha berdiri di atas kakinya sendiri, seringkali muncul dalam hati kita untuk mencoba mematahkan semangatnya dal bentuk apapun, dan itu yang saya tidak inginkan.

5 Juli 2020

July 4, 2020

Korek Kuping

Kebiasaan kecil apa dalam hidupmu sehari-hari yang kau sadari bahwa hal tersebut tidak baik bagi kesehatanmu namun kau tidak pernah berhasil untuk menghindarinya?
kalau saya yang ditanya demikian, tidak terlalu lama berpikir untuk menjawab,

"mengorek kuping"

Ya, mengorek-ngorek kuping menjadi kebiasaan sampingan yang disenangi oleh bahkan semua orang. ketika kuping mulai gatal dan tidak terpuaskan jika hanya mengoreknya dengan jari kelingking atau jari telunjuk, maka kita akan mulai mencari media apa saja yang bisa digunakan untuk menusuk kuping dan memutar seperti mengaduk kopi, entah searah jarum jam maupun berlawanan dengan jarum jam. saya hakkul yakin bahwa tidak cukup untuk memenuhi nafsu mengorek kuping hanya dengan 1 kali korekan. saya yang notabene adalah penganut mazhab mengorek kuping dengan gulungan kertas bahkan bisa menghabiskan 4-5 gulungan kertas sebelum sensasinya terpuaskan. seseorang yang sudah dalam tahap kencanduan tidak akan pernah puas mengorek kuping sebelum ada rasa nyeri di dalam gendang telingan.

kebiasaan yang sampai sekarang tidak mampu saya hentikan yang anehnya bahwa setiap kali saya mengorek kuping saya dengan gulungan kertas - bahkan bukan dengan cotton buds - saya selalu menyadari bahwa saya sedang menzalimi diri saya sendiri dan selalu berjanji bahwa tidak akan mengulanginya, namun ternyata, menghentikan kebiasaan mengorek kuping itu lebih sulit dari pada menahan boker ketika sedang mengendarai motor. entah kenapa, saya malah tidak suka mengorek kuping dengan cotton buds, mungkin karena trauma di awal-awal kebiasaan mengorek kuping ketika beberapa kali kapas di ujung cotton buds tertinggal di dalam kupingku.

Saya selalu gagal menghentikan kebiasaan buruk tersebut karena sensasi geli-geli enak ketika gulungan kertas mengenai gendang telinga yang hampir menyamai sensasi orgasme, apatahlagi ketika cairan bening yang kemudian menempel di gulungan kertas yang baunya membuat candu - entah kenapa orang menyenangi bau mereka (cairan telinga, bau cantengan) namun tidak pernah suka mencium bau dari orang lain.

Entah sudah berapa kali kuping saya bengkak dan sakitnya naujubillah ketika keseringan dikorek-korek dan setiap kali hal tersebut terjadi. tidur pun sangat tidak menyenangkan karena bagian kuping yang sakit tidak bisa ditindih bahkan setiap saat kuping berdenging dan menimbulkan rasa sakit di sekujur kepala. saya selalu bersumpah untuk meninggalkan kebiasaan yang serupa mengkonsumsi narkoba. ketika kuping saya bengkak, butuh 4 hari untuk sembuh. anehnya setelah sembuh, ada begitu banyak cairan yang menggumpal yang mungkin sisa dari bengkak dan saya kembali menyenangi sensasi baunya. bau ini seperti mantan yang tidak pernah sirna dari pikiran.

Saya mencoba mengingat lagi sejak kapan kebiasaan jahannam yang mengasikkan ini mulai saya gemari.
Juli 2020, saya berniat untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.

July 3, 2020

Main Handphone

Mungkin ini ada kaitannya dengan renungan sebelumnya tentang wasting time namun lebih spesifik. sesuatu yang menurut saya terkadang sudah keterlaluan yang selalu diniatkan untuk dibatasi namun tetap saja kembali seperti pola sebelumnya. setelah melalukan, sadar kemudian berjanji akan membatasi namun momen berikutnya berulang lagi, main dalam waktu yang lama, sadar kemudian berjanji lagi dalam hati. entah seberapa sering saya mengingkari ikrar saya terhadap diri saya sendiri. 

Kebiasaan itu adalah memegang hp. entah berapa jam dalam sehari saya menghabiskan waktu memelototi layar HP. saya baru berhenti ketika mata saya sudah lelah dan lebih parahnya lagi, saya tidak tahu tujuannya, kenapa saya menghabiskan berjam-jam hanya untuk benda kecil tersebut dan anehnya, setiap kali ada dorongan untuk itu, saya tidak kuasa melawannya. saya menghabiskan waktu menonton youtube dan sesekali berselancar di media sosial. sebuah kebiasaan toxic yang anehnya saya selalu tidak kuasa melawannya. 

Beberapa kali saya mencoba tips untuk menghentikan kebiasaan tersebut seperti mematikan paket data atau pernah juga ketika paket data saya sudah habis, saya sengaja tidak mengisinya dalam jangka beberapa waktu, namun apa? it doesn't works at all. 

Sampai akhirnya saya menyadari bahwa tujuan saya sudah melenceng dengan waktu yang terbuang percuma. jika untuk sebuah pembelajaran, kadang saya tidak menyesal namun realitanya bahwa saya hanya menghabiskan tontonan-tontonan yang tidak berfaedah sama sekali, youtube prank, lucu-lucuan dan komedi-komedi yang sering saya tonton berkali-kali. 

Pada akhirnya, semua ini tidak boleh berlanjut terus menerus sampai usia saya dimakan waktu. saya harus sekuat tenaga untuk kemudian memantapkan hati bagaimana fokus pada tujuan hidup. jika kecanduan terhadap benda kecil saja saya sudah kalah, bagaimana saya bisa menang dalam pertarungan lebih besar. 

Saya mengkhawatirkan diri saya yang sudah dalam tahap meratapi masa lalu tanpa menyadari bahwa saya masih hidup sampai sekarang. saya menyesali banyak hal yang menurut saya terbuang percuma sedangkan pada dasarnya saya masih bisa perbaiki dari sekarang. saya membenci diri saya yang sangat kurang berjuang dalam mencari ilmu namun sebenarnya saya bisa memulai dari sekarang meski dengan kondisi berbeda, dan ratapan-ratapan lainnya yang tidak perlu yang hanya semakin memojokkan saya dalam penyesalan yang sia-sia

3 Juli 2020

July 2, 2020

Tentang Waktu

sebenarnya sudah sangat klise untuk mengatakan bahwa "gunakan waktumu sebaik-baiknya karena waktu laksana busur panah yang melesat tak terkendali dan tiba-tiba kita akan sadar sudah berada di ruang yang sudah sangat jauh terbawa waktu, kemudian kita menyesali apa yang sudah terlewat"

iya sangat klise mendengar hal seperti itu karena setelah momen perenungan berlalu, saya kembali ke rutinitas menunda - nunda dan membuang waktu secara percuma.

hingga kemarin, saya menyadari bahwa staf baru yang direkrut kantorku dengan posisi yang sama denganku ternyata selisih 11 tahun lebih muda denganku. sebuah tamparan yang lebih keras bahwa harta berupa waktu yang selama ini kupunya, tercecer tak bersisa. jika saya bandingkan dengan rekan kerja yang seumuran denganku di kantor, mayoritas mereka telah menduduki jabatan yang berarti bahwa sebelumnya, mereka menggunakan waktu untuk menambah kapasitas diri mereka sedangkan saya hanyalah seorang pelamun bodoh yang terdampar di pinggir laut memandangi semua orang sudah berlayar ke tengah samudera.

saya kemudian mengingat ingat, kemana semua waktuku terbuang. saya melempar kenangan ke beberapa tahun silam. ketika tamat SMA, saya menganggur setahun tanpa melakuka  sesuatu yang berarti sehingga waktu saya setahun terbuang. tahun berikutnya saya kuliah selama empat tahun. anggaplah saya menggunakan waktu empat tahun itu meskipun dalam proses perjalanan kuliah saya, banyak sekali waktu yang hanya berlalu. kemudian setelah kuliah, saya menganggur dua tahun tanpa mengerti ke mana arah yang harus kujejak. sudah total 3 tahun terbuang percuma. 

Saya kemudian memutuskan merantau dan bekerja di Perusahaan. dua perusahaan saya lewati sebelum memutuskan untuk bekerja di perusahaan yang sekarang. kurang 3 bulan lagi saya genap 6 tahun di perusahaan ini. lumayan panjang dengan kondisi yang tidak terlalu berubah. 6 tahun terakhir saya jalani dengan rutinitas yang sama. senin sampai jumat berangkat kantor jam 7, di perjalanan sejam kemudian pulang kantor jam 5, tiba di rumah ketika Maghrib berlalu. sabtu minggu saya habiskan random, kadang tidur sesekali keluyuran. 

Waktu saya habis dalam rutinitas tersebut tanpa ada prioritas ke depan, atau paling tidak, saya menyisihkan beberapa jam dalam seminggu untuk memperdalam ilmu kearifan. 

Saat ini saya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. saya menetapkan prioritas untuk bergelut di bidang akademisi setelah menyelesaikan pendidikan meski kadang pesimis dengan usia yang sudah tidak muda lagi namun baru memulai tetapi tak apalah

Semoga Semesta menakdirkan saya dalam impian yang sesuai dengan misi saya dihadirkan di bumi ini.

