July 25, 2020

Keluarga

Tadi malam saya menelepon Ibu saya sebagai rutinitas ba'da maghrib. seperti biasa bercerita apa saja yang sedang terjadi di kampung dan menanyakan kabar tentang keluarga nun jauh di sana. Ibu bercerita tentang rumah saudara yang baru saja dibangun kembali dan diresmikan siang hari sebagai bentuk sukur dengan mengundang para tetangga untuk makan siang, dan berbagai cerita tentang pola cucu-cucunya yang ada di rumah.

Salah satu cerita sentimentil semalam adalah saudara sepupu yang berumur 40an tahun, diceraikan oleh isterinya karena dia menderita sakit stroke sehingga tidak bisa lagi bekerja. saudara sepupu saya tersebut akhirnya dirawat oleh adik perempuannya yang juga sudah berkeluarga. sebuah relasi hubungan suami isteri yang akhirnya harus kandas karena persoalan salah satu diantara mereka sakit. saya pun tidak sedang menjustifikasi siapa yang salah namun dari cerita yang saya dengar, saudara sepupu saya tersebut sempat dirawat oleh isterinya namun dalam rentang waktu setahun atau dua tahun, isterinya sudah menyerah dan akhirnya menyatakan kepada para iparnya bahwa dia sudah tidak kuat dan berniat untuk mengembalikan suaminya ke keluarga.

Satu pelajaran dari percakapan semalam bahwa apapun yang terjadai dalam perjalanan hidup kita, maka keluarga inti tetap akan menjadi pelarian akhir jika terjadi apa-apa. sejauh apapun langkah kaki kita melangkah dan dari kalangan manapun pasangan yang kita pilih namun pada akhirnya, ketika ada masalah pelik yang kita hadapi, whatever the kind of it, keluarga inti tetap yang akan menjadi benteng pertahanan bahkan seringkali kita harus kembali ke keluarga seperti halnya kasus saudara sepupu saya yang mengalami sakit stroke namun isterinya tidak mau merawat sehingga yang terjadi adalah dia akhirnya dirawat oleh adiknya sendiri.

Ibuku mengamini kesimpulanku tersebut dengan suara lirih. saya bisa merasakan bagaimana ibuku begitu menghawatirkan anak-anaknya jika saja sesuatu yang buruk terjadi.

No comments: