February 15, 2016

Masalah yang Selalu Berganti

Hari ini, tepatnya mungkin sudah 2 tahun masalah ini nangkring di kehidupanku. entah seperti apa akhirnya nanti namun Aku harus tetap berusaha yakin bahwa ini hanyalah sebuah perkara langkah dalam hidup yang harus dijalani. seringkali Aku merasa sudah berlepas diri namun kadangkali menguatkan hati bahwa tidak harus menyerah hanya karena masalah ini.

tiba-tiba saja membaca postingan seniorku yang sedikit menyadarkan bahwa masalah itu dibebankan Tuhan kepada HambaNya sesuai kemampuannya. klise memang karena itu terdapat di dalam ayat Al-Qur'an dan amat sangat sering dikutip oleh Para Muballiq namun entahlah, jika seniorku tadi yang menuliskan, selalu saja menyentuh dan seperti ada kekuatan untuk mengambil hikmah dari setiap tulisannya.

Aku selalu jatuh tertatih sejak beberapa tahun terakhir. namun selalu saja ada keyakinan bahwa ketika ada hal yang menimpa entah itu fisik ataupun psikis maka Aku percaya bahwa ada khilaf yang telah kulakukan yang membuat semuanya kembali kepadaku.

 “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)

Aku mengimani ayat diatas dengan sepenuh hati. semua yang menimpa diriku karena ada dosa-dosa yang tidak bisa kuhapuskan hanya dengan istighfar atau permintaan maaf kepada Tuhan sehingga diriku harus merasakan dosa yang dengan sengaja kulakukan.

Masih teringat dengan jelas saat itu di awal tahun 2011, Aku seakan tidak sanggup lagi menanggung beban diriku yang terasa berat, nafas sesak dan semua kekuatan seakan sirna. pada saat itu, yang tersirat di dalam hatiku  yang paling dalam adalah jika semua kembali ke keadaan semula, Aku berniat untuk memperbaiki diri dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah terjadi. Tuhan memberiku kesempatan namun ternyata apa yang kulakukan, bahkan khilaf yang lebih besar lagi membuatku kembali harus terjatuh untuk kedua kalinya.

Diawal 2014, kembali Aku dihantam hal yang sama dan Aku amat sangat sadar bahwa khilaf menyertai perjalanan hidupku bahkan saat musibah tersebut menghampiriku, Aku masih melakukan hal yang sama sampai pada hari ini, sudah dua tahun Aku terkapar dalam kepedihan yang nyata. berjalan tertatih bahkan merangkak dalam penderitaan yang amat menyiksaku.

Aku hanya berharap jikalau memang khilaf yang kuperbuat belum terhapuskan semuanya, maka biarkanlah penderitaan ini tetap ada padaku sampai semua terampuni karena keyakinanku, penderitaan di kehidupan berikutnya lebih mengerikan jika berkubang dengan dosa.


اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ
أَذهِبِ البَأسَ
اشفِ…..!!!! أَنتَ الشَّافِيء
لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاوءُكَ
Amin Ya Rabb

Pulogadung, 15 Februari 2016

February 12, 2016

Rekonstruksi Pemikiran

Ada untungnya juga ikut Kenduri Cinta malam ini karena merefresh pikiran saya tentang banyak hal. Oke Saya masih sering berjalan dengan pendapat orang lain, masih sering terganggu dengan asumsi orang terhadap saya. Selalu menjadikan pandangan-pandangan orang lain sebagai ukuran kesenangan Saya yang ternyata malah menyiksa dan melumat semua kesenangan-kesenanganku.

Kemarin saya dan isteri menyewa sebuah rumah kontrakan di daerah mampang XIII. Harganya lumayan mahal untuk ukuran kami yang hanya karyawan pemula dengan gaji pas-pasan. Satu hal yang lebih menyakitkan karena selain mahal, rumah kontrakan tersebut amat kotor bahkan lantainya masih menggunakan ubin lama sehingga sisa kotoran tidak bisa dibersihkan. ah, Kami sedikit menyesal.

BEFORE
Saya dan isteri mengakui bahwa menyewa rumah tersebut memang terlalu tergesa-gesa. Mungkin benar kata orang tua dulu bahwa hasil dari sikap ketergesa-gesaan adalah tidak baik. Semua hal yang sudah terlanjur diputuskan harus dibarengi dengan tanggung jawab.