2 Juli 2020

July 1, 2020

Jalanan Jakarta

Saya sudah terlalu sering menulis tentang dinamika di jalanan Jakarta. sebuah fenomena yang menurut saya menjadi gambaran betapa manusia mempertontonkan dirinya bahkan termasuk saya. kalimat yang beberapa tahun saya katakan bahwa jika ingin menguji kesabaranmu pada level berapa maka hiduplah di jalanan Jakarta dan rasakan sensasinya. jika dalam sebulan atau beberapa bulan, kau mendapati dirimu mampu memaklumi dan bersabar atas semua yang terjadi di jalan Ibu kota ini maka kau termasuk orang yang sabar. saya yang sudah 6 tahun lalu lalang di jalanan Ibu kota dengan kendaraan motor, tidak sepenuhnya mampu menahan diri atas apa yang saya saksikan meskipun di beberapa kesempatan mungkin saya juga yang masuk dalam kubangan ketidakaturan tersebut misal menerobos lampu merah atau masuk jalur Busway.

Dua hari yang lalu, saya berangkat bersama isteri ke kantor seperti biasanya. setelah menurunkan isteri di bilangan Rasuna Said, saya putar balik ke arah Kebayoran baru. sebelum masuk ke terowongan Kuningan Timur, saya mengambil jalur kanan supaya memudahkan saya untuk mengambil jalur terowongan dan tidak menghalangi kendaraan yang akan mengambil jalur ke Gatot Subroto. sepersekian detik, saya merasa ada yang aneh karena bunyi klakson mobil di belakang saya beberapa kali terdengar, saya tidak bergeming karena merasa tidak ada yang salah dengan jalur yang saya lewati, kemudian saya disalip oleh mobil Yaris yang hendak belok kiri. saat tepat di samping saya, si sopir memperlambat laju mobilnya sambil mendongak ke arah saya dengan mimik muka yang kesal. saya berpikir keras apa yang salah dengan jalur yang saya lewati. saya memutuskan untuk melaju tanpa merespon si pengendara mobil.  

Tadi saat berangkat ke kantor, saat melintas di warung buncit yang lampu merah penyeberangan, seorang ibu sudah memencet lampu merah kemudian menyebang namun pemandangan yang saya lihat adalah kendaraan tidak peduli sama sekali, mereka mungkin berpikir bahwa lampu merah hanya di persimpangan itupun masih sering diterobos. 

Jalanan Jakarta memang menawarkan banyak hal dan satu yang pasti tentang bagaimana kita menguji kesabaran.

1 Juli 2020

June 26, 2020

Neighborhoods

One of the most important thing in deciding where we live is neigborhoods and perhaps it's a main considering in it. iniatially, we forget it as a main thing despite it determines our daily life ahead. Neigbor is someting like coin that has two sides, we need them despite we don't. when we are having some trouble with them, they always bring it up when we aren't. ocasionally, the problem bring on by misunderstanding. 

when I wanted to buy my house, I almost call off by considering the surrounding.  I'm the kind a person who getting difficult to going easy with the new one so my wife does. at that time, we still rent a small house at Cilandak by 20 million and then I and my wife came up with the idea to bought a house despite rent a house with the same cost.

Finally we bought this house. saya sama sekali tidak menyesali keputusan yang sudah saya ambil meskipun dengan beberapa event yang sedikit membuat saya menganulir beberapa pertimbangan sebelumnya. kendala yang paling berarti adalah surrounding. kami sangat sulit for getting respect karena beberapa hal, bahkan akhirnya my wife believe the mitos bahwa her tribes has a big different with them sehingga hal tersebut yang sedikit menghambat closing with them.

Mungkin begitulah dinamikanya dengan perasaan yang masih aneh dan tetap berharap bahwa ada chance untuk mencari lingkungan baru dengan kenyamanan yang mendukung. hidup memang tidak menawarkan kemudahan-kemudahan yang jatuh tiba-tiba dari langit namun semua yang ada di tangan didapatkan melalui effort yang tidak mudah. 

Jangan pernah membenci dan jangan pernah menyesali takdir. ikuti iramanya dan enjoy it.

26 6 20

June 24, 2020

Kebiasaan Buruk

Kebiasaan kecil apa dalam hidupmu sehari-hari yang kau sadari bahwa hal tersebut tidak baik bagi kesehatanmu namun kau tidak pernah berhasil untuk menghindarinya?
kalau saya yang ditanya demikian, tidak terlalu lama berpikir untuk menjawab,

"mengorek kuping"

Ya, mengorek-ngorek kuping menjadi kebiasaan sampingan yang disenangi oleh semua umat manusia tanpa mengenal perbedaan Suku, Ras, Agama dan perbedaan apapun yang merupakan konstruksi manusia. 

Saya tidak paham kenapa mengorek kuping menjadi begitu menyenangkan. ketika Kuping sudah mulai gatal dan tidak terpuaskan jika hanya mengoreknya dengan jari kelingking atau jari telunjuk, maka kita akan mulai mencari media apa saja yang bisa digunakan untuk menusuk kuping dan memutar-mutar media tersebut seperti mengaduk kopi, entah searah jarum jam maupun berlawanan dengan jarum jam kemudian untuk menimbulkan sensasi yang luar biasa menyenangkan. saya hakkul yakin bahwa tidak cukup untuk memenuhi nafsu mengorek kuping hanya dengan 1 kali korekan. saya yang notabene adalah penganut mazhab mengorek kuping dengan gulungan kertas bahkan bisa menghabiskan 4-5 gulungan kertas sebelum sensasinya terpuaskan. seseorang yang sudah dalam tahap kecanduan tidak akan pernah puas mengorek kuping sebelum ada rasa nyeri di dalam gendang telinga dan mulai menyadari bahwa baru saja melakukan tindakan yang bisa merusak kesehatan kuping.

 Mengorek kuping merupakan kebiasaan yang sampai sekarang tidak mampu saya hentikan yang anehnya bahwa setiap kali saya mengorek kuping saya dengan gulungan kertas - bahkan bukan dengan cotton buds - saya selalu menyadari bahwa saya sedang menzalimi diri saya sendiri dan selalu berjanji bahwa tidak akan mengulanginya, namun ternyata, menghentikan kebiasaan mengorek kuping itu lebih sulit dari pada menahan boker ketika sedang mengendarai motor. entah kenapa, saya malah tidak suka mengorek kuping dengan cotton buds, mungkin karena trauma di awal-awal kebiasaan mengorek kuping ketika beberapa kali kapas di ujung cotton buds tertinggal di dalam kupingku.

Saya selalu gagal menghentikan kebiasaan buruk tersebut karena sensasi geli-geli enak ketika gulungan kertas mengenai gendang telinga yang hampir menyamai sensasi orgasme, apatahlagi ketika cairan bening yang kemudian menempel di gulungan kertas yang baunya membuat candu - entah kenapa orang menyenangi bau mereka (cairan telinga, bau cantengan) namun tidak pernah suka mencium bau dari orang lain.

Tak terhitung sudah berapa kali Kuping saya bengkak dan sakitnya naujubillah ketika keseringan dikorek-korek dan setiap kali hal tersebut terjadi, tidur pun sangat tidak menyenangkan karena bagian kuping yang sakit tidak bisa ditindih dan setiap saat kuping berdenging dan menimbulkan rasa sakit di sekujur kepala. ketika kuping saya bengkak, butuh 4-5 hari untuk sembuh. anehnya setelah sembuh, ada begitu banyak cairan yang menggumpal yang mungkin sisa dari bengkak dan saya kembali menyenangi sensasi baunya. bau ini seperti mantan yang wujudnya sudah terlupakan namun rasanya tetap terbayang di kepala. 

Saya selalu bersumpah untuk meninggalkan kebiasaan jahannam tersebut namun selalu gagal, bahkan mungkin di setiap resolusi awal tahun, menghentikan kebiasaan mengorek Kuping selalu saya tempatkan di urutan paling atas. Jika dalam agama tobat yang tidak diterima adalah tobat sambal maka mungkin pertobatan saya dalam dunia perkorekan Kuping tidak akan pernah diterima karena saya layaknya seperti orang yang tobat sambal. Ketika sedang mengkonsumsi sambal yang pedasnya level 21, maka dalam hatinya selalu berniat untuk menghentikan makan sambal namun setiap kali jam makan tiba, nasi dengan lauk ayam goreng atau pecel lele tidak akan dimakan jika tidak ditemani 3 sendok sambal yang warnanya menyala.

Saya tidak mengetahui secara persis kapan kebiasaan Jahannam ini membuatku terpenjara dan saya juga tidak bisa menjamin sampai kapan kebiasaan ini saya hentikan karena kebiasaan mengorek Kuping adalah teman sejati bagi kesendirian. Coba kawan-kawan ingat-ingat lagi, mengorek Kuping akan kita lakukan sepuasnya ketika sedang sendiri namun jika dalam keramaian orang, ada rasa gengsi untuk memutar-mutar gulungan kertas dalam Kuping.

Dari analisa di atas, maka kawan-kawan yang ingin menghentikan kebiasaan mengorek Kuping seperti saya, maka hindari menyendiri, jika masih jomlo maka segera cari pasangan sehingga kebiasaan menusuk Kuping bisa dikonversi dengan kebiasaan menusuk lubang yang lain dengan media yang berbeda yang tentunya lebih bermanfaat, lebih menyenangkan, bisa menambah populasi manusia dan yang terpenting mendatangkan pahala.

Juni 16

June 21, 2020

Ruang Hampa

over the day, I read some article about the life. I dont know why but my heart was so empty at all. for some event what I'v done, for every single things that make me feel uncomfort. I feels like living in another side. untuk beberapa hal mungkin saya tidak ada yang harus dikhawatirkan bahkan apa sih sebenarnya yang harus dtakutkan, iya itu teorinya namun semenjak beberapa tahun belakang, arah saya semakin berbelok, sometime turn the right, most in time turn over the left. saya membayangkan bahwa banyak hal yang kusesali dalam arti sebenarnya namun penyelesan terbesarku adalah ketidakonsistenanku dalam banyak hal yang kulakukan, despite of I was spending my time for doing something unuseful khususnya 15 tahun terakhir.

