Salah satu pengingat waktu yang paling mujarab adalah kematian orang yang dikenal atau paling tidak pernah berinteraksi dengan kita meski terkadang hanya beberapa waktu. kematian membuat kita berpikir bahwa waktu benar-benar tidak bisa ditarik ulur dan akan terus berlalu sampai pada titik yang entah sampai kapan.
Mengingat waktu dengan cara memperhatikan diri secara fisik sangat tidak efisien karena seringkali manusia selalu merasa sehat dan muda. manusia tidak pernah merasa menua entah karena sikap denial bahwa mereka fana atau bisa juga karena mereka ingin tetap menikmati waktu dengan cara mereka sendiri.
Manusia memang mempunyai cara masing-masing dalam merayakan hidup namun tetap harus diingat bahwa merayakan hidup dengan menelan habis waktu untuk hal yang sifatnya sia-sia, akan menempatkan manusia suatu saat dalam penyelesan, bahkan untuk manusia yang sudah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya pun tetap akan merasa menyesal di suatu momen.
Pagi ini saya mendengar lagi seorang yang saya kenal, sudah menggenapkan waktunya di bumi ini. beliau mangkat menuju keabadian yang sempurna dengan meninggalkan jejak yang baik. bagaimana tidak, mereka yang pernah beriteraksi dengan beliau, bersaksi bahwa beliau orang baik dan tidak pernah mengalami pengalaman yang kurang baik selama berinteraksi dengannya. saya pun yang pernah beriteraksi dengannya hanya sekitar dua bulan, juga menemui tebaran kebaikan yang disemai untuk orang-orang di dekatnya.
Begitulah hidup, bagai memakan sambal pedas. ketika sedang mengunyah dan menikmatinya, tidak ada perasaan pedas yang menempel di lidah karena pikiran fokus pada sensasinya namun ketika kunyahan terakhir, bibir mulai merasakan panas, perut mulai beraksi dan akhirnya lidah bereaksi.
Masing-masing dari kita hanya sedang berjalan menggenapkan waktu yang diamanatkan kepada kita. entah sampai kapan namun itulah rahasia semesta. makanya dalam beberapa petuah sucir, kita hanya dianjutkan untuk melakukan hal-hal baik dalam rangka mengisi waktu yang dijalani.
No comments:
Post a Comment