Butuh waktu beberapa saat sebelum memikirkan solusi. Daripada larut dalam penyesalan atas keputusan yang sudah dibuat maka Aku berpikir lebih baik membenahi sendiri. Setelah nego dengan pemilik rumah agar rumah tersebut dicat ulang namun pemilik rumah tidak menyetujui maka kuputuskan untuk membeli cat sendiri dan beberapa meter terpal plastik untuk menutupi ubin.

AFTER

Hari minggu kemarin, seharian aku dan seorang bapak yang kupekerjakan mengecat ruangan dan membersihkan lantai. Alhasil sekarang rumah kontrakan tersebut sudah lebih rapi.

Ssebenarnya klise menulis kutipan ini tapi biarlah sebagai pengingat bahwa memang sebaiknya dalam hidup ketika sedang diperhadapkan dengan masalah, lebih baik fokus pada solusi bukan masalah

"Lebih baik menyalakan Lilin daripada mengutuk kegelapan."

Rawamangun, 14 Feb 2016

Manipulasi Citra

Biasanya Saya menulis ulasan tentang acara Kenduri Cinta di lapak wordpress namun kali ini saya ingin menulis di lapak ini saja. Kalau di lapak wordpress hanya khusus ocehan-ocehanku kepada si calon junior.

Pulang kerja, saya tidak lantas pulang ke rumah dan memilih untuk langsung menuju bilangan Cikini. Apatahlagi Isteri tercinta sedang berada di Cianjur jadi saya tidak ada beban untuk pulang cepat ke rumah. Ini adalah jumat malam minggu kedua berarti ada lagi acara Kenduri Cinta. Sesampai di TIM tempat dihelatnya acara tersebut, masih terlihat sepi, tidak seperti bulan-bulan kemarin saat saya mengikuti acara ini, peserta sudaj membludak. Mungkin karena bulan ini musim hujan.

Kenduri cinta kali ini mengangkat tema "Kufur Award, Manipulasi Citra, Kapitalisasi Pencitraan. sederhananya seperti ini, ketika kita tidak cukup uang namun memaksakan diri untuk membeli barang-barang mewah supaya dianggap keren maka kondisi seperti itu terjebak dalam pencitraan dengan cara manipulasi. Orang yang tidak memperdulikan pencitraaan seringkai lebih concern pada proses setiap hal.

Diskusi diawali oleh Sabrang yang tumben datang lebih awal karena pada diskusi-diskusi sebelumnya, Sabrang baru muncul pada sesi kedua atau ketiga.

Mbah Nun

Ada empat Panelis malam itu. Hadir juga Ketua PB HMI, Mulyadi. Ada yang menarik ketika Mulyadi memaparkan pandangannya tentang pemerintahan. Menurutnya bahwa presiden terdahulu punya prestasi sehingga meninggalkan kesan yang baik. Bahkan menurutnya lagi bahwa presiden Soekarno punya kenangan yang baik saat memimpin. Beliau meninggalkan banyak pembangunan yang berarti. Setelah Mulyadi bicara, giliran panelis yang lain, seorang Kyai dari Lampung yang langsung menimpali pernyataan Ketua HMI dengan pernyataan satire " Kenapa Anda mengagungkan presiden Soekarno padahal beliau sendiri pada masanya ingin membubarkan HMI..?" Jleb banget pernyataan dari Kyai tersebut yang membuatku tidak bisa menahan tawa

Sabrang Nyanyi lagi
Perjalanan hidup reportase lengkap disini.


February 11, 2016

Mamanya anak-anak #1

Aku ingin menulis setiap bulannya tentang isteriku. apa saja itu yang terlintas di rongga kepalaku. sekedar untuk merawat kenangan-kenangan yang kami jalani. awal pernikahan memang berliku dan menghadirkan semacam shock therapy khususnya bagi Lelaki dalam berbagai hal. memikirkan uang bulanan, tempat tinggal yang layak, dan berbagai remeh temeh yang harus dihadirkan oleh kepala keluarga.