You know, I taking my post graduate in 32 years old, it's to late. kadang saya berpikir kenapa baru sekarang dan di lain waktu saya berpikir untuk apa sebenarnya saya melanjutkan ini semua. saya khawatr in the name of pride of something like a bad intention. kemudian saya berpikir ketika pikiranku sedang positif bahwa education never be a useless. I'm enjoying it despite sometime a bad things come up in my mind seperti merasa bahwa saya sudah terlalu tua dan ketinggalan banyak hal when I realize that mostly of my friends is more younger than me. itu salah satunya namun ada hal yang membuatku semakin menyalahkan diriku when I knew that one of my lecturer is 3 years younger than me. bayangkan betapa inferiornya saya di dalam kelas.

ketika saya menyadari itu semua, apakah lantas saya menyerah. I dont think so. everything going to be ok. I really believe that when I'm stopping now, I regret manymore for this day. saya percaya bahwa hal-hal baik akan selalu menyertai dimanapun berada. meski dengan tetap akrab dengan banyak sekali perasaan inferior dan pikiran-pikiran negatif yang sebenarnya sangat tidak perlu. saya masih yakin bahwa one day, I'm gonna immerse myself in academics sphere. satu hal yang harus saya taklukkan sekarang adalah kemauan dan membentuk sikap konsisten, mengurangi kebiasaan menunda dan terlalu banyak memegang hp than reading a book.

Untuk ruang-ruang yang hampa. banyak hal yang menyebabkan lebih buruk.my relationship with my in laws sangat dingin despite of we're stay together namun sedari awal, tidak pernah sehangat my mother. saya juga tidak pernah terlalu mencoba untuk putting more effort to get it but I also keep it in the rule. saya selalu menjaga perasaannya meskipun memang terkadang sangat aneh karena setiap hari bertemu. namun tak apalah, I'm not a good gay in some situation. it almos same my relation with my father. it because a past experience. 

tahun ini umur saya semakin menua dalam hal sebenarnya. angkanya sudah melewati angka 3 dengan beberapa langkah. saya merasa bahwa ini merupakan detik-detik untuk menemukan sesuatu yang seharusnya membuatku hidup, salah satu upaya saya adalah melanjutkan pendidikan. saya rasa selama bekerja di tiga Perusahaan yang berbeda, saya belum menemukan diriku selain karena kebutuhan akan rupiah, even for this current job. saya masih terombang ambing harus kemana untuk berpegangan. jika di sini terus, rasanya I putting my self in the dark prison. bukan karena tidak bersyukur namun ada space which makes me feel empty all along. saya tidak mau gagal dalam hidup, dalam artian fail to try, untuk hasil ukurannya sangat relatif.

okelah, starting to read more and more
rethinking about my choice.
whispering onto myself and say, you can what you want with the hand of God
kembali studying about islam more serious than before.
God, take my hand and bring me to Your path. the true path.

21 6 20
 

May 25, 2020

The Second Syawal

During Ramadan, I didn't post any ideas at all. I strongly sought to looking for some of it but it's failed. laziness and flatness being a prime caused. this demonstrating me that consistency still being my problem for pursuing my end. for that matter, I have a vast leisure to do some useful activities staying at home for along time because of covid-19 pandemic however I didn't.

I've

April 13, 2020

Pernahkah Kamu..???

Pernahkah kalian menginginkan sesuatu selama bartahun-tahun dalam setiap kesempatan datang, selalu gagal dan kegagalan itu membuatmu terperosok? jika iya, kita sama.

Pernahkah kalian dalam suatu momen sedang menunggu sesuatu dan sudah mempersiapkan segalanya namun berlalu begitu saja karena ternyata waktunya salah? iya saya juga. kuliah online jam 1 siang dan saya sudah mempersiapkan segalanya sebelum jam satu namun kuliah tersebut terlewat karena saya mengira bahwa akan dimulai jam 4 sore. hal yang paling menyakitkan karena informasi baru diberitahukan tepat setelah kuliah selesai dan saya masih duduk di depan laptop seperti sedang menunggu.

Atau pernahkah kalian sudah merencanakan mudik dari awal tahun namun tiba-tiba gagal karena adanya virus yang mewabah sedangkan sebelumnya, pikiran tentang kampung sudah sering menari-nari di pikiranmu? kali ini kita sama lagi. sebuah kondisi yang mengharuskan untuk membatalkan mudik sedangkan rindu yang tak terlunasi sudah membayangi.

