Ada momen dalam hidupku yang sangat kunikmati. Aku menyenangi berguru dari seorang senior di Makes. Zikr ini pernah secara rutin ajarkan oleh Beliau saat Aku masih bermukim di Makassar. kita sering menganggap metode seperti itu adalah metode tasawuf yang dijalani oleh Para Sufi, namun bukan berarti mengklaim bahwa Aku sedang belajar tasawuf, tidak sama sekali.
Terkadang Zikr yang diajarkan Beliau masih terngiang-ngiang di dalam rongga kepalaku bahkan saat penat menyergap, Aku selalu merenungi setiap tauziah Beliau yang masih tersisa.
Aku sudah melangkah terlalu jauh dan tersesat dalam rimba dosa yang teramat dalam sehingga pikiran jernih menguap entah kemana. Aku hanya ingin kembali mengisap sari pati kehidupan yang Beliau ajarkan. ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan hidup. " tidak bersedih atas masa lalu dan tidak cemas akan masa depan."
Terkadang Zikr yang diajarkan Beliau masih terngiang-ngiang di dalam rongga kepalaku bahkan saat penat menyergap, Aku selalu merenungi setiap tauziah Beliau yang masih tersisa.
Aku sudah melangkah terlalu jauh dan tersesat dalam rimba dosa yang teramat dalam sehingga pikiran jernih menguap entah kemana. Aku hanya ingin kembali mengisap sari pati kehidupan yang Beliau ajarkan. ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan hidup. " tidak bersedih atas masa lalu dan tidak cemas akan masa depan."
Hal tersebut benar-benar tergambar di pribadi Beliau. Aku tidak pernah menangkap kesedihan dan kecemasan akan kehidupan duniawi di binar matanya.
Oke, untuk saat ini, Aku akan berusaha kembali merengkuh jiwaku yang jauh terbang melayang karena dosaku yang sudah terlalu banyak. Aku ingin semua semangat hidup kembali menyelimutiku dan berbuat sesuai jalur yang benar.
semoga
Jakarta, 25 Januari 2016
No comments:
Post a Comment