Ibadah Syukur

Aku shalat mulai takbiratul ihram sampai salam
namun tidak sekalipun dalam shalatku mengingatMu
bahkan pikiranku dipenuhi dengan duniawi

Aaku berdoa
layaknya seorang anak yang memaksakan kehendak kepada orang tuanya
meski aku tahu bahwa seharusnya doa sebagai ungkapan rasa syukur
bukan pemaksaan kepadaMu untuk memenuhi nafsu keinginan

Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi SAW menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim).


Hadits diatas menghujam tepat di ulu hatiku Tuhan.
Muhammad kekasihMu beribadah karena bersyukur
tapi aku,
 
Beribadah sebagai bentuk transaksional, padahal aku paham semua hanyalah milikMu
Engkau memberi dan sama sekali aku tidak punya kuasa
dan seharusnya beribadah sebagai kesyukuran atas semua nikmatMu

Mulutku komat kamit bershalawat
namun tidak sekalipun aku berusaha mengikuti ajaran Muhammad, kekasihMu
aku bahkan hanyut dalam remeh temeh duniawi yang tiada arti

Aku berbuat dosa seakan Engkau tidak melihatku
kemudian aku bangga atas dosaku
padahal kutahu bahwa semua aibku telah Engkau tutupi
kemudian aku merasa suci,
aku dzalim kepada diriku, Tuhan

Aku merasa tenang saja ketika manusia lain kelaparan
Mereka berhari-hari tidak makan
kemudian ada yang tibatiba harus kehilangan pekerjaan karena PHK
namun hatiku kecilku tidak terusik sama sekali
bagiku yang penting diriku senang
aku egois Tuhan
tidak menjadikan Manusia lain sebagai bagian dari diriku

Tuhan maafkan aku atas khilafku selama ini
tuntun aku kembali ke jalan keridhaanMu


Rawamangun, 11 Februari 2016 08:17

February 10, 2016

Zikr

Ada momen dalam hidupku yang sangat kunikmati. Aku menyenangi berguru dari seorang senior di Makes. Zikr ini pernah secara rutin ajarkan oleh Beliau saat Aku masih bermukim di Makassar. kita sering menganggap metode seperti itu adalah metode tasawuf yang dijalani oleh Para Sufi, namun bukan berarti mengklaim bahwa Aku sedang belajar tasawuf, tidak sama sekali.

Terkadang Zikr yang diajarkan Beliau masih terngiang-ngiang di dalam rongga kepalaku bahkan saat penat menyergap, Aku selalu merenungi setiap tauziah Beliau yang masih tersisa.

Aku sudah melangkah terlalu jauh dan tersesat dalam rimba dosa yang teramat dalam sehingga pikiran jernih menguap entah kemana. Aku hanya ingin kembali mengisap sari pati kehidupan yang Beliau ajarkan. ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan hidup. " tidak bersedih atas masa lalu dan tidak cemas akan masa depan."

Hal tersebut benar-benar tergambar di pribadi Beliau. Aku tidak pernah menangkap kesedihan dan kecemasan akan kehidupan duniawi di binar matanya.

Oke, untuk saat ini, Aku akan berusaha kembali merengkuh jiwaku yang jauh terbang melayang karena dosaku yang sudah terlalu banyak. Aku ingin semua semangat hidup kembali menyelimutiku dan berbuat sesuai jalur yang benar.

semoga

Jakarta, 25 Januari 2016

February 9, 2016

Pindahan

Selama menetap di kota ini, sudah tiga kali Saya harus berpindah tempat dengan berbagai alasan. pertama ngekos di daerah Cilandak KKO karena harganya yang terjangkau, Ibu kos yang baik kalau tidak salah ingat namanya Mpok Erna. memang sih kamar kosnya lumayan sempit namun cukuplah buat perantau pemula di kota ini. Saya ngekos disana sekitar 4 bulan.

Setelah bekerja di daerah Rawamangun, Saya kemudian pindah kos ke Jln Bambu Kuning di belakang pasar Rawamangun. kamarnya hampir sama dengan yang di Cilandak namun kamar mandinya diluar. kos tersebut sebelumnya ditempati oleh teman kantorku yang dimutasi ke daerah Kebayoran. jarak dari kos ke kantornya hanya sekitar 5-10 menit jika naik motor.