Pernahkah kamu dengan sebitu inginnya hidup dalam sebuah perjalanan yang sesuai dengan prinsip yang selama ini diagung-agungkan dan menghindari pekerjaan yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip tersebut namun ternyata realitas hidup mencampakkan kalian dalam pekerjaan yang selama ini dihindari bahkan belum bisa lepas? iya saya itu.

atau pernahkah menginginkan sesuatu yang kemudian terwujud dalam dalam kondisi yang kalian tidak sepakati? iya saya seperti itu.

***
Dalam banyak hal, hidup selalu menghadirkan kejutan-kejutan yang sama sekali tak terduga. perjalanan semakin panjang namun diri seperti kehilangan arah. diri tercerabut dari nilai yang semakin samar dan tak terbaca sehuruf pun. hidup menjadi sangat pragmatis dan segalanya dikalkulasi dengan nilai duniawi sedangkan semua akan sirna dalam sekejap, lalu bagaimana melepaskan semuanya? 

Belum ada jawaban yang pasti..!!!

Diri masih bertarung dengan diri yang lainnya tanpa henti. semakin jauh pertarungan ini maka arah hidup semakin kabur dan kesasar. setiap kali mencoba untuk melepaskan semuanya namun beberapa kali lipat keadaan hidup datang dan memaksa kemudian berkata, 

"jalani saja..!!!"

Apa yang harus dibanggakan dengan kehidupan seperti ini. kehidupan yang tidak diperjuangkan dengan semangat nilai kemanusiaan. hidup yang atas nama tanggung jawab terhadap keluarga kemudian berubah menjadi pragmatis sedangkan tanggung jawab terhadap keluarga tidak pernah sekalipun melarang untuk berbuat yang juga menjunjung tinggi nilai yang hakiki.

Lalu apa jika seperti demikian..???

Saya juga tidak tahu. saya takluk di depan Semesta yang tidak jua menuntunku untuk menjadi manusia yang seutuhnya. manusia yang menjalani hidupnya dengan semangat perjuangan yang tak kenal lelah. sebuah kehidupan yang dipupuk dalam nilai yang tak terhingga dan tak terbatasi dengan kalkulasi keuntungan duniawi.

14 04 20

April 12, 2020

Virus Corona dan Cara Manusia Menyikapi

Wabah ini benar-benar mengungkap semua tabir terdalam setiap Manusia, entah secara individu maupun kelompok. tidak bisa dipungkiri bahwa eksistensi Manusia adalah hal yang paling hakiki dan jika yang satu itu terancam maka terkadang Manusia melakukan hal yang mungkin bahkan di luar dugaan. ada Manusia yang semakin menjadi manusia seutuhnya dalam menyikapi wabah virus ini dengan berbagai kegiatan dan tindakan untuk menjaga eksistensi manusia lainnya, bukan hanya berfikir tentang keselamatan sendiri, namun demikian ada juga Manusia yang mencampakkan esensinya sebagai seorang Manusia bahkan memperlihatkan sisi terdalamnya yang menyimpan kekelaman. semua hal tersebut atas nama eksistensi entah saya di bagian yang mana. Beberapa berita di bawah ini saya sajikan sebagai bukti bahwa memang manusia sama dan dilengkapi dengan piranti yang persis sama namun cara mereka menyikapi wabah ini tidak selalu sama.

Manusia-manusia yang menyikapi Wabah Covid-19 dengan panik dan melakukan hal yang mendegradasi nilai kemanusiaan mereka.
  1. Warga melakukan protes terhadap isolasi mandiri pasien Covid-19 karena menganggap bahwa tempatnya dekat dengan pemukiman padat penduduk. daerah ini tidak jauh dari kampungku. Sumber berita
  2. Warga menolak pemakaman jenazah yang positif Covid-19 karena mereka takut tertular sedangkan sudah dijelaskan bahwa pemakaman tersebut sudah sesuai dengan protokol dan dipastikan tidak akan menularkan penyakit. kejadian ini terdapat di beberapa daerah antara lain di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, di Ungaran Timur, Semarang, Jawa Tengah, di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dan masih banyak daerah yang melakukan hal yang sama dengan satu alasan bahwa mereka ketakutan tertular.
  3. Di beberapa daerah bahkan di seluruh dunia, terdapat fenomena yang disebut sebagai panic buying. mereka melakukan hal tersebut karena takut jika wabah ini dalam waktu yang lama dan bahan pokok habis di pasaran. 

April 10, 2020

2020

2020 sudah memasuki bulan keempat. proses perjalanan dalam setahun yang belum genap mencukupi setengahnya, namun nampaknya tahun ini menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan bukan hanya fisik namun juga psikis bahkan bukan masalah yang relatif maka masing-masing orang namun menjadi masalah yang universal. sebuah tahun yang benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. saya tidak sedang menghakimi sebuah perjalanan dari sudut pandang orang secara psikis namun saya hanya ingin mengatakan bahwa secara lahiriah, semua orang marasakan dampak dari musibah yang sedang terjadi.