Tepat setahun bermukin di Rawamangun, Saya kembali harus berpindah sesaat sebelum memutuskan menikah. bukan oktober 2015, Saya pindah ke daerah Mampang karena daerah tersebut dekat dari tempat Isteri beraktivitas. hanya ada 1 ruangan dan dapur. sering merasa tidak enak hati ketika mertua datang menjenguk atau ada keluarga yang menginap karena cuma 1 kamar. alhasil setelah menempati kontrakan di Mampang Prapatan VII selama 5 bulan, Saya dan Isteri kembali berkeliling mencari rumah kontrakan yang lebih luas.

Ini ada beberapa rumah kontrakan yang kami survey namun tak satupun yang nyantol di hati karena berbagai alasan. ada yang bagus tapi harga terlalu mahal, ada pula yang murah namun lokasi ataupun rumah kontrakannya yang tidak sesuai di hati.

Ini rumah yang berada di Mampang IV. sebenarnya untuk harga sudah pas. ada kamar namun akses masuknya yang tidak terlalu cocok karena kita harus masuk melalui pagar si Empunya. kontrakan ini berada di belakang rumah.
Tampak dari depan ke belakang

Akses masuk

Dapur


Ini rumah yang berada di Mampang III. untuk ukuran luas dan harganya pun terjangkau. tidak ada masalah dengan tata ruang meski tidak mempunyai kamar namun setidaknya ada 2 sekat.namun kembali lagi ke akses masuk. kita harus melalui gang kecil yang bahkan motor vega R sekalipun hampir tidak muat. kemudian di depan kontrakan terdapat kos-kosan yang menurutku terlalu ramai.


Dapur

Ruang depan

Akses masuk


Ini yang di tegal Parang. kalau yang ini sih tidak memenuhi banyak kriteria. lokasi yang kemungkinan besar banjir karena berada di dataran rendah. akses masuk yang tidak bisa dilalui motor dan ruangan yang terlalu sempit meski terdapat 3 sekat.ah, kalau yang ini Aku hanya bisa ngasih 1 bintang.

Dari depan ke belakang

Bagian depan

Ini yang di Jln Bangka Buncit 5. lumayan sih tempatnya dan ruangannya. harganya pun masih terjangkau namun satu hal yang membuat ragu karena kontrakan ini modelnya seperti kos. satu rumah yang di bagi empat dijadikan kontrakan. menurutku untuk ukuran rumah tangga, masih kurang bagus karena terlihat seperti tidak ada privasi.
Ruang tengah

Dapur
kalau ini yang di kemang. kontrakannya rapi dan harganya sama dengan kontrakan lama yang tidak punya kamar namun kembali lagi pada lokasi yang tidak terlalu menguntungkan. terlalu ramai dan tidak ada pembatas kontrakan.

Dapur

Dapur+kamar Mandi

Kamar

Akhirny setelah penat mencari kontrakan, Kami memutuskan untuk menyewa sebuah kontrakan di Mampang XIII deka kantor camat Mampang. harganya terlalu mahal sih sebenarnya namun berhubung karena sudah jatuh tempo di kos lama maka untuk sementara Kami memutuskan untuk tinggal disitu. ruangannya sih sudah seperti yang Kami inginkan karena ada kamarnya namun bangunannya tua dan tegelnya masih yang lama ditambah lagi tidak ada wastafel dan lantai yang amat sangat kotor. untuk sementara tidak apaa-apa. mulai nyari lagi yang lebih layak

Rawamangun, 9/02/2016

February 5, 2016

Alasan Menulis

Alasan Saya kembali bersemangat menulis selain karena iseng juga setelah membaca tulisan ini. selama kuliah, terlalu banyak ketakutan yang berseliweran di dalam rongga otakku yang malah membuat ide-ide mandek menjadi kotoran di kepala.

Menulis bagiku hanyalah meninggalkan jejak yang kemudian nantinya akan kubacakan kepada Anak-anakku lalu Kami menertawakannya bersama-sama, tidak lebih, hanya itu saja keinginanku. namun mungkin ada juga bagian yang harus kutulis sebagai pengingat supaya tidak terulang karena pastinya pasti banyak langkah yang salah arah ketika kita berjalan dan itulah gunanya merekamnya dalam tulisan untuk tidak diulangi.

Oh iya, Saya jarang sekali membaca kembali tulisan yang sudah kutulis karena Saya selalu merasa bahwa tulisanku terlihat norak. nantilah setelah berbulan-bulan jika ingin bertamasya ke masa lalu, maka Saya membaca arsip-arsip tersebut kemudian menertawakannya.


Rumah Sakit dan Kantor Polisi

Rumah Sakit dan Kantor Polisi..??
Aku tidak terlalu menyenangi berada di dua tempat tersebut.

Alasan sederhananya karena ada pengalaman-pengalaman masa lalu yang membuatku tidak menyukai kedua tempat tersebut. sakit adalah musibah dan Aku percaya itu adalah sebuah keniscayaan dalam hidup setiap Manusia. ketika belum merasakan sakit maka nikmat sehat tidak terasa. oke sampai pada titik ini Aku haqqul yakin. permasalahan timbul ketika sudah berhubungan dengan institusi yang mengurusi orang sakit. sudah bukan rahasia lagi bahwa mendengar kata Rumah Sakit maka terbayang di kepala kita mahalnya biaya obat, biaya Dokter sampai pada mahalnya rawat inap. iya, memang sekarang ada program BPJS namun cobalah sekali-kali tengok di Rumah Sakit. Pasien yang berobat dengan BPJS akan berada di nomor buncit dalam penanganan Rumah Sakit bahkan menurut beberapa kawan yang menggunakan BPJS, Dokter sepertinya acuh tak acuh dalam penanganan Pasien.

Belum lagi masalah obat-obatan yang harganya mencekik leher. sudah bukan rahasia lagi bahwa ada Perusahaan Farmasi yang deal dengan Dokter dalam penjualan Obat-obatan. pengakuan Dokter yang mencengangkan tentang persekongkolan tersebut. Persekongkolan ini pernah dianalisa dari segi hukum oleh advokat di jakarta,ketua Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum konsumen Indonesia (LABHKI) dan Sekjen Asosiasi Penasehat hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (APHI).

Barusan Aku dan teman-teman menjenguk seorang Bapak teman yang sakit. Bapaknya sedang dirawat di ruang ICU. setengah jam sebelum shalat Jum'at, Kami pamit pulang. sesampai di kantor sekitar pukul 14:00 WIB, ada kabar bahwa Bapak teman sudah meninggal. Innalillah, ajal memang adalah misteri yang sampai sekarang belum ada jawabannya. semoga amal ibadah Beliau diterima di sisiNya. (Selingan untuk kasus yang sedang Aku tulis)
Ruang tunggu UGD RS Harum


Untuk urusan Kantor Polisi. akan terbanyak barisan Aparat dengan seragam coklat, wajah seram dan tubuh kekar juga suara yang berat. namun pada intinya, Aku pernah beberapa kali berurusan dengan Polisi di kantornya dan menurutku kunci di uang. oke bukan menggeneralisasikan namun sebagian besar seperti itu. di Surabaya waktu itu, Aku kehilangan kartu ATM dan dari pihak Bank mengharuskan harus ada surat keterangan kehilangan dari kepolisian sebagai syarat untuk mengganti kartu ATM yang hilang alhasil Aku ke kantor polisi. sesampainya disana, Aku dilayani dan dibuatkan surat keterangan kehilangan. ketika hendak pulang, Aku iseng menanyakan berapa biayanya. si Polisi mengatakan bahwa terserah berapa saja dan tanganku respek memberikan selembar uang. harusnya kan pelayanan seperti itu gratis. itu bukan pelanggaran loh apatahlagi ketika kita mengurus pelanggaran lalu lintas, kemungkinan biaya dipatok oleh Mereka.

Ah, seperti itulah fenomena yang ada di negeriku namun terlepas dari semua itu, masih banyak hal yang kubanggakan terlahir sebagai warga negara di tanah airku.

jln. Paus Rawamangun, 5 Februari 2016 


February 3, 2016

Menulis Novel

Selalu ini yang menjadi resolusi basi tiap tahun. pengen menulis novel namun berakhir menjadi sebuah ilusi  yang entah kemana semua ide tersebut menguap.