Mungkin di akhir tahun kemarin, semua orang sudah menyusun resolusi dengan sistematis dan penuh dengan optimisme yang tinggi dengan bayang-bayang akan berjumpa dengan mimpi-mimpi di tahun ini namun baru tiga bulan berjalan, saya yakin bahwa semua relosusi tersebut porak-poranda dengan makhluk yang begitu sangat kecil dan tak kasat mata. sesuatu yang tak terlihat secara indrawi memang lebih membahayakan.

Virus Corona atau yang sering dikenal dengan nama Covid-19...!!!

Pandemi virus ini benar-benar menciptakan sebuah horor bagi seluruh manusia di bumi ini. Akhir Desember 2019, virus ini sudah mengirimkan pesan kepada seluruh Manusia untuk menyiapkan amunisi dengan sebaik-baiknya namun nampaknya Manusia tidak pernah mau belajar terhadap alam. apa yang mereka raih selama ini dalam hal yang mereka sebut sebagai sebuah "peradaban" membuat manusia lupa akan asalnya. Manusia menjadikan dirinya sebagai pusat dari alam semesta yang segalanya bisa mereka kendalikan.

Peringatan yang sudah sangat jelas dari makhlus tak kasat mata ini bahkan disikapi dengan pongah oleh para Manusia pemegang otoritas di beberapa negara. Presiden di negeri saya bahkan dengan cerobohnya melakukan langkah yang berani ketika periode Februari 2020, virus ini belum menyerang negeriku, Presiden membuka jalur wisata dari negara yang sudah terpapar, bahkan Menteri Kesehatan mengerdilkan virus ini bahwa hanya virus biasa yang bisa disembuhkan sendiri oleh tubuh Manusia. pun demikian dengan negara yang mendaku pemimpin dunia, Presidennya meremehkan virus ini.

Kemudian apa yang terjadi tidak lama setelah itu, virus ini kemudian dengan membabi buta menyerang semua Manusia tanpa kecuali. Negara yang sebelumnya meremehkan ternyata kewalahan dari menghadapi makhluk yang sama sekali tak terlihat. 

Peringatan yang sangat jelas dari Alam...!!!

Teori-teori sudah berseliweran di linimasa tentang asal muasal munculnya virus ini. bagi para aktivitis lingkungan, mereka mungkin mengatakan bahwa virus ini lahir dari keserakahan Manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa batas. bagi para pengamatan ekonomi politik, mungkin akan berpikir bahwa ini adalah hasil dari design perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. bagi para Ilmuwan Alam bahwa virus ini sebenarnya sesuatu yang lazim karena dalam proses perjalanan alam semesta ini, setiap makhluk akan saling menyerang untuk tetap eksis, di balik makhluk yang eksis hari ini, ada berbagai jenis makhluk lain yang dikorbankan. bagi para teori konspirasi, Mereka meyakini bahwa virus ini dibuat di laboratorium sebagai senjata kimia.

Bayangkan di sekitar Jakarta dan kota satelitnya, setiap orang melihat tanah kosong sebagai potensi untuk membangun perumahan yang kemudian dijual dengan harga yang tidak masuk akal. membangun rumah tidak lagi membangun sebuah bangunan sebagai tempat istirahatnya jiwa namun membangun rumah semata untuk sebuah bangunan kokoh yang dinilai dengan bebeberapa lembar kertas yang kemudian dijadikan pride sebagai sebuah simbol keberhasilan, kemewahan dan simbol duniawi lainnya.

Di kota ini, tidak ada lagi ruang untuk makhluk selain Manusia selain Makhluk yang bisa dimanfaatkan oleh mereka.

Terlepas dari semua teori yang ada, saya tidak terlalu tertarik untuk meyakini salah satunya. satu hal yang pasti bahwa ancaman virus ini nyata dan sedang menyerang eksistensi Manusia. setiap individu seharusnya mengambil bagian dalam proses penyelesaian masalah ini dalam ranahnya masing-masing. jika seorang Dokter maka akan bahu membahu di rumah sakit, jika seperti saya yang tidak terlalu berkepentingan di luar, maka tinggal di rumah sesuai anjuran Pemerintah.

Saya yakin bahwa eksistensi Manusia masih akan tetap berlanjut dan momen akan akan berlalu suatu saat nanti meskipun tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir. namun bukan pada persoalan apakah Manusia masih tetap eksis atau tidak namun pada persoalan bahwa seberapa Manusia yang harus takluk di depan virus ini. kematian memang sesuatu yang pasti namun kematian massal adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang harus disikapi. atau jangan-jangan memang kita hidup hanya untuk mempertahankan eksistensi masing-masing. mungkin kebetulan saya bahwa kita menghadapi musuh yang sama sehingga saling membantu mempertahankan eksistensi, jika badai ini berlalu, kita akan kembali lagi ke pola lama untuk saling mengalahkan demi sebuah pride yang namanya eksistensi.



Dampaknya menghancurkan semua lini kehidupan bahkan salah satu lini yang selama ini diagungkan-agungkan oleh Manusia adalah keagamaan yang juga porak poranda. lihatlah Gereja, Masjid, Pura, Sinagoge dan semua tempat yang selalu dijadikan tempat penyembahan. semua dikosongkan atas nama virus ini. lalu kemudian apa yang tersisa dan keegoan Manusia selama ini tentang siapa yang benar dalam beribadah kepada Sang Pemilik semesta. semua terdiam menyadari bahwa tidak ada yang patut mendaku kelompoknya sebagai paling suci. rumah-rumah ibadah tersebut hanyalah bangunan sebagai sebuah simbol yang paling sering hanya dijadikan sebagai sebuah pengukuhan diri sebagai paling suci, namun yang paling hakiki bahwa Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan itu semua. Tuhan membutuhkan hati Manusia yang jernih dalam benar-benar mencariNya dalam keheningan terlepas dari kalkulasi duniawi.

Salah satu gambar yang entah benar atau tidak, terlihat seorang Manuasia duduk di depan Kabbah sambil berlutut. gambar tersebut disertai dengan caption kurang lebih seperti ini bahwa bukan raja, buka orang kaya namun hanya seorang tukang bersih yang boleh beribadah di depan Kabbah. 

Semua orang harus tinggal di rumah. banyak hal yang harus ditarik garis lurusnya. menjadi pelajaran bagi Manusia bahwa rumah bukan hanya tempat singgah untuk berbaring namun juga harus dihidupkan dengan kehangatan antar anggota keluarga. selama ini sesama keluarga hanya bertatapan pada subuh sebelum berangkat dan pada malam hari sepulang kantor dan ini adalah momen untuk kemudian merekonstruksi kembali apa makna rumah sebenarnya. sejatinya rumah bukan hanya bagunan fisik semata untuk berteduh dan sebagai pride bagi sebagian orang berpunya yang mempunyai rumah bak istana, namun rumah lebih dari itu semua.

Tinggal di rumah juga mengajarkan kita bahwa betapa tersiksanya hewan yang dikurung dalam kandang tanpa dikeluarkan. meskipun sebenarnya saya masih sangat awam untuk menarik garis dengan ranah ini karena beberapa hewan yang sudah didomestikasi memang perlu dikandangkan.

Namun terlalu jauh jika saya melihat apa yang ada di luar diri saya tanpa melihat apa yang sudah berubah dalam diri saya setelah hampir tiga minggu harus mendekam di rumah karena makhluk yang tak kasat mata.

Nampaknya belum ada yang terlalu signifikan terjadi di dalam diri saya. rencana-rencana yang seharusnya sudah bisa saya selesaikan di rumah tidak tercapai. hati saya masih picik dalam menghadapi musibah ini dan jarang sekali berbisik ke dalam diri saya, apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang Manusia, dan jika momen ini berlalu, langkah apa selanjutnya yang harus kuteruskan supaya hidup sedikit lebih bermakna? 

April 6, 2020

Turning Point for Contemplating

Almost 4 months, most of Countries in the world is conquering by Covid-19. since the emerge in Wuhan, RRT end of December 2019 and now, whole the world facing the same fearness. nobody knows when the virus go away or when human can be defeat this Virus but the most important things is how to be survive for this time. 

it so many things or something like the hidden messages if we want to contemplate more about this situation. depend on us, by what side to analysis this phenomenon. environmentalist will says that it because the failure of human. they exploitation and destruction more and more the earth without remaining at all for other creatures meanwhile this earth is the home for all universes. Covid-19 is representing a anger of the earth.

Despite more difficulties of it, but always follows by some blessing. this virus teach us to stay all along time at home, wash our hands frequently, social distancing, and and the other things what we never do in the normal condition.

for me, covid-19 outbreak being a turning point to rethinking my habit in all aspects, how to eat, what I have to eat, when I have to take a rest or running my work, how to interact with the other and so on. I begin try no to eating some meats except fish. 

I need a time to refresh my head from all problems.I going to let it and being free. this is the best moment to think more and deciding my future. being a worker in company is not a fault but I have to brave to dream most of it.

I can't cultivate my relationship with the others in office because it just like a work relation, it's getting ironic. I want to find another place or another work which leads me to be a real human. the day when no mad panic or desperate to get a life, when the life flows like a river.

the day had come for my desire when taking a class at Paramadina University. I remembered for years ago after graduating strata 1. I always said that I would continue my class. I was a bit regret because make it true in a late time. I had a few months to finish my class and try to immerse myself in academic realm. I have a few jobs or tasks in pursuing it and on of those tasks is reading and writing more and more. I knew that it need a lot of time but thats not a problem. 

Having a chance to continue my class makes me enthusiasm. the most importang things is do not wasting my time. do the best.