Saat buka email pagi ini, lumayan termotivasi lagi menulis novel saat membaca artikel Kiat Menyelesaikan Buku. mungkin bisa kupaksakan untuk tahun ini menyusun novel namun kembali lagi, aku selalu gagal dipercobaan pertama. ha.ha, payah.

Kali ini bermimpi lagi mulai menulis novel. Harus membulatkan tekad supaya tahun ini terwujud. Etapi judulnya pun masih belum kepikiran sampai sekarang, ah itu masalah nanti toh jika kembali gagal menulis novel ga ada yang dirugikan cuma sudah berkali-kali mengingkari janji kepada diri. ha,ha

Rawamangun. 3 Februari 2016

February 2, 2016

Indo'

Tulisan ini semata curcol tentang Ibuku. Saya memang seringkali menulis hal-hal yang sentimental ketika dilanda rindu terhadap Beliau. Entah kenapa semakin bertumbuh dewasa dan menua, saya semakin merasakan betapa besar cintanya terhadap anak-anaknya. Saya pun merasa bahwa beliau sama sekali tidak terlalu memperdulikan apa yang ada pada dirinya selama anak-anaknya bahagia.

Semoga saja apa yang saya paparkan selanjutnya bukan membandingkan kasih sayang Ibu yang lain karena menurutku setiap Ibu punya porsi rasa sayang terhadap anaknya masing-masing yang tidak bisa ditakar dengan apapun dan tidak bisa dibandingkan dengan Ibu yang lain.

Saya sudah menikah tentunya punya mertua perempuan. Bukan untuk membandingkan namun harus kuakui bahwa tidak akan pernah yang menyamai perhatian Ibuku terhadapku mungkin begitu pula adanya Ibu yang lain kepada anaknya.

Sampai pada detik ini, Ibu tidak akan pernah kubandingkan dengan siapapun karena bagi saya, beliau adalah semangat, cinta dan apapun yang melandasi gairahku dalam hidup. kalaupun toh ada yang kemudian ingin menyaingi kasihnya, maka itu kuanggap hanya ilusi.

Ibu ada dan kasihnya selalu berlipat. Saya akan merindukannya disetiap sepiku. setidaknya untuk menemani hidupku yang hampa. hidup yang kujalani memang adalah pertaruhan antara materi dan ide-ide yang masih kusimpan rapi. sekarang ada yang mencoba mendobrak idealismeku dengan tuntutan-tuntutan yang datang tak berhenti. Saya tidak ingin mengkonfrontasikannya karena Saya yakin ada celah untuk mendamaikan.

Ibu, tetap sehat selalu dan jangan lupa berbahagia.
Mampang, 3 Februari 2016

Bekerja dengan Hati

Kayaknya Saya sudah dua kali bercerita tentangmu di masa awal Kau kuliah dan pada saat Kau lulus kuliah. Sekarang Kau sudah meniti karir sebagai Jurnalis berita Online. Pekerjaan yang mungkin sesuai dengan jurusanmu ketika kuliah.

Sebelum memulai bacotanku, saya harus akui bahwa saya bangga melihatmu menjadi Jurnalis. Kau harus tahu bahwa suatu waktu setamat Kuliah, saya pernah bermimpi menjadi seorang Jurnalis. Kau mau tahu apa alasanku waktu itu memilih Jurnalis sebagai Pekerjaan.? oleh karena dari pandanganku, Jurnalis masih punya hak kuasa bagi dirinya saat bekerja seperti halnya Dosen. Maksud saya bahwa ada nilai-nilai dari dalam diri kita yang bisa kita kendalikan tidak seperti ketika menjadi pegawai perusahaan seperti diriku.

Memilih menjadi karyawan perusahaan berarti takluk terhadap semua aturan dan remeh temeh mengenai perusahaan dengan satu tujuan, PROFIT. Etapi harus disadari pula bahwa portal online ataupun media lainnya mengejar profit loh. Iya yah namun setidaknya Para Jurnalis yang masih menjunjung tinggi "Idealisme" Mereka bisa menyesuaikannya dengan berita yang akan diangkat. misalnya benar-benar mengedepankan berita yang sudah diklarifikasi kebenarannya.

Alasan lain kenapa saya senang saat kau memilih menjadi Jurnalis adalah kau bisa terus belajar tentang hidup. Kesempatan belajar dari hidup yang real terbuka lebar. melihat fenomena kehidupan dan bisa mengakses hal-hal yang terjadi di masyarakat. Jurnalis pun dituntut untuk terus membaca dan menulis dan menurutku dua hal tersebut sangat menyenangkan bukan.?


Saya mungkin tidak harus mengguruimu dari segi etika Jurnalistik karena kau sudah belajar di bangku kuliah tinggal bagaimana kau dengan sepenuh hati mengaplikasikan teori-teori yang sudah kau pelajari. Setidaknya Saya ingin mengingatkanmu bahwa berita yang aktual itu harus benar-benar sudah diverifikasi dari orang pertama sehingga tidak menyebarkan berita yang abal-abal. 

Kekhawatiranku saat ini berfokus pada banyaknya berita-berita yang tidak benar. Jurnalis seakan menggampangkan berita yang diperoleh dari sumber yang tidak dipercaya kemudian mengejar deadline akhirnya berita HOAX pun diterbitkan. Saya selalu berharap Kau tidak termasuk dalam barisan Jurnalis yang hanya mengejar target namun melupakan etika Jurnalistik. 

Mungkin sebaiknya Kau harus banyak belajar dari Jurnalis senior yang kredibilitasnya sudah tidak diragukan. Kau bisa mengakses cara penyampaian berita mereka melalui tulisan-tulisannya. Tidak perlu lah Saya sebutkan Jurnalis yang seharusnya menjadi rujukanmu karena Saya yakin Kau punya akses untuk mencari sendiri.

Di beberapa kesempatan saat kita bercakap lewat Handphone. Saya selalu mengingatkan supaya jangan sekali-kali menjadikan uang sebagai faktor utama dalam bekerja. okelah uang itu perlu namun jika sudah menjadi target utama maka yassalam, kualitas kerja akan menjadi amburadul dan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi tidak akan terarah.

Saya tidak munafik masalah uang. saat ini saya sudah berkeluarga dan pastinya butuh uang dan terkadang dalam bekerja pun motivasiku adalah uang namun setidaknya ada saat ketika uang menjadi motivasi maka kembali perbaharui niat dalam bekerja.

Terakhir, selamat meniti karir menjadi Jurnalis yang profesional dan jangan sekali-kali memberitakan sesuatu yang belum Kau verifikasi dari pertama dan kebenarannya sama sekali tidak kau ketahui.

Pulogadung, 2 Februari 2016

Februari

Apa yang berubah dengan bulan yang sama di tahun lalu..? Hanya satu, mungkin karena saya sudah tidak terlalu sering merekam dan meninggalkan jejak dalam tulisan. Saya menjelma menjadi sesosok pribadi yang sok ingin perfeksionis sehingga tulisan harus diukur dari kriteria baik tidaknya dibaca orang lain. Harusnya kan saya tidak peduli dengan semua itu, harusnya saya seperti tahun-tahun sebelumnya yang acuh terhdap kualitas tulisan dan tetap merekamnya meski pengalaman paling tidak berharga sekalipun.

Diukur dari kuantitas menulis di blog ini memang terjun bebas. meski dengan alasan saya sedang belajar menulis yang lebih tertata rapi di wordpress namun toh itu tidak sejalan dengan apa yang ada di benakku semenjak memutuskan untuk membuat laman di wordpress. 

Sebenarnya sih tidak ada yang dirugikan ketika saya jarang atau bahkan tidak menulis karena toh saya bukan seorang penulis namun lebih kepada menyia-nyiakan pengalaman yang nantinya akan menjadi kenangan yang ditertawakan kemudian hari. Apatahlagi di kota ini, tersebar begitu banyak hal unik yang mungkin jarang dijumpai ketika bermukim di tempat lain.

Saya memang bukan pencerita yang baik. menggambarkan suasana secara detail sehingga orang yang membacanya ikut serta terlarut dalam suasana seperti yang saya tuliskan namun setidaknya saya masih bisa menuliskan rentetan peristiwa yang kualami.

Hampir emapt tahun lamanya merantau benar-benar mempertemukanku dengan banyak hal yang baru. Sebagian saya tulis namun banyak banget yang terlewatkan. 

Ah, sedang menulis apa saya ini. Efek dari blog yang jarang diisi.
Pulogadung, 2 Februari 2016